Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
BOS MUDA


__ADS_3

Pagi hari, mentari dengan malu-malu mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur. Seorang siswi SMA Merak Merdeka 2, kini mulai menyusuri koridor sekolah. Kali ini, ia tidak terlambat lagi karena tadi pagi, ia bangun lebih awal. Serta angkutan umum yang kebetulan masih mudah untuk didapatkan.


"Ada untungnya berangkat pagi," katanya begitu memasuki ruang kelas.


"Masih sepi gini enak buat baca buku," ucapnya seraya mengeluarkan beberapa buku mata pelajaran.


Siswi yang tak lain adalah Raisa Isabella itu, kini asyik dengan dunianya untuk membaca buku fisika miliknya. Rencananya, hari ini guru fisika akan mengadakan ulangan harian.


Tak berselang lama Raisa sendiri di dalam kelas. Beberapa siswa dan siswi juga sudah mulai berdatangan.


"Rai, dicari Kak Rasya di depan tuh," ujar salah satu teman sekelasnya.


"Kak Rasya?" ulang Raisa.


"Iya. Orangnya udah nungguin lu di depan tuh," jawab teman sekelas Raisa.


"Ada apa tu anak ke sini?" gumam Raisa.


"Oke. Thank," ucap Raisa.


Raisa bukannya beranjak untuk menemui Rasya di depan kelas, malahan ia merogoh HP di saku roknya untuk bertanya pada kakak kelas yang akhir-akhir ini suka mengusiknya.


Raisa.


"Ada apa?" tulis Raisa pada laman chat pribadi.


Rasya.


"Keluar bentar, gua mau ngomong," balas Rasya.


Raisa.


"Ga ada waktu. Kalau ga penting malas gua. Mending belajar," kata Raisa membalas pesan Rasya.


Rasya.


"Emang ada ulangan?"


Raisa.


"Hmm."


Setelahnya, Raisa mengabaikan beberapa pesan yang masuk dari Rasya. Ia memilih untuk kembali fokus pada bukunya, karena bel akan segera berbunyi. Itu menandakan ulangan fisika akan segera dimulai karena jam pertama adalah fisika.


...****************...


Di tempat lain, dua lelaki muda yang baru saja tertidur beberapa jam itu tampaknya sudah mulai bangun.


Devan, lelaki itu mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memulihkan pandangannya. Sedangkan, Gio, lelaki dua puluh enam tahun itu masih berada di alam mimpinya.


"Jam berapa ini?" gumam Devan melihat ke arah jam dinding di kamarnya.


"Astaga sudah jam delapan saja," pekik Devan terkejut.


"Bangun woi," serunya membangunkan sahabatnya.


Gio mulai menggeliat karena guncangan lengan Devan. Saat Gio baru saja membuka matanya, ia sudah dihadiahi lemparan bantal oleh lelaki di sebelahnya.


"Sialan," gerutu Gio pada sahabatnya, Devan.


"Bangun. Kita udah telat," kata Devan beranjak dari tidurnya.


"Emangnya jam berapa?" tanya Gio.


"Jam delapan. Kafe buka jam delapan kan?" tanya Devan balik.


"Kuncinya udah dibawa satpamnya. Jadi aman," kata Gio enteng.

__ADS_1


"Aman-aman. Urusan gua banyak, jadi harus gerak cepat," ujar Devan.


"Ya deh si paling sibuk," cibir Gio.


"Emang sibuk," sahut Devan.


"Gua mau mandi dulu," kata Devan.


"Nah ini lu pakai," imbuh Devan melamparkan baju ke arah Gio.


"Buset," kesal Gio menangkap lemparan baju dari Devan.


Setelah beberapa menit, Devan di kamar mandi. Kini ia sudah keluar dengan setelan jas berwarna abu-abu. Gio juga segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kemudian, kedua pemuda itu turun ke lantai satu rumah Devan untuk memakan sarapan mereka.


"Eh Den Devan sudah bangun," sapa Bi Surti.


"Sudah, Bi," sahut Devan.


"Mau sarapan sekarang, Den?" tanya Bi Surti.


"Boleh, Bi," jawab Devan.


"Kalau gitu bibi siapkan dulu, ya, Den," kata Bi Surti.


Bi Surti pun mulai menata piring, gelas, sendok dan peralatan makan lainnya di meja makan. Bersamaan juga dengan adanya hidangan buah, sayur-sayuran, aneka lauk pauk dan pastinya nasi serta roti.


"Silakan, Den," ucap Bi Surti mempersilakan.


"Terima kasih, Bi," ucap Devan.


"Sama-sama, " jawab Bi Surti.


"Kalau gitu, bibi lanjut bersih-bersih halaman belakang, ya, Den. Kalau ada apa-apa panggil bibi aja," pamit Bi Surti.


