Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
MASA KULIAH


__ADS_3

"Yang benar bagaimana?" tanya Raisa.


"Gini-gini, biar kakak jelaskan," kata Devan hendak memberi penjelasan.


"Masa kuliah kakak dulu seru banget," kata Devan mengenang masa kuliahnya dulu.


"Kakak hidup bersama Oma di negeri orang. Tapi Tuhan Maha Baik. Dia mengirimkan Gio dan Andra sebagai sahabat kakak," ujar Devan menatap satu persatu sahabatnya.


"Mereka yang selalu nguatin kakak saat kakak rapuh. Mereka selalu ngedukung kakak apa pun itu. Mereka juga selalu ada dan ngertiin posisi Kak Devan," imbuh Devan.


"Udah tugas kita, Bro!" sahut Gio.


"Gua juga sama kaya lu. Tinggal jauh di negeri orang dan juga orang tua gua udah cerai dan hidup masing-masing," sahut Andra.


"So, now i know. Maybe Tuhan ngatur kita buat sahabatan, supaya kita saling menguatkan," ujar Gio bijak.


"Nah benar tuh kata Kak Gio," sahut Raisa.


"Terus, gimana tuh masa kuliah kalian?" tanya Raisa mengalihkan topik.


"Kata Oma, dulu kalian jadi inceran banyak orang. Terus kalian kalau bareng tu tingkahnya random banget," kata Raisa.


"Hmm ... Yes that true!" seru Andra.


"Devan sampai punya cewek," imbuh Andra dengan senyum jahilnya.


"Benarkah? Siapa dia?" tanya Raisa lagi.


"Namanya Kimora," jawab Gio.


"Kimora?" ulang Raisa.


Gio menganggukkan kepalanya. "Dia orang Jepang," kata Gio.


"Wah ... Keren," girang Raisa.


"Kapan-kapan kenalin, ya, Kak," kata Raisa pada kakaknya.


Devan yang mendengar itu, seketika raut wajahnya berubah menjadi sendu. Bagaimana bisa ia mengenalkan Kimora kepada Raisa? Sedangkan Kimora dan dirinya saja ... Ah sudahlah.


Devan tersenyum tipis. "Tidak bisa, Rai," kata Devan mengelus puncak kepala Raisa.


Raisa menautkan kedua alisnya. Sedangkan Gio dan Andra saling tatap. Bukankah mereka sahabat lama Devan? Seharusnya mereka tahu sesuatu dong.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Raisa dengan raut wajahnya yang bingung.


"Kimora sudah tiada," jawab Devan menundukkan kepalanya.


Bak disambar petir malam-malam begini. Raisa, Gio, dan Andra terkejut saat mendengar penuturan Devan. Kimora? Telah tiada? Bagaimana bisa?


Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Gio dan Andra. Bagaimana Kimora bisa pergi secepat itu? Alasannya kenapa?


"Lu serius, Van?" tanya Gio tak yakin.


Devan mendongakkan kepalanya. Menatap lekat pada sahabatnya itu. Helaan napas pelan pun terdengar jelas dari Devan.


"Kimora sakit," jawab Devan.

__ADS_1


"Kalian ingat, waktu kita lulus dia menolak gua ajak ke prom night kampus?" tanya Devan.


Gio dan Andra kompak mengangguk. Sedangkan Raisa masih setia mendengar cerita masa kuliah kakaknya yang tidak ia ketahui.


"Malam itu dia pulang ke negaranya. Dia hanya bilang kalau ada kerabatnya yang meninggal. Dengan bodohnya gua percaya," jelas Devan sendu.


"Sejak hari itu, gua lost contact sama dia. Sampai satu bulan, ada nomor asing masuk. Gua enggan nanggepin waktu itu. Tapi, nomor itu terus neror gua. Akhirnya gua tanggepin tuh nomor," Devan mulai menjelaskan semuanya.


"Nomor itu ternyata nomor adiknya Kimora. Namanya Kaiso. Kimora emang sempat cerita, dia punya adik cewek namanya Kaiso."


"Kaiso bilang kalau Kimora udah ga ada. Gua menolak buat percaya. But, Kaiso ngirim bukti foto makam nama Kimora. Juga surat terakhir Kimora buat gua," kata Devan dengan suara tercekat.


"Kimora bilang minta maaf ke gua karena udah ga jujur dari awal. Kimora yang selama ini kita kenal ceria, ga bisa diam, cerdas, dan tanggap. Ternyata dia nutupin rasa sakitnya. Dia menderita kanker hati," jelas Devan sudah tak bisa membendung air matanya.


Raisa yang berada di sebelahnya tanggap mengelus pundak Devan yang sedikit bergetar menahan tangis.


"Kalau ga kuat ga usah dilanjut," ujar Gio.


"Gua mau kalian juga tahu," sahut Devan berusaha menegarkan dirinya sendiri.


