
Hari ini, Devan dan Gio akan berangkat menuju Kanada. Sehubungan dengan pelaksanaan rapat tander yang akan dilaksankan setelah tahun baru.
Devan bersama dengan Gio kini sedang berpamitan kepada Bu Dewi, Oma Melani dan Raisa tentunya. Jika berbicara mengenai orang tua Gio, maka jawabannya adalah orang tua Gio sedang berada di Belanda untuk bisnis mereka.
"Devan pamit, ya, Oma, ibu. Jaga diri kalian baik-baik," ujar Devan sembari mencium punggung tangan Bu Dewi dan Oma Melani.
"Iya, kamu hati-hati, ya, Nak. Jaga kesehatan, jangan capek-capek. Nanti kalau sudah selesai cepat pulang," balas Oma Melani mengelus pundak cucu laki-lakinya.
"Siap, Oma," jawab Devan dengan seulas senyumnya.
"Jangan telat makan, ya, Nak. Sering-sering kasih kabar," ujar Bu Dewi.
"Siap, Bu. Nanti kalau Devan senggang akan selalu telepon ke rumah," ucap Devan mencium punggung tangan Bu Dewi.
"Gio juga pamit, ya," kata Gio bergantian menyalami Bu Dewi dan Oma Melani.
"Iya, kamu juga hati-hati, ya, Nak. Jaga diri dan jaga kesehatan," titah Bu Dewi.
"Iya, siap, Bu," balas Gio.
"Cucu-cucu oma baik-baik di sana, ya," kata Oma Melani tersenyum hangat.
Devan dan Gio kompak menganggukkan kepalanya.
"El," panggil Devan pada Raisa yang sedari tadi hanya diam.
"Hmm," sahut Raisa.
"Kakak pamit, ya. Kamu jaga diri baik-baik, jangan keluyuran," ucap Devan mengelus puncak kepala Raisa.
"Iya," jawab Raisa.
"Kalau udah masuk sekolah nanti diantar jemput sopir. Jangan bandel," imbuh Devan.
"IYA," jawab Raisa.
"Sip," kata Devan sembari memeluk adiknya.
"Kangen," lirih Raisa di dalam dekapan kakaknya.
"Kan belum pergi," sahut Devan.
"Sama aja," ujar Raisa.
"Kakak cuma sebentar kok," kata Devan.
"Satu bulan itu lama," gerutu Raisa.
"Ya udah, kalau udah selesai langsung pulang deh. Mau dibeliin apa?" tanya Devan.
"Gak mau apa-apa. Kak Devan cepat pulang aja," jawab Raisa.
"Oke," ucap Devan mengurai pelukannya dan mencium kening adiknya penuh sayang.
"Jaga diri baik-baik," pesan Devan.
"Kakak juga," kata Raisa.
"Koala galak," panggil Gio.
"Jangan kangen, ya," ujar Gio menepuk pelan kepala Raisa.
"Enggak akan," jawab Raisa ketus.
"Hahaha," Gio tergelak.
"Kami pamit, ya, jaga diri baik-baik," kata Gio.
Raisa hanya menganggukkan kepalanya.
"Mohon perhatian. Pesawat dengan nomor penerbangan XXXX menuju Kanada akan segera lepas landas. Bagi para penumpang dimohon untuk segera memasuki pesawat," suara panggilan di bandara.
"Kami pamit," kata Devan langsung menarik koper miliknya.
Rasanya sungguh berat meninggalkan keluarganya. Namun, harus bagaimana lagi? Ini semua demi kelangsungan Isa Grup.
Raisa perlahan mulai menumpahkan kesedihannya. Ia menatap nanar punggung kakaknya dan juga sahabat kakaknya yang sudah semakin mengecil. Perlahan, cairan bening mulai tumbah dari kedua sudut matanya.
__ADS_1
"Kakakmu akan kembali," ujar Oma Melani mengelus pundak cucu perempuannya.
"Yuk pulang!" ajak Bu Dewi.
"Sopir kita sudah menunggu di depan," imbuh Bu Dewi mulai menuntun Oma Melani dan Raisa.
Meski langkah Raisa sudah menjauhi bandara. Tapi tatapannya terus mengarah ke dalam bandara. Ada rasa tidak rela yang hinggap di hatinya saat kakaknya hendak pergi.
Padahal, beberapa bulan yang lalu Devan juga pergi ke Kanada. Namun hanya untuk dua hari saja. Itu pun saat Raisa sedang sibuk dengan ujian semesternya.
"Tunggu kakak kembali, El. Kakak janji akan meluruskan semuanya," batin Devan tatkala pesawat sudah mulai mengudara.
"Gua ga tahu apa yang terjadi. Tapi dari kekehnya sikap Devan dan Andra. Gua yakin akan ada apa-apa," kata Gio dalam hati.
...****************...
Malam ini, bulan bersinar lebih terang. Udara malam pun tak begitu dingin. Angin sepoi-sepoi semakin melengkapi malam purnama yang begitu indah.
Raisa duduk berdiam diri di balkon kamarnya. Sudah dua hari ini, dia seakan sendiri. Ia juga tidak mendapat kabar dari kakaknya maupun Gio. Rasya? Ah sudah lama rasanya Raisa tidak bertukar kabar dengannya.
