Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
PENJELASAN


__ADS_3

Raisa kembali ke ruang tamu tempat di mana ibunya berada. Ia langsung duduk di kursi yang tadi ia gunakan untuk duduk. Raisa celingukan mencari di mana ibunya berada.


"Ibu di mana sih?" tanya Raisa dalam hati.


"Bu, Raisa udah di sini," panggil Raisa.


"Sebentar, Nak," sahut Bu Dewi dari dalam kamarnya.


Tak lama kemudian, Bu Dewi sudah kembali ke ruang tamu menyusul Raisa. Ia pun duduk di sebelah Raisa. Ia menatap manik mata putrinya lekat. Mencoba menegarkan dirinya untuk memberi penjelasan kepada putrinya.


"Nak," panggil Bu Dewi memegang tangan putrinya.


"Iya, Bu," ucap Raisa tersenyum.


"Kalau semisal kamu tahu kebenaran tentang diri kamu. Kamu masih mau menerima ibu?" tanya Bu Dewi.


"Ibu ngomong apa sih," jawab Raisa.


"Rai, ibu serius," ucap Bu Dewi.


"Kamu masih mau menerima ibu kan?" tanya Bu Dewi lagi.


Raisa menganggukkan kepalanya dengan seulas senyumnya.


"Ibu tetap ibunya Raisa apa pun kondisinya," jawab Raisa.


Bu Dewi menghela napas lega. Sedikit tersenyum sembari kembali menatap manik mata Raisa.


"Rai, ibu bukan ibu kandungmu," ucap Bu Dewi.


Deg.


Raisa bak disambar petir. Hatinya bergemuruh, ia mencoba mencerna perkataan ibunya dengan bijak.


"Ibu ngomong apa?" tanya Raisa mencoba mencerna perkataan ibunya.


"Rai, selama empat belas tahun kamu hidup bersama ibu. Pernahkah kamu melihat ayahmu? Suami ibu?" tanya Bu Dewi.


Raisa menggeleng. "Enggak. Ibu selalu bilang kalau ayah udah pergi jauh," jawab Raisa.


Bu Dewi menampakkan seulas senyumnya.


"Ibu mau jujur sama Raisa. Tapi, Raisa harus janji kalau Raisa jangan membenci ibu apa pun yang terjadi," ucap Bu Dewi.


Raisa menyentuh tangan ibunya. Mencoba meyakinkan ibunya untuk mempercayainya.


"Iya, Bu. Raisa janji," kata Raisa.


"Nak, usiamu sudah enam belas tahun. Kamu sudah hidup bersama ibu selama empat belas tahun di rumah ini," jelas Bu Dewi.


Raisa masih mencoba memahami akan setiap kata yang keluar dari mulut ibunya.


"Ibu dulu adalah pembantu serta pengasuhmu di rumah besarmu. Kamu adalah anak perempuan dari pengusaha bernama Tuan Meda dan istrinya adalah Nyonya Medina," jelas Bu Dewi.

__ADS_1


"Tunggu. Tapi kenapa aku bisa hidup bersama ibu? Di mana mereka?" tanya Raisa memotong perkataan ibunya.


"Mereka sudah tiada," jawab Bu Dewi lirih.


"Tiada?" beo Raisa.


Bu Dewi mengangguk mantap.


"Mereka kecelakaan saat kau masih berusia dua tahun," kata Bu Dewi.


"Terus keluarga Raisa yang lain?" tanya Raisa.


"Raisa mempunyai kakak dan juga oma yang tinggal di New York Amerika," jawab Bu Dewi.


"Kenapa mereka tidak mencari Raisa, Bu?" tanya Raisa sarkas.


"Sebenarnya mereka sudah mencarimu, Nak. Namun, dalam kecelakaan itu kamu berhasil dibawa ibu pergi ke rumah sakit. Di sana ibu merawatmu, menungguimu sampai kamu tersadar dari koma," ucap Bu Dewi dengan air mata yang tak lagi dapat dibendung.


"Mereka mencarimu. Bahkan polisi selalu mencari hingga beberapa tahun berlalu. Mereka akhirnya menyerah," kata Bu Dewi.


"Mereka menyerah karena saat kecelakaan tak ada saksi mata yang melihat ibu membawamu pergi. Saat itu kamu menangis dalam pangkuan ibu dan ketika kecelakaan benar-benar terjadi," ujar Bu Dewi terjeda menahan sesak di dadanya. Ia mencoba untuk tidak menangis saat mengingat kejadian empat belas tahun silam.


