
"Ada apa?" tanya Devan panik.
"Ini," jawab Raisa menyerahkan surat yang baru ia temukan.
Devan membaca dengan seksama surat pemberian Raisa.
"Siapa dia?" tanya Devan.
"Ada apa?" Andra menghampiri Devan.
Sama halnya dengan Devan, Andra membaca surat itu dengan seksama. Sehingga mengundang perhatian Gio untuk merebut surat itu dari tangan Andra.
"Surat waktu kapan ini?" tanya Andra menoleh pada Raisa.
"Aku ga tahu, Kak. Tadi pas masuk ruangan papa nemu itu di dekat foto ini," jawab Raisa menunjuk pada tempatnya menemukan surat.
"Apa kau menemukan hal lain?" tanya Devan.
"Tidak," jawab Raisa.
"Gua yakin di sini pasti ada sesuatu," kata Gio.
"Kalau dari tulisan tangannya, surat ini udah lama. Tapi entah kenapa masih disimpan," jelas Gio.
"Lebih baik kita geledah aja ruangan ini. Siapa tahu ketemu hal-hal baru yang bisa jadi bukti," usul Gio.
"Setuju!" seru Andra dan Raisa.
"Tunggu," cegah Devan.
Andra dan Gio menatap heran kepada Devan. Raisa juga tak kalah bingung mengapa kakaknya itu seolah mencegah? Bukankah ia juga ingin mendapatkan titik terang?
"Ruangan papa memang jarang digeledah. Petugas hanya ditugaskan untuk membersihkan. Mereka menghormati wasiat opa yang memang tahu papa orangnya privasi banget," kata Devan menjelaskan.
"So, gua minta sama kalian buat hati-hati," lanjut Devan.
"Oke," sahut Gio dan Andra.
"Biar Raisa aja yang buka area meja papa. Kalian buka yang lain aja," tutur Raisa.
Gio, Andra, dan Devan kompak mengangguk. Dengan sangat teliti, mereka mulai menyusuri ruangan luas pemilik Isa Grup yang sudah lama tak dihuni.
"Ketemu!" pekik Gio saat tak sengaja menemukan sesuatu.
"Apa, Gi?" sahut Devan bertanya.
Gio menunjukkan sebuah figura lama kepada sahabatnya.
"Kosong," jawab Gio.
"Sebentar!" cegah Raisa saat Gio hendak mengembalikan figura itu.
Raisa merebut figura yang ada di tangan Gio dan mulai membuka isi figura kosong yang ditemukan Gio.
"Hati-hati, Rai!" seru Gio saat Raisa hampir terkena kaca figura.
Raisa hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Perlahan Raisa menjelajahi figura itu hingga ia menemukan sebuah foto.
__ADS_1
Raisa memberikan foto itu kepada Gio.
"Ini bukankah Albert dan kedua orang tuamu?" tanya Gio menunjukkan foto itu kepada Devan.
"Benar. Itu foto masa muda mereka," jawab Devan mengambil alih foto itu.
"Pasti ada sesuatu," gumam Devan.
"Cari lagi!" titah Andra mulai menggeledah ruangan tersebut.
...****************...
"SIAL!" amuk Albert mengobrak-abrik meja kerjanya.
Saat ini pemilik dari Setya Grup itu tengah marah setelah mendapat laporan dari bawahannya. Di hari yang seharusnya ia gunakan untuk bersantai di rumah. Ia malahan harus bekerja di kantor karena ada masalah.
"Kenapa bisa dibatalkan?" tanyanya penuh emosi kepada sekretarisnya itu.
"Maaf, Pak. Saya kurang tahu," jawabnya gugup.
"Kolega kita membatalkan karena mereka kembali ke Isa Grup, Pak," sahut teman sekretarisnya itu.
"APA?" pekik Albert tak percaya.
"Iya, Pak. Isa Grup sebentar lagi akan dibangun kembali," jawab teman sekretarisnya.
"SIAL!" umpat Albert melemparkan vas bunga ke sembarang arah.
"Kenapa kita bisa sampai tidak tahu?" tanya Albert menatap horor kepada bahawannya.
Albert mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya karena frustasi. Bagaimana bisa? Isa Grup yang sudah belasan tahun mati bisa hidup kembali? Tentu saja bisa kalau author yang buat. Hehe.
"Saya tidak mau tahu. Selidiki sekarang juga!" sentak Albert dengan kilatan marah.
"Jangan sampai Isa Grup bangkit lagi," lanjut Albert dengan nada tinggi.
"Tapi, Pak. Tiga puluh persen Isa Grup sudah berhasil dibangun. Saya dengar juga hari ini anak dari Meda Isa sudah mulai membenarkan kantor Isa Grup," jawab sekretaris Albert.
"HAH!" Albert menghempaskan diri dengan kasar di sofa ruangan pribadinya.
Ia terlihat gusar dengan tatapan mata yang tak bisa ditebak. Pikirannya berkecambuk kemana-mana. Wajah tampannya juga terlihat sangat lusuh karena banyak pikiran.
"Keluar!" sentak Albert kepada para bawahannya.
"Ba-baik, Pak," jawab para bawahannya dengan gugup.
