
Hari ini, Devan pulang dari kantor lebih awal. Ia berencana akan pulang ke Indonesia. Setelah tahu kabar dari Andra dan Gio, ia memutuskan untuk pulang. Ia sudah sangat rindu ingin bertemu sahabat-sahabatnya. Juga, ia ingin mengetahui perkembangan Kafe Melody.
"Kok sudah pulang, Van?" tanya Oma Melani yang kala itu sedang bersantai di halaman depan.
"Devan mau pulang ke Indonesia, oma," jawab Devan seraya menyalami tangan omanya.
"Kok dadakan, kenapa tidak bilang sama, oma?" tanya Oma Melani.
"Ini baru bilang," ucap Devan.
"Oma kan jadi belum siap-siap," kata Oma Melani.
"Siap-siap mau ke mana, oma?" tanya Devan balik.
"Ya pastinya mau pulang ke Indonesia lah. Oma juga kangen negeri kelahiran oma," jawab Oma Melani.
"Oma ingin membantumu mencari Isael, oma ingin segera bertemu dengan cucu perempuan, oma. Pasti dia lebih cantik dari mamanya," kata Oma Melani berandai-andai.
Devan menghela napas pelan. Ia duduk di kursi sebelah omanya berada.
"Oma, Devan ke Indonesia cuma sebentar kok. Devan mau urus perusahaan dan juga kafe yang sudah lama tidak diperhatikan semenjak opa pergi," kata Devan memberi penjelasan.
Wajah Oma Melani berubah sendu. Ia menatap cucu lelakinya penuh harap.
"Kamu tidak mau mencari Isael?" tanya Oma Melani.
"Bukan begitu, oma," jawab Devan sarkas.
"Devan juga akan cari Isael. Devan juga sama seperti oma, ingin segera bertemu Isael, adik Devan satu-satunya," ucap Devan.
"Devan ingin sekali memeluknya. Anggap saja sebagai pengganti mama yang sudah lama pergi," imbuh Devan.
"Tapi, oma jangan ikut, ya. Oma akhir-akhir ini kan kurang sehat," kata Devan.
Oma Melani menggeleng. "Oma sehat begini kamu bilang kurang sehat," kesal Oma Melani.
"Kamu itu yang kurang sehat karena sering lembur," cibir Oma Melani.
"Oma tetap mau ikut," kekeh Oma Melani.
Devan menghela napasnya. Mencoba mencari cara agar omanya ini tetap tinggal di Amerika. Ia tidak mau jika omanya sampai kelelahan. Apalagi, Devan hanya akan pulang paling lama satu minggu di Indonesia.
"Oma," panggil Devan memegang tangan keriput milik omanya.
"Oma dengerin Devan, ya," tutur Devan.
"Oma harus jaga kesehatan di sini. Devan ke Indonesia cuma satu minggu. Devan janji nanti kalau Devan udah dapat kabar soal Isael, Devan akan langsung kasih tahu oma," ujar Devan.
"Janji?" tanya Oma Melani.
"Janji," jawab Devan tersenyum pada omanya.
"Ya udah. Oma bakal di sini, oma bantu doa, ya," kata Oma Melani.
"Nah bagus."
"Kalau gitu, Devan mau siap-siap dulu, ya, oma," pamit Devan.
"Iya."
Devan segera masuk ke rumahnya. Ia segera mengambil koper yang sudah semalam ia siapkan.
Setelahnya, Devan segera kembali turun ke lantai satu.
"Oma, Devan pamit dulu, ya," pamit Devan.
"Oma jaga kesehatan, ya. Nanti Devan akan sering kabarin oma," kata Devan.
"Iya. Kamu hati-hati, ya. Jaga kesehatan, makannya juga teratur dan jangan sering-sering lembur," pesan Oma Melani.
"Iya."
"Devan pamit, ya, oma," pamit Devan menyalami omanya.
__ADS_1
"Hati-hati, sayang," ucap Oma Melani memeluk cucunya.
"Iya."
"Mr. Devan, the car is ready," ucap sopir rumah Devan.
"Okay. We're leaving now," jawab Devan.
"Devan pergi dulu, oma," kata Devan seraya berjalan menuju mobilnya.
"Take care dear," ucap Oma Melani ketika mobil Devan mulai berjalan keluar gerbang.
Mobil Devan mulai membelah jalanan menuju bandara. Kali ini, Devan akan benar-benar pulang untuk mengurusi bisnisnya dan juga mencari adiknya.
"Tunggu kakak, El," gumam Devan sembari menatap jalanan yang begitu ramai.
"Ma, Pa, Devan akan pulang. Bantu Devan cari Isael, ya," batin Devan.
"Tuhan, bantu Devan mencari Isael. Devan ingin membawa kabar baik untuk oma," doa Devan dalam hati.
Selama kurang lebih empat puluh menit, mobil Devan sudah sampai di bandara. Ia segera masuk dan mulai berjalan menuju pesawat yang akan ia tumpangi.
"Thank you, Sir. Please come back, I'm leaving," kata Devan sebelum menaiki tangga pesawat.
"Okay, Sir. Have a smooth trip," balas sopir Devan.
Devan mengangguk dan kembali menaiki tangga. Ia sudah tidak sabar untuk segera sampai di Indonesia. Negeri tempat kelahirannya yang sudah lama ia tinggal.
"Indonesia I am coming," teriak Devan dalam hatinya.
...****************...
