
Seorang dara muda dengan setelan piyama berwarna merah sedang asyik membaca buku di balkon kamarnya. Rambut panjangnya yang ia biarkan terurai pun beterbangan karena tertiup oleh angin. Menutupi wajah ayunya yang polos tanpa polesan makeup.
Di sampingnya membaca buku, terdapat pula meja kecil yang tersedia teh hangat dan beberapa cemilan. Dara muda itu, asyik membaca buku novel yang menceritakan tentang kisah perjuangan anak desa untuk mencapai mimpinya.
Di tengah kesibukannya, tiba-tiba saja HP Raisa berbunyi. Ya. Dara muda tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Raisa Isabella. Anak perempuan dari Meda Isa Al-Zabet dan Medina Putri Isabel.
"Ganggu aja," gerutunya sembari meraih HP yang ia letakkan di atas meja kecil.
"Rasya?" gumam Raisa saat melihat nama si penelpon.
"Halo, Sya?" sapa Raisa saat selesai menekan lencana hijau.
"Hai, long time no see. How are you?" tanya Rasya dari seberang sana.
"I am fine. Lu sendiri gimana?" tanya Raisa balik.
"Gua baik. Oh, ya, Rai. Sorry, ya. Akhir-akhir ini gua jarang kasih kabar. Gua masih sibuk di perusahaan," ujar Rasya yang memang benar adanya.
Seminggu masa libur semester satu, Rasya memang memfokuskan diri dan waktu liburnya untuk bekerja di Setya Grup, membantu papanya. Beberapa hari ini, memang Rasya sering lembur dan pulang sampai larut malam. Jadi, pesan dari Raisa pun jarang dibuka. Jika dibuka pun hanya dibalas secara singkat.
"Gapapa, gua ngerti kok. Gua juga beberapa hari ikut bantu di perusahaan," jawab Raisa.
"Syukur deh. Emm, Rai. Btw gua mau ngajak lu main mau ga?" tawar Rasya.
"Main? Ke mana emangnya, Sya?" tanya Raisa.
"Gua mau ngajak lu ke rumah gua. Nyokap gua di rumah kok," jawab Rasya.
"Rumah lu?" beo Raisa tak percaya.
"Heem, kenapa? Lu ga mau, ya?" tanya Rasya yang sudah bisa menebak jawaban Raisa.
"Gua malu, Sya!" jawab Raisa.
Bagaimana tidak? Rasya dan Raisa saja tidak memiliki hubungan lebih kecuali teman atau kakak kelas dan adik kelas.
"Malu kenapa? Ga cuma lu, kok. Ada Revan sama Aldo juga," kata Rasya.
"Oalah gitu."
"Gimana, mau, ya?" tanya Rasya lagi.
"Emm ... Oke deh. Kapan emangnya?"
"Besok!"
"Lu serius?"
"Dua rius malahan."
"Hmm."
"Besok gua jemput jam sepuluh. Lu dandan yang cakep deh pokoknya."
"Apaan coba?"
"Hahaha. Ya udah, sorry gua ganggu lu. Gua matiin dulu, ya," kata Rasya.
"Oke."
Setelah selesai mengobrol dengan Rasya. Raisa pun kembali ke dalam kamarnya. Karena hari sudah semakin malam. Raisa memutuskan untuk tidur saja.
__ADS_1
...****************...
Berbeda dengan Raisa. Rasya justru kembali turun ke lantai satu rumahnya untuk menemui kedua orang tuanya. Setelah perdebatan sengit kedua orang tuanya tempo hari. Hubungannya dengan kedua orang tuanya pun semakin merenggang.
Apalagi melihat mama dan papanya yang tak kunjung baikan. Rasya menjadi semakin enggan berada di rumah. Itulah mengapa, ia sering lembur di kantor yang kelak akan menjadi miliknya juga.
"Rasya mau bicara sama kalian," ucap Rasya dengan nada datarnya.
Sontak saja, Albert yang kala itu sedang fokus dengan laptop di ruang keluarga pun menoleh. Sedangkan Dara, dirinya sibuk dengan HP dan media sosialnya.
Meski bertengkar, kedua orang tua Rasya tetap sering berada di dalam satu ruangan. Walau pun ujung-ujungnya akan tetap saling acuh dan tak saling bertegur sapa. Entah sampai kapan Albert dan Dara akan seperti itu?
"Mau bicara apa, Sya?" sahut Albert menoleh sekilas pada anak semata wayangnya.
"Besok, teman-teman Rasya mau main ke rumah. Jadi kalian harus jaga sikap," jawab Rasya setelah duduk di sofa.
"Revan sama Aldo?" tanya Dara menyahuti.
"Sama Raisa juga," jawab Rasya.
"Raisa?" beo Dara menautkan kedua alisnya.
"Teman Rasya," jawab Rasya singkat.
"Besok pagi-pagi papa harus berangkat ke Kanada. Jadi, kamu tenang saja," kata Albert.
"Perusahaan nanti kamu yang headle sama asisten kamu," imbuh Albert.
