Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
DUKA RASYA


__ADS_3

Seorang pemuda tujuh belas tahun saat ini sedang bersantai di tepi kolam renang rumahnya. Setelah melakukan olahraga di ruang private gym di rumahnya. Kini pemuda itu memilih untuk berjemur dengan bertelanjang dada.


Beberapa kali ia menyesap jus jeruk yang tersedia di sampingnya. Netra indahnya seolah menatap kosong ke depan. Pikirannya sangat kacau.


Entah apa yang sedang dipikirkan pemuda yang tak lain adalah Rasya Andra Setya tersebut. Seorang pewaris tunggal Setya Grup. Dirinya kini sudah mulai ambil bagian di perusahaan. Mungkinkah ada masalah besar di perusahaan?


"Gua harus gimana?" tanya Rasya pada dirinya sendiri.


Berulang kali ia menghembuskan napasnya kasar. Guna menetralkan perasaannya yang sudah tak karuhan.


"Gua tinggal di apartemen aja kali, ya," ujar Rasya.


Dalam lamunannya itu, terdengar HP-nya berbunyi menandakan ada seseorang yang meneleponnya.


Dengan malas, Rasya mengangkat telepon yang tak lain dan tak bukan adalah dari Aldo, sahabatnya.


"Halo, Bro. How are you?" sapa Aldo dari seberang sana.


"Buruan, gua sibuk," sahut Rasya ketus.


"Buset, slow dong. Mentang-mentang sekarang udah punya posisi di perusahaan. Jadi jarang nongkrong," kata Aldo.


"Gua sibuk, Do. Gua capek," jawab Rasya lagi.


"Ada masalah?" tanya Aldo dengan nada khawatir.


Rasya menggelengkan kepalanya. Namun, tak lama kemudian menganggukkan kepalanya. Seolah Aldo di seberang sana dapat melihat.


"Woi, gua ga paham bahasa isyarat. Ngomong, ogeb!" ketus Aldo.


"Gua gapapa, Do," jawab Rasya berbohong.


"Ya udah. Kalau ada apa-apa cerita sama gua, sama Revan. Kita udah sahabatan lama, ga cuma satu atau dua bulan. Gua sama Revan juga tahu lu gimana dan ada apanya," jelas Aldo.


"Hmm," Rasya hanya menyahuti dengan dehemannya.


"Btw, lu mau ikut nongkrong ga? Malam ini gua sama Revan mau keluar," ajak Aldo.


"Gua usahain nanti. Sekarang gua tutup dulu, ya," kata Rasya saat mulai mendengar suara keributan dari dalam rumah.


"Oke," sahut Aldo tanpa rasa curiga.


"Ribut lagi?" batin Rasya.


Setelah mematikan sambungan teleponnya bersama Aldo. Rasya beranjak pergi dari tepi kolam dan masuk ke dalam rumahnya.


Begitu ia memasuki rumah, Rasya lagi-lagi disuguhkan dengan pemandangan dimana mama dan papa sedang terlibat adu mulut. Bahkan kilatan marah sangat jelas terpancar dari mata keduanya.


Rasya beberapa kali menghela napas pelan dan memejamkan matanya. Harus berapa kali ia menahan sabarnya saat melihat kedua orang tuanya seperti itu?


"KAMU YANG GA BECUS JADI ISTRI!" bentak Albert pada istrinya.

__ADS_1


"KAMU GA NGACA? KAMU SEBAGAI SUAMI JUGA GA PERNAH ADA WAKTU BUAT KELUARGA!" bantah Dara.


"KAMU GA LIHAT, AKU KERJA, DARA. AKU KERJA BUAT KALIAN!" amuk Albert hendak menampar istrinya.


"KENAPA? KENAPA GA JADI? AYO TAMPAR! TAMPAR SAMPAI KAMU PUAS," ucap Dara juga dengan nada tinggi.


"Kalau bukan karena Rasya, aku ga akan pernah mau bertahan dengan lelaki yang hanya sibuk dengan dunia kerjanya. Bahkan dirinya tak pernah ada waktu untuk memanjakan istri dan anaknya," ujar Dara mulai terisak.


"Apa kamu lupa? Dulu aku rela meninggalkan karier ku hanya demi menikah denganmu dan mengurus anak kita," ucap Dara.


"Aku rela meninggalkan semuanya. Hingga saat Rasya lahir, kamu justru semakin sibuk sana sini dengan bisnismu. Bahkan aku tak pernah lagi merasakan pelukan hangat darimu atau sapaan manis darimu!" kata Dara menunjuk suaminya sendiri.


"Saat Rasya berumur lima tahun, aku nekat kembali ke duniaku agar aku tak merasa kesepian lagi. Asal kamu tahu, aku melakukan itu juga karena dirimu!"


"Apa kamu juga lupa, HAH?" bentak Albert kembali pada istrinya.


"Aku kerja juga buat kalian. Aku lebih menekuni bisnis agar kalian tidak kekurangan apa pun lagi. Aku mau agar Rasya bisa meneruskan dan tetap hidup berkecukupan!" ujar Albert.


"Menyesal aku mengizinkanmu kembali ke dunia model. Kalau ujung-ujungnya kamu sendiri lupa dengan tugasmu sebagai istri!"! ucap Albert.


"Kamu juga lupa kewajibanmu sebagai ibu bagi Rasya, putra kita satu-satunya," kata Albert.


"Lihat dia sekarang! Dia tumbuh dewasa tanpa belaian kasih sayang ibunya. Dia tumbuh di tangan pengasuhnya. Apa kau lihat bagaimana perkembangannya. Apa kau mendengar bagaimana panggilannya untuk pertama kalinya?" tanya Albert pada Dara.