"Halo, Gi," sapa Devan saat sambungan teleponnya sudah terhubung.
"Halo, Van. Ada apa?" tanya Gio balik.
"Gua udah otw ke Indonesia. Nanti lu jemput gua di bandara Soekarno-Hatta," jawab Devan memberi tahu.
"Oke. Kira-kira sampai Indonesia jam berapa, Bro?" tanya Gio.
"Oke. Hati-hati, ya, Bro. Semoga lancar," kata Gio.
"Oke. Thank," jawab Devan mengakhiri sambungan teleponnya.
Pesawat yang ditumpangi Devan sudah siap untuk lepas landas menuju Indonesia. Dalam hati ia tak henti-hentinya memanjatkan doa agar sampai dengan selamat. Serta membawa berita baik untuk omanya mengenai Isael, adiknya.
Sedangkan, di Indonesia sendiri, Gio langsung memberi tahu seluruh karyawannya. Jam di Indonesia sudah berganti malam. Kafe juga sebentar lagi akan segera tutup.
"Mohon perhatian sebentar," ucap Gio pada karyawan Kafe Melody.
"Besok pagi, bos kita semua akan datang dari Amerika," ujar Gio memberi tahu.
"Jadi, saya harap kalian datang semua dan pastinya dapat memberikan yang terbaik," harap Gio.
"Siap, Kak," jawab para karyawan.
Raisa yang sedari tadi diam merasa ingin tahu siapa bosnya? Selama kurang lebih setengah tahun ia bekerja di Kafe Melody. Ia tak pernah tahu siapa bosnya sebenarnya. Yang ia tahu bahwa Gio adalah managernya.
"Emang bos Kafe Melody siapa sih, Kak?" tanya Raisa pada Ina.
"Aku juga ga tahu, Rai. Meski udah lama di sini tapi aku ga tahu," jawab Ina.
"Kalau dengar-dengar sih namanya Isa Devano. Cuma aku ga pernah tahu mukanya," bisik Ina pada Raisa.
"Oh," Raisa ber-oh ria.
"Baiklah kalau begitu karena hari sudah malam. Maka silakan pulang dan hati-hati di jalan," ucap Gio pada para karyawannya.
"Siap, Kak," jawab para karyawan satu persatu mulai meninggalkan area Kafe Melody.
Raisa, dara muda itu masih diam di depan kafe untuk menunggu angkot. Karena sudah malam, ia tak ingin berjalan kaki. Ia sudah lelah.
"Mau bareng, Rai?" tawar Gio.
__ADS_1
"Nanti merepotkan Kak Gio," jawab Raisa.
"Enggak kok. Yuk bareng aja!" ajak Gio.
"Gapapa, Kak?" tanya Raisa ragu.
"Gapapa."
Akhirnya, Raisa pun pulang bersama Gio. Sepanjang perjalanan, Raisa hanya diam saja di kursi sebelah kemudi. Sedangkan Gio juga fokus untuk mengemudi.
"Terima kasih, Kak," ucap Raisa begitu mobil sudah sampai di halaman rumahnya.
"Sama-sama," jawab Gio.
"Besok Raisa izin telat, ya, Kak. Karena ada kelas tambahan," kata Raisa.
"Oke gapapa. Pasti Devan mengerti," ujar Gio.
"Iya."
"Siapa tadi namanya?" tanya Raisa.
"Isa Devano," jawab Gio.
"Kalau gitu aku pamit, ya, Rai. Selamat malam," pamit Gio.
"Malam."
Raisa segera memasuki rumahnya. Saat sampai di dalam rumah, ia melihat ibunya tengah duduk sambil menonton acara di televisi.
"Ibu, Raisa pulang," panggil Raisa menyalami tangan ibunya.
"Aduh, anak ibu udah pulang," girang Bu Dewi.
"Gimana hari ini?" tanya Bu Dewi.
"Baik, Bu. Besok katanya bosnya Raisa mau ke kafe," jawab Raisa.
"Bos kamu, siapa?" tanya Bu Dewi.
"Katanya sih Pak Isa Devano," jawab Raisa.
Deg.
Bu Dewi tiba-tiba saja menjadi gelisah saat mendengar nama itu. Isa Devano? Ada apa ini?
"Kamu tahu siapa dia?" tanya Bu Dewi.
"Tahu," jawab Raisa. "Bos Kafe Melody tempat Raisa bekerja."
"Haha, bisa aja kamu. Ya udah sana bersih-bersih terus istirahat," kata Bu Dewi.
"Siap, Bu."
Sepeninggalan Raisa, Bu Dewi melamunkan apa yang baru saja ia dengar dari putrinya.
"Apakah ini sudah saatnya?" batin Bu Dewi.
...****************...
"Gi, jemput gua sekarang," kata Devan pada sahabatnya.
"Sabar gua otw," balas Gio pada sambungan telepon dengan Devan sahabatnya.
Gio segera memacu mobil menuju bandara Soekarno-Hatta untuk menjemput sahabatnya itu.
"Hai, Bro. Welcome to Indonesia," kata Gio antusias begitu bertemu dengan Devan.
"Thank," balas Devan memeluk sahabatnya.
"Pulang sekarang?" tanya Gio.
"Yoi."
__ADS_1
Devan sampai di Indonesia menjelang subuh. Ia, segera menyuruh Gio untuk memacu mobilnya menuju rumah mewah Devan yang sudah lama ia tinggal.