Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
ISA GRUP


__ADS_3

Sabtu pagi, Raisa tampak sudah disibukkan untuk bersiap pergi ke perusahaan bersama kakaknya. Setelah melewati perdebatan panjang antara dirinya dan Devan. Kini, Raisa akhirnya luluh untuk ikut ambil bagian mengurus Isa Grup. Setelah mendapat bujukan pelan dari Gio.


"Sudah siap, Rai?" tanya Devan yang sedang menyantap sarapannya.


"Sudah," jawab Raisa.


"Oma, ibu, Raisa sama Devan pamit, ya," ujar Devan setelah menghabiskan sarapannya.


"Iya, kalian hati-hati, ya," sahut Oma Melani.


"Bekalnya dibawa sekalian, Nak," timpal Bu Dewi.


"Iya, Bu," jawab Raisa.


Devan mulai mengemudikan mobil civic hitamnya menuju gedung perusahaan milik papanya.


Kali ini, Raisa tampil dengan sedikit berbeda. Ia mengenakan kemeja berwarna putih dengan blazer berwarna abu-abu. Rambutnya dibiarkan teruari begitu saja. Meski tanpa polesan makeup tebal, Raisa tetap terlihat cantik.



Setelah satu jam, perjalanan, mobil Devan telah sampai di pelataran gedung tinggi yang sudah terlihat tua. Namun, masih sangat terawat karena memang alm. Opa Fernan menugaskan beberapa petugas untuk merawat gedung perusahaan menantunya.


Devan yang memakai setelan jas berwarna putih pun segera turun dari mobilnya. Kemudian berjalan ke arah sahabatnya.



"Gi," sapa Devan menghampiri Gio yang sudah lebih dulu sampai.


"Hai, Van," sapa Gio balik.


"Andra mana?" tanya Devan saat tak melihat sahabatnya itu.


"Dia tadi bilang kalau kejebak macet. Mungkin nanti nyusul," jawab Gio.


"Oh gitu."


"Eh, Rai," sapa Gio.


Raisa hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis.


Gio sempat terkejut saat melihat Raisa yang datang dengan rambut terurainya. Gio merasa bahwa Raisa terlihat lebih cantik dan dewasa. Namun, dibalik wajah cantiknya ia tidak akan segan-segan menendang musuhnya. Itu terlihat dari tatapan matanya.


"Cantik," batin Gio.


"*Sorry* telat," kata Andra yang baru saja sampai.


"It's oke no problem," sahut Devan.


"Yuk masuk, keburu sore," ajak Raisa.


"Yuk!" seru Gio, Devan, dan Andra.


Keempat orang tersebut mulai memasuki area gedung Isa Grup yang terasa sunyi. Meski sudah kosong selama belasan tahun. Tetapi gedung masih terlihat bersih dan layak huni.


"Selamat pagi, Den," sapa seorang penjaga.


"Pagi," balas Gio, Devan, dan Andra.


"Saya Isa Devano, Pak. Anak sulung Pak Meda," tutur Devan memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Ini adik saya, Raisa Isabella," imbuh Devan memperkenalkan adiknya.


"Dan dua anak ini adalah teman baik saya, Gio dan Andra," lanjut Devan menunjuk Gio dan Andra.


Pak penjaga tadi mengangguk tanda mengerti. "Saya Pak Bejo, penjaga di sini yang ditugaskan Pak Fernan," kata Pak Bejo.


"Apa bapak sudah lama bekerja di sini?" tanya Devan.


"Sudah, Den. Sekitar sepuluh tahun terakhir," jawab Pak Bejo.


"Mari, Den, Non. Kita bicara di ruang tamu kantor saja," ajak Pak Bejo.


"Baik, Pak."


Mereka pun menuju ke dalam ruang tamu perusahaan yang letakkan di samping kanan lobi perusahaan. Ruangannya cukup besar seperti di ruang tamu PT. Permata Indonesia. Ruangannya juga masih lengkap dengan sofa dan beberapa perlengkapan lainnya. Juga kebersihannya sangat terjaga.


"Sebelumnya, saya mau bertanya dulu, Pak," ujar Devan begitu duduk di sofa ruang tamu.


"Silakan, Den. Saya akan menjawab sebisa saya," jawab Pak Bejo.


"Semenjak papa saya meninggal dan Opa Fernan juga meninggal. Mengapa perusahaan bisa bangkrut? Bukankah penanam saham terbesar adalah PT. Permata dan perusahaan ini juga sudah memegang peranan penting di negeri ini?" tanya Devan.


Pak Bejo tampak memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan dari anak pemilik gedung tempatnya bekerja.


"Setahu saya, dulu sebelum Pak Fernan meninggal, perusahaan memang sudah bermasalah. Awalnya ketika Pak Meda wafat, perusahaan seakan lepas kendali. Penjualan merosot dan penanam saham perlahan mencabut sahamnya di sini," jawab Pak Bejo.


"Sebelum Pak Meda kecelakaan, perusahaan sempat bermasalah sedikit tetapi masih bisa dikendalikan. Namun, begitu Pak Meda tiada memang perusahaan semakin hancur," imbuh Pak Bejo.


"Sebelumnya, kenapa perusahaan bisa bermasalah? Padahal Isa Grup bisa dibilang usaha properti yang maju," tanya Andra menimpali.