"Saat mobil menabrak pohon, ayahmu langsung meninggal di tempat kejadian. Sedangkan ibumu masih menguatkan dirinya dan berkata pada ibu. Saat itu kamu sudah tak sadarkan diri akibat benturan. Namun, Tuhan memang baik. Ibu hanya luka kecil saja," tutur Bu Dewi.


"Ibumu berkata untuk merawatmu seperti anak ibu sendiri karena ibu memang tidak punya anak. Suami ibu meninggalkan ibu karena ibu tak bisa memberinya keturunan."


"Ibumu berkata agar ibu selalu menjagamu, merawatmu, dan nanti jika usiamu genap tujuh belas tahun ibu akan mencari keluargamu di Amerika. Ibumu ingin itu karena Bu Medina tidak bisa jauh darimu. Ia tak mau kamu tinggal di Amerika seperti kakakmu," kata Bu Dewi.


"Kakak Raisa. Raisa punya kakak?" tanya Raisa.


"Kakakmu laki-laki. Dia bernama Isa Devano, bos muda Melody Cafe," jawab Bu Dewi.


"Apa?" tanya Raisa tak percaya.


"Iya, Nak."


"Kak Devan yang kau bilang tampan adalah kakakmu," jawab Bu Dewi.


Tiba-tiba saja air mata Raisa menetes tanpa aba-aba.


"Hiks ... Mama ... Papa ...," kata Raisa terisak.


"Raisa ... Kak Devan ... Hiks...," ucap Raisa.


"Kakak Raisa," katanya langsung menghambur ke pelukan ibunya.


"Iya, Nak. Devan adalah kakakmu," kata Bu Dewi mengelus pelan rambut Raisa.


"Dia kakakmu yang tinggal jauh di Amerika dan sangat menyanyangimu," ucap Bu Dewi.


"Tapi-


"Tapi kenapa Raisa enggak bisa mengingatnya, Bu?" tanya Raisa menangis di pelukan Bu Dewi.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa mengingatnya jika kamu saja mengalami amnesia pasca kecelakaan, Nak?" tanya Bu Dewi balik.


Bu Dewi pun ikut menangis saat memeluk putrinya. Ia merasa tak tega saat mengatakan hal tersebut kepada Raisa.


"Hiks ... Raisa ... Kak Devan ...," kata Raisa terbata.


Sungguh dunia memang sempit bukan? Raisa bawahan Devan di Melody Cafe adalah adiknya sendiri. Benarkah?


"Ibu mau menunjukkan satu bukti kepadamu, Nak," ucap Bu Dewi mengurai pelukannya.


"Bukti apa, Bu?" tanya Raisa sembari mengusap air matanya.



"Ini," ucap Bu Dewi menyerahkan foto tersebut.


Raisa menerimanya dan melihat dengan seksama.


"Foto ini?" tanyanya dalam hati.


"Jadi foto ini foto orang tua Raisa dan kakak Raisa, Bu?" tanya Raisa.


"Iya."


"Foto itu diambil waktu kakakmu masih kecil. Kamu belum ada," jelas Bu Dewi dengan kekehan kecil.


"Mereka lucu, ya, Bu?" tanya Raisa mengalihkan pandangannya dari foto itu kepada ibunya.


"Iya."


"Bu, kalau Kak Devan tahu gimana?" tanya Raisa.


"Gapapa," jawab Bu Dewi.


"Tapi jangan kasih tahu dulu, ya. Karena belum waktunya," kata Bu Dewi.


"Kamu masih kurang satu bulan untuk genap tujuh belas tahun. Ini aja baru bulan Agustus awal," jelas Bu Dewi.


"Oalah gitu."


"Tapi Raisa ga mau kalau tinggal di New York," kata Raisa.


"Benar kata mama, Raisa lebih baik di Indonesia."


"Haha."


"Makasih, ya, Bu," kata Raisa tersenyum penuh ketulusan.


"Buat?" tanya Bu Dewi menaikkan satu alisnya karena bingung.


"Sudah merawat dan membesarkan Raisa. Juga menganggap Raisa sebagai anak ibu sendiri," jawab Raisa.


"Sama-sama," ujar Bu Dewi kembali memeluk Raisa.

__ADS_1


Penjelasan yang dikatakan oleh Bu Dewi cukup membuat Raisa paham. Raisa mudah menerima karena memang Raisa adalah anak yang penurut. Apa pun yang dikatakan oleh ibunya merupakan yang terbaik untuknya. Itulah mengapa saat Bu Dewi mengatakan yang sejujurnya, Raisa mudah percaya.


__ADS_2