
Bel sekolah sudah berbunyi. Seluruh siswa-siswi SMA Merak Merdeka 2 mulai berhamburan meninggalkan area sekolah. Rasya, lelaki itu sedang menunggu seseorang keluar dari ruang kelasnya.
"Nunggu siapa, Bro?" tanya Revan yang melihat Rasya tak kunjung keluar dari area parkiran.
"Ga nunggu siapa-siapa," jawab Rasya berbohong.
"Kaya lu ga tahu aja, Van," sahut Aldo.
"Ga tahu apa?" tanya Revan menaikkan satu alisnya karena bingung.
"Sohib kita kan lagi kasmaran," jawab Aldo dengan tawa kecilnya.
"Oalah ya tahu gua," ucap Revan.
"Alah, Sya, Sya. Samperin gitu ke kelasnya," ujar Revan.
"Nah itu tuh. Ga modal banget," sahut Aldo.
"Masa nunggu di parkiran," cibir Aldo.
"Hahaha," Aldo dan Revan pun bersama menertawakan Rasya, sahabatnya.
"Berisik!" kesal Rasya seraya menyalakan motornya meninggalkan area sekolah.
"Lah ngambek," ucap Aldo.
"Udah biarin aja," kata Revan.
Aldo dan Revan pun juga sama. Memacu motornya dan mulai meninggalkan area sekolah.
Raisa sendiri, kini sedang berjalan menuju Melody Cafe. Kali ini ia berangkat kerja lebih bersemengat meski tak terlihat dari raut wajahnya. Raut wajah Raisa masih sama saja, cuek dan terkesan dingin. Namun, bila diamati lebih dalam Raisa sejujurnya lebih senang dari hari biasanya.
Bukan karena naik gaji atau dapat bonus bulanan. Melainkan ia mengetahui hal yang memang membuatnya bahagia. Apa lagi kalau bukan kebenaran soal keluarganya.
"Naik!" seru seorang lelaki menghadang jalan Raisa.
Raisa menatap bingung kepada lelaki pengendara motor yang menghadang jalannya.
"Enggak," jawab Raisa begitu tahu siapa yang menghadang jalannya.
"Melody Cafe masih cukup jauh. Udah buruan naik," kata Rasya yang tadi menghadang jalan Raisa.
"Ga," jawab Raisa meninggalkan Rasya begitu saja.
"Dasar kepala batu," gumam Rasya mengikuti Raisa dengan motornya.
Sesampainya di Melody Cafe, Raisa berhenti di pintu gerbang sebelum benar-benar masuk.
"Lu mau apa sih?" tanya Raisa kesal karena dibuntuti oleh kakak kelasnya.
"Gua cuma mau memastikan lu sampai di sini dengan selamat," jawab Rasya.
"Ga perlu!" tegas Raisa.
"Gua bukan cewek lemah," sambung Raisa melenggang pergi memasuki Melody Cafe.
Rasya menatap kepergian Raisa. Dalam hatinya berkata, kenapa ia harus bertemu dengan cewek berkepala batu dan cuek seperti Raisa?
"Huh," kesal Rasya berlalu meninggalkan area Melody Cafe.
Raisa pun memasuki Melody Cafe dan segera berganti pakaian. Kemudian, Raisa mulai melakukan pekerjaannya yaitu mencuci gelas dan piring-piring kotor yang sudah menumpuk.
"Eh guys tahu ga sih?" tanya Nayla pada teman-temannya.
"Katanya nih, pemilik cafe ini baru aja pulang dari New York," ucap Nayla memberi informasi kepada kedua sahabatnya, Audy dan Sinta.
"Masa sih?" tanya Sinta tak percaya.
"Bukannya yang kemarin minta ganti rugi itu bos cafe ini?" tanya Audy.
"Bukan," jawab Nayla.
"Itu managernya. Dengar-dengar sih sahabat dekatnya pas kuliah dulu," jelas Nayla.
"Oh."
"Gua penasaran kok ga ada, ya," kata Nayla celingukan.
"Emang seganteng apa sih?" Sinta juga ikut penasaran.
"Katanya sih sebelas dua belas sama manager yang kemarin itu," jawab Nayla.
