Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
TERUNGKAP


__ADS_3

"HENTIKAN!" teriak seorang lelaki tak jauh dari mereka.


Mereka semua kini beralih menatap ke sumber suara. Raisa memejamkan matanya saat menyadari siapa pemilik suara itu.


"Mampus," batinnya.


"Aku ga mau Kak Devan jujur di hadapan mereka," batin Raisa.


Lelaki tadi berjalan menghampiri Raisa. Lelaki itu langsung memeluk Raisa yang tampak basah karena disiram air.



Raisa memejamkan matanya di pelukan Devan, kakak lelakinya. Ia mencoba mencari perlindungan dan kenyamanan di sana. Tanpa sengaja pula, air matanya menetes tanpa aba-aba. Padahal, biasanya Raisa tak pernah menangis hanya untuk hal sepele seperti itu.


"Kalian lagi!" kesal Gio yang baru saja datang bersama Devan.


"Lu kenal mereka?" tanya Devan dengan nada dingin.


"Mereka kakak kelas Raisa yang suka ngebully dia," jawab Gio.


"Mereka sudah dua kali membuat onar di Melody Cafe. Hari ini mereka kembali lagi," jelas Gio.


"Kenapa mereka bisa kembali?" tanya Devan.


"Bukannya orang seperti mereka tidak pantas di sini?" imbuh Devan menatap horor kepada Audy, Sinta, dan Nayla.


"Kemarin salah satu dari ketiga cowok ini memesan meja di sini buat acara ulang tahun dan melibatkan Raisa," jelas Gio.


"Di daftarnya cuma berempat dan ga ada mereka. Tapi gua ga tahu kenapa ada mereka," sambung Gio.


"Mereka datang tanpa diundang, Kak," kata Revan.


"Kalau tidak diundang bukankah seharusnya mereka pengunjung biasa? Kenapa bisa membuat ribut di sini?" tanya Devan dengan nada dingin.


"Bukankah meja kalian ini VIP?" tanya Devan setelah melihat tempat dan meja yang ditempati oleh Rasya dan kawan-kawannya.


"Ketiga anak ini memang suka membuat onar, Kak. Di sekolah juga," timpal Aldo.


"Raisa selalu jadi sasarannya," tambah Rasya.


Devan menatap nyalang kepada Audy, Nayla, dan Sinta.


"Atas dasar apa kalian membully Raisa?" tanya Devan dengan nada dingin yang tak enak didengar.


"Audy cemburu," jawab Sinta dengan polosnya.


"Cemburu?" beo Devan.


"Mungkin salah satu dari mereka ada yang suka Rasya," kata Gio.


"Rasya?" ulang Devan tambah bingung.


"Rasya, kakak kelas Raisa yang sudah beberapa kali sering mengantar Raisa pulang dan menolong Raisa saat dibully mereka," jawab Gio menjelaskan.


"Jadi karena itu?" tanya Devan lagi.


Trio Wek-Wek Brengsek hanya menunduk dan tak berani menatap Devan. Tatapan mata Devan seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Jadi, mereka takut untuk menatap Devan.


"JAWAB!" sentak Devan.


"Iy-iya, ka-kak," jawab Nayla terbata.


"A-Audy ya-yang su-suka, mem-membully Raisa," kata Nayla memberanikan diri.


"Karena dia ga mau kalah sama Raisa yang selalu diperhatikan Rasya," imbuh Sinta.


"Bohong!" sanggah Audy.


"Kalian berdua juga," katanya menatap kedua temannya, Sinta dan Nayla.


"Seharusnya kalian itu ngaca!" seru Devan.


"Kalian bilang kalau Raisa itu ular. Tapi kalian sendiri yang ular," cibir Devan.


"Asal kalian tahu, saya sangat tidak suka kalau ada orang yang menyakiti adik saya!" ucap Devan tegas dan jelas.


"ADIK?" pekik Audy, Sinta, Nayla, Revan, dan Aldo secara bersamaan.


"Ya," jawab Devan datar.


"Raisa Isabella adalah adik saya, Isa Devano. Raisa adalah anak kedua dari Meda Isa Al-Zabet dan Medina Putri Isabel," jelas Devan mengungkap jadi diri Raisa yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kak," panggil Raisa menarik kemeja kakaknya.


"Jangan diungkap," kata Raisa.


"Biarkan mereka tahu," jawab Devan.


"Kenapa? Kalian terkejut?" tanya Devan dengan smirknya.


"Raisa adalah adik kesayangan saya. Dia adik saya yang hilang belasan tahun lalu," ujar Devan.


"Siapa pun yang berani menyakitinya. Maka, dia akan berurusan dengan saya!" tutur Devan.


Devan melepas pelukannya dengan Raisa. Menatap wajah ayu Raisa yang terlihat masih ada jejak tamparan di pipinya dan beberapa bulir air.


"Pasti sakit," kata Devan mengelus pipi Raisa.


Raisa menggelengkan kepalanya.


"Gi, lu urus mereka. Gua mau obatin Raisa," kata Devan berlalu meninggalkan meja Rasya.


"Beres!" sahut Gio.


Gio menatap horor satu persatu dari Trio Wek-Wek Brengsek itu.


"Tiga kali berjumpa," kata Gio dingin.


"Bagaimana, apa kalian tidak kapok?" tanya Gio.


Audy, Sinta, dan Nayla tak ada yang bersuara.


"Kalian telah melukai adik kesayangan pemilik cafe ini," kata Gio.


