Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
MENGUNGKAPKAN


__ADS_3

Hari sudah semakin sore. Raisa harus kembali pulang karena ia mengingat pesan dari kakaknya. Raisa juga sudah beberapa kali menerima pesan dari Bu Dewi untuk segera pulang sebelum Devan pulang. Mengingat jika anak sulung Tuan Meda itu sangat posesif. Hampir sama dengan sifat papanya dulu.


Ibu.


"Nak, jangan pulang terlalu sore."


^^^Raisa.^^^


^^^"Iya, Bu. Ini Raisa juga udah mau pulang."^^^


Ibu.


"Ya sudah. Ibu dan Oma sudah di rumah. Sebentar lagi Devan juga akan pulang."


^^^Raisa.^^^


^^^"Siap, Bu. Raisa ini mau pamit kok."^^^


Ibu.


"Baiklah. Hati-hati di jalan."


Setelahnya Raisa segera pamit kepada nyonya besar Setya. Teman-teman Rasya juga sudah pamit terlebih dahulu karena ada urusan.


"Raisa pamit, ya, Tan," ucap Raisa sembari mencium punggung tangan Mama Rasya.


"Kok buru-buru banget sih," keluh Dara.


"Udah dicariin sama orang rumah, Tan," jawab Raisa dengan senyum simpulnya.


"Oh begitu. Ya sudah, kalian hati-hati, ya. Raisa juga sering-sering main ke sini," ujar Dara.


"Siap, Tan. Raisa pamit, ya," kata Raisa lagi.


"Iya."


Kemudian, Rasya mulai melajukan motornya untuk mengantarkan Raisa kembali ke rumahnya. Jalanan sore hari cukup padat. Langit yang mulanya biru juga kini sudah berubah kejingga-jinggaan.


Di atas motor sport black punya Rasya pun hanya ada keheningan. Kedua sejoli itu tampak kompak untuk saling bungkam. Entah memang tak ada obrolan atau merasa canggung.


Raisa juga tampak sibuk memperhatikan sekitar. Ia beberapa kali mengeluh saat harus berhenti karena macet. Sedangkan Rasya, ia hanya tersenyum kecil di balik helm full face-nya.


"Rai," panggil Rasya saat motor berhenti tepat di lampu merah.


"Hmm?" sahut Raisa sedikit memajukan kepalanya.


"Lu sama mama kaya cocok banget, ya," kata Rasya.


"Iyakah?" tanya Raisa.


"Iya. Mama asyik banget tadi sama kamu," jawab Rasya.


"Oh."


"Eumm kalau gua lihat kalian kaya mertua sama mantunya," ujar Rasya.

__ADS_1


"Ha? Hahaha," Raisa hanya tertawa renyah.


"Kenapa?" tanya Rasya.


"Gapapa, lucu aja," jawab Raisa.


Tak lama dari itu, motor kembali membelah jalanan. Jarak tempuh yang seharusnya bisa ditempuh dengan waktu dua puluh lima menit. Kini harus ditempuh dengan waktu tiga puluh lima menit.


Mengingat, saat itu memang waktunya pulang kantor. Juga, Jakarta yang memang tidak pernah sepi. Bahkan selalu macet kapan pun dan di mana pun.


"Thank, Sya," ujar Raisa sembari turun dari motornya.


"Sama-sama."


"Lu langsung balik apa mampir dulu?" tawar Raisa.


"Langsung balik aja," jawab Rasya.


"Oke deh. Hati-hati, ya," kata Raisa dengan seulas senyumnya.


Rasya tak kunjung meninggalkan pekarangan rumah Raisa. Begitu pula dengan Raisa yang setia menunggu di sana. Ia akan masuk jika Rasya sudah berlalu. Apakah mereka akan saling menunggu?


"Kok diam aja?" tanya Raisa.


"Emm … Gua mau ngomong sama lu," kata Rasya dengan gugup.


Raisa mengercitkan dahinya. Mau ngomong apa sampai Rasya terlihat gugup seperti itu?


"Ngomong aja kali," sahut Raisa.


"Apaan?" tanya Raisa.


"Gu, gua, gua suka sama lu, Rai," jawab Rasya terbata-bata.


"Ha?" beo Raisa.


"Iy-iya, Rai. Gua suka sama lu sejak kita pulang dari pameran kala itu," jelas Rasya.


Raisa masih setia dengan muka datarnya. Ia tak tahu harus menjawab bagaimana dengan ungkapan Rasya. Sejujurnya, di hati Raisa masih kosong blong polos los. Raisa memang tak pernah menaruh hati pada siapa pun. Tetapi untuk Rasya? Ah hanya Raisa yang tahu.


"Mama, Raisa harus bagaimana?" batin Raisa.


