Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
MENGENANG


__ADS_3

Begitu Raisa memasuki rumah, ia sudah disambut oleh Bu Dewi dan Oma Melani di ruang tamu. Kedua wanita itu tampak tersenyum tatkala melihat Raisa telah kembali.


"Ibu, Oma," sapa Raisa memeluk satu persatu dari mereka.


"Kamu sudah makan, sayang?" tanya Oma Melani.


"Sudah, Oma," jawab Raisa.


Padahal, ia tadi hanya makan siomay. Namun, itu sudah cukup membuatnya kenyang.


"Ya sudah, kamu istirahat, ya," ujar Oma Melani.


"Kak Devan di mana, Oma?" tanya Raisa.


"Kakakmu sedang di kamar. Ada Gio juga," jawab Oma Melani.


"Kak Gio?" beo Raisa.


"Iya. Besok kan hari Minggu. Jadi dia mau menginap di sini," jelas Bu Dewi.


"Kalau gitu Raisa ke kamar Kak Devan saja, ya," pamit Raisa.


"Iya," sahut Oma Melani dan Bu Dewi.


Raisa mulai berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia akan meletakkan barang-barangnya terlebih dahulu. Baru kemudian pergi ke kamar kakaknya.


Tok-tok-tok


"Masuk," seru Devan dari dalam kamar.


Raisa menyembulkan kepalanya di ambang pintu.


"Kak," panggil Raisa.


"Masuk aja!" sahut Devan yang sedang berbincang bersama Gio di sofa kamarnya.


"Hehe," Raisa masuk ke kamar Devan langsung nyengir saat mendapat tatapan intimidasi dari kakaknya dan Gio.


"Ke mana aja kamu?" tanya Gio.


"Malam mingguan dong. Memangnya Kak Devan sama Kak Gio yang jomblo dan sibuk sama pekerjaan," jawab Raisa sekenanya.


"Heh dasar koala galak," kesal Gio melemparkan bantal ke wajah Raisa.


"Ish ... Kak Devan, lihat ini!" adu Raisa pada Devan.


Devan hanya menggelengkan kepalanya.


"Ke balkon, yuk! Kakak mau cerita sebentar," ajak Devan.


"Oke."


Namun, saat mereka bertiga hendak ke balkon kamar Devan. Tiba-tiba pintu kamar Devan kembali diketuk.


"Biar Raisa aja yang buka," kata Raisa.


Raisa berjalan menuju pintu kamar Devan dan membukanya.

__ADS_1


"Eh Kak Andra, masuk, Kak!" seru Raisa saat membukakan pintu.


"Siapa, Rai?" tanya Devan tanpa menoleh ke arah Raisa.


Saat ini dirinya tengah berada di balkon kamarnya beserta dengan Gio.


"Kak Andra, Kak," jawab Raisa.


"Sini, Ndra!" seru Devan.


Keempat anak itu kini sedang menikmati malam minggu di balkon kamar Devan yang cukup luas. Beberapa gelas kopi hangat dan cokelat hangat juga turut menemani mereka.


"Tadi pagi gua udah nanya sama Bu Dewi soal bukti-bukti yang kita dapat," ujar Devan memulai pembicaraan.


"Terus?" tanya Gio.


Devan menghela napas pelan. Menatap lurus ke depan seakan sedang mencari kalimat yang tepat. Untuk menjelaskan kepada sahabat dan juga adiknya.


"Ibu bilang ...


Flashback on


"Mau tanya apa, Nak?" tanya Bu Dewi menatap Devan dengan serius.


"Soal Albert Setya dan papa. Apa ibu tahu?" tanya Devan balik.


Bu Dewi terkejut saat mendengar pertanyaan Devan. Oma Melani juga sama terkejutnya. Meski tak terlalu tahu, namun nama itu sedikit familiar di telinga Oma Melani.


"Ibu kurang tahu," jawab Bu Dewi.


"Devan dan sahabat-sahabat Devan curiga soal perusahaan yang tiba-tiba bisa bangkrut. Juga kecelakaan kalian," imbuh Devan.


Bu Dewi menghembuskan napas pelan. Haruskah ia kembali mengenang masa-masa kelam itu?


"Ibu memang sudah lama bekerja di sini. Dulu mamamu dan papamu sudah ibu anggap seperti adik sendiri. Mamamu juga selalu menceritakan keluh kesahnya kepada ibu. Setiap apa pun itu ibu tahu langsung dari mamamu," jelas Bu Dewi.


"Albert dulu adalah sahabat dari Pak Meda dan Ibu Medina dari SMA. Saat mereka kuliah, Pak Meda dan Bu Medina ternyata satu kampus namun berbeda jurusan. Sejak itulah mereka semakin akrab. Sedangkan Albert, dia sendiri kuliah di luar negeri namun tetap berkomunikasi baik dengan mereka berdua," imbuh Bu Dewi.


"Sampai suatu ketika, Pak Meda melamar Bu Medina saat dirinya telah berhasil membangun perusahaannya. Bu Medina menerima itu semua. Akhirnya, mereka pun melaksanakan pernikahan," kata Bu Dewi.


