Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
ISA DEVANO


__ADS_3

Di negeri Paman Sam sana, seorang lelaki muda tengah berfokus dengan layar terang di depannya. Wajahnya masih terlihat baby face dan juga begitu manis. Jika seorang perempuan melihatnya, maka akan banyak dari mereka yang terkagum-kagum.


Lelaki berdarah Indonesia namun tinggal di Amerika tersebut tampak lelah karena sudah seharian berdiam diri di layar laptopnya.


"Excuse me!," ucap seseorang mengetuk pintu ruangan lelaki itu.


"Enter," sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya pada laptopnya.


"Sorry Mr. Devan," ujar pegawai yang tadi memasuki ruangan lelaki bernama Devan itu.


"Here's the office sales and expense report for the month, Sir," kata pegawai tadi menyerahkan map laporan.


"Thank you," ucap Devan menerima uluran tangan pegawainya.


"In that case. Excuse me," ucap pegawai tadi.


Devan hanya mengangguk dan kembali fokus. Bukan lagi dengan layar terangnya. Melainkan pada map laporan yang tadi diserahkan oleh salah satu pegawainya. Jangan heran bila mereka menggunakan Bahasa Inggris. Karena memang, kantor Devan berada di Amerika sana.


"Astaga," gumam Devan saat melihat hasil laporannya.


"Ini kenapa yang ada di Indonesia bisa merosot," gumamnya lagi.


"Harus diselidiki," ucap Devan kemudian beranjak dari duduknya.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam di Amerika sana. Lelaki dengan perawakan tinggi itu pun segera keluar dari area kantornya. Beberapa karyawan juga sudah pulang karena tidak ada jam lembur.


Devan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya. Untungnya, jarak rumah dengan kantor tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih selama dua puluh menit.


"Excuse me!" ucap Devan pada satpam rumahnya.


Satpam rumah Devan segera membukakan gerbang rumahnya. Devan pun segera memakirkan mobilnya di bagasi mobil dan masuk ke rumah.


"Baru pulang?" tanya seorang wanita paruh baya pada Devan.


"Oma. Kenapa oma belum tidur?" tanya Devan balik.


"Oma nunggu kamu," jawab wanita yang sudah tua namun masih terlihat bugar itu.


"Oma, Devan sudah bilang kan. Jangan nunggu Devan, itu tidak baik untuk kesehatan oma," ujar Devan.


"Tidak apa-apa, oma masih sehat," kata oma seraya tersenyum manis.

__ADS_1


"Karena Devan sudah pulang, ayo Devan antarkan oma ke kamar!" seru Devan mengajak omanya menuju kamar Oma Melani.


"Terima kasih sayang," ujar Oma Melani.


Devan dengan begitu telaten mengantarkan omanya menuju kamarnya. Ia juga membaringkan omanya di tempat tidur dan menarik selimutnya. Meski pun lelah, Devan selalu perhatian kepada omanya. Sepulangnya dari kantor, Devan selalu mengechek Oma Melani di kamarnya.


"Selamat malam, Oma," ucap Devan mengecup kening Oma Melani.


"Selamat malam juga sayang," balas Oma Melani menyentuh rahang tegas milik cucu lelakinya.


"Tidur yang nyenyak ya, Oma. Devan mau istirahat," katanya berlalu meninggalkan Oma Melani.


Bagi Devan, Oma Melani sudah seperti orang tuanya sendiri. Semenjak orang tuanya meninggal, Devan selalu menyayangi Oma Melani. Karena di hidup Devan, hanya tersisa Oma Melani.


...****************...


Devan menuju kamarnya. Ia pun segera membersihkan diri dan kembali mengotak-atik laptopnya. Tadi, saat mengetahui tentang keadaan kantor cabang di Indonesia, ia memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Devan juga akan menghubungi seseorang yang menjadi tangan kanannya dalam menjalankan bisnisnya yang lain.


"Halo, Gi," sapa Devan begitu sambungan telepon terhubung.


"Hai, Van. Ada apa?" tanya seseorang di seberang sana.


"Apa kabar?" tanya Devan berbasi-basi. Padahal, sosok Devan adalah orang yang to the point dan tidak suka bertele-tele. Namun, jika sudah bersama sahabatnya, ia akan lain cerita. Devan akan menjadi sosok yang sedikit melunak. Ingat! Cuma sedikit.


"Lu sendiri gimana?" tanya Gio balik.


"Baik juga," jawab Devan.


"Tumben nelepon. Ada apa?" tanya Gio langsung. Gio sudah tahu, jika sahabatnya menelepon pasti ada sesuatu. Tidak mungkin hanya berbasa-basi karena Gio tahu, Devan sangatlah sibuk di luar negeri sana.