Memang Nayla ini agen berita dan informasi. Soal beginian ma udah pasti paham dia.
"Lu tahu namanya?" tanya Audy.
"Siapa? Manager apa bosnya?" tanya Nayla balik.
__ADS_1
"Dua-duanya," jawab Audy.
"Kalau managernya namanya Gio. Nah kalau bosnya tu kalau ga salah Devan," jawab Nayla.
"Cakep bener namanya," ucap Sinta.
"Namanya aja cakep gimana orangnya? Hahaha,"
Saat ini ketiga Trio Wek-Wek Brengsek sedang nongkrong di Melody Cafe. Sepulang sekolah mereka langsung ke sana karena malas untuk mengikuti ekstra. Sehingga mereka membolos ke *Melody C*afe. Mereka bertiga asyik menyantap beberapa makanan dan minuman sembari bersenda gurau.
"Eh kabar lu sama Rasya gimana?" tanya Sinta tiba-tiba.
"Ya begitu deh," jawab Audy sekenanya.
"Begitu gimana?" tanya Nayla.
"Ga ada perkembangan," jawab Audy malas.
"Hahaha," Nayla dan Sinta tertawa mendengar jawaban Audy.
"Lu sih kurang usaha," kata Sinta.
"Kurang effort lu," timpal Nayla.
"Kurang effort gimana lagi gua?" tanya Audy bingung.
"Cowok bongkahan es kaya Rasya mana gampang luluh," keluh Audy.
"Benar juga sih," ucap Nayla membenarkan ucapan Audy.
"Kok bisa gitu ya. Ada cowok modelan kaya Rasya," heran Sinta.
"Lu juga suka sama dia. Herman gua," ucap Sinta lagi.
"Namanya juga suka. Mana gua tahu," ujar Audy memang tak tahu.
"Tapi guys. Rasya kok kaya ngejar-ngejar si cupu, ya," kata Sinta menduga-duga.
"Ngejar-ngejar?" ulang Nayla.
"Si cupu kali yang kegatelan," kata Audy merasa tak terima.
"Enggak guys," sanggah Sinta.
"Kemarin-kemarin gua lihat Rasya ngajak Raisa pulang. Tapi selalu ditolak," beber Sinta pada teman-temanya.
"Wah ga bisa dibiarkan ini," kompor Nayla.
"Harus bertindak, Au," Nayla perlahan mulai memanasi Audy agar melabrak Raisa.
"Tu anak udah kelewatan," Nayla semakin gencar untuk membuat Audy naik pitam.
Audy memang terbilang perempuan yang mudah untuk tersulut emosinya. Sedangkan Nayla dan Sinta memang bisa dibilang kompor yang siap memanasi suasa.
*Bra**k*- Audy menggebrak meja tempatnya makan.
Tentu saja, beberapa pengunjung *ca*fe tak terkecuali Nayla dan Sinta pun terlonjak kaget.
"Gua harus buat perhitungan sama tu si cupu," geram Audy.
"Nah gitu dong. Itu baru sahabat gua," ucap Nayla mengacungkan kedua jempolnya.
"Udah-udah lu duduk lagi. Malu dilihatin banyak orang," ucap Sinta mengingatkan Audy.
Sudah semakin sore, suasana cafe cukup ramai. Bahkan beberapa karyawan cafe terkadang masih kewalahan mengantarkan pesanan.
"Rai, tolong antarkan ini ke meja nomor tujuh, ya. Aku mau ke belakang dulu," ucap Kak Ina pada Raisa.
"Tapi, Kak-
"Udah antar aja. Ini udah ga tahan," ucap Kak Ina lari terbirit-birit menuju kamar mandi.
"Kebiasaan," gumam Raisa meraih nampan pesanan.
"Ini, Kak. Silakan," ucap Raisa saat menaruh beberapa minuman di meja nomor tujuh.
"Terima kasih," ucap pelanggan yang berada di sana.
Nayla tahu jika itu adalah Raisa. Tiba-tiba saja terbersit sedikit niat jahat untuk kembali membuat malu Raisa.
"Au, ada si cupu tuh," tunjuk Nayla dengan dagunya.
"Mana?" tanya Audy.
