
"Cucuku. Cucu perempuanku," ujar Oma Melani kembali terisak.
"Oma ...," Devan langsung merengkuh Oma Melani ke dalam pelukannya.
"Cucu perempuanku, Devan. Dia, dia masih hidup," ucap Oma Melani dalam pelukan Devan.
Hati Devan kembali tercabik saat ia mendengar penuturan Oma Melani. Luka lama yang sudah ia tutup rapat agar lekas sembuh. Nyatanya, kini kembali terkoyak.
Setelah sekian tahun Devan mencoba untuk mengikhlaskan kepergian orang tuanya serta adiknya. Kini, ia kembali murung dan bersedih. Sisa-sisa harapan akan adiknya seakan kembali bangkit.
Devan mencoba menepis harapan itu, tetapi hatinya berkata lain. Hatinya selalu berkata bahwa adiknya memang masih hidup. Tapi di mana? Ia ingin tahu di mana Isael berada.
"Isael masih hidup, Devan," kata Oma Melani kembali menangis dalam pelukan cucunya.
"Cari Isael, Van. Kembalikan Isael. Oma akan merawatnya, oma janji akan merawatnya," pinta Oma Melani.
"Oma ingin dia ada di sini, Van. Oma ingin bersamanya untuk mengobati rasa rindu oma pada ibumu, Nak," ujar Oma Melani.
"Oma, dengerin Devan, oma," kata Devan mengelus punggung Oma Melani.
Devan mencoba menguatkan dirinya. Jika ia lemah, lalu siapa yang akan menguatkan omanya. Bukankah sudah bertahun-tahun ia kuat bersama omanya? Selama ini juga yang menguatkan omanya adalah Devan. Mulai dari perginya orang tuanya empat belas tahun silam. Juga perginya Opa Fernan lima tahun yang lalu.
"Mereka sudah tiada oma," kata Devan lirih.
Seketika Oma Melani melepas pelukan cucunya. Ia menatap lekat manik mata Devan. Mencoba menelisik kebenaran dan keyakinan di sana.
Oma Melani tersenyum getir. "Bohong," sanggahnya.
"Medina dan Meda memang sudah tiada. Tapi tidak dengan Isael," tutur Oma Melani penuh keyakinan.
"Oma baru saja didatangi Medina. Medina bilang bahwa Isael masih ada. Saat kecelakaan Isael masih menangis di pelukan pengasuhnya," jelas Oma Melani.
"Cari dia, Devan. Oma ingin bertemu cucu oma sebelum oma pergi," kata Oma Melani.
"Devan akan cari oma. Tapi mohon jangan katakan itu lagi," kata Devan pasrah.
Mungkin dengan ia berkata demikian akan membuat omanya sedikit lebih tenang.
"Kalau oma pergi, Devan sudah tidak punya siapa-siapa lagi," tutur Devan.
"Cari Isael, ya, Nak," pinta Oma Melani.
Devan mengangguk. "Devan akan usahakan," katanya.
"Sekarang oma tidur, ya," ucap Devan mulai membaringkan omanya.
"Tunggu, Nak," cegah Oma Melani.
"Mamahmu bilang, carilah orang yang mencelakai mereka. Mereka kecelakaan bukan murni kecelakaan melainkan ada yang mencelakai," ujar Oma Melani.
Devan terdiam bingung. Bukankah kata polisi waktu itu orang tuanya meninggal karena rem mobil yang blong? Mobil dalam keadaan rem blong dan menabrak pohon di pinggir jalan. Begitu tutur Opa Fernan yang dulu menyelesaikan urusan di Indonesia.
"Devan akan cari tahu," kata Devan.
"Oma tidur, ya," kata Devan mengecup kening omanya.
Oma Melani mengangguk. Devan pun meninggalkan kamar Oma Melani.
"Isael, jika kau masih ada di dunia ini, di mana kamu, Dek?" Devan bertanya-tanya dalam hati.
"Tunggu, kakak, ya, Dek," ucap Devan dalam hati.
"Ma, bantu Devan untuk membuka asrar ini," batin Devan sambil terus berjalan menuju kamarnya.
Asrar:Rahasia
...****************...
Keesokannya, setelah Devan selesai sarapan, ia pun langsung bergegas menuju kantor. Tadi, Oma Melani belum bangun karena semalam, omanya tidak bisa tidur sampai pagi.
"Good morning Mr. Devan," sapa salah satu pegawai kantornya.
__ADS_1
"Morning," balas Devan singkat.
Ia pun langsung menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan, ia tidak langsung menyentuh laptop atau pun berkas-berkas yang menumpuk di mejanya.
Devan memilih untuk menatap kota nan padat, tempatnya bekerja selama dua tahun terakhir ini. Ia melihat hamparan bangunan-bangunan tinggi di negeri yang sudah dua puluh tahun ia tempati.
"Sudah lama aku hidup di negeri orang," gumam Devan seraya menghela napas pelan.
