Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
OPERASI


__ADS_3

Tak jauh dari Bu Dewi dan Gio berada. Seorang lelaki muda tengah mengintip mereka.


"Tumor? Operasi?" gumamnya.


"Gua harap lu bisa sembuh, Rai. Maafin gua," kata lelaki itu.


Lelaki itu berlalu meninggalkan area rumah sakit.


"Amnesia? Kecelakaan?" monolog lelaki itu berlalu ke area parkiran.



Laki-laki yang tak lain adalah Rasya itu tampak terkejut saat mengetahui penyakit Raisa. Bukannya ia tidak mau bertanggung jawab soal apa yang menimpa Raisa. Namun, Rasya merasa kehadirannya hanya akan memperkeruh suasana. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pulang saja.


"Get well soon, Rai," kata Rasya mulai memacu motornya meninggalkan area parkiran rumah sakit.


"Maaf, Rai. Gara-gara gua, lu jadi gini," ucap Rasya.


Sebenarnya saat tadi Raisa dibawa oleh Gio. Rasya langsung mengikuti mobil Gio sebagai bentuk pertanggung jawabannya. Begitu sampai di rumah sakit, melihat Gio yang sangat khawatir dan Bu Dewi juga. Membuat Rasya mengurungkan niatnya.


Rasya tidak mau jika nanti Gio terbawa emosi atau malahan membuat Bu Dewi menyalahkannya. Apalagi Rasya sebelumnya belum pernah bertemu dengan Bu Dewi. Setiap kali mengantar Raisa, Rasya hanya melihat rumah Raisa yang sepi dan hanya ada Raisa seorang.


...****************...


Hari sudah semakin malam saat Devan dan Oma Melani sampai di Indonesia.


"Halo, Gi," Devan menghubungi sahabatnya itu.


"Hai, Van. Gimana? Udah sampai?" tanya Gio.


"Gua udah sampai di bandara Soekarno-Hatta. Lu bisa jemput gua kan?" tanya Devan.


"Bisa, Van. Oke gua otw sekarang," kata Gio.


Gio segera keluar dari ruang tunggu ICU. Ia tak berpamitan dengan Bu Dewi karena melihat Bu Dewi yang sudah tertidur karena lelah. Gio tadi, memilih untuk tetap di rumah sakit saja. Karena ia juga khawatir dengan kondisi Raisa.


Devan dan Oma Melani pun menunggu jemputan Gio di lobi bandara.


"Van," panggil Gio begitu melihat sahabatnya.


"Gi," sahut Devan yang langsung memeluk sahabatnya.


"Lu gapapa kan?" tanya Gio.


"Gua baik," jawab Devan.


"Oma," sapa Gio menyalami tangan wanita paruh baya tersebut.


"Nak," sahut Oma Melani memeluk Gio yang sudah ia anggap seperti cucunya sendiri.


"Sini biar Gio aja yang bawa," kata Gio mengambil beberapa tentengan yang Oma Melani bawa.


"Terima kasih," ujar Oma Melani.


Ketiga orang tersebut langsung berlalu meninggalkan area bandara.


"Ke rumah kan, Van?" tanya Gio seraya mengemudikan mobil.


"Ga. Gua mau ke rumah sakit aja," jawab Devan yang duduk di samping kursi kemudi.


"Kasihan Oma Melani. Pasti lelah," ucap Gio menoleh ke kursi belakang.


"Oma ingin bertemu Isael dulu," Oma Melani menyahuti.

__ADS_1


"Baiklah."


Gio pun mengantarkan Devan dan Oma Melani ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, mereka bertiga langsung ke ruangan di mana Raisa berada.


"Ibu kira kamu pulang, Nak," kata Bu Dewi begitu melihat Gio yang kembali ke ruang tunggu.


"Tadi Gio menjemput orang. Maaf, tadi Gio tidak pamit karena melihat ibu yang sudah pulas," kata Gio.


"Tidak apa-apa, Nak."


"Oh, ya. Tadi kamu menjemput siapa?" tanya Bu Dewi.


"Van," bukannya menjawab pertanyaan Bu Dewi. Gio justru memanggil sahabatnya itu.