"Gua mau minta tolong sama lu," jawab Devan.


"Minta tolong apa?" tanya Gio.


"Gua mau lu bantu chek PT. Permata yang ada di Indonesia. Tadi gua lihat hasil laporan kok kaya ada yang kurang beres," jelas Devan menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Oalah. Oke. Gampang, besok gua selidiki," ujar Gio santai.


"Isa Group ga sekalian, Van? " tanya Gio.


"Soal Isa Grup kan udah bangkrut secara perlahan sejak bokap meninggal. Gua ga mau ambil pusing. Biarin aja," tutur Devan.

__ADS_1


"Tapi tu kantor bokap lu rintis dari nol, Bro. Dari zaman mudanya seusia lu," kata Gio.


"Gua tahu. Cuma bisnis bokap bukan di bidang gua," kata Devan.


"Ntar kalau gua ke Indonesia coba gua lihat-lihat dulu," ucap Devan.


"Oke gua tunggu kedatangan lu," kata Gio.


"Ya udah. Gua mau istirahat dulu. Bye. Btw Thank, Gi, lu selalu bisa diandalkan," kata Devan sebelum mengakhiri panggilan.


"Yoi. Sama-sama," ucap Gio kemudian mengakhiri sambungan telepon dengan sahabatnya.


...****************...


Isa Devano, anak pertama dari pernikahan Isa Meda Al-Zabet dengan Medina Putri Isabel. Sejak kecil, Devan sudah tinggal di Amerika. Kesibukan ibunya dalam menemani ayahnya bertugas, membuatnya harus tinggal bersama omanya di Amerika.


Devan tumbuh menjadi lelaki yang dingin dan pekerja keras. Hingga suatu ketika, saat ia berusia sembilan tahun, ibunya mengabarkan bahwa dia mempunyai adik perempuan. Devan begitu senang, ia selalu berjanji pada kedua orang tuanya untuk menjaga adiknya. Karena setelah Devan lulus SD, Devan akan pulang ke Indonesia.


Siapa sangka? Dua tahun kelahiran adiknya, orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan saat hendak pergi berlibur. Orang tuanya meninggal langsung di tempat. Sedangkan adiknya, ia tak tahu di mana adiknya berada.


Devan kecil selalu memandang foto adiknya yang mamanya kirimkan sebelum terjadi kecelakaan. Devan selalu berharap bisa bertemu dengan adiknya. Bahkan, sampai ia dewasa seperti ini. Terkadang ia masih berharap adiknya ditemukan dalam keadaan masih hidup. Devan juga sudah berusaha mencari, namun semuanya tetap nihil hasilnya. Banyak yang bilang adiknya juga ikut meninggal, namun jasadnya tak ditemukan. Asisten rumah tangganya juga tak tahu entah selamat ataukah tidak dalam kecelakaan itu.


Omanya pun memutuskan untuk mengasuh Devan hingga dewasa. Oma menyerahkan semua usaha yang dulu sempat dikelola Opa Devan sebelum tiada. Devan remaja mulai belajar bisnis tambang untuk melanjutkan PT. Permata yang sudah dibangun oleh opanya. Juga, Kafe Melody, yang dulu sempat dikelola omanya kemudian ibunya dan kini dirinya.


"Kenapa aku ga bisa ketemu kamu, Dek?" Devan bermonolog seraya merebahkan dirinya di kasur king size miliknya.


"Takdir begitu jahat bukan?" tanya Devan pada dirinya sendiri.


"Aku selalu berdoa agar diberi adik perempuan yang sangat cantik seperti mama. Namun, begitu aku tahu punya adik perempuan malah dia pergi gitu aja," monolog Devan. Tanpa sadar, salah satu sudut matanya mengeluarkan cairan bening.


"Ma, Pa, adik udah bahagia sama kalian di sana, ya?"


"Maafin Devan udah ga nepatin janji sama Isael. Andai Isael ada di sini, Devan akan selalu menjaganya, Ma, Pa. Devan tak akan membiarkan Isael kekurangan suatu apa pun. Baik kasih sayang, materi atau pun perhatian. Devan akan kasih semua buat Isael," ucap Devan. Saat itulah kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Devan begitu menyayangi keluarganya. Ia merasa sangat kehilangan akan perginya kedua orang tuanya dan adiknya tercinta. Devan selalu berharap semua hanyalah mimpi buruk. Namun, nyatanya semua memang kenyataan yang sudah berjalan empat belas tahun lamanya.



Bos Muda Isa Devano nih guys.


JANGAN LUPA LIKE DAN COMMENT, YA!!! ❤

__ADS_1


AYO TEBAK GIMANA KISAHNHYA DEVAN? TULIS DI KOLOM KOMEN YA...


__ADS_2