
"Rai," panggil Rasya pada Raisa yang sedang berjalan keluar kelas.
Raisa berhenti sejenak menunggu Rasya menghampirinya.
"Jalan, yuk!" ajak Rasya.
Raisa mengercitkan dahinya. "Ke mana?" tanya Raisa.
"Ke mana aja. Terserah kamu," jawab Rasya.
"Gua sibuk," jawab Raisa.
Meski Raisa sudah diberhentikan bekerja oleh Gio, namun Raisa tetap ke Melody Cafe untuk sekadar membantu di sana. Untuk mengisi waktu luang, begitu kata Raisa.
"Ayolah, Rai," bujuk Rasya.
"Ini kan pulang pagi, bisalah lu jalan-jalan bentar sebelum ke Melody Cafe," kata Rasya.
"Duh gimana? Gua udah dijemput Kak Gio pula," batin Raisa.
Selama kakaknya tidak bisa menjaga, Gio ditugaskan juga untuk mengantar jemput Raisa. Gio sangat senang akan perintah sahabatnya itu. Secara tidak langsung, Devan memberikan kesempatan waktu bersama dengan Raisa.
"Gua izin dulu," kata Raisa berlalu meninggalkan Rasya.
Rasya segera mengambil motornya di parkiran. Sedangkan Raisa menuju pintu gerbang. Tepat saat ia sampai di sana, Raisa bertemu dengan Gio yang sudah menunggunya di depan mobil.
"Kak Gio," panggil Raisa.
"Eh, Rai. Udah pulang?" sahut Gio.
"Udah."
"Kak, Raisa mau diajak jalan Rasya boleh?" tanya Raisa ragu-ragu.
Gio menaikkan satu alisnya. "Rasya?"
"Kakak kelas Raisa," jawab Raisa tanggap akan kebingungan Gio.
"Oh."
"Izin aja sama Devan," jawab Gio.
"Kak Gio gapapa?" tanya Raisa.
"Gapapa," jawab Gio.
"Coba izin sama Devan dikasih izin ga gitu," perintah Gio.
"Oke."
Raisa segera mengambil HP-nya dan mulai menuliskan pesan pada kakaknya yang berada di New York.
Raisa.
"Kak, Raisa izin ga pulang sama Kak Gio, ya. Raisa mau jalan sama teman Raisa," tulis Raisa.
Devan yang kala itu hendak tidur pun kembali meraih HP-nya yang ditelakkan di atas nakas. Jika di Indonesia sekarang ini pukul dua belas siang. Maka di New York sudah pukul sebelas malam.
"Raisa?" gumam Devan membaca nama pengirim pesan.
Devan.
"Cowok apa cewek?" tanya Devan.
Raisa segera membalas balasan pesan kakaknya.
Raisa.
"Cowok," jawab Raisa.
Devan.
"Siapa?"
Raisa.
"Namanya Rasya, Kak. Kakak kelas Raisa," jawab Raisa.
__ADS_1
Devan diam berpikir. Akankah ia mengizinkan Raisa jalan berdua dengan Rasya ataukah tidak?
Devan.
"Boleh. Tapi pulangnya jangan sampai malam," tulis Devan.
Raisa.
"Aaaa terima kasih Kak Devan. Sayang Kak Devan banyak-banyak," balas Raisa.
Devan di seberang sana tampak tersenyum membaca balasan pesan sang adik.
Devan.
"Sama-sama. Sayang Isael banyak-banyak juga. Have fun, ya."
Raisa.
"Siap."
"Rai, udah?" tanya Gio.
"Udah, makasih Kak Gio," ucap Rasya.
Gio menganggukkan kepalanya. Disusul dengan hadirnya Rasya.
"Bye Kak Gio," pamit Raisa langsung naik ke motor Rasya.
Tin.
Rasya membunyikan klaksonnya saat melewati Gio.
"Rasya?" gumam Gio.
"Anak tunggal Albert?" Gio bertanya-tanya dalam hatinya.
...****************...
Rasya memacu motornya menuju pantai Ancol. Ia sengaja mengajak Raisa ke pantai di siang bolong seperti ini. Rasya ingin mengajak Raisa melihat sunset yang kiranya masih lama.
"Kok ke sini?" tanya Raisa begitu sampai di pantai.
Raisa hanya menggeleng. Entah kenapa saat ia mulai memasuki area pantai, kepalanya terasa sangat pusing. Apakah penyakitnya kambuh?
"Please! Jangan sekarang," harap Raisa dalam hatinya.
"Yuk!" ajak Rasya menggandeng Raisa menuju pantai.
Rasya mengajak Raisa menuju gazebo yang ada di tepi pantai.
