
"Masa sih?" tanya Devan tak percaya.
"Kalau sama aku sayang ga?" tanya Gio tiba-tiba.
Raisa seketika diam tak menyahuti pertanyaan Gio. Sedangkan Devan menatap Gio tanpa bisa ditebak. Memang apa yang salah? Begitu batin Gio.
"Ekhem," deheman Devan membuyarkan diamnya Raisa dan Gio.
"Kalau mau ngode itu yang modal dong," cibir Devan.
"Masa pakai cara kayak gitu?" tanya Devan menatap Gio.
"Siapa yang ngode?" tanya Gio balik.
"Kan gua cuma nanya sama koala galak yang satu ini," lanjut Gio mengacak pelan rambut Raisa.
"Ish ... Kak Gio kebiasaan deh," omel Raisa seraya membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Van, lu tahu. Dulu Raisa pas awal masuk Melody Cafe tu cuek banget," kata Gio mengingat bagaimana perkenalannya dengan Raisa.
"Iyakah?" tanya Devan tak percaya.
"Iya. Bahkan dulu dia itu jarang banget senyum. Yang selalu gua lihat tu wajah datarnya aja," jawab Gio memberi penjelasan.
"Dulu, ya. Raisa tu selalu irit bicara dan jarang berinteraksi dengan pegawai yang lain," ucap Gio.
"Tapi, seiring berjalannya waktu dia mau berinteraksi dengan beberapa pegawai. Dia juga kadang tersenyum meski setipis tisu dibelah dua," jelas Gio.
"Sekarang beda banget, ya," ujar Gio mencubit hidung mancung milik Raisa. Padahal, hidung Gio juga tak kalah mancungnya dengan dirinya.
Raisa menatap sinis Gio yang berani mencubit hidungnya.
"Jangan sentuh adik gua!" hardik Devan yang tanggap melihat muka kesal Raisa.
"Dikit doang," santai Gio.
"Kok lu bisa nerima dia dulu gimana ceritanya?" tanya Devan penasaran.
"Awalnya gua ga mau nerima. Tapi Raisa terus memohon dengan memberi pengertian kalau dia kerja untuk biaya sekolahnya. Ya, walau dia dapat beasiswa tapi sekolah juga punya kebutuhan kan," jawab Gio.
"Akhirnya gua nerima dia. Gua juga sering lebihin gaji dia dari pegawai yang lain," imbuh Gio.
"Jadi gaji aku selalu banyak itu karena Kak Gio memang sengaja?" tanya Raisa.
Gio mengangguk. "Anggap saja itu bonus," katanya dengan seulas senyum manisnya.
"Thank, Bro," kata Devan menepuk pundak Gio.
"Lu udah jaga adik gua selama dia di Melody Cafe," kata Devan.
"You are welcome," sahut Gio.
Raisa tersenyum melihat bagaimana eratnya persahabatan kakaknya itu dengan manager tempatnya bekerja dulu. Raisa senang karena dipertemukan dengan orang sebaik Gio dan mempunyai kakak sepenyayang Devan.
"Permisi," ucap seseorang dari balik pintu ruang rawat Raisa.
"Siapa?" sahut Devan bertanya.
"Andra," sahut seseorang di balik pintu itu.
"Masuk, Ndra!" seru Devan.
__ADS_1
Andra memasuki ruangan tempat Raisa dirawat. Raisa sempat bingung dengan seseorang yang menurutnya asing itu. Tak mau ambil pusing, Raisa memilih merebahkan dirinya dan mulai memejamkan mata saja. Bagi Raisa, berinteraksi dengan orang baru saat sedang bad mood sangatlah membosankan.
"Baru pulang lu?" tanya Gio pada Andra.
"Udah kemarin sih," jawab Andra sembari mendudukkan dirinya di sofa ruangan.
"Kok lu tahu gua di sini?" tanya Devan heran melihat Andra.
"Gua yang ngasih tahu," bukan Andra yang menjawab, tetapi kini Gio yang menjawab.
"Ada apa?" tanya Devan yang tanggap bahwa ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan oleh Andra, sahabatnya itu.
Beberapa waktu lalu memang Andra pergi ke luar negeri untuk menemui mitra bisnis PT. Permata. Devan memang sudah menugaskan Andra untuk mengelola cabang PT. Permata yang ada di Indonesia.
"Gua mau bicara bukan soal pekerjaan," jawab Andra dengan serius.
Melihat keseriusan Andra, Devan dan Gio juga kembali ke setelan pabrik mereka. Di mana mereka akan menjadi seseorang yang tegas, dingin dan arogant dalam berbisnis.
"Terus?" tanya Gio tak sabaran.
Ternyata, diam-diam Raisa menguping pembicaraan Devan berserta kedua sahabatnya itu. Raisa merasa penasaran akan hal apa yang ingin dibicarakan oleh sahabat dari kakaknya itu.
"Albert, dia menyuruh beberapa orang untuk mengawasi kediaman Devan," jawab Andra.