"Tidakkah aku ingin pulang?" Devan bermonolog.
"Tapi untuk apa aku pulang?" tanyanya pada diri sendiri.
"Mama, papa udah ga ada."
"Isael? Entah di mana dia berada."
"Hah," Devan menghembuskan napas kasar.
Sejujurnya, kepala Devan sungguh sangat berisik. Disatu sisi iya sudah bisa menerima kepergian mama, papa, dan adiknya. Namun di sisi lain, ia juga masih yakin bahwa Isael masih hidup.
"Isael? Mama, papa?" gumam Rasya.
"I really miss we," gumam Devan.
"Excuse me!" seseorang mengetuk pintu ruangan Devan.
"Enter!" sahut Devan tanpa mengubah posisinya.
"Excuse me, Mr Devan. You are waiting for me in the meeting room," ucap pegawai kantor memberi tahu.
"Oke. Wait me, five minutes again," jawab Devan.
"Oke, Sir. Excuse me!" kata pegawai tadi pamit meninggalkan ruangan Devan.
Sepeninggalan pegawainya, Devan kembali merenung menatap bangunan-bangunan menjulang tinggi dari jendela ruangannya.
"Ma, Pa. Aku akan kembali. Bantu aku untuk mencari Isael, ya, Ma, Pa," harap Devan dalam hatinya.
Devan pun segera berlalu untuk ke ruang rapat. Kali ini ia akan membahas mengenai masalah yang sempat menganggu cabang yang ada di PT. Permata Indonesia. Entah mengapa akhir-akhir ini penjualan sering menurun. Gio, pun belum memberi kejelasan akan apa yang sebenarnya terjadi.
...****************...
"Siapa yang ada di foto itu?" Raisa bertanya-tanya dalam lamunannya.
"Sepertinya aku mengenalnya. Namun, aku tak ingat siapa mereka?" monolog siswi kelas sebelas IPA-3 tersebut.
"Apa ini efek obat yang aku konsumsi setiap hari?" Raisa mencoba menduga.
"Coba nanti aku tanya sama ibu," kata Raisa.
Tadi pagi, saat Raisa hendak berangkat sekolah. Ia tidak sengaja menemukan sebuah foto keluarga di dalam lemarinya. Sepertinya foto itu sudah lama. Terlihat dari cetakan foto tersebut yang sudah sedikit usang.
Raisa diam memandangi foto itu. Ia mencoba mengingat-ingat siapa yang ada di foto itu. Namun, ia tak bisa mengingatnya. Raisa justru merasa pusing karena mencoba mengingat siapa yang ada di foto itu.
...****************...
Rasya, Aldo, dan Revan sedang asyik menyantap makanan mereka di kantin. Lebih tepatnya hanya Revan dan Aldo saja. Rasya sedari tadi hanya diam dan celingukan ke sana-kemari.
"Lu kenapa dah?" tanya Revan pada Rasya.
"Gapapa," jawab Rasya singkat.
"Lu nyari Raisa?" tanya Aldo.
"Enggak," jawab Rasya berbohong.
"Ngaku aja!" seru Aldo.
"Dia biasanya di kelas. Dia jarang ke kantin," kata Aldo memberi tahu.
"Kok lu tahu?" bukannya Rasya yang bertanya, kini justru Revan yang bertanya.
__ADS_1
"Kata anak-anak si gitu," jawab Aldo yang sedang menyeruput es jeruknya.
"Oh."
Rasya hanya diam saja menyimak perkataan sahabat-sahabatnya. Ia malahan asyik bermain dengan HP-nya.
Rasya.
"Lagi di mana?" tanya Rasya pada Raisa dalam laman chat pribadi.
Raisa.
"Kelas," jawab Raisa.
Rasya.
"Ga ke kantin?" tulis Rasya.
Raisa .
"Ga," balas Raisa.
Rasya.
"Mau gua samperin ga?" tanya Rasya.
Raisa.
"Ga perlu. Gua mau sendiri," tulis Raisa membalas pesan Rasya.
Rasya.
"Oh, ya udah."
"Ntar pulang bareng gua, ya."
Raisa.
"Ga! Gua mau langsung ke kafe. Ntar ribet urusannya," balas Raisa.
Wajah Rasya seketika pias saat membaca balasan chat Raisa. Namun, Rasya pantang menyerah. Ia mencoba membujuk Raisa agar mau pulang bersamanya.
Rasya.
"Gapapa, ntar gua antar ke Kafe Melody," tulis Rasya.
Raisa.
"Cewek lu ntar koar-koar."
Rasya.
"Gua ga punya cewek."
Raisa.
"Audy lu kemana in?"
Rasya.
"Dia temen gua, bukan pacar gua."
Raisa.
"Gua malas ribut sama dia kalau dia tahu lu bonceng gua pulang."
"Gua ga mau dia buat keributan di tempat gua kerja. Bisa-bisa gua dipecat."
Rasya.
"Ga akan."
__ADS_1
Raisa.
"Terserah".