
Hari silih berganti, setelah Isa Grup dibangun kembali. Kini dunia bisnis properti kembali diguncang oleh kehadiran Isa Grup yang semakin melangit. Juga, keberadaan Setya Grup nyatanya mampu sedikit tersenggol karena Isa Grup.
Albert semakin khawatir bahwa Isa Grup akan mengalahkan perusahaannya sendiri. Yakni Setya Grup. Albert sudah melakukan berbagai program baru agar mampu lebih di atas Isa Grup.
Padahal, sekarang kedudukan Isa Grup dan Setya Grup adalah setara. Hanya saja, keserakahan Albert mampu menggelapkan semuanya. Berbanding terbalik dengan Albert, Devan justru tenang-tenang saja. Ia dengan santai memantau perkembang Isa Grup.
Kedua sahabatnya, Gio dan Andra meski sudah ambil bagian masing-masing di perusahaan yang lain. Namun, mereka juga selalu membantu Devan saat sedikit bermasalah di Isa Grup.
...****************...
"Bro, nongkrong, yuk!" ajak Revan kepada kedua sahabatnya, Aldo dan Rasya.
"Gua sih ayo-ayo aja," sahut Aldo santai.
"Gua ga bisa," Rasya menyahuti dengan santai.
Ketiga remaja itu tengah berjalan santai di koridor sekolah. Jam pembelajaran memang sudah berakhir. Jadi sekolah sudah semakin sepi.
"Ya elah, penilaian juga udah selesai. Ngapain ga bisa?" tanya Revan.
"Gua harus ngurus perusahaan bokap," jawab Rasya dengan helaan napas kasar.
"Tumben," cibir Aldo.
"Biasanya enggak mau ambil bagian," timpal Revan.
"Ya mau bagaimana lagi? Gua udah kelas dua belas. Udah saatnya gua serius buat bantuin perusahaan bokap gua," jawab Rasya apa adanya.
"Sebenarnya ini emang belum saatnya sih. Tapi bokap gua maksa gara-gara sekarang ada Isa Grup yang sama kuatnya sama Setya Grup," imbuh Rasya yang menghentikan langkahnya.
Revan dan Aldo pun sama-sama menghentikan langkah mereka mengikuti Rasya. Tepat, mereka berhenti di depan ruangan di mana Raisa melakukan penilaian akhir semester. Hanya saja ruangan itu sudah terlihat kosong.
Selama beberapa hari kemarin, SMA Merak Merdeka 2 memang sedang melakukan Penilaian Akhir Semester (PAS) I. Dan pagi tadi selesai pembagian hasil raport masing-masing.
"Lu mau ngurus Setya Grup hanya karena itu?" tanya Revan tak percaya.
"Lu mau saingan sama perusahaan keluarganya Raisa?" tanya Aldo juga.
Rasya menghela napasnya pelan. "Mau bagaimana lagi?" tanyanya balik.
"Setya Grup kan perusahaan besar. Bahkan di bidang properti Setya Grup bisa ngalahin perusahaan properti yang lain," kata Rasya.
"Cuma kan, setelah Isa Grup dibangun lagi, raja bidang properti jadi ada dua kan?" lanjut Rasya.
Revan dan Aldo kompak mengangguk.
"Gua jadi takut timbul persaingan tidak sehat antara Isa Grup dan Setya Grup. Apalagi bokap gua orangnya ambisius banget," jelas Rasya.
"Hmm," Aldo memilin dagunya.
"Kalau kata lu tadi raja bidang properti. Bukannya raja itu harusnya satu?" tanya Aldo.
"Lahiya maka dari itu. Pasti salah satu antara Setya atau Isa ada yang akan mengalah untuk turun tahta," timpal Rasya.
"Gua takut kalau Setya sampai turun tahta. Bokap gua bakal ngelakuin hal-hal buruk ke Isa Grup," ucap Rasya.
"Lu tenang aja, selagi lu bisa headle Setya Grup. Gua yakin itu ga akan terjadi. Mau raja ada sepuluh pun gapapa. Asal adil sama rakyatnya," sahut Revan menepuk bahu Rasya.
"Apalagi saingannya lu sama perusahaan keluarga cewek yang lu suka. Hahaha," kata Revan dengan tawa renyahnya.
"Eh ngomong-ngomong soal Raisa. Lu sama dia gimana?" Aldo bertanya dengan penuh rasa penasaran.
__ADS_1
"Ya gitu deh. Gua masih sering antar dia pulang, jalan bareng, telfonan atau bahkan chattingan," jawab Rasya.
"Kapan kalian jadian?" tanya Aldo.
"Kapan-kapan," jawab Rasya.
"Udahlah, yuk pulang. Sekolah udah sepi. Besok libur juga kan?"
"Heem."
Rasya beserta kedua sahabatnya itu pun beranjak pergi meninggalkan area sekolah. Tanpa mereka ketahui, ternyata Raisa sudah mendengar semua pembicaraan mereka bertiga.
"Kasihan dia," gumam Raisa berlalu meninggalkan ruangannya.
Raisa sebenarnya tadi tidak berminat menguping. Hanya saja saat ia hendak keluar, ia melihat Rasya. Raisa enggan jika harus pulang bersama Rasya. Apalagi setelah mengetahui bagaimana cara orang tua Rasya hendak membuat perusahaan bermasalah.
Raisa jadi semakin waspada. Ia juga sudah diperingatkan oleh Devan, Gio, dan Andra. Bu Dewi dan Oma Melani pun mendukung apa pun yang memang terbaik untuk Raisa.
