
Devan dan Gio telah sampai di rumah mewah yang masih terawat. Meski sudah ditinggal penghuninya selama empat belas tahun. Namun, rumah itu masih tetap sama, terawat, dan terjaga.
"Selamat malam, Pak," sapa Devan pada satpam di rumahnya.
"Malam," jawab pak satpam.
"Mau bertemu siapa, Den?" tanya pak satpam.
"Mau ke rumah saya, Pak," jawab Devan seraya turun dari mobil Gio.
"Rumah Aden?" tanya pak satpam bingung.
"Saya Isa Devano, Pak," ucap Devan memperkenalkan diri.
Pak satpam seketika terkejut dengan ucapan lelaki muda di hadapannya. Ia mencoba menelisik lebih jelas raut muka lelaki di depannya.
"Den Devan?" beo pak satpam.
"Iya," jawab Devan dengan senyum ramahnya.
"Astaga," ucap pak satpam terkejut.
"Selamat datang, Den," ucap pak satpam menunduk ramah pada anak dari bosnya.
"Terima kasih, Pak," jawab Devan.
"Silakan masuk, Den," kata pak satpam mempersilakan.
Devan bersama Gio pun memasuki are rumah yang sudah lama tidak berpenghuni tersebut.
"Lho, Den Devan," ucap Bi Surti yang membuka pintu.
"Mari masuk, Den," ajak Bi Surti.
Bi Surti adalah pembantu yang Oma Melani tugaskan untuk merawat rumah peninggalan orang tua Devan. Rumah itu sengaja tidak dijual karena Oma Melani ingin agar saat Isael kembali, rumah tersebut adalah bukti masa kecil Isael. Juga, Devan selalu berharap akan menghabiskan waktunya bersama adiknya di rumah itu.
"Terima kasih, Bi," kata Devan.
Devan bersama Gio merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. Rumah itu begitu bersih dan terawat. Berbeda dengan rumah-rumah kosong lainnya.
"Den Devan mau minum apa?" tanya Bi Surti.
"Teh hangat saja, Bi," jawab Devan.
"Kalau teman Aden mau minum apa?" tanya Bi Surti pada Gio.
"Sama aja kaya Devan, Bi," jawab Gio.
"Baiklah, tunggu, ya, Den," ujar Bi Surti berlalu ke dapur.
Kemarin, saat Devan sedang lepas landas menuju Indonesia, Oma Melani mengabari Bi Surti untuk menyambut Devan.
"Silakan, Den," kata Bi Surti menghidangkan dua teh hangat untuk kedua pemuda tampan itu.
"Terima kasih," kata Devan dan Gio.
"Sama-sama, Den. Kalau gitu bibi ke belakang dulu, ya," kata Bi Surti.
__ADS_1
Devan dan Gio kompak mengangguk. Kedua pemuda itu mulai meminum teh hangat yang baru saja disediakan oleh pembantu rumah itu.
"Udah lama gua ga pernah ke sini," kata Devan memandang ke sekelilingnya.
"Rasanya masih sama," ucap Devan.
"Sama gimana?" Gio bertanya.
"Masih sama kaya dua puluh tahun lalu sebelum gua pergi ke Amerika dan tinggal di New York," jawab Devan.
Rasanya, Devan seperti bernostalgia dengan masa kecilnya sebelum ia tinggal bersama omanya di Amerika.
...****************...
"Devan, jangan lari-larian, Nak," teriak wanita muda yang berusaha mengejar anak lelaki kecil yang sedang asyik bermain lari-larian di dalam rumah.
"Devan, minum susu dulu," teriaknya lagi dengan membawa segelas susu untuk putranya.
"Devan ga mau minum susu. Devan mau adik perempuan," sahut Devan masih berlari-larian.
"Huh dasar anak nakal," gumam Medina, mama dari Devan.
Devan kecil selalu ingin mempunyai adik yang bisa menemaninya untuk bermain. Orang tuanya terkadang sibuk untuk ke luar kota mengurus bisnisnya. Itulah mengapa Devan ingin mempunyai adik.
Devan ingin mempunyai adik perempuan daripada laki-laki, karena Devan ingin bermain boneka bersama adiknya. Ia bosan jika harus bermain robot-robotan atau mobil-mobilan bersama para pembantunya.
