
Raisa meringis kesakitan dan mulai menangis.
"Minggir!" seru seseorang datang menghampiri mereka.
"Raisa kenapa?" tanya Gio khawatir.
"Sakit," ringis Raisa seraya memegangi kepalanya.
Tanpa berpamitan dengan Rasya, Gio langsung menggendong Raisa dan memasukkannya ke dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan Gio merasa tidak tega dengan kondisi Raisa. Apalagi jarak antara lokasi tadi dengan rumah sakit cukup jauh.
"Rai, gua mohon tahan," ucap Gio sembari menoleh ke arah Raisa.
"Sakit," sahut Raisa memegangi kepalanya.
"Tahan, ya, Rai. Sebentar lagi sampai," kata Gio menenangkan.
"Sakit," rintih Raisa lagi. Kali ini perlahan mata Raisa mulai terpejam.
"Rai, gua mohon jangan tidur. Raisa bangun," seru Gio yang semakin panik.
Tak lama kemudian, mobil Gio sudah sampai di rumah sakit. Gio langsung berteriak memanggil suster.
"Suster, tolong!" teriak Gio.
Kemudian, dua suster segera datang dengan membawa bangkar rumah sakit.
"Tolong dia, Sus," kata Gio.
"Kami akar menolongnya, Pak," sahut salah satu suster.
"Kondisi pasien semakin melemah. Bawa dia ke ruang ICU," suruh salah satu suster.
Kedua suster itu langsung membawa Raisa ke ruang ICU. Sedangkan Gio menunggu di depan ruangan dengan begitu cemas.
"Raisa kenapa?" Gio bertanya-tanya.
"Sebaiknya gua kabari ibunya," gumam Gio.
Kemarin, waktu Devan berangkat ke New York, Bu Dewi sempat meminta nomor Devan dan nomor Gio untuk memudahkan mereka berkomunimasi.
"Halo, Bu," sapa Gio begitu sambungan telepon terhubung.
"Halo, Nak. Ada apa?" sahut Bu Dewi di seberang sana.
"Bu, Raisa masuk ke rumah sakit," jawab Gio.
"Tadi, waktu Raisa lagi jalan sama Rasya. Tiba-tiba Raisa kesakitan waktu di pinggir jalan," jelas Gio.
"Di pinggir jalan mana, Nak?" tanya Bu Dewi.
"Di pinggir jalan Kantil, Bu," jawab Gio.
"Tepatnya di bawah pohon mahoni yang besar itu," imbuh Gio.
"Astaga, Raisa melewati tempat itu. Kok bisa?" Bu Dewi bertanya penuh nada khawatir.
"Tadi Rasya mengajaknya lewat sana, Bu," jawab Gio.
"Sekarang kalian di rumah sakit mana?" tanya Bu Dewi.
"Rumah sakit Sehat Jaya, Bu," jawab Gio.
"Oke, ibu otw ke sana, ya," kata Bu Dewi.
"Iya, Bu. Di ruang ICU," kata Gio.
"Oke."
Bu Dewi dengan tergesa-gesa meninggalkan rumahnya dan berlalu menuju rumah sakit Sehat Jaya.
"Ya Tuhan, Raisa," batin Bu Dewi.
__ADS_1
Di rumah sakit sana, Gio tak henti-hentinya memanjat doa untuk Raisa yang masih berada di ruang ICU. Gio takut jika terjadi apa-apa dengan adiknya Devan itu. Ia merasa takut jika Devan akan marah dengan keteledorannya dalam menjaga Raisa.
"Keluarga pasien?" tanya seorang suster keluar dari ruang ICU.
"Saya, Dok," jawab Bu Dewi yang baru saja sampai.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Bu Dewi tak sabaran.
"Kondisi pasien sangat lemah. Tumornya kini sudah semakin besar dan menjalar. Jika tidak segera dioperasi maka akan sangat memengaruhi kondisi pasien," jelas dokter ber name tage Citra itu.
"Tumor?" beo Gio tak percaya.
"Iya," jawab Dokter Citra.
"Pasien sudah mengidap tumor selama empat belas tahun. Untungnya tumornya masih jinak. Namun, karena dipengaruhi oleh daya ingatannya yang dipaksa untuk mengingat masa lalunya. Itu membuat tumor pasien kambuh dan semakin membesar," Dokter Citra memberi penjelasan.
"Raisa," tangis Bu Dewi seketika pecah saat mengetahui kondisi Raisa sekarang ini.
"Lakukan yang terbaik, Dok," kata Gio mengambil keputusan.
"Baik kalau begitu selesaikan administrasinya terlebih dahulu," kata Dokter Citra.
Gio berlalu ke ruang administrasi untuk menyelesaikan masalah administrasi Raisa. Ia ingin agar Raisa segera dioperasi dan bisa sembuh.
"Sebenarnya ada apa, Bu?" tanya Gio begitu kembali dari ruang administrasi.
"Panjang ceritanya, Nak," jawab Bu Dewi lirih.
"Apa ada kaitannya dengan kecelakaan Raisa empat belas tahun lalu?" tanya Gio menebak-nebak.
Bu Dewi mengangguk. "Tolong hubungi Devan. Dia berhak tahu kondisi adiknya," titah Bu Dewi.
...****************...
Di New York sana. Devan masih asyik bergelung di bawah selimutnya. Sekarang memang baru saja pukul satu malam. Tentu saja, Devan masih asyik dengan dunia mimpinya.