Sepeninggalan bawahannya. Albert semakin bingung harus melakukan apa? Haruskah ia kembali bersaing dengan Isa Grup setelah sekian tahun tanpa saingan berat di dunia bisnis properti?
"Aku harus melakukan apa?" monolog Albert.
Pemilik Setya Grup itu tampak sedang memikirkan berbagai cara agar Isa Grup tak lagi bangkit. Ia takut jika Isa Grup akan mengalahkannya seperti dahulu kala. Melihat, Isa Grup memang memiliki pengaruh besar di bidang properti.
"Tidak mungkinkan aku merebut Isa Grup lagi?" tanya Albert pada dirinya sendiri.
"Apalagi pemiliknya sekarang adalah Isa Devano. Tentu saja dia lebih berpengalaman," gumam Albert.
__ADS_1
"Raisa?" tanya Albert.
"Gadis itu selamat? Bukankah dulu dia menghilang?"
"Ah!" Albert menghembuskan napasnya kasar.
Banyak sekali tanda tanya di kepalanya. Ia bingung akan berbuat apa untuk mencegah berdirinya Isa Grup kembali.
"Kalau kau saja berhasil ku singkirkan, lalu apa susahnya keluargamu? Hahahaha," kata Albert dengan tawa mengerikan di akhir kalimatnya.
Tatapan Albert Setya kini berubah menjadi sangat menakutkan bagi siapa pun yang melihatnya. Ia tak lagi bingung dengan rencananya. Entah apa yang akan dilakukan manusia serakah itu?
...****************...
"Argh!" murka Audy menghancurkan meja riasnya.
"Lagi-lagi aku kalah start," kata Audy.
Setelah menjalani hukuman selama satu bulan karena perbuatannya kala itu. Audy dan kedua temannya tak lagi terlihat batang hidungnya.
Mereka berdua memilih untuk menyewa orang agar menggantikannya di Melody Cafe dan mereka malahan pergi berlibur ke Bali.
Sekarang, Audy, Sinta, dan Nayla telah kembali karena hukuman mereka telah selesai. Namun, begitu sampai di Jakarta, Audy dikejutkan dengan berbagai berita simpang siur soal hubungan Rasya dan Raisa.
Audy beberapa kali melihat di media sosialnya salah satu fans Rasya yang mengatakan bahwa Rasya dan Raisa telah jadian. Sinta juga mengatakan bahwa ia melihat beberapa postingan akun lambe turah yang memperlihatkan Rasya dan Raisa tengah jalan berdua.
Berbagai kemungkin mulai muncul memenuhi ruang di kepala Audy. Ia mencoba menepis, tetapi seolah kenyataan meyakinkannya. Apalagi saat Audy melihat Rasya dan Raisa ternyata saling mengikuti di akun Instragram masing-masing. Sungguh momen langka Rasya mau mengikuti pengikut lain kecuali sahabatnya.
"Ga, ga, gua harus positif thingking," kata Audy pada dirinya sendiri.
"Mereka ga mungkin jadian," gumam Audy.
"Mereka ga akan mungkin jadian. Gua masih bisa rebut Rasya. Gua harus tenang," ujar Audy.
"Besok gua udah sekolah, gua langsung aja ngebet buat deket sama Rasya. Udah deh gampang, haha," kata Audy dengan senyum licik di akhir kalimatnya.
"Kalian lihat aja, gua bakal bisa rebut Rasya dari tangan si cupu. Dan lu, cupu, gua akan buat perhitungan sama lu!" tegas Audy bermonolog.
Audy seolah lupa bahwa sekarang Raisa sudah dijaga oleh tiga pangeran tampan sekaligus. Audy seolah lupa kalau status Raisa bukan lagi seperti dahulu kala.
Biarlah, nanti Audy akan mendapat balasan lagi. Entah dari Tuhan langsung atau dari Devan, Gio, dan Rasya. Atau mungkin dari Raisa sendiri nantinya.
...****************...
Setelah puas menjelajahi ruangan milik papanya. Kini Raisa, Devan, dan kedua sahabat Devan telah berpulang ke rumah Devan. Mereka memutuskan untuk menyusut sampai ke akar-akar masalah yang sekarang tengah mereka cari.
Devan, Andra, Gio, dan Raisa berharap menemukan titik terang dari surat, foto, dan beberapa dokumen penting yang mereka temukan di ruangan pemilik Isa Grup itu.
Devan juga sudah menyuruh beberapa bawahannya untuk memperkerjakan pegawai Isa Grup yang masih bersedia. Juga mencari pegawai baru yang nantinya akan membantu Isa Grup bangkit kembali.
Raisa rupanya terlelap di kursi sebelah kemudi. Devan pun mulai mengurangi kecepatan mobilnya agar tak menganggu tidur adiknya.
"Gua bangga banget bisa datang di waktu yang tepat, Rai," gumam Devan dengan satu tangannya mengelus puncak kepala adiknya.
"Entah siapa pun nanti yang bakal bahagiain lu, gua lepas lu asal lu bahagia," kata Devan mengecup punggung tangan Raisa.
"Gua harap lu menemukan yang terbaik. Kalau pun itu Rasya, semua gua serahin ke lu, Rai."
__ADS_1
Albert Setya.