"Tuh," jawab Nayla menunjuk ke arah Raisa.
"Dari pada lu buat perhitungan di sekolah mending di sini," usul Sinta.
__ADS_1
"Bener tuh," sahut Nayla.
Saat Raisa berjalan kembali ke dapur. Audy memanggilnya.
"Mbak," panggilnya seolah-olah tidak mengenal Raisa.
Sontak saja, Raisa berbalik dan menuju sumber suara.
"Ada apa?" tanya Raisa.
"Huh Trio Wek-Wek Brengsek rupanya," batin Raisa.
"Ga ada apa-apa sih. Gua cuma mau buat perhitungan sama lu," jawab Audy menunjuk ke dada Raisa.
"Perhitungan?" beo Raisa.
"Akhir-akhir ini temen gua sering lihat lu kegatelan sama Rasya," jelas Audy.
"Gua udah peringatin lu buat jauhin Rasya. Tapi apa? Lu malah makin ngadi-ngadi," seru Audy sedikit mendorong dada Raisa.
Raisa menahan emosinya. Ia tak ingin tersulut emosi di tempatnya bekerja. Meski ia sendiri tahu kalau pemilik Melody Cafe adalah kakaknya.
"Terus?" tanya Raisa malas.
"Gua bilang sekali lagi sama lu," sentak Audy.
"JAUHI RASYA!" tegas Audy dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
"Oh," Raisa hanya ber-oh ria menanggapi ancaman Audy. Baginya, ia tak takut jika hanya Audy saja.
"Bener-bener lu, ya," Audy mulai tersulut emosi saat mendengar tanggapan Raisa.
Byur ...
Audy menyiram minumannya tepat di kepala Raisa.
"RAISA!" pekik dua pemuda menghampiri Raisa.
"Kamu gapapa, Rai?" tanya Devan dengan nada khawatir.
"Gapapa, Kak," jawab Raisa.
"Au, ini dia, Au. Kak Devan pemilik Melody Cafe," ucap Nayla girang saat melihat Devan dan Gio.
"Hah?" beo Audy.
"Iya. Ini Kak Devan sama Kak Gio," jawab Nayla.
"Kalian ini apa-apaan?" tanya Gio dengan nada datar.
"Kita ga sengaja, Kak," jawab Audy setelah sadar dari keterkejutannya melihat wajah tampan Gio dan Devan.
"Kalian sudah kedua kalinya membuat onar di sini," ucap Gio dingin.
"Kalau ada masalah pribadi. Mohon jangan dibawa-bawa sampai di sini," imbuh Gio.
"Gi, lu urus mereka, gua mau bawa Raisa ke dalam dulu," kata Devan membawa Raisa masuk.
Gio mengangguk. "Saya peringati kalian lagi. Jika sekali lagi kalian membuat onar di sini dan Raisa sebagai sasarannya. Maka, saya akan memberi hukuman kepada kalian bertiga," Gio memberi peringatan dengan nada dinginnya.
"Lu sih," Audy menyalahkan Nayla.
"Lah kok gua?" tanya Nayla menunjuk dirinya.
Gio pergi meninggalkan mereka bertiga. Ia pun menyusul Devan dan Raisa yang pasti pergi ke ruang kerjanya.
Di sana, Devan mengeringkan rambut Raisa dengan penuh sayang. Raisa juga merasakan kehangatan dari perhatian yang Devan berikan. Tanpa sadar pun, Raisa menyunggingkan senyumnya.
"Thank Kak Devan," ucap Raisa.
Devan terpukau melihat senyum indah terukir di wajah Raisa.
"Senyuman, ini. Mama ...," batin Devan.
"Senyum Raisa mirip sekali dengan senyumnya mama," kata Devan dalam hatinya.
"Sama-sama," jawab Devan.
"Udah, Bro?" tanya Gio begitu memasuki ruangan.
"Udah."
"Kok bisa sih, Rai. Gimana ceritanya?" tanya Gio.
"Biasalah, Kak. Trio Wek-Wek Brengsek emang suka cari gara-gara," jawab Raisa.
__ADS_1
Mendengar perkataan Raisa, Gio dan Devan pun tertawa kecil.