Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
LALAT PENGGANGGU


__ADS_3

Gio memacu mobilnya menuju sebuah tempat. Ia akan menemui orang suruhannya untuk menyelidiki masalah yang ada di PT. Permata.


"****!" umpatnya saat terjebak macet di lampu merah.


Tentu saja, Gio akan terjebak macet. Sekarang adalah jam-jam yang memang sering digunakan orang-orang untuk keluar rumah di hari Minggu.


"Lama banget dah," kesalnya saat lampu tak kunjung menghijau.


Sepanjang perjalanan, Gio terus saja mengumpat karena jalanan yang macet. Hingga pada akhirnya, ia sampai di suatu gedung yang begitu megah. Gedung tersebut yang tak lain adalah gedung PT. Permata Tambang Indonesia, milik Opa Fernan yang sudah diwariskan seluruhnya kepada Devano.


"Selamat malam, Pak Gio," sapa satpam kepada Gio saat dirinya keluar dari dalam mobil.


"Malam," balas Gio.


"Andre sudah sampai?" tanya Gio pada satpam yang berjaga.


"Pak Andre baru sampai beberapa menit yang lalu, Pak," jawab pak satpam.


"Oke."


Gio dengan penuh wibawa berjalan memasuki area kantor. Tampak kantor masih saja ramai meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh waktu Indonesia bagian barat. Memang, kantor pertambangan tersebut buka dua puluh empat jam bagi yang ingin lembur.


"Selamat malam Pak Gio," sapa salah satu karyawan.


"Malam," jawab Gio singkat.


Wajah Gio yang tegas dan penuh kewibawaan semakin menambah kesan tampannya. Apalagi, Gio terkenal dengan sikap tegas pada karyawan yang memang bersalah. Serta sikap dinginnya saat bersama orang-orang yang tidak termasuk kriterianya untuk diakrabi.


"Sudah ditunggu Pak Andra di ruangannya, Pak," ujar seorang resepsionis pada Gio.


"Oke."


Gio pun segera masuk ke lift untuk menuju lantai tiga, tempat ruangan Andra berada.


...****************...


Sesampainya di ruangan Andra, Gio langsung masuk begitu saja.


"Katakan!" ujar Gio begitu melihat Andra tengah sibuk dengan layar terang di depannya.


"Minimal salam dulu kalau masuk ke ruangan orang," cibir Andra tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ck," Gio berdecak.


"Kelamaan, gua ga punya waktu," kata Gio seraya mendudukkan dirinya di kursi depan meja Andra.


"Jadi gini," ucap Andra memulai pembicaraan.


Ia tahu, jika Gio ini sebelas dua belas dengan Devan. Mereka bertiga sudah berteman lama sejak masih kuliah di Amerika.


"Gimana?" potong Gio.


"Ada salah satu orang dari Setya Grup yang mencoba mencari tahu, pemilik PT. Permata ini," jawab Andra.


"Setya Grup?" beo Gio.

__ADS_1


"Bukannya Setya Grup berbeda dengan kantor ini?" Gio bertanya.


Andra mengangguk untuk membenarkan ucapan sahabatnya.


"Mereka ingin tahu mengenai pemilik perusahaan ini. Mereka juga ingin tahu mengenai keluarga Devan. Maka dari itu mereka mencoba memancing dengan penurunan pemasaran lewat salah satu orang kita," jelas Andra.


"Maksudnya?" tanya Gio tak paham.


"Ada salah satu karyawan kita yang berkhianat. Mereka berkerja untuk mensabotase PT. Permata ini, agar menurun. Karena Setya Grup tahu, jika PT ini semakin maju, maka PT ini akan membantu Isa Grup untuk kembali berdiri," ujar Andra.


"Maka dari itu, orang suruhan Setya Grup menyuap salah satu karyawan kita untuk membantu mereka," kata Andra.


"Lalu apa hubungannya dengan Isa Grup? Bukankah Isa Grup sudah lama bangkrut?" tanya Gio masih bingung.


"Isa Grup dulu adalah musuh dari Setya Grup. Setya Grup berusaha menyingkirkan Isa Grup. Kita tahu sendiri, kalau Albert itu sangatlah serakah," jawab Andra.


"Albert tahu kalau ini milik Devan, anak Tuan Meda?"


"Tahu."


"Maka dari itu, Albert takut kalau Isa Grup kembali bangkit. Karena pemegang saham terbesar Isa Grup adalah PT. Permata," jawab Andra.


