Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
UNDANGAN


__ADS_3

Hari ini dua puluh lima Agustus adalah hari di mana salah satu siswa SMA Merak Merdeka 2, yang sangat populer seantero sekolah berulang tahun. Ya. Siapa lagi kalau bukan Rasya Andra Setya .


"Woi, Bro!" panggil Revan merangkul pundak Rasya.


"Main ninggal aja," kata Aldo menyusul langkah Rasya dan Revan.


"Happy birthday, Bro," seru Revan menepuk bahu Rasya.


Rasya menoleh sekilas. Seulas senyum terbit di bibir Rasya.


"Kok ingat?" tanya Rasya terkekeh sendiri.


"Biasanya gua yang ngingetin kalian," imbuh Rasya.


"Hehe," Revan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gua yang ngingetin," kata Aldo.


"Ha?" beo Rasya dan Revan.


"Tumben," kata Rasya.


"Ingat aja gitu," kilah Aldo.


"Hmm," sahut Rasya.


"Ntar malam sibuk ga, Bro?" tanya Revan pada Rasya.


Ketiga siswa SMA Merak Merdeka 2 itu tengah berjalan di koridor sekolah menuju kelas mereka.


"Enggak," jawab Rasya.


"Ntar malam lu ikut gua, ya," ajak Revan.


"Ke mana?" tanya Rasya.


"Melody Cafe," kini Aldo yang menjawab.


"Ngapain?" tanya Rasya.


Aldo dan Revan rupanya tengah main kode-kodean di belakang Rasya.


"Lu ke kelas Raisa," kata Revan tanpa suara.


"Siap," ucap Aldo juga tanpa suara.


"Weh, ngapain?" ulang Rasya menyenggol bahu Revan.


"Gua mau balik ke parkiran dulu. Buku gua ketinggalan di jok," pamit Aldo.


"Oke," sahut Revan.


"Hmm, makan-makan aja, si," jawab Revan kikuk sendiri.


"Oke deh," jawab Rasya tanpa bertanya lagi.


"Ntar jemput gua aja," kata Rasya lagi.


"Siap," jawab Revan.


Aldo rupanya tidak jadi ke parkiran. Ia malahan ke kelas Raisa.


"Untung ga ketahuan Rasya," gumam Aldo.


"Rai," panggil Aldo saat melihat Raisa tengah membaca buku di bangkunya yang paling pojok.


Raisa menoleh saat mendengar ada seseorang yang memanggilnya.


"Gua?" tanya Raisa menunjuk dirinya sendiri kepada seseorang di depan pintu kelas.


"Iya," jawab Aldo.


"Sini!" seru Aldo pada Raisa.


"Ngapain?" tanya Raisa tanpa suara.


"Udah buruan. Ada perlu," kata Aldo.


Raisa beranjak dari duduknya. Menghampiri Aldo, kakak kelasnya yang berada di ambang pintu ruang kelasnya.


"Ada apa?" tanya Raisa begitu sampai di depan Aldo.


"Ntar malam sibuk ga?" tanya Aldo berbasa-basi.


"Ga," jawab Raisa datar.


"Anu itu," kata Aldo gugup sendiri.


"To the point!" hardik Raisa.

__ADS_1


"Gua mau ngundang lu ke Melody Cafe buat acara ulang tahun Rasya," kata Aldo mengutarakan maksudnya.


"Oh," jawab Raisa ber-oh ria.


"Oh doang?" ulang Aldo tak percaya.


"Terus?" tanya Raisa balik.


"Lu mau kan?" tanya Aldo penuh harap.


"Oke," kata Raisa berlalu meninggalkan Aldo di depan pintu.


"Huh, dasar bongkahan es!" gerutu Aldo berlalu meninggalkan ruang kelas Raisa.


Aldo dengan sedikit kesal kembali berjalan menuju kelasnya sendiri di lantai tiga.


"Jadi mereka mau makan-makan di Melody Cafe?" tanya seorang yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan Aldo dan Raisa.


"Terus gua ga diundang gitu?" tanyanya lagi.


"Benar tuh. Masa kita-kita ga diundang sih," timpal temannya.


"Malah si cupu yang diundang."


"Awas aja kalian!" geramnya berlalu meninggalkan tempatnya menguping pembicaraan Aldo dan Raisa.


Sepulang sekolah, Raisa dijemput langsung oleh Devan. Kali ini, Devan tidak ada jadwal meeting, jadi ia bisa menjemput adiknya tercinta.


"Kak Devan," panggil Raisa menghampiri kakaknya.


"Hai," balas Devan.


"Gimana hari ini?" tanya Devan pada adiknya.


"Cukup baik, tapi banyak tugas," jawab Raisa.


Devan mengacak pelan rambut Raisa yang dikuncir kuda.


"Yuk pulang!" ajak Devan membukakan pintu mobil untuk Raisa.


"Terima kasih," kata Raisa begitu duduk di kursi samping kemudi.


Banyak pasang mata terkagum-kagum dengan hal itu. Ada juga dari mereka yang menatap benci kepada Raisa. Terutama Trio Wek-Wek Brengsek itu.


"Itu bukannya pemilik Melody Cafe?" tanya Nayla.


"Dasar ular!" geram Audy.


"Awas aja nanti!" seru Audy.


...****************...


Malam telah tiba, Rasya tengah mematutkan diri untuk pergi ke Melody Cafe. Kali ini, Rasya lebih bersemangat ke sana karena Rasya berpikir akan bertemu Raisa.


