
Raisa bersama Gio sampai di Melody Cafe saat hari sudah sore. Beberapa karyawan tampak antusias saat melihat Raisa kembali ke sana.
Memang, setelah kembalinya Devan ke luar negeri, Raisa tak diizinkan sama sekali bekerja di Melody Cafe. Raisa pun memutuskan untuk mengisi waktu luangnya dengan belajar, membantu membersihkan rumah dan sesekali datang berkunjung ke tempat yang dulu ia gunakan untuk bekerja.
"Raisa," pekik Kak Ina menghampiri Raisa.
"Kak Ina," sahut Raisa.
Kedua sejoli yang sudah akrab itu pun saling melepas rindu. Mereka berdua berpelukan sepertu sudah lama tidak bertemu.
"Kamu apa kabar?" tanya Kak Ina melepas pelukannya.
"Aku baik, Kak. Kak Ina sendiri bagaimana?" tanya Raisa balik.
"Baik juga dong," jawab Kak Ina.
"Yuk masuk!" ajak Kak Ina.
"Kak Gio, aku ikut Kak Ina, ya," ucap Raisa pada Gio yang masih setia di belakangnya.
Gio mengangguk. "Ingat! Jangan capek-capek," interupsi Gio.
"Siap," sahut Raisa.
"Na, titip Raisa. Dia ga boleh capek-capek," pesan Gio pada Kak Ina.
"Siap, Kak," sahut Kak Ina menyanggupi.
"Yuk!" Kak Ina menggandeng tangan Raisa untuk masuk ke area dapur di Melody Cafe.
Sedangkan Gio, kembali ke ruangannya untuk memeriksa beberapa berkas dan laporan. Gio juga sedang ditunggu salah satu sales untuk rapat di ruangannya.
"Kamu sekarang makin cantik aja," puji Kak Ina.
"Haha, Kak Ina juga," ucap Raisa.
"Kamu udah ga secuek dulu," ujar Kak Ina.
"Masa sih?" tanya Raisa tak percaya.
"Heem," jawab Kak Ina dengan anggukan kepalanya.
"Cuma perasaan kakak aja kali," sanggah Raisa.
"Kalau sama yang ga akrab juga tetap sama," lanjutnya.
"Iya deh."
"Eh, ya. Kamu mau makan apa?" tanya Kak Ina hendak membuatkan makan untuk Raisa.
"Hmm, apa aja, Kak," jawab Raisa.
"Cumi-cumi bakar mau?" tanya Kak Ina.
"Mau," jawab Raisa antusias.
"Tapi kalau merepotkan tidak usah," imbuh Raisa tak enak.
"Enggak dong," jawab Kak Ina.
"Tunggu sebentar, ya," ucap Kak Ina berlalu untuk membuatkan Raisa makan siang yang sudah sore.
Sepeninggalan Kak Ina. Raisa memutuskan untuk bermain saja dengan HP-nya. Mau melakukan pekerjaan juga nanti yang ada akan membuat karyawan di sana kena semprot Gio atau Devan.
Dalam bermain media sosialnya, Raisa menemukan akun Instagram milik Rasya di beranda aplikasinya.
"Banyak juga followers-nya," gumam Raisa saat melihat jumlah pengikut di Instagram Rasya.
"Enggak private juga."
"Tapi seleb, masa yang diikuti balik cuma Kak Aldo sama Kak Revan," gumam Raisa.
@Rasyaandra
"Keren juga," gumam Raisa tanpa sadar.
"Lah kok ke pencet like sih," kesal Raisa saat tak sengaja memencet tombol like untuk postingan Rasya tersebut.
__ADS_1
"Ada apa, Rai?" tanya Kak Ina yang baru saja sampai dengan nampan berisi nasi, cumi-cumi bakar, jeruk hangat dan air putih.
"Enggak apa-apa kok, Kak," jawab Raisa berbohong.
"Oh, ya, udah. Nih, makanannya udah siap," ucap Kak Ina menata makanan yang ia bawa di depan Raisa.
"Terima kasih, Kak," kata Raisa.
"Sama-sama."
"Oh, ya, Rai. Aku mau lanjut beres-beres, ya. Di belakang banyak cucian. Kamu makan aja," kata Kak Ina.
"Oke. Semangat, Kak," ujar Raisa.
"Siap," kata Kak Ina berlalu meninggalkan meja makan menuju tempat pencucian piring.
Raisa mematikan dan menyimpan HP-nya di dalam tas. Kemudian, Raisa mulai menyantap makanan kesukaannya yang baru saja dibawakan oleh Kak Ina. Cumi-cumi bakar adalah kesukaan Raisa. Namun, Raisa tidak menyukai rasa pedas.
"Enak juga," kata Raisa seraya memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
...****************...
Gio baru saja selesai melakukan rapat dengan sales bahan makanan di Melody Cafe. Ia juga terlihat sudah lelah. Mungkin karena harus mengechek laporan bahan makanan apa saja yang masih atau sudah habis.
Tampak di depannya, juga masih ada beberapa berkas yang belum sempat ia sentuh sama sekali.
"Rik," panggil Gio pada salah satu karyawan Melody Cafe.
"Iya, Kak," sahut Erik menghampiri Gio di ruangannya.
"Tolong buatkan saya minum," tutur Gio.
"Baik, Kak," kata Erik langsung menuju dapur untuk membuatkan Gio minuman.
"Ini, Kak," ucap Erik meletakkan minuman di hadapan Gio.
"Oke, terima kasih," ucap Gio.
