Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
MIMPI


__ADS_3

Perlahan mata Raisa kembali terbuka.


"Mama," panggil Raisa lirih.


Devan tak kuasa membendung air matanya. Ia langsung memeluk adiknya yang kini telah sadarkan diri.


"Kak Devan," panggil Raisa mencoba membalas pelukan Devan.


Devan mengurai pelukannya. Tersenyum seraya mengangguk memandangi wajah Raisa yang kini tak lagi tertidur.


"Iya, Ini kakak," kata Devan menjawab panggilan adiknya.


"Kak Gio," panggil Raisa pada Gio yang berdiri di sebelah Devan.


"Iya, Rai. Ini Kak Gio," sahut Gio.


"Bu Dewi, Oma Melani," panggil Raisa.


"Mereka di rumah, El," jawab Devan.


Raisa terdiam. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat pusing setelah menyebutkan nama-nama itu.


"Sakit," ringis Raisa memegangi kepalanya.


"Sakit," ringisnya lagi mulai memejamkan matanya karena menahan nyeri.


"Gi, panggil dokter, Gi!" perintah Devan.


Gio langsung memencet bel yang berada di samping tempat tidur Raisa.


"Sakit, Kak," rintih Raisa lagi.


"Sabar, ya, El," kata Devan menenangkan.


Tak lama kemudian, Dokter Citra kembali masuk ke ruang rawat inap Raisa bersama beberapa suster.


Dokter Citra memeriksa denyut jantung, denyut nadi dan tekanan darah Raisa.


"Mana yang sakit?" tanya Dokter Citra.


"Ini, Dok," jawab Raisa sambil terus memegangi kepalanya.


"Tahan, ya," kata Dokter Citra.


"Jangan pejamkan mata," kata Dokter Citra lagi.


Raisa kembali membuka matanya. Menahan nyeri dan pusing yang menyerang kepalanya. Juga rasa sakit akibat jarum suntik yang diberikan oleh suster. Raisa diberi obat pereda nyeri pasca operasi. Mungkin rasa sakit karena ingatannya kembali dan pasca operasi belum sepenuhnya hilang.


"Masih sakit?" tanya suster yang tadi menyuntik Raisa.


"Tidak," jawab Raisa.


"Apakag kamu mengingat masa lalu?" tanya Dokter Citra.


Raisa mengangguk.


"Ini keajaiban karena ingatan kamu sudah pulih," ucap Dokter Citra.


Raisa tersenyum senang saat mendengar penuturan Dokter Citra.


"Terima kasih," kata Raisa.


"Sama-sama," sahut Dokter Citra.


"Kalau begitu kamu istirahat lagi, ya!" perintah Dokter Citra.


Dokter Citra bersama kedua suster pun keluar dari kamar rawat inap Raisa.


"Hai," sapa Devan menghampiri Raisa.


"Mau minum?" tanya Devan.


Raisa mengangguk.


Devan dengan telaten menyuapkan air ke dalam mulut adiknya.

__ADS_1


"Terima kasih," ujar Raisa begitu selesai meminum air yang disuapkan oleh kakaknya.


"Udah ga sakit, Rai?" tanya Gio.


"Enggak," jawab Raisa.


"Raisa mau apa lagi?" Devan bertanya.


"Enggak mau apa-apa. Cuma mau Kak Devan di sini saja," jawab Raisa.


Devan tersenyum mendengar permintaan adiknya. "Aku akan tidur di sini," kata Devan.


"Sekarang kamu tidur, ya," ucap Devan mulai membenarkan selimut adiknya.


"Iya."


Cup. Satu kecupan berhasil Devan daratkan di kening adiknya.


Raisa tersenyum senang diperhatikan oleh kakaknya yang sudah lama tak ditemuinya.


"Kak Gio tidak pulang?" tanya Raisa saat melihat Gio masih berada di sana.


"Tidak," singkat Gio.


"Gio akan menemani kakak di sini. Setiap malam juga dia di sini," jelas Devan.


Raisa tersenyum. "Terima kasih," ucapnya pada Gio.


"Maaf, Raisa merepotkan," sambungnya seraya menoleh ke arah Devan dan Gio.


"Tidak, El. Kamu tidak merepotkan siapa pun," kata Devan.


"Benar itu. Dengan senang hati aku di sini. Biar ga kesepian di rumah," timpal Gio.


"Sekarang tidur, ya. Sudah malam," titah Devan lagi.


"Iya."


Jadilah malam itu Raisa kembali tertidur dengan Devan di sebelahnya. Devan duduk di kursi dan menumpukan kepalanya pada bangkar Raisa. Sedangkan Gio, ia akan tidur di sofa ruangan.


Keesokannya, mentari bersinar dengan begitu cerah dari ufuk timur. Bu Dewi dengan begitu semangat mulai berjalan untuk mencari angkutan umum. Sebenarnya Gio hendak menjemput, namun Bu Dewi menolak dengan alasan tidak mau merepotkan.


Begitu pula dengan Oma Melani. Wanita tua itu tengah bersiap untuk menunggu jemputan sahabat dari cucunya.


Raisa, remaja yang baru saja sadar kemarin malam itu. Kini tengah berjalan-jalan pagi bersama kakaknya di taman rumah sakit.


"Bagus, ya, Kak," kata Raisa.


"Apanya?" tanya Devan bingung.


"Pemandangannya," jawab Raisa seraya memandang ke sekeliling taman.


Banyak pasien-pasien lain yang sedang berjalan-jalan, berjemur dan juga anak-anak yang sedang bermain.


