
"Kak Devan sama Kak Gio lagi ngapain?" tanya Raisa saat menuruni anak tangga.
Malam-malam begini, ia melihat Devan dan juga sahabatnya tengah sibuk berkutat dengan layar terang di hadapan mereka.
"Belum tidur, El?" sahut Devan bertanya tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
"Belum ngantuk," jawab Raisa menggelengkan kepalanya.
"Kok tumben Kak Andra ga ikut?" tanya Raisa saat tak melihat sahabat Devan yang satunya lagi.
"Kenapa? Kamu kangen?" bukan Devan yang menjawab melainkan Gio yang menyahutinya.
"Dih, enggak lah," jawab Raisa mencebik.
"Dia udah duluan pergi. Minggu depan giliran kakak sama Gio yang nyusul," jawab Devan dengan menatap adiknya yang duduk di seberangnya.
"Pergi? Kalian mau ke mana?" tanya Raisa penasaran.
"Kami akan ke Kanada, El. Urusan bisnis. Doakan lancar, ya," jawab Devan sembari tersenyum.
"Raisa sendirian dong," keluh Raisa memanyunkan bibirnya.
Gio yang melihat itu jadi gemas sendiri. Ia jadi mencubit pipi Raisa yang kebetulan tak begitu jauh darinya. Tangan panjang nan kekar milik Gio pun dengan lihainya dapat mencubit gemas pipi adik semata wayang Devan.
"Kan masih ada Bu Dewi sama Oma Melani," kata Gio.
"Tapi nanti Raisa kalau kangen kalian gimana?" tanya Raisa dengan nada merajuk.
"Hahaha, jadi bisa kangen juga?" Gio bertanya dengan kekehannya.
"Ih, Kak Gio nyebelin," ketus Raisa bersidekap dada.
Devan pun hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah adik dan juga sahabatnya itu. Sering kali mereka berdua terlibat pertengkaran kecil yang tidak bermutu saat bertemu. Gio yang cuek dan dingin seperti Devan, namun lebih dingin Devan. Nyatanya memiliki sifat jahil dan penyayang jika sudah bersama Raisa.
"Nanti, sebelum pergi kakak ajak kamu liburan," ucap Devan.
"Liburan?" beo Raisa.
Devan menganggukkan kepalanya. "Ke pantai. Mau ga?"
"Mau banget dong," sahut Raisa girang.
"Kebetulankan minggu ini terakhir kamu libur. Jadi, kakak mau ajak kamu liburan. Minggu depan kamu diantar jemput sopir, ya," jelas Devan.
"Ok," sahut Raisa mengacungkan kedua jempolnya.
"Ya udah, sana tidur. Lusa kakak sama Gio ajak kamu ke pantai," titah Devan.
"Kok lusa sih? Enggak besok aja?" tanya Raisa.
"Besok kakak masih ngurus ini," jawab Devan menunjuk pada beberapa berkas di hadapannya.
"Ya udah deh. Raisa ke kamar dulu," pamit Raisa beranjak dari duduknya.
"Selamat malam, Kak Devan, Kak Gio jelek," ucap Raisa.
"Malam," sahut Devan.
"Malam koala galak," balas Gio mengejek Raisa balik.
"Kalian jangan kemalaman, ya. Ini udah jam sebelas," ujar Raisa lagi.
"Cie … Khawatir," cibir Gio.
"Apaan sih?" ketus Raisa mulai berjalan menapaki anak tangga menuju lantai dua.
...****************...
Hari di mana Devan mengajak Raisa untuk berlibur telah tiba. Dirinya rela cuti untuk mengurus persiapan ke Kanada. Bahkan Gio juga mengambil cuti untuk ikut liburan. Sedangkan Andra, dirinya masih sibuk mengurus persiapan di Kanada sendiri.
Pagi-pagi, Raisa telah siap untuk pergi ke pantai. Ia mengenakan baju tanpa lengan berwarna hijau yang dipadukan dengan hot pant. Devan sendiri memakai kaos yang dipadukan dengan kemeja tipis serta celana pendek.
__ADS_1
"Good morning grandma, mom," sapa Raisa begitu sampai di meja makan.
"Morning dear," sahut Oma Melani.
"Pagi, Nak," balas Bu Dewi.
"Kalian tidak ikut?" tanya Raisa.
"Ikut dong!" seru Bu Dewi senang.
"Asyik ....," pekik Raisa kegirangan.
"Ya udah, sarapan dulu gih," titah Oma Melani.
"Siap, Oma. Kak Devan di mana?" tanya Raisa saat tak melihat kakaknya.
"Lagi ngechek mobil," jawab Oma Melani.
"Oh."
Tak lama dari itu Devan ikut bergabung untuk sarapan pagi di meja makan. Seperti rutinitas pagi keluarga Isa. Yaitu sarapan pagi bersama.
"Yuk berangkat!" ajak Devan saat semua sudah selesai sarapan.
"Hmm … Kak Gio ga jadi ikut?" tanya Raisa.
"Gio nanti nyusul, bawa mobil sendiri," jawab Devan.
"Ya sudah, yuk!" ajak Oma Melani begitu semangat.
"Ayo ...," girang Raisa.
