Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
MALAM MINGGU


__ADS_3

Sabtu pagi, Raisa sedang asyik bergelayut manja bersama kakaknya di ruang keluarga.


"Boleh, ya, Kak," pinta Raisa lagi.


Devan tetap diam tak menyahuti perkataan adiknya. Ia masih saja berkutat dengan laptop di depannya.


Semenjak Isa Grup kembali dibuka. Devan terus saja sibuk untuk memantau perkembangan perusahaan yang cukup membuatnya puas. Dalam waktu sehari saja, sudah menunjuk angka peningkatan sebanyak 60 persen.


"Kak Devan," rengek Raisa lagi sembari memeluk kakaknya dari belakang.


Oma Melani dan Bu Dewi yang melihat tingkah manja Raisa hanya mampu menggelengkan kepala mereka.


Raisa yang biasanya jarang bermanja apalagi merengek. Kali ini bisa juga merengek hanya agar diizinkan oleh kakaknya.


"Oma, lihat ini, Kak Devan mengabaikan Isael," adu Raisa kepada Oma Melani.


Oma Melani tersenyum tipis. "Memang seperti itu kakakmu kalau sudah sibuk," sahut Oma Melani.


"Oma, tolong Isael. Bujuk Kak Devan agar mengizinkan Isael keluar," pinta Raisa memelas kepada Oma Melani.


"Memangnya kau mau keluar ke mana, Nak?" kini Bu Dewi yang bertanya.


"Isael mau malam mingguan sama Rasya," jawab Devan yang mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


Oma Melani dan Bu Dewi tersenyum saat mendengar jawaban Devan.


"Devan, Devan. Kamu ini seharusnya memberinya izin. Bukankah bagus kalau Raisa dekat dengan Rasya?" ujar Oma Melani.


Devan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Dia harus fokus belajar. Tidak boleh ada pacar-pacaran," ucap Devan.


"Pacaran?" ulang Raisa.


"Oh, ayolah, Kak! Isael cuma malam mingguan. Enggak pacaran," sanggah Raisa.


"Sama saja. Nanti lama kelamaan juga jadian," ketus Devan.


"Devan, jangan begit!" interupsi Bu Dewi.


"Biarkan Raisa menikmati masa mudanya. Bukankah selama ini dia selalu sibuk belajar dan bekerja paruh waktu?" tanya Bu Dewi mengingatkan.


Devan kicep seketika saat ditanya seperti itu oleh Bu Dewi. Perasaan bersalah mulai memenuhi relung hatinya saat matanya menatap lekat manik mata adiknya.


"Salahkah aku melarangnya? Apakah dia tidak pernah menikmati masa remajanya?" batin Devan.


"Boleh, ya, Kak?" tanya Raisa lagi.


Devan menghela napasnya pelan.


"Kakak melarang kamu bukan tanpa alasan, El," kata Devan menatap adiknya itu.


"Kakak hanya mau yang terbaik buat kamu. Kakak ga mau lihat kamu hura-hura seenaknya sama cowok-cowok. Kakak takut kamu kenapa-napa," jelas Devan.


"Isael bisa jaga diri kok, Kak," ucap Raisa.


"Tapi kamu tidak tahu, El. Kakak melarang kamu juga karena kakak takut kalau Albert mengetahui kedekatan kalian. Dia akan memanfaatkan anaknya untuk melakukan sesuatu," kata Devan.


"Memang apa hubungannya sih, Kak?" kesal Raisa.


"Rasya tidak seperti itu kali," imbuh Raisa.


"Rasya, putra tunggal Albert?" tanya Bu Dewi dalam hatinya.


"Tapi, El-


"Sudahlah, Van. Kamu izinkan saja dia," tutur Oma Melani.


"Oma yakin, dia bisa jaga diri. Rasya juga ga mungkin melakukan itu," kata Oma Melani.


Devan mengacak rambutnya kasar. "Baiklah," kata Devan beranjak dari duduknya.