"Ketangkap," ujar seorang lelaki menangkap anak kecil manis nan tampan itu.
"Yah ... Devan kalah deh," keluh Devan.
"Ayo anak nakal minum susu dulu," ujar Medina menghampiri Devan dan suaminya.
"Enggak mau," jawab Devan menggelengkan kepalanya.
"Devan mau punya adik dulu, baru minum susu," imbuh Devan dalam gendongan papanya.
"Haha," Meda tertawa renyah.
"Kalau kamu mau punya adik, kamu harus minum susu dulu," kata Meda mulai meminumkan susu pada putra kecilnya.
"Biar kamu kuat dan bisa jaga adik kamu," tutur Meda.
"Benarkah?" tanya Devan seraya meminum susunya.
"Iya. Sekarang habiskan susunya," perintah Meda.
"Habis," ucap Devan begitu selesai meminum susunya.
"Bagus, anak pintar," kata Meda.
"Kalau begitu, Devan sekarang cuci tangan dan kaki lalu tidur, oke?" tanya Medina beralih menggendong Devan.
"Iya, Ma. Tapi nanti beri Devan adik, ya," ujar Devan lagi.
"Iya," jawab Medina sekenanya.
Sedangkan Meda, ia hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan putra kecilnya.
__ADS_1
"Dasar Devan," gumam Meda.
...****************...
"Ternyata lu sepengin itu punya adik," kata Gio yang mendengar cerita Devan.
"Haha, iya," jawab Devan.
"Tapi kenapa waktu Tuhan udah ngasih gua adik. Tuhan malah ambil dia lagi," ucap Devan sendu.
"Mungkin Tuhan akan ganti dengan hal lain yang lebih indah," kata Gio menepuk pundak sahabatnya.
"Tapi, Gi," ucap Devan.
"Gua kemarin dikasih tahu oma, kalau oma habis mimpi ketemu nyokap," cerita Devan.
"Terus?" tanya Gio penasaran.
"Oma bilang kalau kata nyokap, adik gua masih hidup," jawab Devan.
"Gua yakin, kalau Isael masih hidup. Gua harus cari dia," kata Devan penuh keyakinan.
"Lu ga sendiri. Gua sama Andra akan bantu lu buat cari Isael," kata Gio pada sahabatnya.
"Thank, Gi. Lu sama Andra selalu ada buat gua," kata Devan berterima kasih.
"Sebagai sahabat sudah tugas kita buat selalu ada pas lu susah maupun senang," kata Gio dengan seulas senyumnya.
"Thank," kata Devan sembari tersenyum.
"Gua mau istirahat. Lu mau ikut atau pulang?" tanya Devan beranjak dari duduknya.
"Gua ikut lu aja. Sekalian ntar ke kafe barengan," jawab Gio juga beranjak dari duduknya.
"Ya udah."
Devan dan Gio pun naik ke lantai dua menuju kamar Devan.
Begitu Devan memasuki kamarnya, ia melihat di sana banyak foto masa kecilnya. Mainan-mainannya juga masih tertata rapi. Hanya saja, beberapa sudah ada yang dirubah. Hampir sebelas dua belas dengan kamarnya di New York.
"Kamar lu keren juga," kata Gio memuji isi kamar Devan.
"Orangnya aja keren masa kamarnya enggak," gurau Devan dengan pd-nya.
"Narsis," cibir Gio.
"Gua mau mandi dulu," ucap Devan langsung menuju kamar mandinya.
"Hmm," sahut Gio.
Jika Devan sedang mandi, maka lain halnya dengan Gio. Lelaki itu justru merebahkan dirinya pada kasur empuk di kamar Devan.
Gio sama sekali belum tidur. Semalam, ia hendak tidur namun Devan kembali menghubungi. Sehingga, ia tak jadi tertidur.
"Lah, malah ngebo," cibir Devan saat keluar dari kamar mandi melihat Gio yang tertidur.
"Gua juga ngantuk sih," kata Devan.
__ADS_1
"Tidur bentar kali," kata Devan saat melihat jam dinding di kamarnya.
Devan pun menyusul sahabatnya menuju alam mimpi. Devan juga sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh dari Amerika menuju Indonesia. Sekarang, biarlah kedua pemuda tampan itu mengarungi alam mimpi.