Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
TAKUT


__ADS_3

Dokter Citra keluar dari ruang operasi dengan beberapa peluh di dahi. Dokter Citra tampak muram begitu keluar dari ruang operasi. Apa yang terjadi?


"Bagaimana kondisi adik saya, Dok?" tanya Devan tak sabaran.


"Operasinya berjalan lancarkan, Dok?" Gio juga bertanya.


Bu Dewi dan Oma Melani juga ikut berdiri menghampiri Dokter Citra.


Sebelum menjawab. Dokter Citra tampak menghela napas pelan.


"Operasi tumor otak yang dijalani pasien berjalan dengan lancar," jawab Dokter Citra.


"Syukurlah," semuanya berucap lega mendengar penuturan Dokter Citra.


"Tapi," ucap Dokter Citra.


"Tapi apa, Dok?" tanya Devan.


Semua yang awalnya sudah sedikit merasa lega. Kini kembali khawatir dengan kalimat Dokter Citra yang terkesan menggantung tersebut.


"Pasien mengalami koma," jawab Dokter Citra menundukkan kepalanya.


"Apa?" pekik Bu Dewi dan Oma Melani.


"Saat operasi berlangsung. Denyut jantung pasien melemah. Untungnya pasien berhasil melewati masa kritisnya. Hanya saja, pasien harus koma," jelas Dokter Citra.


Oma Melani, Bu Dewi, Gio dan Devan terkejut dengan penjelasan Dokter Citra. Terutama Bu Dewi. Meski hal ini adalah kedua kalinya, namun Bu Dewi masih saja takut jika Raisa dinyatakan koma.


"Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU kembali," tutur Dokter Citra saat bangkar Raisa keluar dari ruang operasi.


"Raisa," gumam Bu Dewi saat melihat wajah pucat putrinya.


"Maaf, Bu. Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU kembali," titah suster yang di sebelah Bu Dewi.


Bu Dewi menganggukkan kepalanya. Raisa pun kembali dibawa menuju ruang ICU.


Mereka semua pun kembali menunggui Raisa di depan ruang ICU.


"Lu ga pulang?" tanya Gio pada Devan.


Sahabat Gio itu terlihat sangat berantakan. Bajunya yang kusut, serta tatanan rambutnya yang tak begitu rapi.



"Gua mau nunggu adek gua," jawab Devan tanpa mengalihkan pandangannya pada pintu ruang ICU. Tempat di mana adiknya berada.


"Lu harus istirahat," bujuk Gio.


"Gua ga butuh," kata Devan seakan enggan meninggalkan adiknya.


"Pulanglah, Nak. Biar bibi saja yang menunggui Raisa. Kalian pasti lelah," kata Bu Dewi menoleh kepada Devan dan Oma Melani.


"Tidak, Bi," jawab Devan.


"Nak, pulang dulu. Nanti ke sini lagi. Kasihan Raisa kalau dia bangun tetapi dia melihat kakaknya seperti ini," kata Oma Melani.


"Lihat penampilanmu," imbuh Oma Melani.


Devan hanya diam tak menanggapi ocehan Oma Melani. Ia kekeh akan tetap berada di rumah sakit untuk menunggu Raisa sadar.


"Oma saja yang pulang," ucap Devan setelah bungkam.


"Devan takut kalau Raisa kesepian. Sudah lama ia hidup seorang diri," ujar Devan.


"Nak," Oma Melani memeluk cucunya.

__ADS_1


"Oma juga takut akan kembali kehilangan keluarga Oma sebelum Oma melihatnya," kata Oma Melani dalam pelukan Devan.


"Tapi, Nak. Kamu juga harus istirahat," sambung Oma Melani.


"Oma saja yang pulang bersama Bu Dewi dan Gio. Nanti kembali lagi ke sini dan bawakan Devan makan," tutur Devan.


"Mari Oma. Biar Gio antarkan," kata Gio.


"Oma pulang dulu, ya, Nak. Kalau ada apa-apa kabari Oma!" ucap Oma beranjak dari duduknya.


Devan menyahuti dengan anggukan kepalanya.


"Ayo, Wi!" ajak Oma Melani.


"Tidak, Nyonya," jawab Bu Dewi.


"Eh," interupsi Oma Melani.


"Don't call me nyonya," kata Oma Melani.


"Panggil saja ibu. Kamu sudah saya anggap putri saya sendiri. Bukankah kamu dengan Medina hanya berbeda sepuluh tahun?" tanya Oma Melani.


Bu Dewi pun mengangguk. "Dewi di sini saja," kata Bu Dewi.


"Ya sudah kamu di sini saja. Temani Devan," kata Oma Melani.