"Persis seperti taman yang ada di mimpi Raisa," imbuh Raisa.


"Mimpi?" beo Devan tak paham.


"Iya. Semalam, Raisa mimpi ketemu sama mama dan papa di taman yang sangat indah," jawab Raisa menjelaskan mimpinya.


"Tamannya banyak sekali bunga yang wangi, kunang-kunang dan kupu-kupu. Juga banyak sekali cahaya," jelas Raisa.


"Mama cantik banget pakai gaun putih bercahaya. Sudah seperti putri kerajaan saja," celoteh Raisa.


"Papa juga sangat tampan. Seperti pangeran berkuda putih. Bahkan Kak Devan kalah tampan. Haha," kata Raisa diselingi tawa di akhir kalimatnya.


Devan tertawa kecil. "Terus?" tanyanya penasaran.


"Tapi, kata mama sama papa mereka sudah pergi jauh," jawab Raisa tertunduk sedih.


"Mama bilang Raisa harus kembali," ujar Raisa.


"Papa juga nyuruh Raisa kembali karena Raisa sudah ingat semuanya," imbuhnya.


"Benarkah? Raisa sudah ingat?" tanya Devan tak percaya.

__ADS_1


Raisa menganggukkan kepalanya. "Raisa ingat semuanya, Kak," kata Raisa.


Devan tersenyum sembari memeluk adiknya. "Kakak senang mendengarnya," ucap Devan.


"Ibu juga senang," kata Bu Dewi menghampiri Devan dan Raisa.


"Ibu!" seru Raisa menoleh ke sumber suara.


"Bibi!" timpal Devan melakukan hal yang sama pula.


"Kok bibi tahu kita di sini?" tanya Devan begitu Bu Dewi menghampirinya dan Raisa.


"Tadi waktu bibi mau ke atas. Bibi lihat kalian di sini, jadi bibi susul ke sini saja," jawab Bu Dewi.


"Oalah."


Bu Dewi senang melihat Raisa sudah sadar. Namun, tiba-tiba ...


"Dasar anak nakal, ya," kata Bu Dewi menjewer telinga Devan.


"Aduh, sakit, Bi. Kenapa bibi jewer Devan?" tanya Devan berusaha melepas jeweran tangan Bu Dewi.


Raisa tak kuasa untuk menahan tawanya saat melihat Devan yang diam tak berkutip saat dijewer Bu Dewi.


"Haha ..." tawa Raisa.


"Bu, sudah. Kasihan Kak Devan," kata Raisa melerai.


"Kalian ini memang bekerja sama apa bagaimana?" kesal Bu Dewi bertanya kepada Raisa dan Devan.


"Bekerja sama bagaimana sih, Bu?" tanya Raisa balik.


"Kamu sudah sadar, tapi kenapa kakakmu tidak memberi tahu ibu?" jawab Bu Dewi agak kesal.


"Ya maaf, Bi. Semalam terjadi dengan begitu singkat. Jadi Devan tak sempat memberi tahu bibi sama Oma," jawab Devan membela dirinya.


"Hajar saja anak itu!" seru Oma Melani yang juga baru datang bersama Gio.


"Kata Gio tadi waktu menjemput Oma, Raisa belum sadar. Tapi sekarang Raisa udah sehat seperti ini," cerocos Oma Melani.


"Memang anak muda ini!" gerutu Oma Melani dan Bu Dewi.


"Maaf Oma, maaf ibu," kata Devan.


Bu Dewi tidak jadi marah saat mendengar Devan memanggilnya dengan nama 'ibu.' Ini adalah kali pertama bagi Devan memanggilnya 'ibu.'


"Maaf Oma, maaf ya, Bu," timpal Raisa.


"Kami minta maaf, ya, Oma, Bu Dewi," sahut Gio juga meminta maaf.


"Ibu tidak jadi marah," kata Bu Dewi langsung memeluk Raisa dan Devan.


"Kalian anak-anak ibu," ucap Bu Dewi.


"Sini, Nak. Kamu juga anak ibu," ajak Bu Dewi pada Gio.


Gio tersenyum senang dan ikut berpelukan. Kehangatan sangat Gio rasakan. Apalagi setelah kedua orang tuanya ke luar negeri dan ia menjadi manager Melody Cafe. Itu membuatnya tak pernah merasakan kembali kebersamaan bersama keluarga.


"Kalian bertiga adalah cucu-cucu kesayangan Oma," ujar Oma Melani ikut memeluk Devan, Raisa, dan Gio.


"Dan kamu, Dewi. Kamu adalah putri saya," ucap Oma Melani.


"Kita adalah keluarga," ucap Devan.


"Keluarga!" seru Raisa yang disambut gelak tawa oleh semuanya.


Tak jauh dari tempat Raisa berada. Rasya tengah memerhatikan interaksi keluarga tak sedarah itu.


"Syukurlah, lu berhasil, Rai," gumam Rasya.


"Gua senang lihatnya," kata Rasya.


"Berarti lu adalah anak dari Meda Al-Zabet dan Medina Isabel yang hilang empat belas tahun lalu?" tanya Rasya pada dirinya sendiri.


"Gua ga nyangka lu anak dari pengusaha hebat itu, Rai," puji Rasya.

__ADS_1


Rasya berlalu meninggalkan tempat itu. Untungnya, hari ini adalah akhir pekan. Jadinya Rasya tidak akan terlambat untuk masuk sekolah. Karena sudah pasti sekolah libur.


__ADS_2