
Sampai detik ini lo nggak pernah sadar, bahwa lo itu... Sangat ngelukain hati gue. Emang gue nggak ada hak ngelarang lo deket sama siapa aja, tapi gue... gue jatuh hati sama lo. Gue jatuh hati sama lo! Meskipun, gue tau itu semua nggak mungkin karena lo lebih milih dia!!!
Mika memejamkan matanya. Ia tidak ingin menulis lebih banyak lagi. Ia juga tidak ingin sakit hatinya bertambah menjadikannya benci. Tali persahabatannya dengan Naisha tidak mungkin ia putuskan hanya dengan karena satu masalah, yakni... Cinta.
Ya, benar! Mika sedang mencintai seseorang. Namun, seseorang itu tidak mungkin ia sabdakan lewat lisan. Ia hanya menguburkannya selama ini, tidak ada yang tahu kecuali Tuhan dan dirinya. Mengapa? Karena Mika sangat menjaga ikatan persahabatannya dengan Naisha.
***
Malam masih setia menemani. Purnacandra masih menumpahkan cahayanya ke bumi. Gemintang bertebar memayungi langit. Indah, 'kan? Namun, tidak seindah hati Naisha yang kini tengah duduk termangu di teras kamarnya.
Masalah orang tuanya kini menjadi alasan yang mengusik pikirannya, sudah dua jam yang lalu ia masih mendengar suara gaduh di bawah sana. Ada terbesit rasa sesal karena menolak ajakan bunga hatinya untuk jalan-jalan. Selalu saja, ia masih belum mendapatkan kedamaian di rumahnya sendiri.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu kamarnya terdengar jelas. Naisha merasa malas untuk menemui siapa pun orang yang berada di balik pintu itu. Namun, ia teringat kata Mika untuk jangan pernah kabur dari masalah. Mungkin sudah waktunya untuk membincangkan secara baik-baik dengan orang tuanya.
"Masuk aja," suara lirih Naisha mempersilakan orang itu masuk.
Bunda Hazlinda datang dengar raut wajah sendu. Naisha yang tadinya malas tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk tidak mengacuhkannya. Dihampirinya wanita yang sudah melahirkannya itu. Kemudian memeluk erat Bunda Hazlinda yang lama sekali tidak memanjakannya.
Tidak terasa buliran bening dari kelopak matanya jatuh perlahan membasahi pipinya. Begitupun Bunda Hazlinda yang tidak kuasa menahan ibanya kala memeluk putri semata wayangnya, dengan lembutnya ia membelai rambut Naisha. Menciptakan kedamaian yang Naisha impi-impikan sejak masalah itu hadir di tengah keluarganya.
"Ayah mana, Bun?" Naisha melepaskan pelukannya.
"Bunda sama Ayah... Emm..." Naisha ragu meneruskan kalimatnya.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang?" tanya Bunda Hazlinda. "Kamu khawatir Bunda cerai sama Ayah? Iya, 'kan?" tambahnya lagi.
Naisha mengangguk lemah.
Bunda Hazlinda tersenyum hangat. Usapannya dengan penuh kasih sayang tercurah perlahan di punggung anaknya. Ia mengambil napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan, berharap beban yang kini tengah dipikulnya berkurang.
"Kamu nggak usah khawatir ya... Ayah sama Bunda memang lagi ada masalah, tapi buat yang kamu pikirin itu Bunda rasa nggak mungkin. Kami sangat menyayangi kamu dan kami nggak mau kamu menderita karena masalah ini," jelas Bunda Hazlinda.
"Emangnya apa sih masalahnya, Bun? Aku boleh tau nggak?" Naisha memasang raut penasaran.
"Udah, ya. Kamu nggak usah mikirin Ayah sama Bunda.... Tenang kami baik-baik aja kok."
__ADS_1
Naisha memaklumi. Ia tidak mau mendesak Bunda Hazlinda untuk memberitahu masalah yang tengah terjadi. Hatinya sedikit lega karena pernyataan Bunda Hazlinda barusan tentang perceraian itu. Ternyata dirinya salah, kedua orang tuanya masih sangat menyayanginya. Naisha meringkuk lagi ke dalam pelukan Bundanya. Di sanalah ia menemukan kehangatan dan kedamaian untuk berlindung.