Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
PEMBUAT ONAR


__ADS_3

Minggu pagi, Raisa sudah siap untuk berangkat menuju Kafe Melody. Setelah membersihkan rumah dan sarapan pagi. Raisa kini sudah mulai menyusuri jalanan menuju kafe tempatnya bekerja. Bu Dewi tadi pagi-pagi sekali sudah harus berangkat untuk menyuci baju di rumah tetangga.


Jarak tempuh antara rumah dengan kafe lumayan jauh. Namun, bagi Raisa selagi bisa ditempuh dengan jalan kaki. Maka ia akan menempuhnya.


Selama dua puluh menit ia berjalan ke Kafe Melody. Raisa sengaja tidak naik angkot karena sayang uangnya. Lebih baik uangnya ia tabung untuk biaya kuliahnya.


"Telat, ya, Kak?" tanya Riasa pada salah satu karyawan yang sedang menata kursi pelanggan.


"Eh, Raisa," sahut Kak Ina.


"Enggak kok, kafe juga baru buka," jawab Kak Ina.


"Ya udah Raisa masuk dulu, ya, Kak," kata Raisa seraya menuju ruang karyawan.


"Iya," jawab Kak Ina kembali pada tugasnya.


Raisa segera menaruh tasnya pada loker karyawan. Setelahnya, ia langsung ke dapur untuk mulai membantu-bantu di dapur.


Biasanya jika hari Minggu, kafe akan lebih ramai dari biasanya. Karena memang akhir pekan, banyak orang yang akan menghabiskan waktu untuk bersantai atau pun liburan.


"Eh, Rai. Udah berangkat?" tanya Kak Gio menyapa Raisa yang baru saja memasuki area dapur.


"Eh, Kak Gio. Baru juga berangkat, Kak," jawab Raisa.


Manager dari Kafe Melody itu sedang melakukan pengecekan bahan-bahan makanan yang ada di dapur. Gio memang melakukan itu sendiri agar kafe dapat berjalan lancar. Perlu diketahui kalau memang Kafe Melody itu bukan miliknya sendiri, melainkan milik sahabatnya. Sehingga, sebisa mungkin ia akan melakukan tugasnya dengan baik untuk mengelola Kafe Melody.


"Ada yang perlu dibantu, Kak?" tanya Raisa menawarkan diri pada salah satu karyawan yang membantu Gio meneliti bahan makanan.


"Tolong kamu cuci beberapa sayuran yang ada di sana, ya, Rai," jawab karyawan tadi menunjuk pada arah sayuran yang masih segar.


"Oke."


Raisa pun melakukan tugasnya untuk mencuci sayuran yang tadi sudah dipilih oleh karyawan yang bertugas.


Tampak juga di sana, Gio masih asyik berkutat dengan penyupai bahan makanan kafe dan beberapa karyawan di area dapur.


"Rai," panggil Gio pada Raisa yang sudah selesai mencuci sayuran.


"Ada apa, Kak?" tanya Raisa menghampiri Gio.


"Kamu tolong cicipi beberapa sampel bahan makanan ini, ya," kata Gio pada Raisa.


"Saya, Kak?" tanya Raisa menunjuk dirinya.


"Iya," jawab Gio menganggukkan kepalanya.


"Kamu kan suka keju, cokelat, dan aneka kacang-kacangan kan. Kamu coba gih," ujar Gio.


"Kafe mau coba menu baru. Jadi chek dulu rasa dan kualitas bahan utamanya," jelas Gio.


"Oalah," kata Raisa paham.


"Silakan," ucap penyuplai bahan makanan menawarkan beberapa cokelat, keju, dan kacang-kacangan.


Raisa dengan sigap pun mencoba beberapa keju terlebih dahulu. Baru kemudian mencoba cokelat. Ini adalah part paling Raisa suka. Mencicipi cokelat, karena jujur Raisa sangat suka dengan cokelat. Terakhir, Raisa mencicipi kacang-kacangan.