Di tengah asyiknya mimpi Devan. HP-nya tiba-tiba saja berdering. Devan yang saat itu juga tidak terlalu nyenyak tidurnya pun segera terbangun. Pikirannya sedari tadi terus memikirkan kondisi adiknya. Entah apa yang terjadi.
"Ada apa? Isael kenapa?" Devan bertanya-tanya.
"Halo, Gi. Ada apa?" tanya Devan setelah menerima panggilan telepon.
"Raisa masuk rumah sakit," jawab Gio sarkas.
"Apa?" pekik Devan langsung bangkit dari tidurnya.
"Raisa masuk rumah sakit," ulang Gio.
"Isael, dia kenapa?" tanya Devan khawatir.
"Isael kenapa, Gi," cecar Devan.
"Raisa kena tumor. Dia akan segera dioperasi. Lu pulang ke Indonesia apa ga?" jawab Gio juga bertanya pada Devan.
"Gua akan pulang besok. Besok gua sampai di Indonesia," jawab Devan langsung berlalu keluar dari kamarnya.
"Gua tunggu," kata Gio mengakhiri panggilannya.
"Isael," gumam Devan berjalan dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga.
Oma Melani yang kebetulan baru saja kembali dari dapur untuk meminum obat pun terheran melihat Devan yang tergesa-gesa menuruni tangga.
"Van, kenapa?" tanya Oma.
"Isael, Oma. Dia masuk rumah sakit," jawab Devan setelah berhasil menuruni anak tangga.
"Apa?" pekik Oma tak kalah terkejutnya.
"Isael terkena tumor," kata Devan.
"Isael," ucap Oma Melani langsung menangis.
"Oma tenang, ya. Devan akan keluar mencari tiket pesawat malam ini juga. Biar besok kita bisa pulang dan tinggal di sana," kata Devan menenangkan Omanya.
__ADS_1
"Iya, hati-hati, ya, Nak," ujar Oma.
"Kalau gitu Devan pamit," Devan mengecup punggung tangan Omanya.
Sedangkan Oma Melani langsung bergegas ke kamar dan mengemasi barang-barangnya dan juga barang Devan.
Di tengah ramainya malam di kota New York, Devan mengemudikan mobilnya untuk membeli tiket pesawat.
Begitu mendapat tiket, Devan langsung segera pulang. Devan kali ini akan mendapat jam penerbangan pukul lima pagi.
"Gimana, Van?" tanya Oma Melani begitu melihat Devan pulang.
"Kita akan berangkat pukul lima," jawab Devan.
"Baiklah."
Devan dan Oma Melani segera mengemasi barang-barang dan menuju bandara. Jam sudah menunjuk pukul empat fajar. Devan dan Oma Melani akan menunggu di bandara saja.
"Isael tunggu kami, Nak," gumam Oma Melani begitu pesawat sudah lepas landas menuju Indonesia.
...****************...
"Gimana, Dok?" tanya Bu Dewi begitu melihat Dokter Citra keluar dari ruang ICU.
"Sepertinya, operasi akan dilaksanakan besok siang. Karena melihat tekanan darah pasien yang cukup tinggi," jawab Dokter Citra.
"Oh, ya. Kalau bisa untuk saat ini biarkan pasien beristirahat untuk persiapan operasinya," imbuh Dokter Citra.
"Baik, Dok," jawab Gio yang masih setia menemani Bu Dewi.
"Dok, kalau boleh tahu, operasi ini apakah akan benar-benar membuat Raisa terbebas dari penyakitnya?" tanya Bu Dewi.
Dokter Citra menghela napas pelan. "Karena faktor amnesia pasien. Maka, mungkin pasien akan tetap merasa kesakitan. Namun, tidak semenyakitkan kemarin," jawab Dokter Citra.
Wajah Bu Dewi kembali pias. "Terima kasih, Dok," ucapnya.
"Sama-sama."
"Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter Citra.
Devan.
"Gi, gua sama oma udah otw Indonesia," tulis Devan.
Gio.
"Oke. Ntar kalau udah sampai lu kabari. Biar gua jemput," balas Gio.
Devan.
"Oke."
"Devan sama omanya udah otw ke sini, Bu," kata Gio pada Bu Dewi.
"Mereka pulang dan akan menetap di Indonesia," sambung Gio.
Bu Dewi hanya menganggukkan kepalanya. "Itu lebih bagus untuk kesembuhan Raisa," kata Bu Dewi.
Tak jauh dari Bu Dewi dan Gio berada. Seorang lelaki muda tengah mengintip mereka.
"Tumor? Operasi?" gumamnya.
"Gua harap lu bisa sembuh, Rai. Maafin gua," kata lelaki itu.
Lelaki itu berlalu meninggalkan area rumah sakit.
"Amnesia? Kecelakaan?" monolog lelaki itu berlalu ke area parkiran.
***HALO GUYS .... PEMBACA RETISLAYA DAN ASRAR. APA KABAR?
MAAF YA AKHIR-AKHIR JARANG UPDATE KARENA AUTHOR SIBUK BUAT ACARA PERPISAHAN. SEKALI LAGI MAAF.
BUT BIG THANK BUAT KALIAN YANG MASIH SETIA NUNGGU CERITA INI. MUNGKIN MALAM INI AKAN UP LAGI. DOAKAN BANYAK WAKTU YAAA. JANGAN LUPA LIKE DAN COMMENT!!!! ❤️🔥❤️🔥***
__ADS_1