"Di balik itu semua, ternyata saat resepsi kedua orang tuamu di Bali. Albert datang dan mengacaukan semuanya. Albert yang memang memiliki perangai keras kepala, mudah tersulut emosi, egois, dan tidak mau mengalah pun merasa tidak terima," kata Bu Dewi menatap Devan.


"Mengapa tidak terima?" tanya Devan.


"Albert merasa tidak terima karena ternyata ia telah menyimpan perasaan kepada Bu Medina sejak SMA. Bu Medina menolak saat Albert mengungkapkan perasaannya di kelas dua belas SMA. Bu Medina mengatakan masih ingin bersekolah dan fokus menata masa depan."


"Itulah yang mendasari Albert pergi ke luar negeri. Seiring berjalannya waktu mereka terpisah jarak. Pak Meda dan Bu Medina justru semakin dekat. Itulah yang membuat Albert merasa terhianati, saat dirinya pulang dari Australia hendak melamar. Namun ternyata Bu Medina telah menikah dengan Pak Meda," ujar Bu Dewi.


"Sejak saat itu, Albert menjadi dendam kepada Pak Meda maupun Bu Medina. Dirinya merasa dihianati dan dibohongi. Padahal niat papamu tidak memberi tahu saat pernikahan adalah karena Albert sulit dihubungi."


"Hari itu pula yang menjadi bukti kebencian Albert. Dirinya berjanji tidak akan membiarkan Pak Meda dan Bu Medina hidup tenang. Maka dari itu, dia sama-sama membangun bisnis di bidang properti sama seperti Pak Meda. Kebetulan dirinya dulu juga kuliah di jurusan yang sama."


"Albert juga dulu sering main ke rumah. Ia berkata sudah berdamai. Namun, nyatanya itu hanyalah siasatnya untuk kembali merebut Bu Medina. Sampai akhirnya, Albert menyerah dan terungkap niatnya saat dirimu lahir, Nak," ucap Bu Dewi.


Devan mengusap wajahnya kasar. "Serumit itukah?" gumamnya.


"Dan soal kecelakaan, ibu sendiri tidak tahu. Karena saat itu ibu hanya mempersiapkan perlengkapan. Sedangkan untuk perusahaan, memang sejak Pak Meda meninggal diurus oleh Pak Fernan. Setelah itu ibu tidak tahu lagi," jawab Bu Dewi.

__ADS_1


"Namun, ibu tahu bahwa memang Albert yang perlahan menghancurkan perusahaan. Dirinya mensabotase data saat Pak Fernan lengah ketika sedang sakit. Itu ibu tahu dari asisten Pak Meda yang kebetulan tetangga bibi."


"Lalu, sekarang di mana asisten papa itu, Bi?" tanya Bu Dewi.


"Dia sudah meninggal," jawab Bu Dewi.


Flashback off


"Jadi gitu?" tanya Andra setelah Devan menjelaskan semuanya.


"Ibu sepertinya masih sedih saat mengenang masa-masa itu. Apalagi ibu dan mama sangat dekat. Mungkin ibu rindu," kata Devan.


"Raisa juga rindu sama mama," timpal Raisa.


"Sini aku peluk," kata Gio merentangkan tangannya.


"Modus!" cibir Andra menoyor kepala Gio.


"Enggak modus kok. Ini tulus," kata Gio.


"Ekhem," deheman Devan mampu membuat Andra dan Gio terdiam.


"Albert itu papanya Rasya bukan?" tanya Raisa.


"Iya. Rasya anak tunggalnya," jawab Devan.


"Oalah."


"Kamu suka?" tanya Andra.


"Eh, enggak," jawab Raisa sarkas.


"Hati-hati, Rai. Saat ini Isa Grup baru bangkit. Aku cuma takut kalau Rasya kerja sama dengan bapaknya buat ngelakuin hal buruk ke Isa Grup lagi," Andra memperingatkan.


Raisa menganggukkan kepalanya. "Aku tahu kok, Kak. Tenang aja, Rasya enggak kaya gitu," jawab Raisa.


"Kalau dengar cerita bokap-nyokap lu tadi kan. Gua jadi ingin mengenang masa-masa kuliah kita dulu," kata Gio.


"Kaya enggak ada pacar-pacaran gitu," imbuh Gio.


"Lu aja yang enggak laku. Lu lihat aja teman lu satu itu," kata Andra menunjuk Devan.


"Dia punya cewek, Bro!" lanjut Andra.


"Kak Devan punya pacar?" tanya Raisa terkejut.


"IYA."


"ENGGAK."


Jawaban Andra, Gio, dan Devan ternyata tidak sinkron. Itulah yang membuat Raisa bingung sendiri.


"Yang benar bagaimana?" tanya Raisa.


"Gini-gini, biar kakak jelaskan," kata Devan hendak memberi penjelasan.


"Masa kuliah kakak dulu ...

__ADS_1


__ADS_2