"Kalau begitu saya mau lanjut kerja, ya, Kak," kata Erik.
Gio mengangguk. "Eh, Rik," panggil Gio lagi.
"Raisa di mana?" tanya Gio.
"Raisa di dapur, Kak. Sepertinya sedang makan," jawab Erik.
"Oke, kamu lanjut kerja saja," kata Gio beranjak dari duduknya.
Gio meninggalkan ruangan dengan membawa serta minumannya. Ia melihat Raisa yang sedang begitu lahap menyantap makanannya.
"Lucu," gumam Gio seraya tersenyum tipis.
Entah sadar ataukah tidak Gio mengatakan itu?
...****************...
Hari sudah menjelang malam. Seluruh rombongan kelas dua belas SMA Merak Merdeka 2 baru saja sampai di sekolah.
Rasya, Aldo, dan Revan tengah menunggu jemputan dari orang rumah.
"Do, lu bareng gua aja," kata Aldo yang hendak berdiri bersama Rasya. Aldo berencana ingin menebeng Rasya saja.
"Ada apa?" tanya Aldo pada Revan.
Revan mengedipkan satu matanya. "Udah nanti gua traktir. Temenin gua tidur di rumah," kata Revan.
"Oke deh," sahut Aldo.
"Gua ga jadi bareng, Sya. Hehe," kata Aldo pada Rasya yang sudah duduk di kursi samping kemudi.
"Jalan, Pak," kata Rasya kepada sopirnya.
Mobil Rasya meninggalkan area sekolah. Tak lama kemudian, mobil Revan juga sudah datang.
Setelah melakukan perjalanan selama dua puluh menit, kini Revan dan Aldo sudah merebahkan diri di atas kasur di kamar Revan.
"Lu mau ngomong apa?" tanya Aldo tanpa menoleh kepada lawan bicaranya.
__ADS_1
"Gua mau bahas rencana ulang tahun Rasya," jawab Revan seraya menatap langit-langit kamarnya.
"Ulang tahun Rasya?" ulang Aldo.
"Astaga, gua lupa," pekik Aldo langsung merubah posisinya menjadi duduk.
"Kebiasaan," kesal Revan melemparkan guling pada sahabatnya itu.
"Sialan," gerutu Aldo.
"Salah lu masih muda tapi pikun," cibir Revan.
"Rencana lu gimana?" tanya Aldo pada Revan.
"Gua juga ga tahu, bingung," jawab Revan juga mengubah posisinya menjadi duduk.
Mereka berdua sama-sama berpikir untuk membuat rencana ulang tahun Rasya, sahabatnya.
"Rasya tu tipikal orang yang ga suka rame-rame," kata Aldo.
"Heem benar banget," sahut Revan membenarkan.
"Rasya lebih suka kesederhaan dan kekeluargaan. Biasanya kalau dia ulang tahun selalu ngajak kita makan abis itu nongkrong atau main bareng udah gitu doang," jelas Revan.
"Nah, maka dari itu. Sekali-kali kita yang ngajak dia. Bukan dia terus," ucap Aldo.
"Gimana kalau kita ngajak Rasya dinner aja?" usul Revan.
"Dinner?" ulang Aldo.
"Sama Raisa?" tanya Aldo lagi.
Revan menganggukkan kepalanya. "Kita ajak aja tuh Raisa buat makan malam sama kita," kata Revan.
"Gua ga yakin bisa," ucap Aldo pesimis.
Revan mengercitkan dahinya. "Kenapa bisa begitu?" batin Revan.
Aldo tanggap dengan kebingungan Revan, sahabatnya. "Gini-gini, kemarin, Raisa ga masuk sekolah selama seminggu itu karena abis operasi tumor otak," kata Aldo.
"What?" pekik Revan terkejut.
"Santai aja, Bro," interupsi Aldo.
"Kok Rasya ga cerita?" tanya Revan.
"Kaya ga tahu Rasya aja. Apalagi Raisa itu masuk RS gara-gara abis jalan sama Rasya," jawab Aldo.
"Ga paham," kata Revan.
"Huh," kesal Aldo.
"Beberapa waktu lalu, Rasya ngajak Raisa ke pantai pas pulang lewat Jl. Kantil. Pas di tengah jalan, Raisa meringis kesakitan dan langsung tuh dibawa Gio, manager Melody Cafe yang ngikutin mereka ke rumah sakit. Nah pas di rumah sakit, Raisa divonis tumor otak dan harus dioperasi," jelas Aldo.
"Oalah."
"Terus, gua juga kaget sih. Gua tahu dari om gua, kalau Raisa tu ternyata anak dari Tuan Meda Isa Al-Zabet dan Medina Putri Isabel," imbuh Aldo.
"Ha?" Revan tercengang ketika mendengar ucapakan Aldo.
"Iya."
"Gua juga kaget," kata Aldo.
"Sama," sahut Revan.
"Benar dugaan kita," ujar Aldo.
Revan mengangguk. "Susah sih, apalagi sekarang pemilik Melody Cafe yang ternyata kakak Raisa udah tinggal di Indonesia."
"Nah, makannya itu," Aldo membenarkan.
"Tapi gapapa, kita bakal izin kayaknya boleh. Kalau ga gitu buat aja acaranya di Melody Cafe," ujar Revan.
"Nah sip."
"Dinner di Melody Cafe besok malam," kata Aldo.
Revan mengangangguk membenarkan. "Audy jangan sampai tahu," ingat Revan.
__ADS_1
"Siap."