
"Dia ...," Devan diam cengo menatap kepergian Raisa.
"Raisa Isabella namanya," sahut Gio.
"Isabella? Raisa Isabella, adik gua!" seru Devan.
"Bukan," sanggah Gio.
"Mending kita bicara di ruangan gua aja," ajak Gio.
Sesampainya di ruangan Gio, Devan tampak gelisah. Ia bingung, entah benar itu adiknya atau bukan.
"Raisa Isabella. Iya, itu nama adik gua," kata Devan setelah berhasil mengingat nama lengkap Isael. Adik, kesayangannya.
"Adik lu namanya Isael bukan Raisa Isabella," ujar Gio.
"Isael, itu nama kecil yang mama kasih buat dia," kata Devan.
"Isabella. Isael," kata Devan.
"Ya, dia memang adik gua. Gua harus kasih tahu oma," seru Devan senang.
"Jangan," cegah Gio.
"Kenapa?" tanya Devan heran.
"Lebih baik lu cari tahu dulu benar Isael bukan. Kalau bukan, gua kasihan lihat Oma Melani yang akan berujung kecewa," jelas Gio.
Devan sejenak berpikir.
"Benar juga," katanya kemudian.
"Tapi gua udah ga sabar pengen kasih tahu oma," kata Devan.
"Isael. Adik gua udah di hadapan gua," ucap Devan sedikit berkaca-kaca matanya.
"Gi, adik gua."
"Iya, Van. Mungkin Raisa adalah Isael," ucap Gio memeluk Devan.
Baru kali ini, ia melihat sahabatnya menangis terharu.
"Enam belas tahun dia hidup, kali ini adalah pertama kalinya gua ketemu dia, Gi," ucap Devan dalam pelukan sahabatnya.
"Iya. Gua tahu. Lu pasti kangen kan?"
"Gua kangen banget, Gi. Gua pengen meluk dia," jawab Devan.
"Nanti, ya, kalau udah waktunya," ucap Gio menenangkan sahabatnya.
"Sekarang kita usaha dulu buat cari tahu. Siapa tahu dia emang adik lu yang hilang empat belas tahun lalu karena kecelakaan," kata Gio.
Devan mengangguk. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya agar lebih tenang. Devan tidak mau bertindak gegabah yang akan membuatnya kembali kehilangan adiknya.
...****************...
Pukul sembilan malam, Melody Cafe sudah hampir tutup. Raisa kini sedang berjalan keluar dari Melody Cafe. Ia akan berjalan kaki saja karena malas jika harus menunggu angkot. Banyak PR yang harus ia kerjakan hari ini.
"Rai," panggil Gio.
Raisa terhenti di pintu masuk Melody Cafe.
"Bareng aja yuk!" ajak Gio.
"Ga usah, Kak. Nanti merepotkan," tolak Raisa halus.
"Enggak," kini Devan yang menjawab.
"Karena kamu adalah pegawai Melody Cafe yang paling muda dan masih sekolah. Khusus buat kamu, Gio akan mengantarkanmu pulang dengan selamat," tutur Devan.
"Ha?" beo Raisa terkejut.
"Kenapa, Rai?" tanya Gio.
__ADS_1
"Yuk!" ajak Devan dan Gio.
"Tunggu," cegah Raisa.
"Aku ga mau," tutur Raisa.
"Yang ada nanti akan menimbulkan salah paham. Meski aku masih sekolah, tapi gapapa kok. Emang ini udah konsekuensi aku karena mau kerja," jelas Raisa.
"Enggak, Rai. Nanti kalau ada salah paham biar aku yang jelasin sama mereka. Kamu tinggal bilang aja," kata Gio.
"Ini perintah langsung dari bos muda kita lho," imbuh Gio.
"Yuk!" ajak Gio menggandeng tangan Raisa.
Akhirnya, Raisa pun menyerah dan mengikuti Gio dan Devan menuju mobil Gio.
Gio mengantarkan Raisa menuju rumahnya. Selama perjalanan, tak ada perbincangan diantara mereka bertiga. Sampai akhirnya, Devan yang memulai pembicaraan.
"Btw, kamu sekolah di mana, Rai?" tanya Devan menoleh ke bangku belakang.
"SMA Merak Merdeka 2," jawab Raisa singkat.
"Oh."
"Jurusan apa?" tanya Devan lagi.
"IPA," sahut Raisa.
Sejujurnya ia malas jika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang yang baru dikenalnya. Namun, mau bagaimana pun, Devan adalah bos di tempatnya bekerja. Jadi, Raisa harus menghargainya.
"Oh, ya, kalau boleh tahu nama orang tuamu siapa, Rai?" tanya Devan sedikit lancang.
"Eh udah sampai," kata Raisa saat melihat halaman rumahnya.
"Kalau gitu Raisa turun dulu, ya, Kak. Terima kasih," ucap Raisa.
"Sama-sama," balas Gio.