"Kimora juga ngucapin terima kasih karena gua udah hadir di hidupnya. Nemenin masa kuliahnya dan itu yang ngebuat dia kuat ngejalanin hari-harinya jauh dari keluarga."


"Gua sengaja ngerahasian ini dari kalian karena gua ga mau kalian tahu kabar Kimora. Kalian ngerti lah gimana posesifnya gua?" tanya Devan.


"Kimora juga nulis pesan kalau dia ga mau kalau ada yang tahu tentang dia. Kalau ada yang nanya, jawab aja Kimora lagi sibuk sama karirnya," imbuh Devan.


"Jadi, Kimora udah pergi selama empat tahun ini?" tanya Andra.


Devan mengangguk. "Empat tahun gua nutup diri hanya karena gua masih sayang sama Kimora," kata Devan.


"Lu harus ikhlas. Kimora udah tenang," ucap Gio.


Raisa terenyuh saat menyadari bahwa ternyata kakaknya mempunyai kisah masa lalu yang kelam. Bahkan kakaknya bisa kuat untuk menyimpannya seorang diri.


"Oh, ya, kalau Kak Devan punya pacar. Kak Gio sama Kak Andra punya juga dong?" tanya Raisa antusias untuk mencairkan suasana yang berubah mellow.


"Haha," Gio tertawa hambar.


"Kalau aku sih enggak ada. Kalau Andra ga tahu dah," ujar Gio dengan kekehan kecilnya.


"Sembarangan kalau ngomong," cibir Andra menoyor kepala Gio yang duduk di sampingnya.


"Gua juga ga punya, asal lu tahu," ketus Andra.


"Cih, kalian itu memang GGL, ya," cibir Raisa seraya meminum cokelat panasnya.


"GGL?" ulang Andra, Gio, dan Devan.


"Ganteng ga laku," jawab Raisa santai.


Ketiga pemuda tadi melongo mendengar jawaban Raisa. Apa ini sebuah sindiran? Ah tapi Raisa bilang mereka ganteng.


"Terima kasih sudah dibilang ganteng," kata Gio tersenyum manis.


"Eh, iya, lho. Terima kasih," timpal Andra.


"Eh," Raisa jadi kikuk sendiri.

__ADS_1


"Tapi percuma. Ganteng tapi ga laku. Hahaha," kata Raisa dengan tawa renyahnya.


"Hmm .. Btw, El. Kamu mau lihat foto masa-masa kakak kuliah tidak?" tanya Devan.


"Boleh tuh," jawab Raisa sarkas.


"Nih," ujar Devan menyodorkan HP-nya kepada Raisa.



Raisa memerhatikan foto Devan dengan seksama. Sekilas hampir mirip dengan papanya. Namun, juga mirip dengan mamanya. Hmm ... Sepertinya perpaduan keduanya.


"Lumayan," ujar Raisa mengembalikan HP Devan.


"Kalau Kak Gio sama Kak Andra ada ga?" tanya Raisa.


"Ada. Sebentar," jawab Gio.


Gio mulai mencari foto lamanya di HP berlogo apel dengan boba dua itu.


"Nih," Gio menyodorkan HP-nya kepada Raisa.



Raisa meneliti antara foto dengan wajah Gio yang sekarang. Sekali liat ke foto, sekali lihat ke wajah Gio. Hingga berkali-kali yang membuat Gio bingung sendiri.


"Kenapa?" tanya Gio heran.


"Kok beda," kata Raisa jujur.


"Hahaha," tawa Andra dan Devan terdengar jelas.


"Beda gimana?" tanya Gio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kalau yang sekarang lebih keliatan tegas. Kalau yang ini kaya masih anak-anak," jawab Raisa apa adanya.


Devan dan Andra semakin tidak bisa menahan tawanya saat Raisa berkata demikian.


"Kak Gio dulu keliatan judes, tapi sekarang tambah judes. Mana sok cool lagi," lanjut Raisa.


"HAHAHAHA."


"Seratus buat Raisa," ujar Andra membenarkan.


"Pintar banget kamu, El," timpal Devan.


"Ketawa aja terus!" kesal Gio merebut kembali HP-nya.


Raisa hanya tertawa kecil saat berhasil mengerjain Gio. Sebenarnya Gio sama saja tampannya dengan yang sekarang. Hanya saja Raisa ingin mengerjain Gio sedikit saja.


...****************...


Malam semakin larut, keempat remaja tadi pun memutuskan untuk mengakhiri obrolan mengenang masa kuliah mereka. Raisa memilih untuk segera kembali ke kamarnya. Sedangkan Devan, Gio, dan Andra memilih untuk tidur saja di kamar Devan.



Nah kalau ini Andra *guys. Sorry ya guys, author bingung cari visual masa kuliahnya Andra. Hehehe. Author juga mau minta maaf karena jarang update. But*, sekarang udah semangat lagi kok.

__ADS_1


Buat kalian, jangan lupa like and comment yes!! Biar author lebih semangat. Juga alasannya ganti judul, biar kalian lebih paham aja. Oke???


__ADS_2