Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
KEJUTAN


__ADS_3

Hari demi hari silih berganti. Raisa juga sudah kembali beraktivitas seperti biasanya. Dia terkadang menghabiskan waktu luangnya untuk merawat kebun di halaman belakang rumah bersama Bu Dewi dan Oma Melani.


Hari ini, Raisa berangkat sekolah sedikit berbeda. Jika biasanya, ia akan diantar oleh Devan, kakaknya. Namun, kali ini Raisa diantar oleh sopir di rumahnya.


Pagi-pagi sekali, Devan sudah tidak ada di rumah. Devan bilang bahwa harus mengikuti meeting untuk kembali membangun Isa Grup.


"Rai," panggil Rasya saat melihat Raisa berjalan di koridor sekolah.


Rasya berlari kecil menghampiri Raisa yang tak kunjung berhenti jalannya.


"Ada apa?" tanya Raisa sambil terus berjalan.


"Nanti pulang bareng, yuk!" ajak Rasya sembari mengimbangi langkah Raisa.


"Gua udah dijemput sama sopir," jawab Raisa.


"Gampang, tinggal bilang aja," kata Rasya.


"Gua ga mau kena marah sama Kak Devan," ujar Raisa.


Devan selalu mewanti-wanti Raisa agar setiap pulang dan berangkat selalu menunggu jemputan. Mengingat, bahwa status Raisa sudah diketahui oleh banyak orang. Jadi, Devan takut kalau ada bahaya yang mengancam keselamatan adiknya. Devan juga menyewa beberapa pengawal untuk mengawasi adiknya selama di luar dan di sekitar rumah.


"Gua izinin ke Kak Devan," ucap Rasya lagi.


Raisa memberhentikan langkahnya. "Emang lu berani?" tanya Raisa dengan senyum mengejek.


"Berani dong," jawab Rasya mencubit pipi Raisa gemas.


Raisa melirik Raisa dengan lirikan mautnya. "Nyebelin!" kesalnya.


"Gimana? Mau, ya?" harap Raisa dengan nada penuh permohonan.


"Nanti gua kabari," jawab Raisa kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kelasnya.


"Yes!" pekik Rasya.


"Gimana berhasil?" tanya Aldo menghampiri Rasya bersama Revan.


"Berhasil dong," jawab Rasya senang.


"Untung Mak Lampir ga lihat," kata Revan.


"Lu berdua bantuin gua. Jangan sampai Mak Lampir tahu gua ngajak Raisa pulang bareng. Yang ada nanti gagal lagi," ujar Rasya.


"Beres!" sahut Aldo dan Revan kompak.


...****************...


Sepulang sekolah, Rasya sudah menunggu Raisa di depan kelasnya. Raisa yang kala itu masih berbalas chat dengan kakaknya untuk meminta izin pun, segera keluar kelas.


"Yuk!" ajak Rasya hendak menggandeng Raisa.


"Wait," cegahnya melepas cekalan tangan Rasya.


Raisa masih mengetikkan beberapa balasan pesan untuk kakaknya itu.


Kak Devan.


"Ini sudah jam 15.30. Kamu harus di rumah pukul 17.00!" tulis Devan.


Raisa.


"Siap, Kak. Sebelum jam lima, Raisa sudah pulang. Kak Devan tenang saja," balas Raisa.


Kak Devan.


"Kak pegang omonganmu, ya!" balas Devan lagi.


Raisa.


"Oke. Makasih Kak Devan tersayang🤭," tulis Raisa.


Kak Devan.


"Kalau ada maunya aja bilang sayang," cibir Devan dalam balasan chat-nya.


Raisa.


"Hehehe. Udah, ya, Kak. Bye-bye," tulis Raisa mengakhiri berbalas chat dengan kakaknya.


Kak Devan.


"Bye. Take care!"


Rasya menunggu Raisa sampai selesai berbalas chat dengan kakaknya. Begitu selesai, Rasya langsung menggandeng Raisa menuju parkiran sekolah.


"Langsung pulang kan?" tanya Raisa saat sudah sampai di parkiran.