Devan sedikit menahan kesal karena mobil sudah sampai terlebih dahulu di depan rumah Raisa sebelum Raisa menjawab pertanyaannya.
"Jalan," jawab Devan.
Namun, Devan mengamati rumah yang Raisa tempati. Ia mencoba mengingat-ingat apakah benar yang ia duga? Ia ingin segera mencari tahu.
"Rumah itu ...
...****************...
Raisa memasuki rumah yang ternyata sudah ada ibunya yang sedang menonton TV.
"Sudah pulang?" tanya Bu Dewi.
"Kenapa tidak disuruh mampir saja?" cecar Bu Dewi.
"Sudah, Bu," jawab Raisa seraya mendudukkan dirinya di sebelah ibunya.
"Siapa?" tanya Raisa pura-pura tidak tahu.
"Tadi ibu dengar ada suara mobil. Siapa?" tanya Bu Dewi balik.
"Oalah, itu tadi Kak Gio sama Kak Devan," jawab Raisa.
"Bos dan juga manager di Melody Cafe," imbuh Raisa.
"Devan?" ulang Bu Dewi.
"Iya. Dia dari Amerika. Tampan sih, Bu," jawab Raisa.
"Tadi pas Raisa pertama bertatap muka sama dia. Rasanya kaya adem gitu, tapi kepala Raisa malah sedikit pusing," jelas Raisa.
"Apakah dia anak Tuan Meda dan Nyonya Medina? Melody Cafe kan memang milik Nyonya Melani yang diwariskan pada Nyonya Medina," batin Bu Dewi.
"Kalau iya. Apakah ini sudah saatnya?"
__ADS_1
"Kecapekan mungkin," sahut Bu Dewi.
"Entah."
"Tapi Kak Devan agak nyebelin, masa nanya-nanya terus," adu Raisa.
Raisa memang jika bersama ibunya akan berubah menjadi gadis yang sedikit manja dan hangat.
"Nanya apa aja?" tanya Bu Dewi penasaran.
"Masa nanya-nanya soal sekolah, nama orang tua. Ga menghargai privasi banget," jawab Raisa.
"Hahaha. Mending sekarang kamu bersih-bersih, ibu mau ngomong sama kamu," ucap Bu Dewi.
"Ngomong apa, Bu?" tanya Raisa.
"Ada deh," jawab Bu Dewi.
"Ish, ibu," kesal Raisa.
"Udah sana," seru Bu Dewi.
"Iya-iya," kata Raisa beranjak dari duduknya.
Sejujurnya, Bu Dewi sedikit enggan untuk mengatakan ini kepada Raisa. Ia takut jika akan kehilangan Raisa. Bu Dewi takut jika nanti Raisa akan merasakan sakit jika mengetahui hal tersebut. Namun, apa boleh buat? Wasiat yang ia terima harus disampaikan bukan?
"Ini memang yang terbaik," ucap Bu Dewi meyakinkan diri.
...****************...
"Gua tidur di rumah lu," ucap Gio saat mobilnya sudah memasuki area rumah mewah Devan.
"Terserah," jawab Devan.
"Gua bosan kali di rumah sendiri. Di rumah gua sepi," ujar Gio.
"Hmm," sahut Gio.
Kedua pemuda itu pun memasuki rumah Devan. Gio akan menginap di rumah Devan untuk beberapa hari ke depan. Mungkin sampai Devan kembali ke New York.
Gio, merupakan anak tunggal. Kedua orang tuanya sama-sama sibuk di luar negeri. Itulah mengapa Gio sering merasa kesepian jika tinggal di rumah sendiri.
"Gua sekamar sama lu, ya," pinta Gio pada Devan.
"Dih," decak Devan.
"Nanti sempit," ucap Devan.
"Ya elah, kaya pas di New York enggak sering tidur bertiga aja," cibir Gio.
"Mending ini berdua," sambungnya.
"Iya deh."
"Yes!"
Gio pun menelepon pembantu di rumahnya untuk mengantarkan beberapa baju ganti untuknya. Juga beberapa berkas penting yang sempat ia tinggal di kamarnya.
"Hallo, Bi," sapa Gio pada pembantu di rumahnya.
"Hallo, Den. Ada apa?" tanya pembantu di rumah Gio.
"Tolong bawakan beberapa baju ganti dan baju kerja Gio, ya, Bi. Juga beberapa berkas yang ada di meja kerja Gio. Gio mau menginap di rumah teman," ucap Gio.
"Oalah. Siap, Den. Kirim saja alamatnya nanti biar mang supir yang ngantar," jawab pembantu rumah Gio.
"Oke."
Gio pun mengirimkan alamat rumah Devan kepada pembantunya.
"Beres?" tanya Devan.
"Yoi!" jawab Gio.
__ADS_1
"Nih," ucap Devan memberikan sekaleng minuman soda.
"Thank," kata Gio menerima pemberian sahabatnya.