"Iya, Bu," kata Bu Dewi.


Seulas senyum terbit di bibir Oma tatkala mendengar Bu Dewi memanggilnya 'Bu.'


"Oma pamit dulu, ya, Van," kata Oma Melani.


"Hati-hati, Oma," sahut Devan.


"Hati-hati."


...****************...


Di lain tempat, Rasya tampak gelisah di dalam kamarnya. Tadi, sepulang sekolah, ia langsung pulang dan memutuskan untuk membolos dari ekstrakurikuler basket di sekolahnya.


"Raisa ga masuk?" tanya Rasya pada dirinya sendiri.


"Tapi kenapa?" monolog Rasya.


"Apa dia sudah dioperasi?"


"Operasinya gagal? Atau berhasil?"


"Argh!" kesal Rasya menghempaskan dirinya di atas kasur.


Tadi, saat di sekolah, Rasya mendengar dari Audy, teman sekelasnya kalau Raisa saat ini tengah menjalani operasi.


Berbagai kemungkinan dan opini mulai berkecambuk di kepala Rasya. Rasya takut jika Raisa sampai kenapa-napa.


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Raisa. Gua ga akan maafin diri gua sendiri," ucap Rasya.


"Lu bodoh, Sya!" umpat Rasya pada dirinya sendiri.


"Kalau lu ga ngajak dia lewat jalanan itu. Mungkin Raisa ga akan ngalamin semua ini," gumam Rasya.


"Apa gua ke rumah sakit aja?" batin Rasya.


"Eh. Tapi, kalau malahan gua diusir gimana?" Rasya menduga-duga.


"Ini lagi," gerutu Rasya saat HP-nya tiba-tiba berdering.

__ADS_1


"Apa?" sentak Rasya pada si penelepon.


"Wehh calm down, Bro!" jawab si penelepon.


"Lu bolos ekstra ada apa?" tanya Aldo, orang yang menelepon Rasya.


"Gua malas," jawab Rasya.


"Lu lupa?" tanya Aldo.


Rasya diam tak menyahuti.


"Malam ini sekolah kita ada tanding sama SMA sebelah," sambung Aldo.


"****!" umpat Rasya.


"Sorry gua lupa. Nanti gua ke sana sebentar lagi," kata Rasya.


"Sip, kita semua nunggu lu!" kata Aldo.


Tanpa mengucap sepatah kata. Rasya langsung memutuskan sambungan teleponnya bersama Aldo begitu saja.


Rasya bahkan melupakan janji tanding dengan SMA Merdeka malam ini. Padahal, Rasya adalah ketua tim basket SMA Merak Merdeka 2. Sungguh, hanya karena Raisa, Rasya bisa seperti itu?


...****************...


"Oma, Gio pulang dulu, ya," pamit Gio begitu selesai mengantar Oma Melani ke rumah.


"Iya. Hati-hati, ya, Nak. Terima kasih," sahut Oma Melani.


"Iya, Oma."


Gio berlalu meninggalkan area rumah mewah yang beberapa waktu lalu pernah ia tempati.


Begitu Oma Melani masuk rumah. Oma sudah disambut oleh beberapa foto pernikahan putrinya dulu. Sebutir cairan bening pun berhasil lolos dari pelupuk mata Oma Melani.


"Medina," ucap Oma Melani begitu melihat foto putrinya.


"Keluarga kecil ini," gumam Oma mengelus foto keluarga Devan saat belum ada Raisa.


"Din, Raisa sedang berjuang keras. Doakan dia agar berhasil, ya," harap Oma Melani.


"Mama takut kalau terjadi apa-apa dengan Isael," kata Oma Melani.


Sedangkan di rumah sakit sana. Devan masih tetap sama. Menatap pintu di depannya yang di dalamnya terdapat adiknya. Ya. Raisa saat ini tengah berjuang antara hidup dan matinya.


"Nak," panggil Bu Dewi mengelus pundak kekar milik Devan.


"Kamu tidak lelah, memandangi pintu itu?" tanya Bu Dewi.


Devan menggeleng.


"Kalau kamu takut, nanti Raisa juga takut," kata Bu Dewi.


"Raisa pasti sedih kalau lihat kakaknya yang tampan berubah jadi berantakan."


"Raisa akan kuat kalau kita kuat."


"Nak, kamu tahu, ibu dulu juga seperti kamu. Larut dalam kesedihan dan ketakutan."


"Ibu dulu juga takut kalau Raisa tidak kembali saat koma."


"Maksudnya?" tanya Devan.


"Dulu ...

__ADS_1


__ADS_2