__ADS_1


Rasya menggeleng. "Jalan dulu kali. Udah lama ga jalan," jawab Rasya.


"Kita mau ke mana?" tanya Raisa saat Rasya memakaikan helm untuknya.


"Ke mall," jawab Rasya.


"Enggak mau!" seru Raisa.


Rasya mengercitkan dahinya. Kenapa Raisa tidak mau? Bukankah biasanya cewek selalu mau jika diajak ke mall?


"Why?" tanya Rasya bingung dengan alasan Raisa.


"Gua udah capek. Gua ga mau kalau cuma keliling-keliling mall atau ke time zone. Yang ada cuma buat capek," jawab Raisa.


Rasya tersenyum mendengar penuturan Raisa. Ia jadi gemas sendiri dan mencubit hidung mancung Raisa.


"Kalau gitu ke taman kota bagaimana?" tanya Rasya.


"Cuma beli jajan terus pulang deh," imbuhnya.


Raisa diam berpikir. Apakah benar cuma beli jajan terus pulang?


"Kata orang taman kota kalau sore gini banyak makanan yang enak-enak lho," jelas Rasya.


"Oke deh," sahut Raisa.


"Tapi langsung pulang beneran lho, ya," kata Raisa.


"Siap."


Motor Rasya mulai melaju membelah jalanan Ibu Kota. Raisa tampak senang saat melihat ramainya kota di sore hari. Ia memang jarang menikmati suasana indahnya sore hari.


Sesampainya di taman kota, Rasya langsung menarik Raisa untuk mulai mencoba beberapa makanan yang dijajakan di sana.


Mulai dari cilor, siomay, telur gulung, kue terang bulan dan yang terakhir adalah gula kapas.


"Nih," kata Rasya memberikan gula kapas berbentuk karakter kartun kepada Raisa.


"Terima kasih," ucap Raisa senang.


Rasya tak henti-hentinya mengunggingkan senyum saat melihat bagaimana Raisa dengan lahapnya memakan gula kapas berbentuk Hello Kitty itu.


"Lucu," gumam Rasya terus memperhatikan Raisa.


"Mau?" tawar Raisa.


"Suapin!" jawab Rasya.


Raisa dengan sedikit malu-malu menyuapkan gula kapas ke mulut Rasya, kakak kelasnya. Sejak kapan Raisa bisa seperti itu? Bahkan dekat dengan Rasya. Ah mungkin seiring berjalannya waktu. Apalagi sekarang Raisa punya Devan di sisinya.


"Thank," ujar Rasya.


"Habis," kata Raisa begitu gula kapas itu habis.


"Kalau makan jangan celemotan," ucap Rasya mengelap sudut bibir Raisa menggunakan ibu jarinya.


Raisa terdiam. Rasanya seperti ada desiran aneh di dadanya. Semacam dag-dig-dug ser seperti abis lari maraton.


"Ekhem," deheman Raisa membuyarkan lamunannya yang asyik menatap wajah tampan Rasya dari jarak yang cukup dekat.


"Yuk pulang!" ajak Raisa saat melihat jam di pergelangan tangannya.


"Mentang-mentang udah kenyang!" cibir Rasya.


"Hehehe, udah sore. Ntar Kak Devan marah," sanggah Raisa.


"Ya udah, yuk!"


Rasya mulai memacu motornya menuju rumah Raisa di Jl. Pahlawan No. 15. Tepatnya di kawasan komplek Cut Nyak Dien No. 7.


Raisa memang sudah memberi tahu Rasya mengenai alamatnya saat Rasya mulai meninggalkan taman kota. Jadi, Rasya sudah tahu akan ke mana mengantar Raisa pulang.


"Thank for today," kata Raisa begitu turun dari motor Rasya.


"Sama-sama. Gua balik dulu," jawab Rasya.


"Ga mampir?" tanya Raisa.


"Next time aja," jawab Rasya.


"Oke. Hati-hati," kata Raisa.


"Siap."


Raisa mulai memasuki rumahnya. Rumah besar nan mewah itu tampak sepi dan gelap. Padahal biasanya Oma Melani dan Bu Dewi akan menyambutnya di ruang tamu.