"Alasan kenapa Isa Grup bangkrut ya karena memang setelah Tuan Besar Fernan tiada. Devan belum punya keahlian untuk melanjutkannya."


"Jadi?"


"Gua udah pecat orangnya."


"Lu serius?"


"Serius lah," jawab Andra.


"Dia udah tahu."


"Lalat penganggu seperti orang itu ga pantes buat di sini," kata Andra dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.


"Haha."


"Btw, Devan bilang dia mau ke Indonesia," kata Andra.


"Kapan?" tanya Gio.


"Belum tahu. Katanya sih mau cari adiknya lagi," jawab Andra.


"Isael?"


Andra mengangguk. "Dia bilang kalau Isael masih hidup," jawab Andra.


"Ya ... Kita bantu cari aja. Siapa tahu memang iya," kata Gio.


"Gua juga pengen ketemu Isael. Entah secantik apa dia sekarang?" Gio berandai-andai.


"Emang lu tahu?" tanya Andra.


"Tahu lah. Gua dulu pernah liat foto adiknya pas masih kecil. Manis banget, asli dah. Cantik juga kaya ibunya," jelas Gio.

__ADS_1


"Awas aja lu gebet dia. Urusan lu sama Devan," kata Andra memperingati.


"Restu Devan ma chill. Yang susah hatinya Isael," kata Gio.


"Hahaha."


...****************...


Di lain tempat,, seorang lelaki setengah baya tengah mengumpat kesal karena rencananya telah gagal.


"Sial, kenapa bisa ketahuan?" tanyanya dengan penuh amarah.


"Kenapa bisa kecolongan disaat belum dapat apa-apa," kesal Albert.


Ya. Siapa lagi kalau bukan dia? Saat ini ia tengah marah karena orang suruhannya gagal menjalankan misi untuk membuat PT. Permata down. Albert takut kalau-kalau PT. Permata dapat membangkitkan Isa Grup lagi. Meski itu adalah hal mudah, namun Isa Grup tak kunjung didirikan. Entah apa alasannya? Albert sendiri tidak tahu. Maka dari itu, ia menyuruh salah satu orangnya untuk menyuap karyawan PT. Permata agar mencari informasi dan mulai mensabotase. Sayang, recana Albert mudah dibaca dan mudah untuk digagalkan.


"Dasar tidak becus," makinya pada orang suruhannya.


"Maaf, Pak," ucapnya dengan kepala tertunduk.


"Kamu pikir dengan maaf semuanya akan membaik. HAH?" sentak Albert.


"Saya sudah mengeluarkan uang banyak untuk melakukan semua ini."


"Tapi apa? Saya tidak mendapatkan apa-apa."


"Saya yakin setelah ini, PT. Permata akan semakin waspada dan pastinya Isa Grup akan kembali bangkit," ujar Albert penuh amarah.


"Saya benci itu semua. HAH!" bentak Albert langsung melempar vas bunga ke sembarang arah.


"Tapi, Pak. Saya dengar pemilik perusahaan tambang itu akan pulang ke Indonesia," ucap orang suruhan Albert.


"APA?" tanyanya tidak percaya.


"Bukankah ini berita baik untuk kita dapat menjalin kerja sama?" tanya orang tadi.


"Coba ulangi sekali lagi!" suruh Albert.


"Berita baik katamu?" beonya.


"Bukannya baik malahan buruk!" tegas Albert mencengkeram kerah orang suruhannya.


"Kalau sampai Devano pulang dan memegang langsung PT. Permata yang ada akan memberikan dampak bagi kita," ujar Albert penuh amarah.


"Isa Grup akan mendapat sokongan seratus persen. Lalu kita? Kita akan berada diambang jurang kehancuran!" sentak Albert.


"HAH!" Albert menghembuskan napas kasar.


"Coba sekarang kamu pikir! Kalau Isa Grup bangkit. Kita akan mendapat saingan baru yang lebih kuat!"


"Susah payah saya mengatur strategi untuk menghancurkan Isa Grup. Tapi karena kebodohanmu perusahaan saya akan hancur. Begitu, HAH?"


"Maaf, Pak," cicit orang tadi.


"Maafmu tidak berguna."

__ADS_1


"Sekarang pergi dari sini dan jangan kembali," suruh Albert.


Bawahan Albert tadi keluar ruangan dengan penuh ketakutan. Entah apa yang merasuki bosnya itu hingga bisa semarah itu?


__ADS_2