"Bukan cuma satu kali, tapi berkali-kali," lanjutnya.


"Apa kalian mau masuk ke kantor polisi atas kasus kekerasan dan bullying?" tanya Gio.


Audy bersama kedua temannya menggeleng.


"Kalian mau diberi hukuman juga tidak akan kapok kan?" tanya Gio menatap satu persatu dari Audy dan teman-temannya.


"Mau kalian apa?" tanyanya lagi.


"Kasih aja hukuman yang berat, Kak," kata Revan pada Gio.


"Kali ini, kalian sudah keterlaluan. Sebagai hukuman, saya mau kalian membersihkan area Melody Cafe selama satu bulan!" seru Gio.


"APA?" pekik Audy, Sinta, dan Nayla.


"Mau ditambah?" tanya Gio.


"Enggak, udah cukup," jawab Audy.


"Kalian akan membersihkan meja, kursi dan sampah setiap Melody Cafe akan tutup. Juga mencuci piring dan gelas setiap libur sekolah dari pagi!" sambung Gio.


"Gila!" kata Nayla.


"Protes sama dengan minta tambahan," ucap Gio.


"Fine," kata Sinta.


"Yuk pergi," ajak Sinta pada teman-temannya.


Rasya merasa bersalah atas kejadian tadi. Karena dia, lagi-lagi Raisa harus celaka.


"Atas kegaduhan yang terjadi, kami mohon maaf, Kak," kata Rasya dengan penuh penyesalan.


Gio menatap dingin Rasya. "Kamu sudah dua kali membuat Raisa celaka," kata Gio.


"Jaga jarak dengan Raisa. Jangan sampai dia celaka lagi karena kamu!" ujar Gio meninggalkan Rasya, Aldo, dan Revan.


"Ngeri-ngeri," kata Aldo.


"Pawangnya ngeri," timpal Revan.


"Pulang!" seru Rasya kepada kedua temannya.


"Gagal gara-gara Mak Lampir," gerutu Aldo seraya berjalan mengekori Rasya.


"Padahal udah sweet," timpal Revan.


...****************...

__ADS_1


Di ruangan Gio, Devan sedang mengobati luka yang ada di pipi Raisa.


"Sakit, ya?" tanya Devan hati-hati.


Raisa lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya. Sejujurnya, Raisa tak merasakan sakit sama sekali. Ia hanya terkejut dengan tindakan kakak kelasnya itu.


"Kok diam aja, kenapa?" tanya Devan seraya mengompres pipi Raisa.


Raisa menggelengkan kepalanya. "Gapapa," jawabnya datar.


"Udah beres," kata Gio begitu memasuki ruangan. Ia langsung duduk di singe sofa di ruang kerjanya itu.


"Benar-benar tu anak," geram Devan.


"Udah, Kak," kata Raisa mencegah tangan Devan yang hendak mengompresnya lagi.


"Oke-oke," ucap Devan.


"Tahan, ya. Ini aku kasih salep," kata Devan sembari mengoleskan salep di pipi Raisa.


"Terima kasih," kata Raisa dengan senyum tipisnya.


"Sama-sama."


"Ceritanya tadi gimana sih, Rai?" tanya Gio penasaran.


"Aku juga ga tahu, Kak. Tiba-tiba aja gitu," jawab Raisa tanpa menatap Gio. Pandangannya hanya tertuju pada satu arah, yakni depan.


"Kamu suka sama cowok tadi?" tanya Devan kepada adiknya.


Raisa diam. Suka? Oh ayolah. Raisa selama ini hidup tanpa seorang lelaki. Apakah ia akan jatuh cinta semudah itu? Tapi, hati manusia juga tidak ada yang tahu bukan?


"Enggak," jawab Raisa datar.


"Ya sudah."


"Kamu mau pulang?" tanya Devan.


Raisa menggeleng. "Kepalaku pusing," katanya.


"Istirahat di sini dulu," kata Devan menyenderkan kepala Raisa di pundaknya.


"Kamu mau pulang ke rumah Oma tidak?" tanya Devan sambil mengelus puncak kepala adiknya.


"Mau," jawabnya lirih.


"Ya udah, nanti pulang ke rumah, ya. Besok libur juga kan?"


"Iya."


"Gi, lu sekalian nginep. Gua mau bahas sesuatu," tutur Devan pada Gio.


"Oke."


Raisa perlahan memejamkan matanya. Gio yang menyadari itu pun memberi tahu Devan.


"Adik lu tidur," kata Gio.


"Masa sih?" tanya Devan menoleh pada Raisa yang tertidur di pundak kanannya.


"Lucu," gumam Devan yang dapat didengar oleh Gio.


"Emang," sahut Gio.


"Ck! Lu suka?" tebak Devan.


Gio hanya mengendikkan bahunya.


"Alah, jangan ngelak," ucap Devan dengan senyum tipisnya.


"Ga ngelak," sanggah Gio.


"Mending lu bawa pulang Raisa. Kasihan dia pasti capek," Gio mengalihkan topik.


"Ya udah," kata Devan.


"Lu bawa mobil gua," kata Devan melemparkan kunci mobilnya.


"Mobil gua?" tanya Gio.


"Tinggal," jawab Devan dengan membawa Raisa dalam gendongannya.

__ADS_1


Gio mulai mengemudikan mobil menuju rumah Devan. Untungnya Melody Cafe sudah sepi pengunjung dan karyawan sudah pada pulang. Jadi tidak membuat kontroversi dengan digendongnya Raisa oleh Devan.


__ADS_2