
Sepulangnya dari New York Devan tak pernah sekali pun absen untuk pulang ke rumah. Ia dengan setia menunggui Raisa di depan ruang ICU.
Bu Dewi lebih sering bolak-balik ke rumah sakit dan pulang ke rumah. Meski hanya sekadar untuk mandi, bersih-bersih rumah, memasak untuk bekal di rumah sakit.
Oma Melani tak diizinkan Devan untuk bolak-balik ke rumah sakit. Mengingat kondisi Oma Melani yang terkadang suka drop.
Gio juga dengan setia menemani Devan menginap di rumah sakit. Setiap pagi Gio akan pulang dan kembali bekerja. Baru malam harinya ia ke rumah sakit dan tidur di sana bersama Devan. Bu Dewi hanya akan di rumah sakit setiap pagi sampai sore.
"Lu ga capek tidur di sini terus?" tanya Gio sesaat setelah sampai di rumah sakit.
Devan menggeleng. "Isael lebih capek," katanya.
Gio menghela napas pelan. "Pasti Raisa bakal kecewa kalau dia sadar terus lihat lu kaya gini," kata Gio.
"See, penampilan lu yang selalu rapi jadi berantakan gini. Rambut lu juga kusut banget. Mata lu udah kaya mata panda," cerocos Gio saat memperhatikan raut wajah sahabatnya.
"Berisik!" seru Devan seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan mulai memejamkan mata.
"Lah malah tidur," ucap Gio.
"Permisi," ucap seseorang dokter perempuan menghampiri mereka.
"Iya?" sahut Gio.
"Keluarga pasien atas nama Raisa?" tanya dokter yang tak lain adalah Dokter Citra itu.
"Iya, Dok. Ada apa, ya?" tanya Gio mulai khawatir.
Devan yang hendak memejamkan mata pun kembali membuka matanya.
"Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat saja. Sudah tiga hari pasien di ruang ICU dan tidak dapat dijenguk. Biar dipindah saja dan bisa dijenguk oleh keluarga. Itu akan lebih mempercepat proses sadarnya," jelas Dokter Citra.
"Baik, Dok. Segera pindahkan pasien," sahut Devan.
"Baiklah."
Setelahnya Dokter Citra bersama suster yang lain kembali memasuki ruang ICU. Sedangkan Gio membantu untuk mengurusi administrasi.
Devan.
"Bi, Raisa dipindah ke ruang rawat inap. Besok bibi bisa ketemu Isael," tulis Devan pada Bu Dewi.
Bi Dewi.
"Syukurlah. Besok bibi akan ke rumah sakit pagi-pagi," balas Bu Dewi.
Devan.
"Siap, Bi."
Bi Dewi.
"Kamu jaga kesehatan, ya, Nak. Kalau kamu capek, biar bibi saja yang jaga Raisa."
Devan.
"Enggak, Bi. Biar Devan saja, bibi istirahat di rumah," tolak Devan.
Bi Dewi.
"Ya sudah."
Devan juga mengabari Oma Melani. Sudah beberapa hari ini Oma tidak ke rumah sakit karena kurang sehat. Mungkin karena banyak pikiran. Sehingga membuat kesehatan Oma menurun.
"Halo, Oma," sapa Devan saat berhasil menghubungi Oma Melani.
"Halo, Nak. Ada apa?" sahut Oma Melani.
"Apa adikmu sudah sadar? Atau terjadi apa-apa dengan adikmu? " tanya Oma Melani dengan nada khawatir.
"Enggak, Oma. Raisa belum sadar," jawab Devan.
"Yah ...," terdengar suara Oma Melani yang sepertinya tengah kecewa.
"Tapi, Oma. Devan punya kabar baik," kata Devan.
__ADS_1
"Benarkah? Apa itu?" tanya Oma Melani kembali antusias.
"Isael sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan bisa dijenguk," jawab Devan.
"Syukurlah Oma ikut senang mendengarnya," senang Oma Melani.
"Besok Oma ke rumah sakit, ya," kata Oma.
"No!" seru Devan.
"Oma belum sembuh," ujarnya.
"Oma sudah sehat, Van. Tolonglah, izinkan Oma untuk bertemu cucu Oma," pinta Oma Melani.
Terdengar helaan napas kasar dari seberang sana. "Besok biar Gio yang jemput Oma," kata Devan.
"Baiklah. Kamu jaga kesehatan, ya, Nak," tutur Oma Melani.
"Oma juga. Selamat malam," ucap Devan sebelum mengakhiri teleponnya.
"Malam," balas Oma Melani mengakhiri telepon bersama cucu lelakinya.
Raisa kini telah dipindahkan ke ruang rawat inap di lantai tiga gedung rumah sakit. Raisa berada di ruang Raflessia-5.
"Lu udah makan?" tanya Gio pada Devan yang sedang berdiam diri memandangi wajah pucat milik Raisa.
"Ga lapar," sahut Devan tanpa mengalihkan atensinya.
"Ntar lu sakit," kata Gio khawatir.
"Gua beliin lu makan di kantin, ya," tawar Gio.
Devan hanya menganggukkan kepalanya.
Sepeninggalan Gio, Devan terus memandang wajah ayu nan pucat yang masih dihiasi selang infus di hidungnya. Devan mengelus pelan puncak kepala adiknya. Perlahan, air matanya mulai turun saat teringat apa yang dialami oleh adiknya.
