Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
KADO TERBAIK


__ADS_3

"Ngalamun terus!" kaget Aldo pada Rasya yang berdiam diri di kantin sekolah.


Bel istirahat sudah berbunyi sedari tadi. Tentu saja, Revan, Rasya, dan Aldo saat ini tengah berada di kantin. Tadi, Aldo dan Revan membeli minum dan beberapa makanan untuk mereka bertiga. Sedangkan Rasya, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ngalamunin apaan sih?" tanya Aldo penasaran.


"Gapapa," kilah Rasya seraya meminum es kopinya.


"Pasti ada kaitannya sama Raisa," tebak Revan.


Rasya hanya mengangguk kecil. "Kemarin dia ulang tahun," ujar Rasya.


"Terus?" tanya Revan dan Aldo.


"Gua bingung mau kasih dia kado apa," jawab Rasya.


"Lah. Belum lu kasih?" tanya Aldo tak percaya.


"Parah sih," timpal Revan.


"Gimana mau ngasih kado? Gua aja baru tahu kemarin waktu buka Instagramnya Kak Gio," jawab Rasya.


"Kak Gio?" ulang Revan.


"Kemarin waktu gua antar Raisa pulang, dia langsung dapat kejutan dari keluarganya," jelas Rasya.


"Terus, gua scroll Instagram eh nemu fotonya Raisa yang lagi ulang tahun," lanjut Rasya.


"Ya foto keluarga sih. Kak Gio juga ikut," kata Rasya.


"Hmm, menarik," ujar Aldo.


"Maksud lu?" tanya Rasya.


"Gapapa," singkat Aldo.


"Emang lu rencananya mau ngasih Raisa apaan?" tanya Aldo.


"Ga tahu, bingung gua," jawab Rasya.


"Lah ni bocah enggak modal banget," cibir Aldo.


"Gini-gini, lu ajak aja tuh si Raisa jalan ke taman kota. Nah di sana lu ngasih dia boneka atau apalah yang biasanya cewek suka," usul Aldo.


"Nah benar tuh! Siapa tahu ntar Raisa bisa tuh mulai menbuka diri sama lu," timpal Revan.


Rasya menimang-nimang usulan dari kedua sahabatnya.


"Harus taman kota?" tanya Rasya seolah tak yakin.


"Ya terserah lu sih," jawab Aldo.


"Kalau ga gitu ajak aja ke pameran," usul Revan.


"Gua dengar sore ini ada pameran di lapangan kota," imbuh Revan.


"Nah bisa jadi tuh," kata Aldo.


"Oke, deh."


...****************...


Raisa tengah menunggu jemputan di gerbang sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 15.45, namun Devan tak kunjung menjemput adiknya.


"Belum pulang, Rai?" tanya Rasya menghampiri Raisa.


"Belum," jawab Raisa.


"Mau bareng ga?" tawar Rasya seraya mematikan mesin motornya.


"Udah bareng aja, Rai," kata Aldo yang kebetulan keluar bersama Rasya dan Revan.


"Benar tuh," kata Revan.


Rasya mengkode sahabatnya itu agar berlalu meninggalkannya dengan Raisa. Bisa-bisa nanti gagal acara kejutan Rasya.


"Kita duluan, ya, Rai," kata Revan berlalu meninggalkan Rasya dan Raisa.


"Ayo, Do!" ajak Revan.


"Oke-oke."

__ADS_1


"Duluan, ya," ucap Aldo.


Rasya diam menunggu jawaban Raisa.


"Gimana?" tanya Rasya lagi.


"Rai, maaf telat," ujar Devan yang baru saja sampai.


"Gapapa kok, Kak," jawab Raisa.


"Hai, Kak," sapa Rasya saat Devan menatapnya.


"Halo," balas Devan datar.


"Yuk pulang!" ajak Devan.


"Tunggu, Kak," cegah Rasya seraya turun dari motornya.


