
"Nak," panggil seorang wanita paruh baya saat memasuki kamar Raisa.
"Istirahat dulu, Nak," ucapnya mengelus pelan surai indah milik putrinya.
"Nanti saja, Bu," jawab Raisa pada wanita paruh baya yang tadi memasuki kamarnya. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah ibu Raisa, Bu Dewi Setyawati.
"Jangan terlalu diforsir, nanti kalau kamu sakit," tutur Bu Dewi masih mengelus puncak kepala putrinya penuh sayang.
"Sebentar lagi, Bu. Nanggung kalau tidak dikerjakan," elak Raisa lagi.
Sabtu sudah semakin larut malam. Tadi, sepulang dari Kafe Melody, Raisa langsung masuk ke kamarnya dan mengerjakan PR yang tadi belum sempat ia kerjakan.
"Ya sudah, jangan sampai kemalaman, ya. Ini sudah jam dua belas. Nanti kamu sakit," Bu Dewi kembali mengingatkan.
Raisa mengangguk. "Iya, Bu."
"Ibu ke kamar dulu, ya," pamit Bu Dewi meninggalkan kamar putrinya.
Raisa hanya mengangguk. "Selamat malam, Bu," ucap Raisa.
"Maaf dan terima kasih," katanya.
Bu Dewi yang hendak meraih ganggang pintu pun terhenti dan kembali menoleh pada Raisa.
"Maaf karena sudah merepotkan ibu dan belum bisa memberikan yang terbaik untuk ibu," jelas Raisa yang tanggap akan tatapan bingung ibunya.
Bu Dewi tersenyum simpul sembari menggeleng.
"Terima kasih sudah merawat dan membesarkan Raisa seorang diri. Ibu adalah wanita terhebat di hidup Raisa. Raisa janji akan selalu membahagiakan ibu," imbuh Raisa.
Bu Dewi kembali menghadap ke Raisa dan memeluknya.
"Tidak, Nak. Memang sudah kewajiban ibu untuk merawatmu. Jangan khawatirkan ibu," kata Bu Dewi memeluk putri tunggalnya.
"Ibu juga berterima kasih karena kamu mau membantu ibu untuk bekerja. Ibu juga berterima kasih kamu tetap mau bertahan dan berjuang demi hidup kita," kata Bu Dewi mulai berkaca-kaca.
Raisa mengangguk dalam pelukan ibunya.
"Bu, kalau Raisa kalah sama penyakit Raisa. Ibu jangan sedih, ya?" tanya Raisa tiba-tiba.
Bu Dewi mengurai pelukan Raisa. Menatap putrinya penuh harap.
"Belum waktunya kan?" tanya Bu Dewi di dalam hati.
"Tuhan aku mohon, jangan sekarang! Dia masih belum tahu semuanya," mohon Bu Dewi di dalam hatinya.
__ADS_1
"Nak, kamu anak yang kuat. Empat belas tahun kamu sudah bertahan sejauh ini. Apa kamu mau menyerah?" tanya Bu Dewi dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi.
"Kamu harus kuat, Nak. Ibu mau lihat kamu bahagia," kata Bu Dewi dengan derai air mata yang membasahi pipinya.
"Iya, Bu. Raisa akan berjuang untuk tetap bertahan," kata Raisa menghapus air mata di pipi ibunya.
"Sekarang ibu tidur, ya. Raisa mau lanjut belajar lagi," kata Raisa.
Bu Dewi pun memutuskan untuk keluar dari kamar Raisa.
Sesampainya di kamar, Bu Dewi sudah tak kuasa untuk membendung air matanya. Air matanya menetes begitu saja, ia sangat takut dengan bayang-bayang Raisa akan pergi meninggalkannya.
"Cukup, Nak. Empat belas tahun kamu menderita dalam belenggu daya otak dan penyakitmu," gumam Bu Dewi.
"Ibu sungguh tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Ibu akan usahakan, tapi mohon, Nak. Tunggulah!" kata Bu Dewi.
"Tunggulah sampai mereka bertemu denganmu," ucap Bu Dewi seraya memandangi foto Raisa kecil.
Mereka? Mereka siapa?
"Lebih baik ibu kehilanganmu untuk dibawa oleh mereka. Daripada ibu harus kehilanganmu untuk ke sisi-Nya," lirih Bu Dewi.
Sungguh Bu Dewi tidak akan sanggup jika harus kehilangan Raisa.
...****************...
Bu Dewi selama belasan tahun hidup seorang diri. Suaminya telah lama pergi meninggalkannya karena lebih memilih dengan perempuan lain yang dapat memberinya keturunan. Bu Dewi difonis oleh dokter tidak dapat hamil karena rahimnya bermasalah. Sehari-harinya Bu Dewi pun, hanya menjadi buruh cuci di rumah-rumah warga.
