
Sepanjang perjalanan, Devan tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hatinya. Ia menatap awan-awan yang sedikit mendung namun indah dari jendela pesawat.
"Ma, Devan sudah bertemu Isael, Ma," batin Devan.
"Thank God," Devan mengucap syukur pada tuhannya.
"Oma, Devan sudah memenuhi janji Devan. Devan akan bawa Isael, Oma," kata Devan dalam hatinya.
"Kenapa tidak dari dulu saja gua pulang. Kenapa harus menunggu ada masalah seperti itu?" Devan bertanya pada dirinya sendiri.
"Gua harus berterima kasih sama Gio yang udah mempekerjakan Isael. Gua harus cegah Isael buat kerja lagi," kata Devan langsung merogoh HP di kantong jaketnya.
Devan.
"Gi, thank lu udah jaga adik gua selama kerja. Mulai bulan depan gaji lu naik dua kali lipat," tulis Devan.
Tak lama kemudian, Gio pun membalas pesan Devan.
Gio.
"You are welcome, Bro. Gua juga ga tahu kalau Raisa itu Isael, adik lu. Btw thank buat naik gajinya," balas Gio.
Devan.
"Mulai hari ini lu ga usah nyuruh Isael buat kerja. Gajinya dia lu kasih aja sekarang. Satu lagi gua minta tolong buat Bi Dewi ga usah kerja. Bulanannya nanti gua transfer kalau udah sampai," tulis Devan.
Gio.
"Beres."
Devan.
"Nomor Raisa ada?"
Gio.
"*Ada."
"Nih. 087xxxxxxxxx."
Devan.
"Thank."
Devan pun kembali memasukkan HP-nya ke dalam saku.
Tak lama kemudian, pesawat yang Devan tumpangi sudah sampai di New York. Devan pun segera mencari letak di mana sopir yang omanya tugaskan untuk menjemputnya.
"Go straight home or stop by where first, Sir?" tanya pak sopir seraya memasukkan koper Devan ke dalam mobil.
Devan berpikir sejenak. Ada baiknya jika ia ingin memberi kabar gembira untuk omanya maka ia harus membawa buah tangan juga. Devan pun berpikir akan membelikan bunga tulip kesukaan omanya.
"Stop by the flower shop first, Sir. Just got home," jawab Devan.
"Oke."
Mobil pun melaju menuju salah satu toko bunga.
Setelah selesai membeli bunga tulip putih kesukaan Oma Melani. Devan segera pulang ke rumah. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera bertemu omanya itu.
Oma Melani pasti sudah sangat merindukannya. Juga pasti akan sangat bahagia bila mendengar kabar bahwa Isael telah ditemukan.
Sesampainya di rumah, Devan tampak heran. Omanya tidak ada di rumah, juga mobil oma tidak ada di halaman. Devan pun bertanya pada asisten rumah tangganya.
"Excuse me, Mrs. Grandma where are you?" tanya Devan.
"Grandma is being taken to the hospital, Sir. Earlier, my grandmother's condition suddenly dropped," jawab pembantu di rumahnya.
Tanpa pikir panjang, malam itu juga Devan langsung mengambil kunci mobilnya dari sopir yang baru saja mengantarkannya. Mengabaikan rasa lelahnya, Devan segera memacu mobil menuju rumah sakit yang biasanya dipakai oma jika sedang sakit.
Tak lama kemudian, mobil Devan telah sampai di rumah sakit. Ia segera bertanya pada resepsionis dan langsung menuju di mana omanya berada.
__ADS_1
"Oma," panggil Devan begitu memasuki ruang VVIP di mana omanya berada.
Tampaknya oma sedang tertidur bersama asistennya di samping tempat tidurnya. Oma Melani terlihat pucat dengan selang infus di tangan dan hidungnya.
Devan tak kuasa membendung air matanya. Meski Devan adalah cowok cuek. Namun bila sudah menyangkut soal keluarga, Devan menjadi cowok yang rapuh. Apalagi di dunia ini, ia hanya punya oma dan adiknya yang baru saja ditemukan.
"Oma dropped because of lack of rest and eating irregularly," tutur asisten oma.
"Oma always thinks about Pak Devan's condition and also his granddaughter," jelasnya.
Devan menghembuskan napas pelan saat mendengar alasan kenapa Oma Melani bisa drop.
"Saya keluar dulu," ucap asisten Oma Melani yang ternyata juga bisa berbahasa Indonesia.
"Hai, Oma," sapa Devan memegang tangan omanya.
"Devan sudah balik," ucap Devan.
"Oma cepat bangun, ya," kata Devan.
"Devan punya kabar gembira buat oma."
"Oma tahu, Isael sudah ketemu, Oma. Isael sudah ditemukan."
