Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
SIASAT


__ADS_3

Kepergian Albert Setya ke Kanada bukanlah untuk sekadar urusan bisnis. Ia pergi ke sana karena ingin menemui seseorang yang dapat membantunya semakin berkembang.


"Bertemu lagi denganmu Mr. Michael, how are you?" sapa Albert saat bertemu dengan rekan bisnisnya.


Mr. Michael, seorang pembisnis hebat yang sudah menjadi penguasa di bidang properti di luar negeri sejak dahulu kala. Perusahaan yang ia pegang merupakan perusahaan turun-temurun yang diwariskan oleh keluarganya.


Meski usianya yang sudah tak lagi muda. Nyatanya, Mr. Michael masih sangat handal dalam mengelola bisnisnya.


"I am fine Albert. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Mr. Michael balik bertanya.


Mr. Michael sebenarnya adalah orang Indonesia. Hanya saja ia memutuskan untuk memulai dan mengembangkan bisnisnya di sana. Mengingat bahwa kakek buyutnya dulu merupakan keturunan Kanada yang menikah dengan wanita pribumi yakni neneknya.


"Aku selalu baik saat bertemu denganmu," jawab Albert.


"Hahaha kamu bisa saja. Ada apa?" tanya Mr. Michael to the point. Ia sudah hafal dengan tabiat Albert. Saat menemuinya beberapa tahun lalu, juga dengan maksud yang sama. Yaitu meminta bantuan untuk modal bisnisnya.


"Ah, hanya ingin berjumpa saja," jawab Albert.


"Kau yakin?" tanya Mr. Michael tak percaya.


"Oh, ayolah, Al. Aku mengenalmu sejak kau kuliah dulu. Itu karena dulu ayahmu adalah temanku," kata Mr. Michael.


"Kau akan rela datang jauh-jauh ke sini jika memang ada masalah. Benarkan?" tanya Mr. Michael.


Albert mengangguk kecil. "Hanya masalah kecil. Tidak masalah bagiku," kata Albert.


"Benarkah? Lalu apa? Katakan padaku!" ujar Mr. Michael.


"Apa karena Isa Grup?" tebak Mr. Michael.


Albert sempat terkejut dengan tebakan teman ayahnya dulu itu. Memang benar tujuannya ke sini adalah untuk meminta bantuan. Tetapi, sebelum ia mengutarakannya justru Mr. Michael sudah lebih dulu mengetahuinya. Bahkan tebakannya hampir seratus persen benar.


"Apa Isa Grup membuatmu bangkrut?" tanya Mr. Michael.


"Hahaha. Setelah sekian tahun kau berkuasa ternyata ada yang menyaingi juga," ujar Mr. Michael terkekeh sendiri.


"Hmm … Anda benar juga, Mr," kata Albert.


"Katakan, apa yang membuatmu gelisah!" seru Mr. Michael.


"Sampai-sampai kau datang kemari setelah lima tahun tak ada kabar," ucap Mr. Michael.


"Aku hanya gelisah. Karena kemarin aku mendengar katanya Isa Grup mengajukan proposal denganmu. Aku hanya takut kalah tender dengannya," jelas Albert.


"Setya dan Isa memang mengajukan proposal di waktu yang hampir bersamaan ke Mel Grup, hanya saja meeting akan dilaksanakan seminggu lagi," kata Mr. Michael.


"Lalu, bisakah kau membantuku untuk memenangkan tander itu?" tanya Albert penuh permohonan.


"Hahaha," Mr. Michael hanya menyahuti dengan tawa kecilnya.


"Apa kau akan lewat jalur orang dalam untuk menang tander?" tanya Mr. Michael sembari terkekeh kecil.


Albert jadi kikuk sendiri. "Ya … Kalau bisa kenapa tidak?" tanya Albert balik seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Imbalan apa yang akan ku dapat saat membantumu?" tanya Mr. Michael serius.


"Lima puluh persen keuntungan untukmu," jawab Albert sarkas.

__ADS_1


"Kau yakin?" tanya Mr. Michael membelalakkan matanya tanda tak percaya.


"Kenapa tidak?" tanya Albert balik seolah menantang.


Mr. Michael cukup kaget dengan keberanian Albert. Memang, jika proyek tersebut berhasil akan membuahkan hasil yang sangat baik. Hanya saja lima puluh persen keuntungan itu. Apakah Setya Grup tidak akan langsung down? Apalagi Setya Grup sekarang sedang menurun.


"Baiklah. Kita lihat saja nanti," ucap Mr. Michael seraya berdiri dari duduknya.


"Aku ada urusan lain. Kau boleh pergi," tutur Mr. Michael.


Albert hanya mengangguk kecil. Dalam hatinya sudah dipenuhi oleh amarah dan juga siasat buruknya untuk memenangkan tander tersebut.


Ia ingin agar Setya Grup memenangkan tander tersebut dan dapat memulihkan kekuasaannya kembali. Hanya saja, Albert lupa bahwa Isa Grup juga tak kalah kuatnya dengan Setya Grup.


Bahkan Isa Grup sudah lebih dulu bertindak daripada Albert. Tanpa sepengetahuannya, ternyata Devan bersama Andra sudah menemui Mr. Michael beberapa waktu lalu.


...****************...


"Bagaimana kabarmu, Van? Sudah lama tidak berjumpa," tanya seorang pria paruh paya yang tampak akrab dengan pewaris Isa Grup itu.


