Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
QUALITY TIME


__ADS_3

Hari libur semester telah tiba. Seorang dara muda kini masih bergelung di bawah selimutnya. Setelah memakan sarapannya, ia kembali tidur di kamarnya.


Semalam, ia tidur hingga larut malam karena asyik bersenda gurau di telepon bersama Rasya. Siapa lagi kalau bukan Rasya? Sedangkan Raisa saja tidak mempunyai teman.


"El, bangun, El!" seru seseorang di balik pintu kamar Raisa.


Raisa menggeliat seraya mengerjapkan matanya untuk memulihkan penghilatannya.


"El, bangun, udah jam delapan!" seru seseorang lagi.


Raisa masih mencoba memulihkan kesadarannya. Ia menyandarkan tubuhnya di sandara ranjang dan mengucek matanya.


"Sebentar!" sahutnya dengan suara serak khas bangun tidur.


Setelah nyawanya terkumpul sempurna. Raisa berjalan ke arah pintu sembari mengikat rambutnya.


"Jam segini baru bangun!" cibir Devan saat melihat adiknya dengan muka bantalnya.


"Ngantuk," kata Raisa kembali memasuki kamar.


Devan pun mengikuti Raisa untuk memasuki kamar bernuasna biru tersebut. Kamar yang selalu bersih, rapi, dan wangi tentunya.


"Kamu semalam begadang, ya?" tanya Devan seraya mendudukkan diri di sofa kamar.


"Heem," sahut Raisa kembali merebahkan diri di atas kasurnya.


"Ya sudah kalau begitu tidur aja. Ga jadi," kata Devan beranjak dari duduknya.


"Memangnya mau ke mana?" tanya Raisa sembari mendudukkan diri di atas kasur.


"Kak Devan ga ke kantor?" tanya Raisa lagi.


Devan menggeleng. "Kakak mau ngajak kamu quality time," jawab Devan.


"Quality time?" beo Raisa mengercitkan dahinya.


"Kita udah lama ga pernah bisa jalan bareng, El. Kakak mau jalan berdua sama kamu. Menikmati indahnya Jakarta bareng adik kakak yang tergemas ini," jelas Devan mencubit pipi Raisa.


"Ya hitung-hitung juga buat ngerayain Isa Grup yang bisa berkembang dengan baik," imbuh Devan.


Raisa mangut-mangut saja.


"Terus Oma sama ibu bagaimana?" tanya Raisa.


"Mereka di rumah. Katanya biar kita aja yang jalan," jawab Devan.


"Oalah. Oke kalau gitu aku mandi dulu," ujar Raisa.


"Kakak tunggu di bawah, ya," ucap Devan.


"Siap."


Tak lama dari itu, Raisa segera mandi dan mempersiapkan diri untuk menikmati waktu berdua dengan kakaknya.


Raisa mengenakan kaos putih tampa lengan dan juga hot pants berwarna biru. Rambut indahnya ia biarkan terurai sehingga menambah kecantikannya. Wajah putih mulus tanpa polesan makeup, hanya polesan suncreen dan lip balm.


"Kak Devan," panggil Raisa sambil menuruni anak tangga.


"Aduh ... Anak ibu kok cantik banget sih!" seru Bu Dewi kegirangan saat melihat Raisa.


"Oma sampai pangling lihatnya," timpal Oma Melani.

__ADS_1


"Hehe," Raisa hanya menunduk malu.


"Kalau gitu Devan sama Isael pamit, ya, Bu, Oma," sahut Devan.


"Iya, hati-hati, ya," ucap Bu Dewi.


Devan mengangguk dengan senyum manisnya. "Yuk, El!" ajaknya.


Raisa dan Devan pun mulai meninggalkan pekarangan rumah keluarga Isa. Devan mengemudikan mobil civic hitamnya dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil pun, hanya terdengar suara musik dari lagu-lagunya Taylor Swift.


"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Raisa sembari menatap ke arah jalanan.


"Taman bermain," jawab Devan tetap fokus mengemudi.


"Kak Devan serius?" tanya Raisa membelalakkan matanya.


"Serius dong, memangnya kenapa?" tanya Devan balik.


"Ya enggak apa-apa sih. Cuma kalau banyak anak kecil bagaimana?" tanya Raisa tersenyum kikuk kepada kakaknya.


"Gapapa. Anggap aja kita masih kecil kaya mereka," jawab Devan santai.


...****************...


Sekitar dua puluh menit, mobil Devan kini sudah terparkir rapi di parkiran taman bermain. Meski tidak hari libur, namun suasana taman tetap ramai. Banyak anak-anak kecil yang sedang bermain, bersenda gurau bersama keluarga, atau bahkan para lansia yang sedang berjalan-jalan.


"Ramai juga, ya, Kak," kata Raisa.


Devan menganggukkan kepalanya. "Yuk!" Devan menggandeng tangan adiknya.


