
"Nak, kamu tahu, ibu dulu juga seperti kamu. Larut dalam kesedihan dan ketakutan."
"Ibu dulu juga takut kalau Raisa tidak kembali saat koma."
"Maksudnya?" tanya Devan.
"Dulu, saat kecelakaan mobil. Raisa sempat mengalami koma selama satu tahun. Dalam masa komanya, Raisa dinyatakan terkena tumor otak. Dia juga dinyatakan amnesia karena benturan keras yang ia alami," jawab Bu Dewi.
Devan diam menyimak apa yang dikatakan oleh Bu Dewi. Asisten rumah tangganya dulu sekaligus pengasuhnya dan pengasuh adiknya.
"Bibi dulu sangat takut jika Raisa tidak kembali. Bibi selalu berharap Raisa akan bangun kembali dan mengingat keluarganya," ujar Bu Dewi.
"Namun, harapan Bu Dewi pupus. Raisa memang bangun kembali. Tetapi dirinya tak mengingat siapa keluarganya," jelas Bu Dewi.
Flashback on
"Bibi," teriak seorang gadis mungil saat terbangun dari tidur panjangnya.
"Raisa. Ini bibi, Nak," seru Bu Dewi yang dengan setia menemani putri tidur yang sudah bangun itu.
"Bibi ... Hiks ... Bibi ... takut," cicitnya dengan tangis yang mulai terdengar.
Bu Dewi sigap memeluk gadis mungil bernama Raisa itu. Mencoba menenangkan agar Raisa tidak menangis dan mengingat kejadian kelam itu.
"Raisa jangan takut, ya. Ada bibi," kata Bu Dewi.
"Raisa ingat, siapa bibi?" tanya Bu Dewi.
Raisa mengangguk. "Ibu Raisa," jawab Raisa sarkas.
Deg. Bu Dewi terkejut saat mendengar penuturan Raisa. Namun, ia juga tidak ingin membuatnya merasa kesakitan. Setelah satu tahun tertidur pulas.
"Selain itu?" tanya Bu Dewi ragu.
Raisa menggeleng. "Raisa enggak tahu apa-apa," jawab Raisa dengan suara cadelnya.
Balita berusia tiga tahun itu tampak sedih tatkala ditanya seperti itu oleh bibinya.
"Ya sudah. Kalau gitu Raisa tidur, ya," kata Bu Dewi.
"Iya."
Flashback off
"Sejak saat itu. Bibi sudah menganggap Raisa seperti putri bibi sendiri. Bibi yang kesepian karena ditinggal suami bibi pun menjadi senang. Hidup bibi menjadi berwarna saat Raisa hadir," kata Bu Dewi.
"Tapi kenapa bibi tidak membawa Raisa pulang ke rumah?" tanya Devan.
"Bibi melakukan itu karena dua hal, Nak," jawab Bu Dewi mengelus kepala Devan dengan penuh sayang.
"Bibi takut jika Raisa akan merasakan kesakitan dan juga itu amanat dari mama kalian," imbuh Bu Dewi.
"Amanat mama?" beo Devan.
"Iya. Amanat Ibu Medina," jawab Bu Dewi.
...****************...
Empat belas tahun lalu.
Hari ini keluarga Raisa akan melakukan liburan ke pantai. Sesuai janji papanya, jika akhir pekan Raisa akan diajak berlibur ke pantai.
"Isael akan ke pantai," riang balita perempuan di pangkuan pengasuhnya.
__ADS_1
"Isael akan belmain dengan pasil," ucap balita itu dengan suara cadelnya.
"Isael akan belmain ombak," balita itu tak henti-hentinya berceloteh sepanjang jalan.
"Raisa akan main ombak?" tanya Meda dari kursi kemudi.
"Iya, Pa. Raisa akan membuat lumah-lumahan dari pasil," jawabnya antusias.
"Kak Devan ga diajak?" tanya Medina di samping kursi kemudi.
"Kak Dev kan jauh. Siapa suruh dia sekolah jauh-jauh dan tinggal sama Oma. Nanti kalau dia pulang kita main baleng ke pantai lagi," jawab Raisa.
Semua yang berada di mobil pun tertawa mendengar penuturan Raisa.
"Aduh anak mama kok pinter sekali sih," puji Medina.
"Iya dong!" sahut Raisa.
"Sini deh mama foto. Nanti mama kirim ke Kak Devan," kata Medina.
"Isael mau pamel sama Kak Devan. Ayo, Ma! Foto Isael," antusias Raisa.
Cekrek.
Medina mengambil foto putri kecilnya
"Kilim ke Kak Devan, Ma!" seru Raisa.
"Bial Kak Devan cepat pulang."
Medina, Meda, dan Bu Dewi kembali tertawa. Namun, tawa mereka tak berselang lama. Saat mobil sampai di JL. Kantil. Tiba-tiba saja mobil oleng dan tak terkendali saat menghindari lubang.
"Enggak tahu, Ma," jawab Meda berusaha mengambil alih stir.
"Ma, sepertinya rem mobilnya blong," ucap Meda.
"Apa?" tanya Medina kaget.