Di tengah lamunannya, HP berlogo apel di genggaman Raisa itu pun berbunyi. Seulas senyum terbit di bibir merah muda alaminya.
"Halo, El," sapa Devan saat sambungan video sudah terhubung.
Raisa hanya tersenyum. "Hai, Kak," balas Raisa.
"Kamu apa kabar?" tanya Devan di seberang sana.
"Baik. Kak Devan sendiri bagaimana?" tanya Raisa balik.
"Baik juga," balas Devan.
"Kata Oma kamu sekarang jarang keluar kamar, ya?" tanya Devan.
"Enggak kok," kilah Raisa.
"Kamu jangan gitu, El. Kasihan Oma sama ibu. Kakak juga sedih kalau tahu kamu jadi murung," tutur Devan.
"Raisa enggak murung kok, Kak. Cuma lagi malas aja," jawab Raisa.
"Oke lah kalau begitu. Eh btw happy new year, ya, El," ucap Devan.
"Happy new year too," kata Raisa.
"Iya," balas Raisa.
"Titip salam buat Kak Gio, ya. Bilangin jangan telat makan, nanti kalau sakit Raisa senang gitu," ujar Raisa.
"Hahaha, bisa aja kamu," kata Devan dengan kekehannya.
"Raisa tutup dulu, ya, Kak," kata Raisa.
"Oke."
Tak lama kemudian, layar HP Raisa kembali gelap. Menyisakan notifikasi pesan yang baru saja masuk di HP-nya.
Rasya.
Gua di depan rumah.
^^^Raisa.^^^
^^^Ngapain?^^^
Rasya.
Udah buruan turun.
^^^Raisa.^^^
^^^Oke.^^^
Raisa pun segera keluar dari kamarnya. Tak lupa membawa serta HP dan juga uang untuk ia bawa.
"Mau ke mana, Nak?" tanya Bu Dewi saat melihat Raisa menuruni anak tangga.
"Ada Rasya di depan. Mau jalan, Bu," jawab Raisa.
"Oalah."
__ADS_1
"Raisa pamit, ya. Titip salam buat Oma," kata Raisa setelah menyalami Bu Dewi.
"Iya."
Raisa segera menghampiri Rasya yang tengah berdiri di sebelah motor sport black miliknya.
"Hai," sapa Rasya.
"Halo," balas Raisa.
"Nih pakai," kata Rasya menyerahkan helm-nya pada Raisa.
"Mau ke mana?" tanya Raisa.
"Liat kembang api," jawab Rasya.
"Buruan!" seru Rasya.
Raisa segera memakai helm-nya dan menaiki motor Rasya. Rasya pun mulai memacu motornya menuju lokasi kembang api. Tempat merayakan pergantian tahun.
...****************...
"Wah ... Keren banget," Raisa berdecak kagum saat melihat banyaknya kembang api.
"Yuk!" ajak Rasya menggandeng tangan Raisa untuk memasuki area alun-alun.
Raisa semakin berdecak kagum saat melihat banyaknya muda-mudi, anak-anak yang dengan gembira memainkan kembang api di tangannya.
"Mau?" tanya Rasya gemas sendiri.
Raisa hanya menganggukkan kepalanya dengan pandangan yang tak lepas dari pemandangan di depannya.
"Tunggu di sini," ujar Rasya.
Rasya kembali dengan membawa beberapa bungkus kembang api di tangannya.
"Nih," katanya menyodorkan kembang api.
"Terima kasih," balas Raisa.
Rasya mulai menyalakan kembang api di tangan Raisa. Tawa girang pun mulai keluar dari bibir Raisa.
Rasya merasa bersyukur, karena Raisa selalu ada di sisinya. Bahkan bisa melihat Raisa tersenyum dari hal sederhana yang ia lakukan adalah kebahagiaan tersendiri bagi Rasya.
Rasyaandra My gorgeous girl🖤
"Rai," panggil Rasya.
"Hmm?" sahut Raisa asyik dengan kembang apinya.
"Do you want to be my girl friend?" tanya Rasya menatap Raisa dengan serius.
"Ha?" beo Raisa.
"Do you want to be my girl friend?" ulang Rasya.
Raisa bergeming dengan pertanyaan Rasya. Ia harus menjawab bagaimana? Bukankah ini sudah yang kesekian kalinya.
"Gua ga tahu harus jawab kaya gimana?" tanya Raisa.
"Lu cuma jawab yes or no doang kok, Rai," jawab Rasya.
"Masalahnya gua tahu sama perasaan gua, Sya," lirih Raisa.
"Seiring beejalannya waktu pasti lu tahu," yakin Rasya.
"Mau, ya, El?" ulang Rasya.
Raisa berulang kali menghembuskan napasnya. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang sudah tak karuhan. Apalagi melihat Rasya yang sudah berjongkok di hadapannya.
"Kita-
"Eumm … Kita-
"Kita apa, Rai?" tanya Rasya tak sabaran.
"Kita temenan aja," jawab Raisa sembari menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Wajah Rasya pias. Teman? Oh ayolah!
"O-oke," tanggapan yang keluar dari mulut Rasya.