Devan mengercitkan dahinya karena bingung. Sedangkan Raisa hanya diam saja menunggu kelanjutan kalimat Rasya. Benarkah Rasya akan meminta izin kepada kakaknya atau tidak.


"Saya mohon izin untuk mengajak Raisa jalan. Apakah boleh?" tanya Rasya penuh harap.


Devan menaikkan satu alisnya. Baru kali ini ia mendapat ada seseorang yang meminta izin kepadanya selain keluar masuk ruangannya. Devan merasa sudah seperti orang tua saja.


"Mau ke mana?" tanya Devan.


"Ke lapangan kota, Kak. Saya mau mengajak Raisa melihat pameran," jawab Rasya.


Devan memandangi Raisa. Ia hanya akan memberi izin jika Raisa juga mau.


Raisa menganggukkan kepalanya. "Sebelum malam sudah kembali," ucap Raisa.


"Oke. Sebelum pukul tujuh," sahut Rasya.


"Fine. Have fun for we," kata Devan.


"Terima kasih banyak, Kak," kata Rasya.


Devan menganggukkan kepalanya. "Hati-hati," kata Devan sembari mengelus puncak kepala adiknya.


"Iya."


Rasya berlalu meninggalkan pintu gerbang sekolah bersama Raisa. Devan memandangi Rasya dan Raisa yang sudah hilang dari pandangan matanya.


...****************...


Di lain tempat, Rasya tengah mengajak Raisa masuk ke dalam pameran karya seni. Di sana banyak sekali lukisan, patung, batik, alat musik, dan masih banyak lagi karya-karya hasil seniman terbaik di Indonesia.


Selain pameran karya seni, juga banyak penjual yang menjual beraneka macam mainan, boneka, makanan dan juga minuman berbagai rasa dan warna.


"Lu mau beli apa?" tanya Rasya pada Raisa yang sedari tadi hanya diam.


"Hmm, ga mau beli apa-apa," jawab Raisa tanpa mengalihkan pandangannya ke beberapa stand pameran.


"Kemarin lu ulang tahun, ya?" tanya Rasya pura-pura tidak tahu.


"Heem," jawab Raisa menganggukkan kepalanya.


"Kok gua enggak diundang," kata Rasya.


Raisa menoleh kepada Rasya. "Ga ada yang ngerayain," sahut Raisa.


"Oh," Rasya ber-oh ria.


Entah sadar atau tidak, sedari tadi Rasya dan Raisa rupanya saling bergandengan tangan dengan mesra.


Raisa tampaknya nyaman-nyaman saja tangannya digenggam oleh Rasya, kakak kelasnya yang dulu selalu membuatnya kesal. Sedangkan Rasya, juga terlihat senang karena tangan Raisa mau digandeng olehnya.


"Rai, ayo!" ajak Rasya pada Raisa ke salah satu penjual boneka.


"Lu suka boneka apa?" tanya Rasya tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Raisa. Padahal, tangan yang satunya sudah ia gunakan untuk memilih-milih boneka.


"Apa aja," jawab Raisa melirik seakan tak minat pada beberapa boneka yang diperjualkan.


"Ini bagaimana?" tanya Rasya menunjukkan boneka berbentuk boba.


Raisa menggeleng. "Terlalu besar," ujarnya.


"Oh, suka yang kecil?" tanya Rasya.


"Enggak juga, kalau kegedean susah bawanya," ucap Raisa.

__ADS_1


Rasya kembali sibuk memilih-milih boneka. Sampai akhirnya, ia menemukan boneka kecil berbentuk rusa dengan tanduk lucunya.



"Ini?" tanya Rasya menunjukkan kepada Raisa.


Raisa tersenyum tipis. "Lumayan," jawabnya.


"Oke beli yang ini," kata Rasya langsung membayar boneka tersebut.


"Terima kasih," ujar Raisa menerima boneka pemberian Rasya.