"Iya, Ma."
"Kalian semua pake safety belt-nya!" perintah Meda.
"Tadi papa enggak chek dulu?" tanya Medina.
"Kemarin setelah dari Bekasi papa lupa chek," jawab Meda.
"Papa bagaimana sih?" gerutu Medina antara kesal dan takut.
Biasanya suaminya ini selalu teliti. Tapi sekarang kenapa teledor sekali?
"Mama, Isael takut," cicit Raisa di pangkuan Bu Dewi.
"Isael tenang, ya. Jangan khawatir. Raisa diam saja di pangkuan bibi," jawab Medina.
"Mama. Isael takut," cicit Raisa dengan suara cadelnya.
"Jangan takut, ya. Kita semua akan baik-baik saja," ucap Medina menenangkan putrinya.
"Awas!" seru Medina saat melihat sebuah truk daru lawan arah.
"Aaa ..." pekik Medina saat suaminya membanting stir ke kanan dan menabrak sebuah pohon besar di pinggir Jl. Kantil.
__ADS_1
Seketika itu, Meda langsung meregang nyawa. Medina masih bisa sadarkan diri dan berpesan pada Bu Dewi. Bu Dewi saat itu hanya luka-luka kecil saja. Raisa dalam gendongannya terpelanting ke luar dan menghantam batu besar di dekat pohon.
"Bi, tolong selamatkan Isael," ucap Medina dengan sisa tenaganya.
"Jaga dia. Sayangi dia seperti anak Bi Dewi sendiri," pinta Medina.
"Jika nanti dia sudah berusia tujuh belas tahun. Beri tahu soal keluarganya di New York. Biarlah dia hidup di sini terlebih dahulu," kata Medina.
"Aku tidak mau jauh dari Raisa," imbuh Medina.
Dan saat itu pula Medina juga menghembuskan napas terakhirnya.
Bu Dewi segera keluar dan menghampiri Raisa. Ia dengan bersusah payah membawa Raisa ke rumah sakit untuk meminta pertolongan. Meninggalkan area kecelakaan dan mobil yang sudah mengeluarkan asap pekat.
"Ya Tuhan!" pekik Bu Dewi saat melihat mobil sudah meledak.
Bu Dewi dengan tergopoh-gopoh membawa Raisa kecil yang sudah bersimbah darah tak sadarkan diri ke rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit, Raisa segera ditangani oleh tenaga medis. Bu Dewi juga mendapat pertolongan untuk luka-luka kecil di tubuhnya.
Dalam menunggu Raisa, Bu Dewi harap-harap cemas. Dari pihak polisi tak ada yang tahu jika Bu Dewi dan Raisa juga korban kecelakaan tunggal itu. Keluarga Raisa yang lainnya juga tidak tahu ke mana perginya Raisa bersama pengasuhnya.
Mereka berpraduga bahwa Raisa dan pengasuhnya jatuh ke jurang curam yang berada di dekat tempat kecalakaan. Di sana benar-benar tidak ada saksi mata.
Apalagi Jl. Kantil merupakan jalanan yang cukup sepi dan jarang dilalui. Jl. Kantin sendiri adalah jalan pintas agar lebih cepat namun sedikit berlubang-lubang.
Sehari setelah kecelakaan Raisa dinyatakan koma. Sejak itulah Bu Dewi dengan telaten mengurusi dan menunggui Raisa yang sedang koma.
...****************...
"Begitu Raisa sadar. Bibi senang, namun bibi juga sedih karena sebulan setelahnya adikmu divonis terkena tumor otak," kata Bu Dewi dengan derai air matanya.
Devan dengan sigap memeluk Bu Dewi.
"Bibi mencoba mencari jalan keluar. Dengan kemampuan bibi yang sangat kecil dan sederhana. Bibi hanya mampu membelikan obat dan pengobatan kepada Raisa," jelas Bu Dewi.
"Dokter mencoba alternatif. Melihat bagaimana kondisi ekonomi bibi. Maka sejak itu Raisa hanya mampu minum obat dan kemo dalam satu tahun sekali," tutur Bu Dewi.
Devan tak kuasa membendung air matanya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Isael, adiknya. Devan yang hidup bergelimang harta di New York sana. Sedangkan Raisa berjuang demi kesembuhan dan kelangsungan hidupnya.
"Maaf," kata Devan.
Bu Dewi melepas pelukannya. Menghapus sisa air mata di pelupuk mata Devan yang sudah ia anggap putranya sendiri.
"Kamu tidak bersalah. Ini semua memang sudah takdir," kata Bu Dewi.
"Takdir memang kejam, Bi," kata Devan.
"Hus, jangan begitu," interupsi Bu Dewi.
"Jika takdir tidak jahat maka tidak akan ada retislaya, Nak," kata Bu Dewi.
"Restislaya dan asrar selalu menjadi bagian dari takdir. Kita semua harus menerimanya," imbuh Bu Dewi.
Restislaya: Luka dalam hati.
Asrar: Rahasia.
Devan mengangguk.
"Semoga Raisa cepat sadar," doa Bu Dewi.
"Amin."
__ADS_1