Dalam diam dan tangis di kamar seorang diri. Bu Dewi kembali mengingat memori-memori tentang Raisa. Kejadian empat belas tahun silam yang membuat gadis manis itu menjadi menderita.
Flashback on
"Apa, Dok?" tanya Bu Dewi terkejut dengan penuturan dokter yang menangani Raisa.
"Iya, Bu. Anak ibu terkena tumor otak," jelas dokter yang merawat Raisa.
"Tidak mungkin!" sentak Bu Dewi seakan tak terima dengan perkataan dokter itu.
"Maaf, Bu. Karena kecelakaan parah yang dialami pasien. Itulah yang menyebabkan dirinya hilang ingatan dan mengidap tumor," tutur dokter.
"Amnesia? Tumor otak?" tanya Bu Dewi tak percaya.
"Iya," jawab sang dokter dengan anggukan kepalanya. Ia seakan meyakinkan Bu Dewi agar percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Dikarenakan benturan keras akibat kecelakaan, pasien harus mengalami amnesia dan tumor otak," kata dokter.
__ADS_1
"Untung saja, tumor yang diderita pasien tidak begitu parah. Tumor yang diderita pasien masih kecil dan termasuk dalam tumor jinak. Jika sering dilakukan kemoterapi, maka pasien akan segera sembuh," tutur dokter memberi penjelasan.
"Namun, jika tidak-
"Jika apa, Dok?" potong Bu Dewi.
"Jika tidak, maka pasien akan merasakan kesakitan jika suatu waktu kambuh dan itu mungkin terjadi saat ia beranjak remaja. Juga, pasien perlu untuk minum obat dengan teratur akan sel tumor tidak cepat membesar," jawab dokter.
Bu Dewi lemas seketika. Ia tak menyangka jika anaknya akan mengalami hal semenyakitkan ini. Ia mencoba mencari jalan keluar, tadi apa?
"Baiklah, Dok. Kalau begitu saya permisi. Terima kasih," ucap Bu Dewi meninggalkan ruangan sang dokter.
"Sama-sama."
Bu Dewi memandangi ruang ICU. Di sana ada seorang gadis mungil yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Bahkan, saat ia tersadar nanti, ia tidak akan mengingat siapa dirinya. Dan bahkan akan menanggung rasa sakit yang berkepanjangan.
"Nak, bangunlah. Jiwa ibu dan ayahmu pasti sudah tenang," gumam Bu Dewi saat melihat Raisa dari jendela ruang ICU.
"Mulai hari ini, ibu akan merawatmu dengan sebaik mungkin. Seperti pesan ibumu sebelum meninggal."
"Mulai hari ini, Bi Dewi adalah ibumu, Nak. Bangunlah dan panggil bibimu ini dengan sebutan ibu," pinta Bu Dewi.
"Bagaimana aku bisa memberi tahu keluarga Non Raisa? Sedangkan aku saja tidak tahu di mana letaknya. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan pada mereka?" tanya Bu Dewi di dalam hatinya.
"Haruskah aku mencari mereka? Tapi bagaimana dengan pesan terakhir nyonya?" Bu Dewi bimbang.
Flashbak off
"Maafkan ibu, Nak. Andai ibu punya harta lebih untuk membawamu ke bertemu keluargamu. Mungkin kamu tidak akan semenderita ini," ucap Bu Dewi.
"Maafkanlah ibu, Nak. Karena ibu kamu harus terus merasakan sakit. Ibu berharap kamu akan segera bertemu dengan mereka," kata Bu Dewi.
"Waktunya sudah semakin dekat, Nak. Semoga saja kamu segera bertemu mereka."
Setelah berkata demikian. Bu Dewi langsung tertidur bersama keheningan malam.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Raisa baru saja selesai dengan tugas sekolahnya. Sebelum tidur, Raisa memutuskan untuk mengambil obat dan meminumnya. Ia pun pergi ke dapur.
"Ibu sudah tidur belum, ya?" tanya Raisa pada dirinya sendiri.
"Coba lihat aja deh," pikirnya kemudian berjalan ke kamar Bu Dewi.
Dengan perlahan Raisa membuka pintu kamar ibunya.
__ADS_1
"Syukurlah ibu sudah tidur," gumam Raisa saat melihat ibunya sudah tertidur lelap. Ia pun segera kembali dengan tujuan awalnya.
Setelah selesai meminum obat, Raisa segera tidur karena besok pagi ia akan berangkat ke Kafe Melody di jam pagi.