"Tidak, aku memang tidak melihatnya. Kau juga tidakkan? Pantaskah kau bertanya seperti itu kepadaku? Hah?" tanya Dara balik.


"Aku memang tidak melihatnya setiap hari. Tapi setidaknya, aku selalu mengamatinya saat aku pulang. Bukan seperti dirimu yang pulang tidak tahu waktu. Bahkan satu tahun kau hanya pulang dua kali," ujar Albert menjawab pertanyaan istrinya.


"Aku mau kita cerai!" jawab Dara penuh penekanan pada setiap kata yang diucapkan.


"CUKUP!" hardik Rasya.


"Ma, Pa, kalian ini pagi-pagi sudah ribut saja," ucap Rasya mendekati keduanya.


"Apa kalian tidak bisa sehari saja akur?"


"Kalian jarang sekali bertemu. Lalu, kenapa sekarang kalian justru setiap bertemu selalu bertengkar?" tanya Rasya menatap sendu kedua orang tuanya.


"Tidak bisakah dibicarakan baik-baik. Juga mama, apa mama mau lihat Rasya sendiri lagi jika kalian bercerai?" tanya Rasya menatap pada mamanya.


"Kalian itu egois. Hanya mementingkan diri sendiri. Bahkan sampai urusan kalian saja melibatkan anak agar berjalan mulus," cibir Rasya.


Setelah mengatakan hal itu, Rasya berlalu pergi ke kamarnya. Kedua orang tuanya juga nampak pergi berbeda arah. Jika Albert akan ke kamarnya. Maka Dara justru pergi keluar rumah untuk menenangkan pikirannya.


Rasya mengguyur tubuhnya di bawah kucuran air shower yang cukup dingin. Ia berdiam diri dengan tatapan kosong dan pikiran yang entah ditujukan untuk apa.


Keluarganya memang terhormat, berkecukupan bahkan mapan. Hanya saja keluarga hampa, tanpa kehangatan dan juga kasih sayang. Orang tuanya yang sama-sama egois dan tidak memikirkan keluarga.


Itulah mengapa sikap Rasya menjadi seseorang yang dingin dan jarang berinteraksi dengan sekitar. Bahkan tertarik dengan perempuan pun, ia hanya sebatas mengagumi. Tidak sampai mencintai.


...***************...

__ADS_1


Hari sudah beranjak malam. Rasya keluar rumah dengan motor sport hitamnya dan mulai membelah jalanan.


Rasa sesak di dadanya juga tak kunjung hilang saat semua perdebatan orang tuanya seolah CD yang selalu diputar ulang di otaknya. Ia ingin lari, namun tak tahu harus ke mana. Ia ingin pulang, tapi rumahnya seakan sudah hancur.


Hingga saat ini, pemuda itu memilih untuk berjalan-jalan dengan motornya menyusuri jalanan. Ia tak tahu akan ke mana.


Sampai akhirnya, motor sport itu berhenti di dekat pusat perbelanjaan. Ia memakirkan mobilnya dan mulai menaiki tangga menuju balkon bangunan.


Sebetulnya bangunan itu cukup ramai di kunjungi di bagian dasarnya. Hanya saja di balkon terasa sepi karena jarang yang ke sana.


Rasya, meringkuk seraya menyender di tembok. Kepalanya ia telangkupkan dengan lututnya dan mulai terisak. Hatinya sangat hancur tatkala mengingat bagaimana masa kecilnya. Ia yang tak pernah melihat bagaimana orang tuanya bisa akur pun menjadi beban pikiran sendiri bagi dirinya.


"Hai," ucap seseorang mendekati Rasya.


Seorang wanita cantik dengan cardigan berwarna merah muda. Serta rambutnya yang ia biarkan terurai begitu saja. Mendekati Rasya yang sedang meringkuk seorang diri.



Rasya perlahan mendongak saat mendengar suara yang ia kenali.


"Are you oke?" tanya perempuan itu khawatir.


Tanpa menjawab, Rasya langsung menghambur ke pelukan perempuan itu. Rasya pun kembali menitikkan air matanya.


"I know, you not oke!" kata perempuan itu mengelus punggung Rasya.


"Kenapa lu ada di sini?" tanya Rasya melepas pelukannya.


"Tadi gua mau belanja di bawah. Cuma gua bingung mau beli apa. Jadi gua ke balkon aja cari udara," jawab perempuan yang tak lain adalah Raisa Isabella tersebut.


"Tapi malah gua lihat orang nangis di sini. Pas gua samperin malah lu. Lu kenapa?"


"Gua gapapa," kilah Rasya.


"Gua antar pulang, ya?" tanya Rasya.


"Ga usah, gua tadi ke sini sama sopir," jawab Raisa.


"Oh."


"Gua ga tahu lu ada masalah apa. Tapi gua yakin lu ga baik-baik aja. Kalau ada masalah cerita sama gua," tutur Raisa.


"Jangan putus asa. Gua tahu lu orang yang kuat. Apa pun masalah lu, jangan sampai mengakhiri hidup lu sendiri atau lari dari masalah. Bertahanlah sampai lu benar-benar udah ga ngerasain sakit."


"Kalau lu udah biasa aja. Artinya lu berhasil ngelewatin itu semua. Gua yakin lu bisa!" kata Raisa menepuk pundak Rasya.


"Gua pergi dulu," pamit Raisa.


Rasya menatap kepergian Raisa. Ia mencoba memahami setiap kalimat yang diutarakan oleh Raisa.


Kemudian, Rasya bangkit dari duduknya, menghapus sisa air matanya dan menghirup napas sedalam-dalamnya.

__ADS_1


"Benar kata Raisa, gua pasti bisa!" katanya berlalu meninggalkan balkon.


__ADS_2