"El, hai. Ayo bangun!" seru Devan terus mengelus puncak kepala adiknya.
"Kamu ga kangen sama kakak?" tanya Devan seakan berbicara dengan Raisa.
"El, bilang sama kakak, mana yang sakit? Biar kakak aja yang ngerasain."
"El, kalau nanti kamu sadar. Kakak janji akan selalu jaga in kamu. Gio juga akan selalu jaga kamu."
Tanpa Devan ketahui. Gio ternyata sudah kembali dari kantin. Saat ini dirinya tengah berdiri di ambang pintu. Mendengarkan curahan hati dari sahabatnya yang terkenal dingin dan tampan itu.
"Ada Oma sama Bi Dewi juga yang akan jagain Isael."
"Kamu cepat bangun, ya. Nanti kalau kamu udah sadar, kakak akan ajak kamu liburan," ucap Devan.
"Raisa pasti akan bangun," timpal Gio menghampiri Devan.
"Lu sabar aja," ingat Gio pada Devan.
"Heem."
"Lu makan dulu gih," kata Gio.
Devan pun menyantap makanan yang tadi dibelikan Gio di kantin rumah sakit.
...****************...
Seminggu telah berlalu. Raisa tidak pernah masuk sekolah sejak kejadian hari itu. Begitu pula dengan Rasya. Lelaki itu tampak tak bersemangat setiap kali berangkat sekolah.
Namun, tak pernah sekali Rasya ke rumah sakit untuk menjenguk Raisa. Rasya hanya mampu memantau Raisa dari kejauhan dan melihat di sana ada Devan, Oma Melani, Bu Dewi atau bahkan Gio.
Gadis remaja cantik itu masih asyik terlelap dalam mimpinya.
"Nak," panggil seseorang menghampirinya.
"Mama," panggilnya mencoba memperjelas pandangannya.
"Iya, Nak. Ini mama!" seru perempuan cantik langsung memeluk gadis itu.
"Mama. Mama ke mana saja?" tanya gadis cantik yang tak lain Raisa itu.
__ADS_1
"Mama sudah pergi jauh, Nak," jawab Medina, perempuan yang tadi menemui Raisa.
"Kenapa mama pergi jauh sekali? Apa mama tidak sayang Raisa?" tanya Raisa.
"Nak, mama sangat menyayangi Raisa dan Kak Devan. Tapi, takdir berkata lain," jawab Medina.
"Mama pulang, ya," pinta Raisa.
Medina menggeleng. "Mama sudah pergi jauh bersama papa, Nak," jawab Medina.
"Papa?" beo Raisa.
Tiba-tiba, seorang lelaki tampan menghampiri Medina dan Raisa.
"Papa," panggil Raisa langsung memeluk papanya.
"Nak, putriku. Raisa Isabella," sahut Meda memeluk putrinya.
"Kamu ingat semua, Nak?" tanya Meda.
Raisa mengangguk. "Aku ingat, Pa, Ma," jawab Raisa.
"Aku ingat siapa diriku dan jati diriku," ujar Raisa.
"Baguslah, Nak. Karena kamu sudah mengingatnya. Sekarang kamu harus kembali, ya!" titah Medina.
"Tidak. Raisa mau sama mama dan papa saja," tolak Raisa.
"Nak. Kamu tidak kasihan dengan Oma, Kak Devan, dan juga Bu Dewi?" tanya Medina.
"Kembalilah, Nak. Mereka menunggumu," timpal Meda.
"Tapi, Ma, Pa-
Sebelum Raisa menyelesaikan kalimatnya. Medina dan Meda mendorong putri mereka untuk masuk ke dalam cahaya putih bersih. Setelahnya, Raisa tak lagi terlihat.
...****************...
Devan yang saat itu masih terjaga dari tidurnya melihat jari-jari tangan adiknya yang bergerak. Matanya yang terpejam kini juga tampak tidak tenang. Devan langsung memencet bel yang ada di samping tempat tidur adiknya.
"Permisi," ucap Dokter Citra seraya memeriksa Raisa.
Gio yang saat itu baru tertidur pun langsung kembali membuka matanya.
"Ada apa?" tanya Gio.
Devan mengendikkan bahunya.
"Dokter, pasien sudah sadar!" seru suster yang membantu Dokter Citra.
"Syukurlah!" ucap Dokter Citra.
"Mama," lirih Raisa.
"Pasien sudah sadar. Mungkin karena pengaruh obat, ia jadi sedikit kesulitan untuk membuka matanya," ucap Dokter Citra.
"Syukurlah!" lega Gio dan Devan.
"Kalau begitu saya permisi."
"Terima kasih."
"Mama," lirih Raisa lagi dengan mata terpejam.
"El. Ini kakak, El," kata Devan mencoba membantu adiknya untuk sadar.
"Mama, papa, Kak Devan," lirih Raisa lagi.
"Iya, El. Ini Kak Devan," ujar Devan.
Perlahan mata Raisa kembali terbuka.
"Mama," panggil Raisa lirih.
Devan tak kuasa membendung air matanya. Ia langsung memeluk adiknya yang kini telah sadarkan diri.
__ADS_1
"Mama," panggil Raisa lagi.