"Aaa .... Kak Devan terima kasih banyak," girang Raisa menyusul Devan dan memeluknya.


"Sayang Kak Devan deh," ujar Raisa mencium pipi kakaknya.


Sontak saja, Devan tersenyum karena perlakuan manis adiknya. Ini adalah pertama kalinya Raisa mencium dirinya.


"Sayang kamu juga," ucap Devan juga mencium pipi Raisa.


"Sudah sana, kamu bau. Belum mandi, ya?" tanya Devan melepas pelukannya.


"Hehehe," Raisa hanya nyengir kuda.


"Jorok!" cibir Devan mencubit hidung Raisa.

__ADS_1


"Raisa mandi dulu, ya," kata Raisa berlalu menuju kamarnya.


Devan hanya menganggukkan kepalanya.


"Ibu," panggil Devan saat melihat Bu Dewi hendak pergi dari ruang keluarga.


"Ada apa, Nak?" tanya Bu Dewi berbalik badan.


"Boleh Devan bertanya?" tanya Devan balik.


Bu Dewi menautkan alisnya. "Boleh," katanya.


"Oma Melani ikut nimbrung, ya," izin Oma Melani.


"Iya," sahut Devan.


Kini Devan, Oma Melani, dan Bu Dewi mulai berbicara serius di ruang keluarga. Sedangkan Raisa, dirinya tengah berendam dan sesekali bersenandung senang.


...****************...


Sore hari, telah tiba. Raisa sudah bersiap untuk pergi bersama Rasya. Begitu pula dengan Rasya yang sudah siap untuk menjemput Raisa ke rumahnya.



Rasya turun dari motornya dan memencet bel di rumah Raisa.


"Eh, Nak Rasya. Silakan masuk," ujar Bu Dewi yang membukakan pintu.


"Terima kasih, Bu," kata Rasya.


Tak lama Rasya memasuki rumah. Raisa sudah turun dari tangga rumahnya menghampirinya. Raisa terlihat sangat cantik dengan kaos hitam polosnya beserta celana jeans berwarna biru. Serta rambut panjangnya, ia biarkan terurai.


"Berangkat sekarang?" tanya Rasya.


Raisa menganggukkan kepalanya.


"Rasya sama Raisa pamit dulu, ya, Bu," ujar Raisa mencium punggung tangan Bu Dewi.


"Iya, kalian hati-hati, ya. Jangan kemalaman pulangnya," kata Bu Dewi.


"Siap, Bu," sahut Rasya juga menyalami Bu Dewi.


"Kak Devan dan Oma Melani di mana?" tanya Rasya saat tak melihat dua orang itu.


"Oalah, kalau begitu titip salam saja, ya, Bu," ucap Rasya.


"Iya."


Rasya dan Raisa berlalu meninggalkan pekarangan rumah Raisa. Rasya mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Kali ini, ia akan mengajak Raisa ke alun-alun kota.


Kata orang, jika malam minggu tempat itu akan lebih indah. Jadi, Rasya akan mengajak Raisa ke sana saja.


"Kok ke sini?" tanya Raisa saat motor sudah sampai di parkiran alun-alun.


"Kenapa?" tanya Rasya balik.


Raisa hanya menggelengkan kepalanya. Ia berusaha melepaskan helm yang ada di kepalanya, namun sepertinya Raisa kesulitan.


Rasya yang melihatnya jadi gemas sendiri. Ia pun tanpa sadar tertawa kecil.


"Kenapa ketawa?" tanya Raisa agak kesal.



"Sini gua bantu," kata Rasya.


Setelahnya, kedua sejoli itu pun mulai memasuki area alun-alun yang sudah dipadati muda-mudi, anak-anak atau bahkan para orang tua.


"Yuk!" ajak Rasya menggandeng tangan Raisa.


...****************...


Hari sudah berganti dengan malam. Lampu-lampu terlihat begitu indah di alun-alun. Rasya dan Raisa juga masih asyik bermain capit boneka yang ada di sana. Sudah beberapa kali, namun selalu saja gagal.