"Oh God. Help me please!" batin Raisa lagi.


"Dari awal kita ketemu sampai sekarang. Gua selalu ngerasa nyaman, tentram dan juga senang kalau bareng sama lu, Rai," tutur Rasya memegang tangan Raisa.


"Jujur, lu selalu bikin gua bahagia kalau lihat lu senyum. Cuma sama lu Rai, gua bisa ngerasain dag-dig-dug ser. Senyum-senyum ga jelas kalau berbalas pesan. Salah tingkah sendiri. Dan juga lu adalah cewek pertama yang berhasil masuk di hati gua yang beku. Bahkan lu juga cewek pertama yang bisa bikin gua ngerasain kangen," imbuh Rasya menatap manik mata indah milik Raisa.


"Gua tahu, gua ga romantis ngungkapinnya. Cuma gua mau bilang kalau gua benar-benar tulus dari hati, Raisa Isabella," kata Rasya menampilkan senyum termanisnya.


Raisa sempat tersentak saat melihatnya. Ini adalah kali pertama Rasya tersenyum selebar dan setulus itu. Raisa pun menatap manik mata cokelat di depannya. Hasilnya pun nihil tak ada kebohongan di sana. Benarkah Rasya tulus mencintainya?


"Gua ga tahu harus jawab apa, Sya," jawab Raisa melepas genggaman tangan Rasya.


"Gua ga tahu sama perasaan gua sendiri. Bertahun-tahun hidup tanpa sosok lelaki bisa bikin gua beku soal perasaan," ujar Raisa menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Suka?" Raisa terkekeh sendiri dengan ucapannya.


"Sayang atau cinta?" tanyanya dengan tawa kecil.


"Gua bahkan ga tahu gimana rasanya," kata Raisa dengan gelengan kepalanya.


"Gua akan buat lu tahu rasanya, Rai. Gua bakal usahain lu lebih bahagia dari sebelumnya," kata Rasya meyakinkan.


"Gua-


"Ekhem," deheman seseorang membuat kedua sejoli yang tengah mengungkapkan perasaan itu pun terkejut.


Raisa dan Rasya menoleh ke sumber suara. Di mana ada seseorang yang dengan santainya berdiri di depan mobilnya.


Masih lengkap dengan setelan jasnya. Seseorang itu menatap datar pada Raisa dan Rasya yang tampak terkejut. Raisa sendiri merasa malu seperti maling yang tertangkap basah. Sedangkan Rasya, ia tetap dengan muka santainya.


"Udah sore, Dek. Masuk ke rumah," kata Devan.


Ya. Siapa lagi kalau bukan Isa Devano yang mengacaukan acara romantis Raisa dan Rasya. Huh memang Devan ini.


"Kok Kak Devan bisa ada di situ?" tanya Raisa memberanikan diri menatap kakaknya.


"Kakak udah datang dari tadi sebelum kamu. Cuma pas lihat kamu jadi pengen masuk bareng aja gitu. Eh malah lihat adegan drama romantis yang enggak selesai-selesai juga," jelas Devan.


"Kalau ada tamu tuh diajak masuk. Bukan malah ngobrol di depan kaya gitu," imbuh Devan.


"Hehe," Raisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Masuk dulu, Sya," ujar Devan.


"Rasya langsung pamit aja, Kak," jawab Rasya tak enak hati.


"Kok buru-buru. Padahal aku mau ngomong sama kamu," kata Devan.


"Raisa masuk dulu gih. Kak Devan mau ngobrol sama Rasya," titah Devan.


"Oke."


Sepeninggalan Raisa, Devan segera menghampiri Rasya dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah apa yang akan dikatakan oleh kakak Raisa tersebut.


"Kalau kamu tulus dengan Raisa, aku cuma berharap suatu waktu nanti kamu tidak akan mengecewakannya," kata Devan menatap Rasya.


"Aku tak tahu bagaimana selanjutnya. Hanya saja aku tak mau jika Raisa sampai salah menaruh rasa dengan seseorang. Termasuk kamu," imbuh Devan.


"Rasya Andra Setya, anak tunggal dari Albert Setya dan Dara Nilam Anggi."


"Hanya itu yang aku tahu. Aku mohon, jangan kecewakan Raisa. Jangan terburu-buru, nanti takutnya salah menaruh rasa," ucap Devan kemudian menepuk bahu Rasya.


Setelahnya Devan berlalu memasuki rumahnya.


"Apa maksud Kak Devan?"


"Apa hubungannya dengan kedua orang tuaku?"


Berbagai pertanyaan mulai memenuhi ruang kepala Rasya. Ia bingung harus bagaimana? Karena kebingungannya itu ia langsung pergi saja dari area rumah megah Raisa.

__ADS_1


__ADS_2