"Maaf, Den. Karena saya baru bekerja, jadi kurang tahu. Cuma menurut pendahulu saya, ada yang bilang kalau perusahaan sempat dicurangi oleh rekan bisnis Pak Meda," jawab Pak Bejo tidak yakin.


"Iya, Non. Karena dulu Pak Meda mempunyai saingan yang cukup pelik. Jadi, sekuat tenaga musuhnya berusaha untuk menjatuhkan beliau," jelas Pak Bejo.


"Kalau boleh tahu siapa, ya, Pak?" tanya Gio semakin penasaran.


"Emm, bapak juga tidak tahu," jawab Pak Bejo.


"Tapi, kalau tidak salah dia adalah pemilik Setya Grup," lanjut Pak Bejo.


"Setya Grup?" ulang Devan, Andra, Gio, dan Raisa.


"Bapak juga kurang tahu," kata Pak Bejo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mengapa runyam sekali?" gumam Devan frustasi.


"Nanti Raisa bantu, Kak. Tenang saja," ujar Raisa mengelus pundak kakaknya.


"Ya sudah kalau begitu terima kasih, ya, Pak," kata Devan.


"Sama-sama."


"Kalau butuh bantuan panggil saja, ya. Bapak pamit dulu," ujar Pak Bejo.


"Iya, Pak," sahut semuanya.


Devan tampak mengusap wajahnya kasar. Ia mencoba memahami mengapa masalah ini bisa serumit ini. Dulu, ketika ia masih di bangku kuliah Opa Fernan sempat berkata bahwa perusahaan bangkrut karena penjualan merosot dan penanam saham mencabut sahamnya. Juga, kala itu PT. Permata Indonesia sedikit bermasalah. Jadi, tak bisa seratus persen membantu pertahanan Isa Grup.


"Gua udah curiga," kata Andra.

__ADS_1


Semua atensi teralihkan kepada Andra. Dengan raut wajah bingung mereka semua menunggu kelanjutan kalimat Andra.


"Semenjak Devan ngasih gua kepercayaan buat mimpin PT. Permata Indonesia. Diam-diam gua menyusuri masalah Isa Grup. Ternyata ga semudah itu. Di balik itu semua tidak ada jejak sama sekali. Sekali pun ada jejak itu sangat sulit diselidiki dan ditembus," ujar Andra.


"Entah itu memang ke ranah masalah atau apa pun itu. Isa Grup seakan menutupi semuanya. Mungkin Opa Fernan yang menutup akses publik setelah Pak Meda meninggal," ujar Andra.


"Beberapa orang bilang kalau Albert Setya yang membuat Isa Grup hancur. Tapi, ada juga yang berpendapat kalau Setya Grup tidak ikut campur. Karena saat itu Albert masih berusaha menaikkan perusahaannya sendiri," sambung Andra.


"Apa ini saling berkaitan?" tanya Raisa.


"Seiingatku dulu waktu aku kecil papa dan mama sering membahas mengenai Albert Setya dan Setya Grup," kata Raisa.


"Raisa ingat dulu beberapa kali Albert sempat main ke rumah. Namun, semenjak beberapa kali terakhir sebelum kecelakaan, dia sudah tidak pernah berkunjung," imbuh Raisa.


"Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Devan.


"Tidak," jawab Raisa menggelengkan kepalanya.


"Kita selidiki dulu perusahaan ini. Baru deh cari tahu yang lain," usul Gio.


"Kemarin gua udah konfirmasi ke beberapa sisa dari pemegang saham perusahaan. Mereka bersedia membantu," kata Devan.


"PT. Permata tetap yang utama," kata Andra.


"So, nanti kita cari waktu buat bangun ini kembali," sahut Devan.


Mereka semua beranjak meninggalkan ruang tamu perusahaan. Mereka berempat berjalan menyusuri setiap ruangan dan lorong kantor yang terlihat bersih dan rapi. Mungkin baru beberapa waktu lalu direnovasi.


Sampai akhirnya langkah Raisa terhenti di depan ruangan besar pemilik Isa Grup. Raisa perlahan memasuki ruangan kosong itu.


"Ruangan papa," gumam Raisa.


Raisa menyusuri setiap ruangan yang masih lengkap dengan barang-barangnya. Hingga, tangan Raisa tak sengaja menemukan sebuah surat yang masih tersimpan rapi di sebelah foto papanya.


"Surat apa ini?" tanya Raisa.


Sepertinya surat itu tidak pernah dibuka. Hanya dibersihkan saja amplopnya tanpa ada minat untuk dibuka.


"Aku sudah berulang kali mengalah padamu. Pertama, saat kuliah dulu aku mengikhlaskan Medina untukmu. Saat SMA aku mengalah agar kau menjadi peringkat pertama. Lalu, mengapa saat perusahaan sudah kau bangun kau tak mau mengalah untukku?"- Isi surat yang dibaca Raisa.


"Kak Devan!" teriak Raisa memanggil kakaknya.


Sontak saja, Devan berbalik arah dan tak menemui Raisa di belakangnya.


"Raisa ke mana?" tanyanya gusar.


"Kak! Ruangan papa!" teriak Raisa.


Devan, Andra, dan Gio langsung bergegas ke ruangan di mana Raisa berada.


"Ada apa?" tanya Devan panik.


"Ini," jawab Raisa menyerahkan surat yang baru ia temukan.


Devan membaca dengan seksama surat pemberian Raisa.


"Siapa dia?" tanya Devan.


"Ada apa?"

__ADS_1


__ADS_2