Sudah beberapa hari ini, ia tidak pernah bertemu Raisa lagi. Mungkin, terakhir kali bertemu Raisa adalah saat pergi ke pantai. Setelah itu, ia tak bertemu lagi dengan Raisa.


"Gua kangen Raisa?" monolog Rasya.


"Masa sih?" tanyanya seakan tak percaya.


"Semoga ketemu deh," harap Rasya.


Tak lama kemudian, mobil Revan telah sampai di rumah Rasya. Rasya pun segera menghampiri Revan.


Selama perjalanan, keduanya tidak ada lagi obrolan. Rasya sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Revan fokus mengemudi.


Revan.


"Ready," tulisnya pada seseorang.


Aldo.


"Raisa udah di sini," balasnya pada Revan.


Mobil Revan telah terparkir rapi di area parkir Melody Cafe.


"Duduk sini aja, Sya," ajak Revan saat sampai di Melody Cafe.


"Oke," sahut Rasya langsung duduk di tempatnya.


"Rai, lu bawa ini," kata Aldo.


"Kenapa harus gua?" tanya Raisa protes.


Tadi, sebelum Rasya dan Revan sampai di *Melody C*afe, Aldo dan Raisa sudah lebih dulu sampai. Untung saja, Raisa diizinkan oleh Devan dan Bu Dewi. Kebetulan juga Gio dan Devan sedang diluar dan nanti akan menyusul ke sana.


"Udah bawa aja," kata Aldo.


"Bawa aja, Rai," timpal Kak Ina.

__ADS_1


"Nah, benar tuh!"


"Iya-iya."


"Jalan, Rai," titah Aldo.


Raisa mulai berjalan menuju tempat di mana Rasya dan Revan berada. Raisa membawa kue ulang tahun dengan lilin angka tujuh belas.


Suara musik ulang tahun mulai terdengar saat Raisa menghampiri Rasya.


"Selamat ulang tahun," kata Raisa tepat di hadapan Rasya.


Rasya dan Revan langsung berdiri. Mereka berdua menampakkan ekspresi yang berbeda tentunya. Jika Revan merasa senang, maka berbeda hal dengan Rasya yang merasa terkejut.


Bersamaan dengan itu, Aldo datang bersama dua pelayan Melody Cafe yang membawa nampan makanan dan minuman.


"Doa dulu baru ditiup," kata Raisa.


Semua pengunjung menatap takjub pada meja Rasya. Beberapa juga sempat mengambil video pemandangan romantis di hadapan mereka.


"Sabar," kata seseorang menahan temannya yang sudah emosi berat.


"Tunggu waktunya!" interupsi temannya yang lain.


Rasya memanjatkan doanya kemudian menitup lilin di hadapannya.


"Ye ....," pekikan kegembiraan keluar dari Aldo dan Revan.


"Thank," ucap Rasya langsung memeluk Raisa.


Raisa terkejut dengan hal itu. Kue di tangan Raisa pun diambil alih oleh Revan.


"Ini semua rencana Kak Aldo sama Kak Revan," kata Raisa tanpa membalas pelukan Rasya.


Rasya mengurai pelukannya. "Thank buat kalian," kata Rasya menatap bergantian kepada kedua sahabatnya.


"Sama-sama, Bro!" kata Revan dan Aldo.


"Potong kuenya gih," suruh Aldo.


Rasya mulai memotong kue cokelat berbentuk hati itu. Potongan pertama, ia berikan kepada Raisa.


"Cie ...," sorak Revan dan Aldo.


Raisa tak kunjung membuka mulutnya. Ia merasa ragu untuk menerima suapan Rasya.


"Ayo buka!" seru Rasya.


Saat Raisa hendak membuka mulutnya, tangan Rasya ditepis oleh seseorang yang menyebabkan kuenya terjatuh ke tanah.


"Apa-apaan ini?" pekik Revan.


Tatapan mata Rasya seketika berubah nyalang pada sosok pelakunya. Raisa hanya diam dengan tatapan datarnya.


"Kalian yang apa-apaan?" tanya Audy dengan nada tinggi.


Siapa lagi pelakunya kalau bukan Audy. Seseorang yang menguping pembicaraan Aldo dan Raisa juga Audy bersama kedua temannya.


"Cupu, lu ngapain kasih kejutan buat Rasya?" tanya Nayla.


Raisa bergeming. Ia merasa tak selera menanggapi Trio Wek-Wek Brengsek di hadapannya.


"Lu emang kurang ajar, ya!" amuk Audy hendak menjambak rambut Raisa.


Rasya berhasil menangkis tangan Audy dari kepala Raisa.


"Lepasin!" seru Audy melepas cekalan tangan Rasya.


"Lu emang dasar ular!" bentak Audy.


"Manager Melody Cafe lu embat, pemiliknya juga. Sekarang, lu mau Rasya juga?" tanya Audy kesal.


"Dasar ular!" teriak Audy.


Plak.


Audy berhasil menampar pipi Raisa. Rasya, Aldo, Revan, Nayla dan Sinta sungguh terkejut dengan tindakan Audy.


"Dasar jelmaan ular!" bentak Audy lagi.


"Stop!" perintah Rasya.


Revan dan Aldo sudah menghalangi Sinta dan Nayla agar tidak ikut-ikutan. Rasya mencoba melerai, namun tidak berhasil juga.


Byur


Kali ini Audy berhasil menyiramkan segelas minuman di kepala Raisa.


"HENTIKAN!" teriak seorang lelaki tak jauh dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2