"Oma, ibu," panggil Raisa sembari terus berjalan menyusuri ruang tamu yang gelap.

__ADS_1


"Kak, Kak Devan," Raisa mencari kakaknya.


"Kalian di mana?" Raisa bertanya-tanya.


Dor.


Suara balon meletus terdengar dari arah ruang keluarga. Perlahan lampu ruangan mulai menyala. Dekorasi ulang tahun yang meriah namun elegan terlihat jelas di sana.


Devan datang membawa serta kue ulang tahun dengan lilin angka tujuh belas. Bu Dewi, Oma Melani dan Gio juga mengiringi Devan.


"Kejutan!" pekik mereka semua.


Raisa terharu saat melihat kejutan yang diberikan oleh kakaknya. Ini adalah kali pertama, ulang tahunnya dirayakan. Meski hanya dengan keluarga. Namun, itu sudah sangat berarti. Apalagi di usia Raisa yang telah menginjak tujuh belas tahun.


"Terima kasih," ujar Raisa berkaca-kaca.


"Doa dulu sama Tuhan!" perintah Devan sebelum Raisa menitup lilinnya.


Raisa menyatukan tangan memohon kepada Tuhan. Ia berharap agar senantiasa dilimpahkan kebahagiaan dan keselamatan bagi dirinya dan keluarganya.


"Ye ....," pekikan penuh kebahagiaan saat Raisa meniup lilin angka satu dan tujuh.


"Happy bithday my little sister. I wish you all the best," kata Devan memeluk adiknya.


"Thank you so much my prince," Raisa membalas pelukan kakaknya.


"Selamat ulang tahun cucu Oma," ucap Oma Melani.


"Terima kasih, Oma," jawab Raisa memeluk Oma Melani.


"Selamat bertambah usia anak ibu," ucap Bu Dewi.


"Terima kasih, Bu. Ibu memang yang terbaik," kata Raisa beralih memeluk ibunya.


"Happy bithday koala galak. I hope you are be the best," kata Gio.


"Haha, thank you Kak Gio," kata Raisa langsung memeluk Gio.


Gio sempat terkejut. Tetapi ia juga membalas pelukan Raisa.


"Ini hadiah dariku," kata Gio memberikan kotak hadiah kepada Raisa.


"Apa ini?" tanya Raisa.


"Buka saja," jawab Gio.


Raisa membuka kotak kado dari Gio. Betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah kalung indah di dalam kotak itu.



"Terima kasih," kata Raisa tersenyum senang.


Gio hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Ini dari Oma, sayang," kata Oma Melani memberikan sebuah figura foto kepada Raisa.


"Foto mama dan papa?" tanya Raisa.


Oma Melani mengangguk. "Sebagai kenangan untuk kamu," kata Oma Melani.


"Selanjutnya nanti Oma akan beri setelah kamu lulus SMA," lanjut Oma Melani.


"Terima kasih. Ini sangat berharga," tutur Raisa.



"Ibu hanya memberimu ini, Nak. Semoga kau suka," kata Bu Dewi menyerahkan sebuah gelang.



"Itu gelang pemberian mamamu dulu yang masih ibu simpan," tutur Bu Dewi.


"Indah sekali," puji Raisa.


"Karena kau sudah besar. Maka kakak akan memberimu bunga saja," kata Devan menyerahkan bucket bunga kepada Raisa.



"Terima kasih."


"Dan juga ini," ucap Devan memberikan sebuah kunci.


"Melody Cafe sekarang adalah milikmu," ujar Devan.


"Tidak. Aku tidak bisa mengelolanya dengan baik," tolak Raisa.


"Kak Devan saja yang mengurusi bersama Kak Gio," ujar Raisa menoleh pada Gio dan Devan.

__ADS_1


Devan tersenyum. "Gio akan tetap mengelola, tapi pemilik *Melody Ca*fe sekarang adalah dirimu. Gio dan kakak akan mengajarimu berbisnis mulai sekarang," jelas Devan.


"Baiklah."


__ADS_2