Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
KEMBALI KE SEKOLAH


__ADS_3

Hari ini, Raisa sudah kembali ke sekolah. Setelah semalam ia diizinkan untuk pulang, Raisa kini sudah sangat bersemangat untuk ke sekolah. Meski ia harus berdebat dengan semua orang. Namun akhirnya Raisa dapat kembali ke sekolah dengan berbagai catatan.


Raisa kembali ke sekolah dengan Devan yang akan mengantar jemput Raisa langsung. Raisa tidak diizinkan mengikuti ekstrakulikuler dan bimbingan belajar selama sebulan ke depan.


Devan bersama dengan Gio kemarin sudah memberikan pengertian kepada sekolah. Untungnya Raisa adalah murid berprestasi dan tidak pernah absen. Jadi, itu akan memudahkannya untuk mendapat izin.


"Raisa berangkat dulu, ya, Bu," pamit Raisa mencium punggung tangan Bu Dewi.


"Iya. Hati-hati, ya, Nak," balas Bu Dewi.


"Kami pamit, ya, Bu," pamit Devan juga menyalami tangan pengasuhnya saat kecil yang kini menjadi ibunya.


"Iya. Kamu juga hati-hati, ya, nyetirnya," ucap Bu Dewi.


"Siap, Bu."


"Dada, ibu," pamit Raisa melambaikan tangan kepada ibunya.


Devan segera melesatkan mobilnya meninggalkan halaman rumah Bu Dewi. Sepanjang perjalanan, Raisa hanya diam sembari memandang ke arah jalanan.


"Kamu mau beli sesuatu?" tanya Devan saat berhenti di lampu merah.


"Tidak," jawab Raisa menoleh ke arah Devan sekilas.


"Raisa mau ke makam mama dan papa," ujar Raisa.


"Besok kalau libur, ya," tutur Devan.


"Baiklah."


Setelah melakukan perjalanan selama empat puluh menit. Kini Raisa telah sampai di gerbang sekolahnya. Banyak pasang mata yang terkejut saat melihat Raisa turun dari mobil mewah milik Devan.


"Kak, Raisa sekolah dulu, ya," pamit Raisa sebelum keluar dari mobil.


"Iya. Hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa kabari," kata Devan.


"Siap."


"Oh, ya. Ini uang saku kamu selama satu minggu," ucap Devan menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Enggak usah, Kak," tolak Raisa.


"Udah, ambil aja!" seru Devan.


"Kebanyakan deh, Kak," kata Raisa.


"Enggak kok," kata Devan.


"Ya udah. Makasih Kak Devan," kata Raisa mengambil uang yang disodorkan Devan.


"Sama-sama."


Untung saja, kaca mobil sedikit gelap. Jadi mereka tidak bisa melihat jelas siapa yang mengantar Raisa dengan mobil mewah itu.


Raisa dengan mode cool-nya kembali memasuki area sekolah yang sudah ia tinggal selama satu minggu itu. Raisa senang karena hari ini, ia masih bisa bersekolah di sana dengan beasiswanya.



"Thank, God," batin Raisa seraya berjalan ke kelasnya.


Begitu sampai di kelas. Banyak teman sekelas Raisa yang langsung menghampirinya.


"Hai, Rai, apa kabar?" tanya Vina, teman sekelas Raisa.


"Baik," jawab Raisa singkat.


"Btw lu udah sembuh, Rai?" tanya Dimas.


Entah mengapa teman sekelas Raisa tiba-tiba menjadi perhatian dengannya.


"Udah," singkat Raisa menanggapi.


"Oh, ya. Lu udah nyatat materi belum, Rai?" tanya Vina.

__ADS_1


"Belum," jawab Raisa.


"Nih, nyalin punya gua aja," kata Vina menyerahkan buku catatannya.


"Ini juga beberapa lembar soal selama lu ga masuk," timpal Nita memberikan beberapa lembaran soal.


"Thank," kata Raisa.


"Yoi," sahut Vina dan Nita.


"Kalau butuh bantuan tinggal bilang atau chat aja," kata Nita.


"Oke."


"Get well soon, ya, Rai," ucap Vina.


Raisa menautkan alisnya. Mengapa temannya ini pada tahu? Bukankah selama ini kehidupannya sangat tertutup bahkan dari teman sekelasnya sendiri.


"Kok kalian tahu?" tanya Raisa bingung.


"Kemarin waktu apel dikasih tahu sama kepala sekolah," Dimas yang menjawab.


"Oh."


"Pasti Kak Devan yang bilang sama kepala sekolah," batin Raisa.


"Duh, gimana nih kalau mereka pada tahu aku adiknya Kak Devan?" tanya Raisa.


"Aku akan cegah Kak Devan," kata Raisa membatin.


"Kok ngalamun, Rai?" tanya Nita.


"Hah, enggak kok," jawab Raisa sarkas.


"Oh, ya, udah," kata Nita.


"Cepat sembuh, Rai," kata Dimas.


...****************...