Mereka berempat pun segera memasuki mobil dan mulai meninggalkan area rumah untuk berlibur ke pantai.
Sesampainya di pantai, Gio ternyata sudah menunggu mereka. Raisa dan Devan segera menghampiri Gio. Oma Melani dan Bu Dewi pun hanya berjalan santai.
Gio tengah berdiri di dekat dermaga seorang diri. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku. Pakaian yang ia kenakan pun sama dengan Devan.
"Hmm … Lumayan," jawab Gio.
"Raisa bantuin Oma sama ibu dulu, ya," ujar Raisa saat melihat Oma Melani dan Bu Dewi sedang menggelar tikar.
Devan hanya menganggukkan kepalanya.
"Raisa bantu, ya," ucapnya sembari menaruh beberapa makanan ringan di atas tikar.
"Aduh ... Terima kasih sayang," ujar Oma Melani.
Raisa hanya tersenyum manis.
Devan dan Gio kini menyusul Raisa. Kedua pemuda tampan itu ingin bersantai menikmati pantai bersama dengan ketiga perempuan berbeda usia tersebut.
"Buah, Kak," kata Raisa menyodorkan buah apel kepada Devan.
"Thank," sahut Devan menerima pemberian Raisa.
"Buat Devan doang? Aku enggak?" tanya Gio.
"Nih, buat Kak Gio," sahut Raisa juga memberikan buah apel pada Gio.
"Terima kasih honey," ucap Gio sembari mengunyah apel yang diterimanya.
Raisa diam saat mendengar perkataan Gio. Mengapa, tiba-tiba jantungnya berdegup dengan kencang? Juga pipinya terasa panas.
"Ekhem, Oma, Raisa minta buah jeruknya dong!" ucapnya berusaha mengalihkan rasa gugupnya.
"Tentu sayang," kata Oma Melani memberikan buah jeruk pada Raisa.
"Terima kasih," kata Raisa.
"Sama-sama."
__ADS_1
Raisa, Devan, Gio, Oma Melani, dan Bu Dewi pun sama-sama menikmati berbagai makanan yang mereka bawa. Mulai dari buah, makanan ringan, aneka kue buatan sendiri dan juga minuman yang mereka bawa.
Mereka meniknati sepoi-sepoi angin pantai yang menggelus kulit. Deburan ombak yang layaknya melodi indah begitu terdengar di telinga. Raisa memilih tiduran di pangkuan Oma Melani. Oma Melani pun dengan penuh kasih sayang mengelus kepala cucu perempuannya.
"Main jet sky, yuk!" ajak Gio.
"Yuk!" sahut Devan.
"Oma, ibu. Devan sama Gio main jet sky dulu, ya," pamit Devan.
"Iya, kalian hati-hati, ya," jawab Bu Dewi.
"Iya, Bu."
Devan dan Gio beranjak untuk mengganti baju mereka. Kemudian, mereka mulai menyewa iet sky dan memainkannya.
Gio terlihat begitu profesional saat mengendarainya jet sky. Devan pun sama, namun Gio jauh lebih handal. Hingga hal tersebut mengundang perhatian Raisa untuk melihatnya lebih jelas.
Raisa segera mengambil HP-nya dan mulai memotret Devan dan Gio yang tampak lihai mengendarai jet sky.
"El, ikut ga?" tanya Devan.
"Enggak mau!" sahut Raisa.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan aksi mereka. Sedangkan Raisa asyik bermain dengan pasir pantai.
Hingga tanpa disadari, Devan dan Gio pun sudah menghampirinya dan ikut bermain di sampingnya.
"Yah … Kok hancur sih!" gerutu Raisa saat sudah susah-susah membangun rumah-rumahan dari pasir tetapi dihancurkan oleh ombak.
Gio pun tersenyum melihat raut kesal Raisa.
"Makannya jangan bangun di dekat ombak," ujar Gio.
"Tahu, ah. Malas," kata Raisa beranjak pergi.
Gio pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Minum, El?" tawar Devan menyodorkan botol minuman padanya.
"Terima kasih," ucap Raisa menerima botol minuman pemberian kakaknya.
"Tadi aja cemberut, sekarang senyum," cibir Gio yang sudah menyusul Devan dan Raisa.
"Hehe. Habiskan Kak Devan bicara absurd banget," jawab Raisa.
"Ya deh."
"Btw … Minggu depan kamu udah masuk sekolah, Rai?" tanya Gio.
"Heem," jawab Raisa.
"Belajar yang rajin, jangan malas-malasan," nasihat Gio.
"Siap," sahut Raisa.
"Eh lihat," Raisa menunjuk ke arah barat.
"Senjanya bagus," ucap Raisa sembari tersenyum senang.
Gio dan Devan pun turut tersenyum.
"Ga ada yang lebih indah dari senyumanmu, El. Bagi kakak, dunia akan jauh lebih indah dari senja kalau ada kamu, oma, dan ibu," batin Devan.
"Indahnya senja hanyalah sesaat. Namun indahnya senyummu adalah selamanya, Rai. Aku harap senyum itu selalu terpancar. Aku berharap selalu bisa melihatnya dan aku juga bagian dari alasannya. I love you, Raisa Isabella."
__ADS_1