Berbagai rasa sudah Raisa rasakan. Gio dan beberapa karyawan serta penyuplai makanan sedang menunggu bagaimana komentar dari Raisa.


"Gimana?" tanya Gio tak sabaran.


"Enak semua," jawab Raisa singkat.


"Kalau diantara ini semua, kamu pilih yang mana kalau mau dibuat milkshake dengan rasa kue?" tanya Gio.


"Milkshake rasa kue?" beo Raisa.


"Iya. Rencananya mau buat minuman tapi rasa makanan gitu," jawab Gio memberi tahu.

__ADS_1


"Emm," Raisa sejenak berpikir.


"Mungkin kalau untuk cokelatnya bisa pakai cokelat yang ini. Rasanya tidak terlalu manis dan pas," jawab Raisa menunjuk salah satu merk cokelat.


"Kalau untuk kejunya ini aja mungkin," Raisa menunjuk pada salah satu merk keju.


"Rasanya tidak asin tapi dominan manis. Dan untung kacang pakai almond yang itu," ujar Raisa menunjuk kacang almond yang ia pilih.


"Oke. Kita pilih bahan yang itu," Gio memutuskan untuk memilih apa yang tadi dipilih oleh Raisa.


"Tapi, Pak," kata penyuplai makanan ragu.


"Kenapa?" tanya Gio.


"Harga bahan yang dipilih terbilang cukup murah. Biasanya Pak Gio selalu memilih bahan yang mahal," kata si penyuplai bahan makanan.


"Tidak masalah!" jawab Gio.


"Mau mahal mau murah. Yang di sini saya pertimbangkan adalah kualitas bukan harga," tutur Gio.


"Jadi, mulai besok jangan lupa setorkan bahan makanan ini ke sini," kata Gio sebelum pergi meninggalkan area dapur.


"Baik, Pak," jawab si penyuplai bahan makanan.


Setelah itu Gio kembali ke ruangannya. Begitu pula dengan beberapa karyawan juga mulai kembali dengan aktivitasnya.


...****************...


Hari sudah beranjak malam. Raisa masih sibuk untuk mengantarkan beberapa pesanan pelanggan. Ia terpaksa harus membantu pekerjaan mengantar pesanan karena kafe begitu ramai.


Di tengah kesibukannya membantu mengantarkan makanan, ada seorang yang dengan sengaja mengusili Raisa.


"Eh itu si cupu bukan sih?" tanya, Nayla, teman Audy.


"Eh, iya, ya," sahut Sinta.


Saat ini, ketiga kakak kelas Raisa itu sedang melakukan acara nongkrong bareng di Kafe Melody. Kafe Melody memang pusat nongkrong anak muda. Selain harganya yang terjangkau, banyak menu dan pastinya enak. Di Kafe Melody juga didesain sesuai dengan keadaan sekarang. Yang kata orang adalah instagramable.


"Itu lho yang bawa nampan," tunjuk Nayla.


"Ngapain tu anak di sini?" Audy bertanya-tanya.


"Kayaknya sih kerja. Lu lihat aja seragamnya," jawab Sinta.


"Kerja? Tu anak sampai segitunya?" tanya Audy tak percaya.


"Maybe," jawab Sinta dan Nayla.


"Eh-eh dia jalan ke sini tuh," kata Nayla yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Raisa.


"Siap-siap, Au," kata Sinta.


Tepat saat Raisa berjalan ke arah Audy dengan membawa nampan berisi gelas dan piring kotor. Audy dengan sengaja menjulurkan kakinya menghadang jalan Raisa. Tentu saja, Raisa yang tidak sigap langsung terjatuh. Gelas dan piring kotor itu pun pecah.


"Ups! Sorry, sengaja," kata Audy dengan senyum meledeknya.


Beberapa pengunjung kafe mengalihkan atensi mereka pada meja Audy.


