
Motor yang dikendarai oleh Rasya dan Raisa kini telah memasuki pekarangan rumah mewah milik Raisa. Awalnya Rasya sempat berdecak kagum melihat rumah Raisa. Walau ini adalah kali kedua baginya, namun ini juga pertama kalinya bagi Rasya untuk masuk ke dalam rumah.
"Masuk, Sya," tutur Raisa.
"Gua langsung pulang aja," tolak Rasya.
"No!" tegas Raisa.
"Udah basah gini lu ga boleh langsung pulang," kata Raisa.
Tadi, saat di jalan memang sempat hujan. Rasya dan Raisa sudah mengenakan jas hujan. Namun, tetap saja derasnya air hujan menembus jas hujan mereka.
"Kalau lu langsung pulang. Gua ga mau lu ajak jalan lagi," ucap Raisa.
Rasya tersenyum tipis kala melihat Raisa yang bersikeras membujuknya. Pertama kalinya bagi Rasya melihat Raisa yang membujuknya.
"Fine," kata Rasya.
"Gua mampir sebentar," imbuhnya.
"Oke."
Raisa memencet bel di rumahnya. Tak lama kemudian, Bu Dewi membukakan pintu untuk putrinya.
"Ya ampun, kok basah, Rai," kata Bu Dewi mengelus puncak kepala dan wajah Raisa.
"Tadi di jalan gerimis, Bu," jelas Raisa.
"Yasudah masuk dulu," ajak Bu Dewi.
"Eh, iya," kata Raisa saat melihat Bu Dewi menatap bingung pada Rasya.
"Dia teman Raisa, Bu," Raisa memperkenalkan Rasya.
"Oalah," sahut Bu Dewi.
"Saya Rasya, Bu. Temannya Raisa," kata Rasya menyalami tangan Bu Dewi.
"Masuk dulu, Nak," ajak Bu Dewi lagi.
Rasya dan Raisa memasuki rumah mengikuti Bu Dewi.
"Duduk dulu. Ibu mau buatkan minuman hangat untuk kalian," kata Bu Dewi.
"Sya, gua ganti baju dulu, ya. Lu duduk aja," ujar Raisa meninggalkan Rasya di ruang tamu.
"Oke."
Rasya berdiam diri di ruang tamu rumah Raisa. Ia memandangi sekitar yang tampak luas, bersih, dan rapi. Mata Rasya sempat memicing saat melihat foto keluarga Raisa.
"Lucu," gumam Rasya saat melihat foto Raisa kecil.
"Apa yang lucu, Nak?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang.
"Eh," Rasya terkejut dan langsung berdiri.
"Duduklah, saya Omanya Raisa," ucap Oma Melani memperkenalkan diri.
Rasya tersenyum tipis dan menyalami tangan Oma Melani.
"Saya Rasya, Oma. Temannya Raisa," kata Rasya memperkenalkan diri.
"Oh begitu."
"Eh, ada, ibu," kata Bu Dewi saat kembali ke ruang tamu dengan nampan berisi teh hangat dan cemilan.
"Iya, Wi," sahut Oma Melani.
"Diminum dulu, Nak," titah Bu Dewi.
"Terima kasih, Bu," kata Rasya.
"Iya."
"Oh, ya, Raisa ke mana?" tanya Oma Melani saat tidak melihat cucunya.
"Raisa di sini!" seru Raisa yang baru saja menuruni anak tangga.
"Eumm cucu Oma," senang Oma Melani saat Raisa memeluknya.
"Kau cantik sekali," puji Oma Melani.
__ADS_1
"Oma bisa aja," kata Raisa.
"Ayo, dimakan cemilannya!" ujar Bu Dewi saat merasa canggungnya suasana di ruang tamu.
"Ayo, Sya. Jangan malu-malu," timpal Raisa.
"Oke-oke," sahut Rasya mulai mengambil aneka cemilan kue kering di hadapannya.
"Kalian sudah berapa lama kenal?" tanya Bu Dewi.
"Emm, beberapa bulan ini, Bu," jawab Rasya.
"Apa kalian teman satu kelas?" tanya Oma Melani.
"Tidak," kini Raisa yang menjawab.
"Dia kakak kelasku, Oma," imbuh Raisa.
"Oalah."
"Kalian habis dari mana, kok baju Rasya sedikit basah?" tanya Oma Melani saat meneliti penampilan Rasya.
"Tadi habis melihat pameran, Oma. Tapi waktu pulang malah kena hujan di jalan," jelas Rasya.
"Oh, seperti itu."
Rasya hanya tersenyum melihat kehangatan diantara Oma Melani, Bu Dewi dan Raisa. Entah sudah berapa kali ia tersenyum hari ini. Memang, Rasya saat bersama Raisa tak henti-hentinya tersenyum.
"Ajak Rasya makan, Nak," ujar Bu Dewi.
"Kalian pasti belum makan," timpal Oma Melani.
"Tidak usah, Oma. Rasya masih kenyang," ujar Rasya.
"Kalian sudah makan di jalan?" tanya Oma Melani.
"Iya. Tadi sebelum pulang mampir dulu ke tempat makan," jawab Rasya.
Memang, tadi sebelum pulang Rasya dan Raisa mampir ke tempat makan terlebih dahulu. Itu pun permintaan Rasya yang ingin mengajak Raisa makan. Sehinggalah mereka terjebak gerimis setelah dari rumah makan.