Bel istirahat sudah berbunyi sedari tadi. Namun, Raisa masih menyibukkan diri di dalam kelas. Ia membaca beberapa materi yang baru selesai dicatatnya. Tak lama dari itu, HP yang berada di depannya pun bergetar. Tangan Raisa terulur untuk membuka pesan yang baru dikirimkan oleh seseorang.


Rasya.


"Hai, Rai. Lu udah masuk?" tulis Rasya.


Raisa mengerutkan dahinya saat membaca pesan dari kakak kelasnya itu.


"Kemarin pas gua di RS dia datang?" batin Raisa dalam hatinya.


"Tahu ah, bodo amat," ucapnya dalam hati.


Raisa pun mulai mengetikkan pesan balasan untuk membalas pesan Rasya.


Raisa.


"Udah," balas Raisa.


Tak lama dari itu Rasya kembali mengetikkan pesan untuk Raisa.


Rasya.


"Cepat sembuh ya, Rai. Sorry gara-gara gua lu jadi masuk RS. Satu lagi, maaf juga ga sempat ke rumah sakit," tulis Rasya.


"Jadi dia ga ke jengukin gua?" monolog Raisa.


Raisa.


"Oke, thank. No problem," balas Raisa.


Kemudian, Raisa kembali fokus untuk membaca buku yang tadi belum selesai ia baca. Baru beberapa kalimat, HP Raisa kembali bergetar.


"Huh," desahnya karena kesal.

__ADS_1


"Siapa lagi sih?" tanyanya seorang diri. Untung kelas sepi, jadi tidak ada yang mendengar suara Raisa.


"Kak Gio?" gumamnya.


Kak Gio.


"Rai, nanti kalau pulang kabari, ya. Devan lagi ada meeting. Dia minta aku yang jemput kamu," pesan Gio.


Tanpa menunggu lagi, Raisa pun membalas pesan dari sahabat kakaknya itu.


Raisa.


"Oke."


Setelahnya, Raisa memilih untuk mematikan HP-nya dan keluar dari kelas. Jam istirahat juga masih tersisa sepuluh menit. Cukuplah kalau dia keluar kelas untuk sekadar membeli air minum di kantin.


"Kok tumben sekolah sepi, ya?" tanya Raisa dalam hatinya.


"Trio Wek-Wek Brengsek juga ga kehilatan tuh batang hidungnya," kata Raisa membatin.


"Apa kelas dua belas ada acara, ya?" Raisa bertanya-tanya dalam hatinya.


"Ah entahlah."


Setelah membayar minuman yang ia beli. Raisa kembali ke kelasnya. Di tengah perjalanannya menuju kelas, ia sempat mendengar bisik-bisik dari siswi kelas lain.


"Enak, ya, kelas dua belas hari ini bisa tour ke UI," kata salah satu dari mereka.


"Iya, tuh. Bisa cari pengalaman," timpal temannya yang lain.


"Tapi ga enak juga. Jadi absen deh hari ini ga ketemu Kak Rasya," sahut yang lain.


"Eh jangan gitu. Enak juga jadi ga ketemu Kak Audy dan geng-nya."


Bisik-bisik itu terdengar jelas di telinga Raisa.


"Oh jadi lagi ada tour ke universitas," gumam Raisa dalam hatinya.


"Bagus deh. Kembali ke sekolah tanpa harus ketemu Trio Wek-Wek," senang Raisa.


Raisa kembali ke kelas dan melanjutkan pembelajaran yang tinggal beberapa jam lagi. Baru kemudian, seluruh siswa-siswi SMA Merak Merdeka 2 akan pulang ke rumah pada pukul 15.30 WIB.


Gio dengan setia menunggu Raisa di depan sekolah. Ia ditugaskan oleh Devan untuk menjemput adiknya. Devan tak bisa menjemput karena harus meeting dengan klien yang baru saja datang dari luar negeri.


Wajah Gio yang tampan nan cuek itu membuat beberapa siswi yang berlalu lalang tak kuasa untuk tidak memperhatikannya. Gio rupanya cuek aja dengan beberapa siswi yang terang-terangan memperhatikannya.


"Raisa," panggil Gio saat melihat Raisa celingukan di area gerbang.


"Kak Gio," sahut Raisa menghampirinya.


"Mau langsung pulang atau mampir ke mana?" tanya Gio.


"Ke Melody Cafe boleh?" tanya Raisa.


Gio mengangguk. "Tapi sebelum malam harus balik dan ga boleh bekerja," kata Gio.


"Siap."


Setelahnya, Gio membukakan pintu mobil dan mulai mengemudikan mobil meninggalkan area sekolah.


"Gila, tampan banget," histeris salah satu siswi.


"Raisa pakai pelet apa sih? Udah dapat Kak Rasya eh itu manager Melody Cafe diembat juga."


"Dia kan kerja di sana. Wajar kalau bisa dekat."


"Aaa aku mau kerja di sana juga."


"Bosnya juga katanya sebelas dua belas sama yang tadi."


"Seriusan?"


Memang mulut-mulut siswi yang doyan cowok tampan tidak bisa dikondisikan. Raisa aja cantik, ya pasti Rasya sama Gio mau dong. Hahahaha.

__ADS_1


__ADS_2