"Hahaha. Lu ngapain di sini?" tanya Nayla dengan tawa mengejeknya.


Raisa tetap diam tak bergeming. Ia menahan amarah karena lagi-lagi harus bertemu dengan Trio Wek-wek Brengsek,.


"Berdiri dong! Masa gitu doang sakit," ejek Sinta.


Raisa tetap diam tak menganggapi ejakan dari kakak kelasnya itu. Keributan di meja Audy tentu saja mengundang banyak perhatian.


"Berdiri!" seru seseorang mengulurkan tangan pada Raisa.

__ADS_1


"Rasya!" seru Audy saat melihat kedatangan Rasya bersama kedua temannya, Aldo dan Revan.


Raisa menerima uluran tangan Rasya dan berdiri.


"Kalian memang keterlaluan!" seru Rasya pada Audy.


"Ga di sekolah, ga di sini. Hobi banget bikin onar," kesal Rasya.


"Lu sebagai kakak kelas seharusnya jadi contoh yang baik bukan membully adik kelas lu," kata Rasya mulai tersulut emosi.


"Gua kan ga sengaja," elak Audy dengan nada tinggi.


"Ga sengaja lu bilang?" tanya Rasya seakan membentak.


"Gua lihat semuanya," imbuh Rasya dengan raut wajah marah.


"Lu emang sengaja mau mencelakai Raisa kan?" tanya Aldo.


"Bener-bener lu, Au," timpal Revan.


"Ada apa ini?" tanya Gio menghampiri keributan itu.


"Maaf, Kak," ucap Raisa penuh rasa bersalah.


"Kamu kenapa, Rai?" tanya Gio setelah melihat keadaan Raisa.


"Ini kenapa piring dan gelas pada pecah. Seragam kamu juga kotor," ucap Gio.


"Jadi gini, Kak. Ini ada trio pembuat onar yang sebenarnya adalah kakak kelas Raisa. Mereka sengaja mau mencelakai Raisa," jelas Aldo yang tanggap dengan situasi. Tidak mungkin Rasya yang menjelaskan karena ia masih tersulut emosi.


Gio memperhatikan ketiga perempuan yang tertunduk malu.


"Kalian harus ganti rugi!" kata Gio datar.


"WHAT? " pekik Audy, Nayla, dan Sinta bersamaan.


"Sebagai bentuk pertanggung jawaban kalian," ucap Gio.


"Tapi kami enggak sengaja, Kak," jawab Audy membela diri.


"Iya, kami tidak sengaja, Kak. Raisanya aja yang ga hati-hati," timpal Nayla.


"Masih bisa ngelak lagi. Jelas-jelas gua lihat sendiri," seru Rasya.


"Sudah-sudah, biar Raisa aja yang ganti," kata Raisa menengahi.


"ENGGAK!" tegas Rasya.


"Mereka yang salah!" sambungnya menunjuk pada Audy dan teman-temannya.


"Ganti rugi ga lu pada!"


"Iya-iya gua ganti. Berapa sih? Orang kaya gitu ma gampang," kata Audy kesal.


"Nih!" serunya meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah di atas meja. Audy berasama dua temannya pun langsung meninggalkan area kafe karena malu diperhatikan oleh banyak pasang mata.


"Sial!" umpat Audy langsung menancapkan gas meninggalkan area kafe.


"Lu gapapa, Rai?" tanya Rasya khawatir.


"Gapapa," jawab Raisa.


"Gua lanjut kerja lagi," katanya langsung meninggalkan area tadi.


Begitu pula dengan Rasya, Aldo, dan Revan yang langsung keluar dari kafe. Tadi, mereka hendak makan di sana, namun karena ramai jadi mereka memilih untuk kembali. Sebelum kembali mereka melihat kejadian tadi.


Gio pun kembali ke tujuan awalnya untuk menemui orang suruhannya.

__ADS_1


__ADS_2