"Belum. Tadi bilang ke ibu kalau dia akan lembur," jawab Bu Dewi.
"Oh."
"Oh, ya, Sya, kalau boleh tahu siapa orang tuamu?" tanya Oma Melani.
"Nama papah saya adalah Albert Setya dan mama saya adalah Dara Nilam Anggi," jawab Rasya.
Deg. Hati Bu Dewi bergemuruh saat mendengar jawaban Rasya.
"Albert Setya?" batin Bu Dewi.
"Pemilik Setya Grup?" tanya Oma Melani kembali.
"Benar, Oma," jawab Rasya membenarkan.
"Ibumu bukankah model terkenal itu?" Oma Melani bertanya lagi.
"Iya."
"Wah, kau ternyata anak tunggal mereka," ujar Oma Melani tersenyum.
Rasya hanya menyunggingkan senyumnya.
"Apa kau menyukai Raisa?" tanya Oma Melani lagi.
Sontak saja, Raisa terkejut dengan pertanyaan Oma Melani kepada Rasya yang baru pertama kali berkunjung ke rumahnya.
"Oma," interupsi Raisa.
Rasya terlihat sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan dari Oma Melani.
"Selama ini kata Dewi, Raisa tidak pernah mempunyai teman apalagi seorang lelaki," kata Oma Melani.
"Jadi, kau adalah teman pertama Raisa yang dikenalkannya kepada kami," lanjut Oma Melani.
Raisa tertunduk malu saat rahasianya dibongkar Oma Melani di hadapan Rasya, kakak kelasnya.
"Benarkah?" tanya Rasya tak percaya.
__ADS_1
"Iya. Raisa jarang sekali berinteraksi dengan orang-orang," jawab Bu Dewi.
"Pantas saja," gumam Rasya.
"Rasya tidak tahu entah ini suka atau tidak," jawab Rasya.
"Namun, jika memang iya pasti saya akan menjaga Raisa dengan sungguh-sungguh," imbuh Rasya menatap Raisa yang tengah tertunduk di samping Omanya.
"Ekhem," suara deheman laki-laki dari arah pintu pun membuat atensi mereka teralihkan.
"Kak Devan!" seru Raisa langsung menghambur ke pelukan Devan, kakaknya.
"Sudah pulang?" tanya Devan membalas pelukan Raisa.
"Sudah."
"Kak Devan katanya lembur?" tanya Raisa mengurai pelukannya.
"Tidak jadi. Karena semua sudah selesai lebih awal," jawab Devan.
"Oh, ya sudah."
"Oma, ibu," sapa Devan menyalami tangan keduanya.
"Hai, Kak," sapa Rasya.
"Halo," balas Devan.
"Devan ke atas dulu," pamit Devan.
"Baiklah."
Rasya kembali gugup saat ditatap oleh Bu Dewi dan Oma Melani. Ia merasa seperti terintimidasi oleh kedua wanita berumur di depannya.
"Oma cuma mau bilang. Raisa adalah cucu kesayangan, Oma. Jadi, jagalah dia, sayangi dia dengan tulus dan jangan sakiti dia," tutur Oma Melani.
"Siap, Oma," sahut Rasya menyanggupi.
"Oma apa-apaan sih?" kesal Raisa.
"Tidak apa-apa, Rai. Dia kan temanmu, biar dia menjagamu kalau di sekolah," kata Oma Melani.
"Tapi tidak gitu juga," kata Raisa.
"Sudah-sudah," Bu Dewi melerai.
"Kalian masih remaja, jadi bertemanlah sewajarnya. Saling menjaga, menghargai, mengingatkan, melengkapi dan saling membantu," ucap Bu Dewi bijak.
"Sya, kamu memang harus sabar karena sikap Raisa. Sebenarnya dia itu manja kok, kalau sama orang-orang terdekatnya," imbuh Bu Dewi.
"Iya, Bu."
Mereka berempat kembali melanjutkan obrolan santai mereka. Bersenda gurau bersama dengan berbagai candaan mengenang sama sekolah Bu Dewi dan Oma Melani.
Sampai tidak terasa, hari sudah berganti malam. Rasya memutuskan untuk pulang karena tidak ingin menganggu waktu istirahat keluarga Raisa.
"Rasya pulang dulu, ya, Oma, Bu Dewi," pamit Rasya menyalami tangan keduanya.
"Iya, hati-hati, ya, Nak," balas Oma Melani.
"Sering-sering ya, main ke sini biar makin dekat," kata Bu Dewi.
Rasya hanya menganggukkan kepalanya.
"Biar Raisa yang antar," ucap Raisa mengikuti Rasya menuju teras.
"Pulang dulu, ya, Rai," pamit Rasya.
"Oke. Hati-hati," sahut Raisa.
"Terima kasih," ujar Raisa.
"Yoi. Terima kasih kembali," ucap Rasya.
Tin. Suara klakson motor Rasya saat meninggalkan pekarangan rumah Raisa.
Sepeninggalan Rasya, tanpa diketahui oleh mereka semua. Seorang lelaki tengah menatap interaksi Rasya dan Raisa dari balkon kamarnya.
"Pendekatan yang sangat epic," batin lelaki itu.
"Baiknya aku cari tahu dulu. Aku ga mau kalau Raisa sampai sakit hati," batin lelaki yang tak lain adalah Devan itu.
__ADS_1