"Apa?" pekik Devan.
"Bagaimana gua bisa ga tahu hal itu," kata Devan terkejut.
"Sabar, jangan teriak-teriak. Kasihan adik lu yang lagi sakit," kata Andra mengingatkan.
Devan menoleh ke arah bangkar Raisa. Tampak di sana Raisa tengah membelakanginya. Entah tidur atau tidak, Devan tidak tahu.
"Semalam, ada anak buah gua yang ke rumah buat ngasih dokumen laporan secara langsung. Tapi, begitu mereka sampai malahan mereka ngelihat ada beberapa anak buah Albert yang mengintai rumah lu. Mereka ga jadi ngasih dokumen dan ngawasi para pengintai itu," jelas Andra.
"Tapi buat apa mereka ngelakuin itu?" tanya Gio bingung dengan alasan yang sebenarnya.
"Alasannya gua juga kurang tahu. Tapi, anak buah gua bilang kalau dia sengaja mengintai kediaman keluarga Isa karena dia takut kalau Isa Grup kembali bangkit. Jadi, secara diam-diam Albert nyusun rencana biar Isa Grup ga bangkit lagi," jawab Andra menduga-duga.
"Albert ga mau sampai Isa Grup bangkit. Apalagi menurut orang-orang dulu. Albert sangatlah tidak suka dengan Tuan Meda. Dia selalu ingin menang sendiri," kata Andra.
"Apa mereka pernah cekcok?" tanya Devan seraya mengelus dagunya untuk berpikir.
"Gua jadi curiga sama Albet dan Setya Grup," ujar Gio.
"Katanya sih iya. Sebenarnya mereka dulu sahabat dekat. Tapi ga tahu kenapa tiba-tiba bisa jadi musuh bebuyutan seperti itu," jawab Andra.
"Coba lu tanya sama orang rumah," usul Andra.
"Ke siapa coba?" tanya Devan ragu.
"Oma juga sejak mama menikah tinggal di New York. Mana tahu dia," ucap Devan.
"Opa? Opa sudah pergi," kata Devan lagi.
"Raisa tahu," sahut Raisa mengubah posisinya menjadi menghadap Devan, Gio, dan Andra.
"Kau menguping, ya?" tanya Gio penuh selidik.
Raisa hanya mampu tersenyum kikuk saat tertangkap basah sedang menguping.
"Aku tidak bisa tidur. Jadi aku mendengarkan kalian saja," jawab Raisa.
__ADS_1
"Dasar koala galak," cibir Gio.
"Kau tahu?" tanya Devan tak percaya.
"Raisa memang tidak tahu. Tapi ibu pasti tahu," jawab Raisa.
"Ibu kan sudah lama bekerja di rumah," lanjut Raisa.
"Ibu?" beo Andra.
"Pengasuh gua sama Raisa dulu. Beliau yang sudah merawat dan mengasuh Raisa selama dia hilang," jawab Devan memberi penjelasan.
"Oh."
"Good idea," seru Gio.
"Bu Dewi pasti tahu soal ini. So, besok lu tanya aja sama Bu Dewi," ujar Gio pada Devan.
Devan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Oh, iya, Kak. Raisa mau bilang sesuatu," kata Raisa.
"Apa?" tanya Devan.
"Sebentar," ucap Raisa turun dari bangkar rumah sakit.
"Hati-hati," kata Gio membantu Raisa turun dan membawakan selang infusnya.
"Terima kasih," ucap Raisa pada Gio.
Gio hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Sini," ucap Devan menepuk sofa di sebelahnya.
"Raisa ingat waktu di makam Oma Melani bilang bahwa mama datang ke mimpi Oma. Mama bilang kalau saat kecelakaan ada yang mencelakai bukan?" tanya Raisa.
"Ya. Memangnya kenapa? Apa kau mengingat sesuatu?" tanya Devan.
"Kalau tidak, jangan dipaksakan," ucapnya lagi.
"Raisa hanya ingat, kalau saat Raisa terpelanting keluar mobil dan menghantam batu. Raisa sempat melihat seseorang berbaju serba hitam yang berdiri tidak jauh dari lokasi," jawab Raisa mengingat kejadian kelamnya itu.
"Apa kau melihat siapa orangnya?" tanya Devan.
"Tidak. Raisa tidak melihatnya," jawab Raisa.
"Berpakaian serba hitam? Apa dia dalang dari kecelakaan?" tanya Devan menduga-duga.
"Tapi ibu bilang kalau saat itu rem mobil yang blong."
"Lu ga curiga?" tanya Andra.
"Curiga?" ulang Devan.
"Siapa tahu ada musuh bokap lu yang mau mencelakainya," jawab Andra.
"Benar juga apa yang dikatakan Andra," ucap Gio membenarkan.
"Tapi siapa? Albert? Atau siapa?" Devan bertanya-tanya.
"Kita cari tahu bersama," kata Andra.
__ADS_1