Sabda Cinta

Sabda Cinta
Bab 41


__ADS_3

Hujan turun membasahi tanah yang mulai gersang karena hampir tiga bulan hujan tidak turun, jika musim kemarau tiba membuat semua orang sulit untuk menanam padi karena tidak air.


Melur turun ke bawah menemani umi Salma yang sedang memasak, ia membuatkan kopi dan pisang goreng untuk suaminya yang sedang berada di balkon kamar Melur.


Rumah yang berdiri kokoh di depannya terbentang sawah yang masih kosong karena tidak bisa membajak sawah karena tidak ada air kini terlihat bagaikan lautan karena hujan deras membuat air penuh di dalam sawah.


Firdaus menatap ke depan ke arah pemandangan sawah di depannya, bebek bermain di sawah menjadi sebuah kesenangan baginya karena bisa merasakan air.


"Kamu lihat apa, Mas?" tanya Melur meletakkan secangkir kopi dan pisang goreng dengan asap yang masih mengepul ke atas.


"Gak, mas lagi sedang melihat bebek yang sedang bermain di sawah itu?" tunjuk Firdaus pada istrinya.


"Memangnya kenapa dengan mereka, Mas! Bukannya bebek itu memang suka dengan air," kata Melur tidak mengerti kemana arah pembicaraan suaminya.


Firdaus mengangguk membenarkan apa yang di katakan istrinya.


"Apa kamu yang katakan benar sayang! Mas hanya berpikir mereka saja bersyukur dengan apa yang di berikan tapi kenapa kadang manusia tidak mensyukuri apa yang di berikan boleh sang penciptanya," gumam Firdaus datar, ia mengambil kopi di atas meja kecil lalu meneguk sebentar.

__ADS_1


"Mas Firdaus ini nyindir atau apa sih? Kok dia bilang begitu, apa karena aku tidak bersyukur menikah dengannya, batin Melur berkata,"


"Mas, nyindir aku ya?" tanya Melur.


"Kok kamu bilang mas nyindir kamu, gak sayang? Mas sangat bersyukur memiliki istri secantik kamu," Firdaus menarik Melur dapat pelukannya, kulit keduanya menyatuh membuat desiran aneh.


"Makasih ya, Mas! Sudah baik sama aku dan jagain aku," ujar Melur.


"Jangan katakan itu, kamu istri mas! Sudah seharusnya mas menjaga kamu dari orang-orang yang ingin menyakiti kamu," ujar Firdaus, ia tahu jika Arkhan akan mengejar Melur kembali apalagi Arkhan menaruh hati pada Melur.


"Ya sudah, kita masuk yuk! di luar hujan mas gak mau kamu sakit," ujar Firdaus melepaskan pelukannya.


Melur turun menuruni tangga satu persatu terlihat Abah sudah duduk di meja makan sepertinya beliau sudah sehat setelah mendengar penjelasan dari Melur, beliau begitu tenang tidak ada lagi orang yang akan mengunjing keluarga Abah.


"Abah sudah sehat?" tanya Firdaus basa-basi.


"Alhamdulillah sudah, Nak! Abah hanya shock melihat video yang viral di siaran TV. Siapa lelaki yang bersama mu waktu itu Melur?"

__ADS_1


Pertanyaan Abah membuat Melur ketakutan, apa yang harus dia katakan pada Abahnya. Tidak ia mengatakan kalau Arkhan adalah lelaki di masa lalunya.


"Dia Arkhan Kamil seorang publik figur sehingga wartawan menyorot video tersebut, makanya Viral Abah namanya juga Artis," Firdaus menjawab sesekali menoleh ke arah Melur, Abah menatap Melur seakan meminta persetujuan dari putrinya.


"Benar kata Mas Firdaus, Umi. Dia seorang Artis," kata Melur sesekali mengambil makanan yang ada di depannya.


"Abah harap kalian menjauh dari lelaki tersebut, dia bukan lelaki yang baik apalagi video Viral seakan Melur memeluknya dan Abah tidak suka akan hal itu,"


Abah menekan kata di Kalimat 'tidak suka' agar mereka mengerti.


"Firdaus akan selalu menjaga Melur, Abah tenang saja,"


"Abah percaya sama kamu, Nak,"


Mereka kembali larut dalam makan pagi, sedangkan Melur hanya diam sesekali menoleh ke arah suaminya yang sedang makan dengan lahap bahkan ia sadar jika suaminya adalah lelaki yang baik.


Setelah sarapan pagi, Firdaus mengajak Melur untuk jalan-jalan ke kota Bandung sekalian mampir ke rumah orang tuanya, nyonya Fatma lebih memilih tinggal di Bandung dari pada di Jakarta padahal Pak Rahman sudah membuat rumah untuk di tempati.

__ADS_1


Firdaus mengajak Melur ke tempat wisata yang ada di kota Bandung, karena waktu mereka hanya sehari disana dan ia meluangkan waktu untuk mengajak Melur jalan-jalan.


__ADS_2