"Benar kata oma. Isael sama cantiknya dengan mama. Bahkan Isael jauh lebih manis dari Devan."
Tanpa sadar, Devan menitikkan air matanya di atas tangan Oma Melani.
Seakan mendapat panggilan untuk sadar. Perlahan mata Oma Melani pun tersadar. Devan segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi omanya.
Dokter itu berkata bahwa kondisi oma sudah lebih baik dari sebelumnya. Devan senang mendengar hal itu.
"Isael," panggil oma lirih.
"Iya, Oma. Isael sudah ditemukan. Dia masih hidup," kata Devan.
"Isael," panggil oma lagi.
Oma Melani pun mengangguk.
...****************...
Seminggu telah berlalu. Oma Melani sudah pulih. Kemarin, Devan membawa Oma Melani pulang ke rumah.
Malam ini, Oma Melani sendiri yang memasak makan malam. Meski sudah dilarang Devan dan pembantu di rumahnya. Namun Oma Melani tetap melakukannya. Oma Melani ingin membuat makanan kesukaan Devan sebagai tanda terima kasih karena sudah menemukan Isael kembali.
"Oma," panggil Devan pada Oma Melani yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.
"Sudah pulang?" tanya Oma Melani begitu membalas sapaan cucunya.
"Hmm sedap sekali," ucap Devan saat mencium aroma makanan kesukaannya.
"Oma masak sendiri?" tanya Devan.
"Iya."
"Oma sudah lama tidak memasak. Ini adalah bentuk ucapan terima kasih oma karena kamu sudah membawa kabar gembira," jelas Oma.
"Oma," kata Devan memeluk omanya.
"Sudah tugas Devan untuk mencari adik Devan," ucap Devan.
"Ya sudah kamu makan dulu, ya," kata Oma Melani.
"Iya."
Devan pun menyantap cumi-cumi bakar kesukaannya yang dimasak sendiri oleh omanya. Disela-sela aktivitas makannya Devan, Oma Melani kembali bertanya.
"Nak, kapan kamu mempertemukan oma dengan cucu perempuan, Oma?" tanya Oma Melani.
Sebelum menjawab, Devan menenggak segelas air putih terlebih dahulu.
__ADS_1
"Secepatnya, Oma," jawab Devan.
"Oma ingin tinggal di Indonesia saja," ujar Oma Melani mengutarakan keinginannya.
"Oma serius?" tanya Devan.
"Iya. Oma ingin lebih dekat dengan anak, menantu dan cucu oma," jawab Oma Melani.
"Devan akan urus semuanya," kata Devan.
"Kalau gitu Devan ke kamar dulu, ya, Oma," pamit Devan seraya mencium pipi omanya.
"Iya."
Devan segera naik ke kamarnya. Ia merebahkan dirinya di kasur king size miliknya.
"Isael lagi apa, ya?" monolog Devan.
"Sudah lama tidak berkomunikasi, baiknya aku telpon dia saja," kata Devan merogoh HP-nya.
"Halo," sapa Devan saat telepon sudah terhubung.
"Halo, siapa ini?" tanya Raisa.
Perbedaan waktu antara New York dengan Jakarta hanya sebelas jam. Jika di New York sudah pukul delapan malam. Maka di Jakarta baru pukul sembilan pagi. Jam di mana Raisa baru saja istirahat.
"Ini Kak Devan," jawab Devan.
Raisa menyunggingkan senyumnya saat mengetahui bahwa pelepon tadi adalah Devan, kakaknya.
"Apa kabar?" tanya Devan.
"Baik," jawab Raisa sedikit canggung.
"Kakak sendiri bagaimana?" tanya Raisa ragu.
Mendengar pertanyaan adiknya, Devan tak bisa menahan senyumnya.
Devan begitu senang saat mendengar suara adiknya yang menanyakan kabarnya.
"Aku baik," jawab Devan.
"Syukurlah!" kata Raisa.
"El," panggil Devan.
"Iya?" sahut Raisa.
"Minggu depan kakak akan pulang ke Indonesia dengan oma," ujar Devan.
"Kakak akan tinggal di sana," sambung Devan.
"*Oh."
"Kalau sudah sampai nanti kabari saja," kata Raisa.
"Sudah dulu, ya, Kak. Raisa mau ke perpustakaan*," ucap Raisa.
"Perpustakaan?" ulang Devan.
"Ini sudah malam, El," kata Devan.
"Malam? Di sini masih pagi."
"Oh astaga, kakak lupa. New York sama Jakarta beda sebelas jam," ucap Devan terlupa.
"Hehe," Raisa terkekeh kecil.
"Ya udah, kamu semangat sekolahnya, ya," kata Devan.
__ADS_1
”Oke."