"Baik, Pa."
"Oh, ya. Raisa siapa? Kok mama ga tahu sih," tanya Dara penasaran.
"Besok mama juga tahu," jawab Rasya seraya berlalu meninggalkan kedua orang tua.
...****************...
Kemudian, Raisa segera turun untuk sarapan dan izin kepada orang rumah.
"Selamat pagi, Oma, ibu, Kak Devan," sapa Raisa.
"Pagi," sapa mereka bertiga.
"Mau ke mana, El?" tanya Devan saat melihat penampilan adiknya.
Biasanya, Raisa hanya akan memakai celana rumahan dan kaos oblong. Jika ia mengajak ke kantor pun, Raisa akan memakai kemeja bukan sweeter seperti sekarang.
"Mau jalan sama Rasya," jawab Raisa.
"Oh," Devan hanya ber-oh ria.
"Kalau gitu Devan pamit dulu, ya, Oma, ibu," pamit Devan seraya mencium punggung tangan keduanya.
"Hati-hati, ya, Nak," ucap Oma Melani.
"Kakak pamit, El. Jangan pulang terlalu sore," kata Devan.
"Siap."
Setelah menyelesaikan sarapannya, Raisa memilih untuk menunggu Rasya di teras rumah. Oma Melani dan Bu Dewi tadi sudah pergi terlebih dahulu. Kedua wanita tersebut memang suka menghabiskan waktu di panti sosial yang berada di sekitar kompleks.
__ADS_1
Tak lama dari itu pun, Rasya telah sampai di rumah Raisa. Tanpa berbasa-basi pun Rasya langsung kembali memacu motornya menuju rumahnya.
"Pagi, Tante," sapa Raisa saat melihat Dara di teras rumahnya sedang asyik membaca majalah.
"Pagi," balasnya.
"Apa kabar Tante Dara?" tanya Revan yang baru saja sampai bersama Aldo.
"Baik. Udah lama, ya. Kalian ga main ke sini," kata Dara.
"Kita sering main kok tante. Cuma tante ga di rumah aja. Hehe," tutur Aldo.
"Yuk masuk dulu," ajak Dara.
Raisa dengan malu-malu mengikuti Rasya, Revan, dan Aldo yang sudah masuk terlebih dahulu. Mereka berempat dipersilakan nyonya besar Setya untuk duduk di ruang bersantai rumah besar itu.
"Anggap saja rumah sendiri, ya," kata Dara.
"Raisa jangan malu-malu dong," ucap Dara saat melihat Raisa hanya menundukkan kepalanya.
"Hehe, enggak kok, Tan," sahut Raisa.
"Ternyata kamu cantik banget, ya. Pantes Rasya suka," ujar Dara.
Mendengar perkataan mama Rasya, Raisa hanya tersenyum simpul.
"Kamu cewek pertama Rasya lho kalau mau tahu. Dia ga pernah ngenalin teman ceweknya. Cuma kamu yang berani dia bawa ke sini," jelas Dara.
"Wajar, Tan. Anaknya cuek banget. Pas ketemu yang sama cueknya langsung konek," canda Aldo.
"Hahaha. Bisa aja kamu," sahut Dara.
"Oh, ya. Kamu teman sekelas Rasya, ya?" tanya Dara.
"Adik kelasnya, Tan," jawab Raisa.
"Oh."
"Kamu tinggal di kompleks mana, Rai?" tanya Dara semakin penasaran dengan sosok gadis cantik yang pertama kali bertandang ke rumahnya.
"Di komplek Cut Nyak Dien, Tan," jawab Raisa.
"Lumayan, ya, kalau dari sini," ucap Dara.
"Mama kamu juga model, ya?"
"Enggak, Tan."
"Dia anak kedua Nyonya Medina, Ma," kata Rasya.
"Astaga," Dara membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Oh My God. Tante minta maaf, ya. Tante Dara enggak tahu," kata Dara dengan nada bersalah.
Siapa yang tidak tahu Medina? Sebagai seorang istri pengusaha sukses. Medina memang cukup dikenal di kalangan masyarakat. Medina juga putri tunggal pemilik PT. Permata juga penerus Melody Cafe yang kini sudah diwariskan pada Raisa.
Selain itu pula, Medina yang memiliki darah campuran Indonesia-Amerika. Tentu memiliki paras yang cantik. Dirinya juga terkenal ramah dan suka menolong. Kabar kematiannya pun sempat membuat publik geger dan tak menyangka.
"Pantas saja kamu cantik sekali," ujar Dara tersenyum.
"Terima kasih. Tante juga cantik," puji Raisa kembali.
__ADS_1
"Ah. Kamu bisa aja."
Berbagai obrolan pun muncul dari Dara, Rasya, dan Revan. Apalagi Si Aldo yang super humoris tentu akan membuat suasana semakin riuh. Raisa pun tampak nyaman berada di sana. Ini adalah kali pertama ia bisa seakrab dan bertemu langsung dengan orang tua temannya.