"Sudahlah," pasrah Raisa.


"Yang lain aja, ya," kata Rasya mengacak pelan rambut Raisa.


Rasya kembali menggandeng tangan Raisa menuju lapak makanan.


"Pak, siomaynya dua, ya," kata Rasya pada penjual siomay.


"Siap, Den. Pedas atau tidak?" tanya penjual siomay tersebut.

__ADS_1


"Jangan pedas, ya, Pak," jawab Rasya.


"Tunggu di sini, ya," titah Rasya.


"Oke."


Rasya menuju salah satu lapak penjual minuman. Ia membeli dua air mineral untuknya dan juga Raisa.


"Nih," Rasya menyodorkan botol air minum kepada Raisa.


"Terima kasih," ujar Raisa menerima pemberian Rasya.


Untungnya, botol tersebut sudah dibuka tutupnya oleh Rasya. Jadi Raisa tidak perlu membuka segelnya lagi.


"Ini, Den, siomaynya," ujar penjual siomay menyerahnya pesanan Rasya.


"Terima kasih, Pak," ujar Rasya.


"Jadinya berapa, Pak?" tanya Rasya pada penjual siomay.


"Tiga puluh ribu saja," jawab penjual siomay ramah.


"Ini, Pak," kata Rasya menyerahkan uang lima puluh ribuan.


"Kembaliannya, Den," ucap penjual siomay.


"Ambil aja, Pak."


"Wah. Terima kasih, Den. Semoga kalian langgeng terus, ya," kata penjual siomay langsung pergi meninggalkan mereka.


"Langgeng?" beo Raisa.


"Bapaknya ngira kita pacaran kali," sahut Rasya.


"Oh."


Di tempat lesehan, Rasya dan Raisa dengan begitu lahap memakan siomay mereka hingga habis.


Rasya terlihat sedikit gugup saat melihat Raisa tengah mengikat rambutnya karena tertiup angin. Jadi, Raisa memilih mengikatnya saja.


"Kenapa kok diikat?" tanya Rasya.


"Ga enak," jawab Raisa singkat.


"Cantikan kalau digerai," kata Rasya.


Raisa hanya tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya.


"Rai, lu udah punya cowok, ya?" tanya Rasya.


Raisa kembali menoleh kepada Rasya. "Belum," jawab Raisa.


"Masa sih?" tanya Rasya.


"Heem. Gua ga pernah punya teman dari kecil. Apalagi pacaran, ga mungkin," jelas Raisa.


"Oh."


"Kalau gua ajak pacaran mau, ga?" tanya Rasya tiba-tiba.


Raisa membulatkan matanya. Ia mencoba mencerna perkataan Rasya. Maksudnya, Rasya nembak dia gitu? Ga romantis banget sih.


"Kalau ga mau gapapa kok," kata Rasya.


"Ekhem," Raisa berdehem.


"Kita baru aja kenal. Lu belum tahu tentang gua. Gua takut lu kecewa," kata Raisa.


"Kan lebih enak kita berteman aja. Saling mengenal sampai benar-benar ngerti. Oh iya dia gini, oh iya dia gitu," tutur Raisa.


"Baru deh, nanti mikir mau buka hati atau enggak," lanjut Raisa.


Rasya tersenyum tipis pada Raisa. "Baiklah," ucap Rasya.


"Udah jam tujuh. Gua antar pulang, ya. Nanti lu kena marah sama Kak Devan lagi," kata Rasya.


"Oke."


Rasya mengemudikan motor sport- nya menuju kediaman Raisa. Sesampainya di sana, Raisa segera turun. Begitu pula dengan Rasya, ia memilih untuk lansung pulang saja.


"Jadi begitu," ucap seseorang dari balkon kamarnya.


"Gua jadi ga tega kalau misal nanti dugaan gua benar," gumam lelaki itu kembali masuk ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2