"Sama-sama," ucap Rasya mengacak pelan rambut Raisa.


"Duduk di sana, yuk!" ajak Rasya kembali membawa Raisa ke bangku yang masih kosong.


"Sebentar," Rasya meninggalkan Raisa di bangku sendirian.


"Nih!" kata Rasya menyodorkan minuman yang sudah ia buka tutupnya kepada Raisa.


"Thank," kata Raisa.


"Kenapa lu ngasih gua kado?" tanya Raisa.


"Karena gua pengen aja," jawab Rasya santai.


"Tapi kemarin pas lu ulang tahun gua ga ngasih apa-apa," kata Raisa.


"Bahkan acara lu gagal," imbuh Raisa.


"Sttt," Rasya menempelkan telunjuknya di bibir Raisa.


"Bukan lu yang ngehancurin," ucap Rasya.


"Gua ga butuh kado dari lu," lanjut Rasya.


"Lu udah jadi kado terbaik di hari ulang tahun gua," kata Rasya menatap manik mata indah milik Raisa.


"Lu adalah haidah terindah yang Tuhan kirimkan buat gua," kata Rasya.


"Kehadiran lu di hidup gua udah jadi kado terbaik," sambung Rasya.


"Di hari ulang tahun gua yang ke tujuh belas lu ada, Rai. Lu bawain gua cake itu udah buat gua senang. Bahkan itu kali pertama buat gua," tutur Rasya.


"Selama ini, kalau gua ulang tahun cuma bisa makan-makan bareng Aldo sama Revan. Ga ada yang lain. Dari ulang tahun gua yang pertama sampai ke tujuh belas. Kalau ga sama pembantu di rumah ya sama sahabat-sahabat gua," jelas Rasya.


"Gua baru ketemu sahabat baik ya sejak SMP. Gua ketemu Revan sama Aldo yang selalu ada dan ngisi kesepian gua."


"And now, lu ada buat gua Rai," jujur Rasya mengelus lembut tangan Raisa.


Raisa tersenyum tipis. "Orang tua lu?" tanya Raisa hati-hati.


Rasya tersenyum kecut. "Mereka sibuk kerja," jawabnya.


"Oh."


"Ini juga kado terbaik kedua buat gua," kata Raisa menunjukkan boneka pemberian Rasya.


Rasya tersenyum lebar mendengar penuturan Raisa.


"Selama ini gua emang ga pernah dirayain ulang tahunnya. Bahkan gua juga lupa sama ulang tahun gua kalau bukan ibu yang ngingetin," jelas Raisa.


"Kemarin, pertama kali dikasih kejutan sama Kak Devan dan dikasih kado sama ibu, oma, Kak Devan, dan Kak Gio," imbuh Raisa.


"Sekarang, lu juga ngasih gua hadiah. Makasih, ya, Sya," kata Raisa dengan senyum manisnya.


"Iya, sama-sama," sahut Rasya mengelus puncak kepala Raisa.


"Kadang, kalau dilihat kita kayak sebelas dua belas ga sih?" tanya Rasya.


"Maksudnya?" tanya Raisa bingung.


"Lu udah ga punya orang tua, gua juga ditinggal orang tua gua kerja. Kita sama-sama kesepian," kata Rasya.


Raisa mengangguk pelan. "Mungkin Tuhan mempertemukan kita buat saling melengkapi," kata Raisa.


"Tenang aja. Lu boleh anggap gua adik lu atau sahabat lu kalau lu mau," ujar Raisa.


Rasya mengangguk sembari tersenyum.


"Pulang, yuk! Udah mau gelap," kata Rasya.

__ADS_1


"Yuk!" Raisa beranjak dari duduknya.


Kedua sejoli itu pun meninggalkan tempat pameran dengan perasaan senang. Tak ada lagi kecanggungan diantara mereka berdua. Mungkinkah, mereka akan saling tumbuh rasa?


__ADS_2