"Aku baik, Om. Om sendiri bagaimana?" tanya Devan balik.


"Jika Mel Grup selalu baik. Maka aku juga akan baik. Hahaha," jawab Mr. Michel.


"Hmmm … Ternyata kau tidak datang sendiri. Siapa dia?" tanya Mr. Michael saat melihat Andra.


"Dia sahabat Devan, Om. Namanya Andra," jawab Devan memperkenalkan Andra.


"Andra, kenalkan dia Om Michael anak dari sepupu Opa Fernan," jelas Devan pada Andra.


"Hai, Om," sapa Andra.


"So, ada apa?" tanya Mr. Michael.


Sudah lama Devan tidak bertandang ke rumahnya. Seingatnya, dulu Devan sering berkunjung saat masih kuliah untuk belajar bisnis. Hanya saja, saat Opanya meninggal dan ia difokuskan untuk mengelola PT. Permata. Jadi, Devan sudah jarang belajar dengannya.


"Hmm … Devan hanya ingin memastikan untuk rapat tander yang akan diadakan bulan depan," jawab Devan.


"Hahaha, kamu ini. Mengapa kamu jadi semangat sekali?" tanya Mr. Michael tertawa kecil.


"Devan hanya ingin meneruskan usaha papa, Om. Devan mau buat mereka bangga kalau lihat Devan dari atas sana," jelas Devan.


Mr. Michael tampak tersenyum tipis saat mengetahui itu. Hanya saja, dirinya jadi ingat bahwa saingan Isa Grup adalah Setya Grup.


"Kamu memang anak yang bertanggung jawab. Sebelas dua belas lah sama papa kamu dan opa kamu," ujar Mr. Michael menepuk bahu Devan.


"Tapi, apa kamu tahu siapa sainganmu nanti?" tanya Mr. Michael.


"Jay Grup, Soy Grup, MLC, dan," Devan tampak berpikir.


"Setya Grup," timpal Andra.


"Kau benar," sahut Mr. Michael.


"Bukannya apa. Aku dan Albert sudah berteman sejak lama. Sejak dia masih kuliah, bahkan setelah Isa Grup mati. Aku dan dirinya semakin kuat di dunia properti," ujar Mr. Michael.


"Namun, kau tenang saja. Dia tidak tahu kalau Mel Grup dan Isa Grup sebenarnya bersaudara."

__ADS_1


"Isa Grup awalnya ingin ku bantu bangkit. Hanya saja, kala itu Albert mengatakan bahwa Isa Grup sudah tak dapat lagi diusahakan. Melihat, Meda memang tidak mempunyai keturunan yang saat itu sudah bisa meneruskan bisnisnya."


"Albert tak tahu jika kau sudah dewasa dan Raisa masih hidup."


"Om tahu?" tanya Devan.


"Aku tahu semuanya, Van. Bahkan penyebab papamu kecelakaan," jawab Mr. Michael.


Devan dan Andra membelalakkan matanya. Bagaimana bisa Mr. Michael tahu semuanya?


"Maksud, Om?" tanya Andra.


"Yang menutup akses itu semua adalah Om sendiri. Itu semua permintaan Om Fernan. Dirinya ingin, agar pelaku tidak hanya mendekam di jeruji besi. Namun juga mendapat balasan yang jauh lebih pedih," jelas Mr. Michael.


"Jadi, melalui proyek ini. Om yakin, apa yang diinginkan oleh Opa kamu akan segera terwujud. Kau tenang saja. Om akan senantiasa membersamaimu tanpa sepengetahuan mereka," kata Mr. Michael.


Devan menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Om," kata Devan.


"Sama-sama," jawab Mr. Michael.


"Oh, ya. Bagaimana kabar Tante Melani dan adikmu?" tanya Mr. Michael.


"Mereka baik," jawab Devan.


"Tante Marsha dan Michelle bagaimana?" tanya Devan teringat dengan tante dan sepupunya.


"Mereka sama baiknya. Michelle bilang ingin ke Indonesia," jawab Mr. Michael.


"Benarkah?" tanya Devan.


"Dia ingin bertemu sepupu perempuannya dan melanjutkan kuliah di sana," jawab Mr. Michael.


"Hmm … Baguslah."


"Lalu kapan ia akan ke Indonesia?" tanya Devan.


"Setelah masa SMA-nya di sini berakhir," jawab Mr. Michael.


"Baiklah. Nanti biar Michelle tinggal di rumah Devan," usul Devan.


"Nanti akan Om bicarakan dulu dengannya."


...****************...


Setelah pertemuannya dengan Mr. Michael, Albert jadi semakin lega. Bahkan dirinya yakin seratus persen akan memenangkan tander tersebut.


Sedangkan Devan, dirinya tampak sibuk dengan kedua perusahaan yang ia pimpin sekarang. Isa Grup dan PT. Permata.


Meski sudah dibantu oleh Andra dan Gio. Namun, tetap saja dirinya harus bekerja ekstra untuk mengurusi semuanya. Apalagi Raisa masih duduk di bangku SMA. Jadi tak bisa terus membantunya.



#Devan sibuk ngurus bisnis.


Jangan lupa like ya guys. Maaf banget, jarang update karena lagi malas kalau like-nya dikit.


Mungkin, nanti akan update dua hari sekali yaaa. Karena author juga sibuk buat MPLS. Author baru mau masuk SMA lhooo. Doain lancar, ya.... ❤

__ADS_1


Sayang kalian semua🤍🤍🤍


__ADS_2