Disusul dengan turunnya Gio. Kali ini, Gio memakai pakaian yang berbeda dengan sahabatnya. Jika sahabatnya tersebut memakai setelan jas. Lain halnya dengan Gio. Ia malahan memakai kaos dengan kemaja kotak-kotak hitam.



"Cakep juga lu," puji Devan saat melihat Gio.


"Udah dari lahir kali," sombong Gio.


"Hmm," sahut Devan.


Gio pun mengikuti Devan untuk mulai menyantap sarapan.


Selesai dengan urusan sarapannya, mereka berdua segera melajukan mobil menuju Melody Cafe. Kali ini, Gio dan Devan memakai mobil Gio yang semalam digunakan untuk menjemput Devan.


Selama kurang lebih setengah jam, Gio dan Devan telah sampai di Melody Cafe. Gio turun terlebih dahulu. Kemudian disusul Devan.



Begitu Devan turun dari mobil, beberapa karyawan cafe mulai berdecak kagum. Terutama bagi kaum hawa.


"Gila, Kak Gio aja udah cakep. Ini ketambahan bos muda kita."


"Makin semangat kerja kalau gini."


Seperti itulah bisik-bisik karyawan Melody Cafe.


"Selamat pagi, Pak," sapa para karyawan Melody Cafe.


"Pagi," balas Devan singkat.


"Perhatian semua!" ucap Gio.

__ADS_1


"Perkenalkan ini Kak Devan, bos muda pemilik Melody Cafe," ujar Gio memperkenalkan Devan.


"Halo semua. Saya Devan, pemilik Melody Cafe. Saya ingin berterima kasih kepada kalian yang sudah bekerja di sini. Saya harap ke depannya Melody Cafe bisa lebih ramai lagi," tutur Devan.


"Amin. Siap, Kak," jawab para karyawan.


"Baiklah, kalian bisa kembali ke tugas masing-masing. Selamat bekerja," ucap Devan mengakhiri perkenalannya.


Para karyawan Melody Cafe mulai kembali bekerja. Gio dan Devan pun pergi ke ruangan yang biasanya digunakan Gio untuk tempatnya bekerja.


"Sebenarnya ada satu karyawan yang belum datang," kata Gio pada Devan begitu mereka duduk di sofa ruangan.


"Siapa?" tanya Devan.


"Kenapa bisa telat?" cecar Devan.


"Dia masih sekolah. Kelas sebelas kalau enggak salah," jawab Gio.


"Gila lu," gerutu Devan.


"Anak sekolah lu terima kerja," amuk Devan.


"Kaya ga ada pegawai lain aja," imbuh Devan kesal.


"Santai, Bro," Gio menenangkan.


"Awalnya gua ga mau terima. Cuma gua kasihan, dia terus mohon sama gua. Lagi pula dia anak yatim, jadi gua kasihan," jelas Gio.


"Anak yatim?" beo Devan.


Gio mengangguk.


"Gua juga sering kasih dia gaji lebih kalau tanggal dia gajian buat bayar SPP sekolahnya," kata Gio.


"Dia tinggalnya juga jauh dari sini. Di Desa Mawar seingat gua," ucap Gio.


"Emang dia siapa sih?" tanya Devan.


"Namanya si Raisa," jawab Gio.


"RAISA?" ulang Devan dengan nada tinggi.


"Buset, tenang, Bro," cibir Gio.


"Raisa ... Adik gua, dia ...


...****************...


Sepulangnya dari sekolah, Raisa bergegas menuju Melody Cafe tempatnya bekerja. Ia berjalan kaki dari sekolahnya menuju cafe. Tadi, Rasya menawarkan boncengan untuknya, tapi Raisa menolak.


Sesampainya di cafe, terlihat begitu ramai pengunjung. Memang Melody Cafe pernah sepi? Tidak. Itu jawaban yang pas


"Maaf, ya, Kak. Raisa telat," ucap Raisa pada Gio yang sedang duduk di meja makan dapur bersama seorang lelaki muda.


"Gapapa, Rai," sahut Gio.


Lelaki yang bersama Gio tadi menoleh pada Raisa. Tentu saja, tatapan mata mereka bertemu. Desiran aneh mulai muncul di dada Devan. Sedangkan Raisa, tiba-tiba saja kepalanya sedikit terasa pusing.


"Oh, ya, Rai. Ini Kak Devan, pemilik Melody Cafe," ucap Gio.


"Oh, hai, Kak," sapa Raisa.


"Hai," balas Devan.


"Kalau gitu aku mau kerja dulu, ya, Kak," pamit Raisa.


"Iya."

__ADS_1


"Dia ...


__ADS_2