"Kak Andra?" panggil Raisa.
"Sorry, telat, ya?" tanya Andra.
"Enggak kok. Kak Devan atau Kak Gio ga bisa jemput ya?" tanya Raisa.
"Mereka ada urusan. Jadi aku yang jemput," jawab Andra.
"Maaf, ya, Kak. Seharusnya tadi Raisa minta jemput sopir aja," ucap Raisa merasa bersalah.
"Gapapa, yuk!" ajak Andra mulai memasuki mobil.
...****************...
Rasya beberapa kali menghela napas saat mengingat percakapannya dengan sahabat-sahabatnya tadi. Juga, beberapa waktu ini, Raisa yang terkesan menghindarinya.
"Apa Raisa tahu masalah perusahaan?" gumam Rasya.
"Apa papa sempat melakukan sesuatu? Kemarin gua dengar katanya papa nyuruh orang buat sabotase data di Isa Grup," monolog Rasya.
"Tapi masa benar sih. Apa Raisa juga tahu dan dia ngehindar takut kalau terjadi apa-apa?"
"Terus gua harus terjun ke dunia perusahaan untuk menyingkirkan Isa Grup sesuai permintaan papa gitu?"
Banyak pertanyaan yang memenuhi isi kepala Rasya. Dirinya bingung harus bersikap bagaimana untuk menghadapi semua ini.
"Eh, Raisa udah pulang belum, ya?"
"Tadi gua kok ga lihat dia di sekolah," kata Rasya merogoh saku seragamnya untuk mencari HP.
Rasya.
"Rai, udah pulang belum?"
"Tadi gua ga lihat lu di sekolah. Lu ga masuk?" tulis Rasya pada Raisa.
Rusa cantik.
"Gua udah pulang kok, Sya. Gua masuk sekolah, cuma di kelas aja," balas Raisa.
Duh, nama Raisa di kontak Rasya udah diganti jadi 'Rusa Cantik'. Sweet banget sih Rasya. Rusa udah kaya boneka kado darinya dulu pas Raisa ulang tahun aja.
...Rasya. ...
__ADS_1
"Oalah, ya udah. Nanti jangan kangen, ya. Kan udah ga ketemu di sekolah lagi."
Rusa Cantik.
"ENGGAK BAKAL!!!😛"
Rasya.
"Kapan-kapan gua main ke rumah, ya."
Rusa Cantik.
"Boleh."
Rasya.
"Oke."
Setelahnya tak ada lagi topik pembicaraan antara Raisa dan Rasya. Terkesan garing memang. Namun, mau bagaimana lagi? Rasya sendiri sangatlah lelah.
...****************...
Keesokannya, Rasya tengah bersiap untuk pergi ke perusahaan papanya. Ia akan mulai belajar mengurus Setya Grup. Mengingat, usianya yang sudah tak lagi untuk bermain-main.
Rasya sudah harus mulai menata masa depan di saat usianya sudah tujuh belas tahun. Rasya harus mulai bisa mengatur waktunya. Apalagi, setelah SMA ia akan melanjutkan kuliah ke Oxford sana.
"Huh, semangat!" kata Rasya pada dirinya sendiri saat ia sudah dihadapkan setumpuk berkas di hadapannya.
"Sya," panggil seseorang memasuki ruangan pribadinya.
"Ada apa, Pa?" tanya Rasya menoleh pada sang papa yang baru saja datang.
"Itu ada beberapa materi yang harus kamu pelajari sebelum kamu benar-benar terjun ke dunia bisnis. Papa mau kamu bisa menggantikan papa dan semakin memajukan Setya Grup," ujar Albert menunjuk pada beberapa berkas di depan Rasya.
"Rasya akan usahakan, Pa," jawab Rasya memijit pelipisnya.
"Harus dong! Kamu harus bisa menyaingi bahkan di atasnya Isa Grup. Jangan sampai mau kalah!" tegas Albert.
Rasya menatap papanya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Papa mau hancurin Isa Grup?" tanya Rasya.
"Kalau bisa. Karena papa tidak mau ada saingannya yang sebanding dengan perusahaan kita," jawab Albert yakin.
"Pa, apa gunanya sih ngelakuin itu. Yang penting kan perusahaan masih jalan. Selama empat belas tahun juga Setya Grup lancar. Sekarang Isa Grup baru dibangun satu bulan. Kenapa kita harus repot? Berbagi kan tidak ada salahnya, Pa ," kata Rasya pada papanya.
"Ya biar masa depan kamu juga terjamin, Sya. Memangnya kamu mau kita hidup pas-pasan? Papa mau Setya Grup tetap menjadi raja bidang properti," tanya Albert.
"Pokoknya kamu mulai sekarang harus belajar bisnis. Bahkan kamu harus bisa memberi gebrakan yang banyak untuk Setya Grup!" tegas Albert.
"Ingat, Sya! Kamu anak papa satu-satunya. Kamu pewaris tunggal Setya Grup!" kata Albert berlalu meninggalkan ruangan Rasya.
Rasya menghela napasnya kasar. Mengusap rambutnya dengan kasar dan memundurkan kursi kebesarannya.
"Resiko anak tunggal!" gumamnya seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Gua harus apa?" Rasya mulai menegakkan tubuhnya.
Kemudian, pewaris tunggal Setya Grup itu mulai membuka-buka tumpukan map di depannya dan mulai membacanya satu persatu.
__ADS_1