"Kenapa kok diam aja?" tanya Rasya saat melihat Raisa hanya diam saja.
"Gapapa," jawab Raisa singkat.
Raisa sedang mencoba untuk memulihkan kesadarannya. Sejak sampai di pantai, kepalanya terasa sangat pusing. Ia tidak mau kalau Rasya sampai mengetahui penyakitnya.
"Rai, mau makan apa?" tanya Rasya beranjak ingin memesan makanan.
"Seblak aja," jawab Raisa.
"No!" seru Rasya.
"Yang lain," katanya.
Raisa berpikir. Ia akan makan apa untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya?
"Kalau gitu jus jeruk aja," jawab Raisa.
"Ga makan?" tanya Rasya.
Raisa menggeleng. Lebih baik ia hanya minum saja, dari pada harus makan dan memuntahkannya kembali.
Rasya segera memesan dua gelas es jeruk dan beberapa camilan untuk ia bawa kembali ke gazebo.
Tanpa sepengetahuan Raisa dan Rasya. Gio ternyata diam-diam mengikuti mereka. Itu semua perintah Devan karena Devan khawatir akan adiknya itu.
"Thank," kata Raisa begitu Rasya sampai di gazebo.
__ADS_1
"You are welcome," jawab Rasya.
"Eh, Rai, kenapa lu pucat banget?" tanya Rasya saat melihat perubahan di wajah Raisa.
"Ha? Masa sih?" tanya Raisa memegangi wajahnya.
"Enggak kok. Biasa aja," elak Raisa.
Padahal, Raisa saat ini tengah merasakan pusing yang luar biasanya. Ia mencoba menahannya.
"Gua mau ke toilet dulu," kata Raisa meninggalkan Rasya.
"Hati-hati," sahut Rasya.
Raisa memuntahkan semua yang sudah ada di perutnya. Raisa benar-benar merasa sakit saat berhasil mengeluarkan isi perutnya.
"Harus minum obat sekarang," gumam Raisa mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya.
Tadi, saat ia hendak ke toilet ia sempat mengambil obatnya. Ia berencana akan meminum obat saja. Tetapi malahan isi perutnya bergejolak untuk dikeluarkan.
"Hah," Raisa menghembuskan napas kasar saat berhasil menelan obatnya.
"Setelah ini langsung pulang saja," kata Raisa berlalu keluar dari toilet.
Raisa kembali menyusul Rasya.
"Pulang," kata Raisa begitu sampai di hadapan Rasya.
"Kok buru-buru? Ga mau lihat sunset?" tanya Rasya heran.
"Ga," jawab Raisa sarkas.
"Ya udah, yuk!"
Rasya bangkit dari duduknya. Meraih tasnya dan tas Raisa. Kemudian mulai berjalan menuju parkiran dan meninggalkan pantai.
"Mau ke mana mereka?" Gio bertanya seorang diri.
"Harus diikuti," kata Gio kemudian mulai memacu mobilnya mengikuti Rasya.
Rasya mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Ia bisa melihat dari kaca spion kalau Raisa terlihat pucat. Beberapa kali juga Raisa sempat memejamkan matanya.
"Tuhan mohon, kuatkan Raisa," batin Raisa.
"Kok lewat sini?" tanya Raisa.
"Biar cepat sampai rumah," jawab Rasya sedikit berteriak.
"Jalanan ini, kaya kenal?" monolog Raisa.
"Aww sakit," ringis Raisa memejamkan matanya.
"Kalau dingin pegangan aja," suruh Rasya saat melihat Raisa memejamkan matanya.
Bagaimana bisa terasa dingin? Sedangkan matahari saja bersinar cukup terik.
Raisa kembali membuka matanya.
"Sakit," rintihnya lagi.
Tepat ketika Rasya melewati sebuah pohon besar di pinggir jalan. Raisa yang tidak sengaja melihatnya pun kembali merasakan sakit.
"Aww sakit," gumam Raisa.
"Sya, berhenti," kata Raisa menepuk bahu Rasya.
Rasya langsung menghentikan mobilnya. Raisa pun segera turun dan kembali memegangi kepalanya. Raisa yang sudah merasakan kepalanya yang sangat pusing pun terduduk di tanah.
"Rai, kenapa?" tanya Rasya dengan nada khawatir.
"Sakit!" seru Raisa terus memegangi kepalanya.
"Rai kenapa?" tanya Rasya juga berjongkok.
Raisa meringis kesakitan dan mulai menangis.
__ADS_1
"Minggir!" seru seseorang datang menghampiri mereka.
"Raisa kenapa?" tanya Gio khawatir.