Kakak beradik itu berjalan-jalan di area taman bermain. Sesekali juga Devan berhenti untuk menyapa teman bisnisnya yang sedang berlibur. Sedangkan Raisa, hanya menyimak saja.


"Siapa takut?" tantang Devan.


Devan segera membelikan tiket untuk dirinya dan juga Raisa. Kemudian, mereka segera menaiki wahana bianglala yang cukup ramai tersebut.


Raisa menikmati pemandangan indah kota Jakarta di pagi hari. Ia begitu senang, bahkan senyum manis tak luntur dari wajah cantiknya.


Tepat saat di atas pula, bianglala berhenti berputar. Raisa dengan santai masih melihat ke sekitar taman bermain dari atas sana.


"Kamu ga takut, El?" tanya Devan sambil bersidekap dada.


"Enggak sama sekali," jawab Raisa tanpa menoleh ke arah Devan.


"Thank God. Ma, Pa, lihatlah Isael kita sudah besar. Dia semakin cantik saat senyum indahnya terpancar. Bahkan dirinya lebih cantik dari mama," batin Devan menatap lekat Raisa.


"Andai mama dan papa masih ada, mungkin kebahagiaan kita akan lebih lengkap, Ma, Pa."


"Devan yakin, dari atas sana mama dan papa pasti bahagia juga kan? Lihat Devan berhasil menemukan dan membahagiakan Isael?"


Tanpa sadar, air mata Devan lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


"Yah ... Kok udah gerak sih," kata Raisa saat perlahan bianglala turun ke bawah.


"Kak Devan nangis?" tanya Raisa saat menatap Devan.


Devan tersenyum sembari mengusap air matanya.


"Kakak nangis bahagia," jawab Devan.


"Kakak bahagia bisa lihat kamu senyum sepuas itu tadi. Ternyata bahagiamu sederhana, El. Bahagiamu juga bahagia kakak," ujar Devan.

__ADS_1


Raisa langsung menghambur ke pelukan kakaknya. "Kak Devan juga bahagianya Isael," kata Raisa.


"Terima kasih, ya, Kak," ucap Raisa mendongakkan kepalanya menatap Devan.


Devan tersenyum dengan anggukan kepalanya.


"Terima kasih juga," kata Devan.


Setelah naik bianglala, kini Raisa dengan beraninya menantang kakaknya untuk naik wahana perahu ayun. Devan sempat merinding saat melihatnya. Namun, demi adiknya ia harus menurutinya.


"Baiklah," kata Devan.


Begitu wahana mulai diputar dengan kecepatan tinggi, Raisa dengan kuat menggenggam tangan kakaknya. Kepalanya ia sandarkan di dada bidang kakaknya dan Raisa memejamkan matanya.


Devan yang menyadari sikap Raisa pun hanya tersenyum simpul. Ternyata adiknya ini juga takut.


"Takut?" tanya Devan mengelus puncak kepala adiknya.


Raisa hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ia seakan tidak punya nyali untuk membuka matanya. Perutnya serasa diaduk-aduk saat wahana semakin kencang dan tinggi dimainkan.


"Hah," Raisa akhirnya bernapas lega saat wahana selesai.


"Haha," Devan tertawa kecil.


"Kalau takut seharusnya enggak usah naik," kata Devan.


"Enggak takut, cuma enggak berani aja. Hehe," jawab Raisa dengan cengirannya.


Devan pun gemas dan mencubit hidungnya.


Raisa kembali mengajak Devan untuk mencoba berbagai wahana di taman bermain. Salah satunya adalah komedi putar.


Raisa dengan cerianya tertawa saat melihat Devan seperti tertekan menaiki kuda-kudaan di komedi putar. Baru kali ini, ia melihat wajah tampan dan dingin itu seakan menahan antara malu dan juga kesal.


"Awas kamu, ya!" kata Devan.


"HAHAHA," Raisa hanya mampu menyahuti dengan tawanya.


Devan menggelengkan kepalanya. Ia seakan dikerjain oleh adiknya sendiri.


..."Asal kamu bahagia, El," batin Devan. ...


Setelah puas bermain, kini Raisa mengajak Devan untuk singgah di salah satu gerai penjual es krim. Ia sangat ingin memakan es krim bersama kakaknya itu.


"Mau rasa apa?" tanya Devan.


"Stroberi aja," sahut Raisa yang sudah duduk di bangku pengunjung.


Sepuluh menit berlalu, kini Devan sudah membawakan dua cup es krim untuknya dan adiknya.


"Thank you, brother," ucap Raisa senang.


Ia dengan lahap mulai memakan es krim stroberi pesanannya. Hingga membuatnya sedikit belepotan.



"Kalau makan jangan belepotan kaya anak kecil," tukas Devan mengelap bibir Raisa dengan tisu di depannya.


"Hehe."


Hari sudah berganti siang. Raisa dan Devan pun sudah puas menghabiskan waktu bersama di taman bermain. Sehingga Raisa mengeluh lelah dan mengajak kakaknya untuk pulang saja.

__ADS_1


__ADS_2