Devan datang bersama dengan Oma Melani. Betapa terkejutnya Bu Dewi saat melihat lelaki muda yang tampan berdiri di hadapannya. Seorang lelaki yang dulu pernah besar di dalam gendongannya.


"Nak," sapa Bu Dewi.


"Bi Dewi apa kabar?" tanya Devan menyalami Bu Dewi.


"Bibi baik. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Bu Dewi balik.


Oma Melani tersenyum saat melihat interaksi Devan dan Bu Dewi. Meski Oma tak begitu mengenal Bu Dewi. Tetapi saat Devan lahir, Oma sempat beberapa kali bertemu dengan Bu Dewi di rumah Devan.


Oma Melani memang tinggal di Amerika sejak putrinya menikah. Oma terpaksa ikut suaminya di Amerika untuk mengelola bisnisnya. Saat itu juga, Medina sudah menikah. Jadi Oma sedikit lega saat pergi ke Amerika.


"Wi," panggil Oma Melani dengan seulas senyumnya.


"Nyonya?" beo Bu Dewi mengingat-ingat.


"Nyonya besar Melani?" tanya Bu Dewi.


Bu Dewi tampak ragu. Devan dengan sigap menganggukkan kepalanya kepada Bu Dewi.


"Gapapa, Bi," kata Devan.


Bu Dewi pun masuk ke dalam pelukan Oma Melani. Rasa hangat ia dapatkan dari orang tua mantan majikannya itu. Ini adalah pelukan pertama yang Bu Dewi rasakan dari Oma Melani.


Setelah sekian lama, Bu Dewi merindukan pelukan majikannya, Medina. Kini, ia mendapat pelukan dari orang tua mantan majikannya itu.


"Maaf," ucap Bu Dewi begitu Oma Melani melepas pelukannya.


"Buat apa?" tanya Oma Melani bingung.


"Untuk penyakit dan keberadaan Raisa," jawab Bu Dewi menundukkan kepalanya.


"Hai," kata Oma Melani memegang tangan Bu Dewi.


"Ini memang yang terbaik. Pasti kamu punya alasan kan, mengapa tidak memberi tahu tentang Raisa?" Oma Melani bertanya.


Bu Dewi menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Terima kasih sudah merawat Raisa," kata Oma Melani tulus.


"Sudah kewajiban saya," kata Bu Dewi.


Mereka berdua kembali berpelukan. Devan dan Gio pun tersenyum melihat interaksi keduanya.


"Raisa benar-benar beruntung," kata Gio menepuk bahu Devan.


"Iya. Raisa jatuh di tangan orang yang tepat," ucap Devan membenarkan.

__ADS_1


...****************...


Keesokannya, Devan, Oma Melani, Bu Dewi dan Gio masih tetap setia menunggu Raisa yang berada di ruang ICU.


Mereka hanya mampu melihat Raisa dari kaca jendela. Banyak selang infus yang menghinggapi tubuh remaja cantik itu. Oma Melani dan Bu Dewi tak henti-hentinya saling menguatkan satu sama lainnya.


"Permisi, Dok. Bagaimana kondisi adik saya?" tanya Devan begitu Dokter Citra selesai memeriksa Raisa.


"Syukurlah, kondisi pasien sudah lebih baik. Tekanan darahnya juga sudah stabil," jawab Dokter Citra.


"Syukurlah," ucap Devan lega.


"Oh, ya, kalau boleh tahu, Raisa kapan dioperasinya, Dok?" Gio menimpali.


"Seharusnya pukul tiga sore. Namun, karena tekanan darah dan kondisinya sudah stabil. Maka operasi akan dilakukan pukul sepuluh," jawab Dokter Citra.


"Baik, Dok. Terima kasih."


Setelahnya, Dokter Citra berlalu.


"Makan dulu, Bi, Oma," ajak Devan pada kedua wanita paruh baya itu.


Mereka berdua kompak menggeleng.


"Raisa pasti belum makan," kata Oma Melani.


"Bibi mau nunggu Raisa saja," ujar Bu Dewi.


Devan menghela napas pelan. Mau dipaksa bagaimana pun juga, keduanya tetap tidak mau makan.


...****************...


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Raisa sudah dibawa keluar dari ruang ICU menuju ruang operasi. Sebelum dibawa, Devan sempat melihat wajah pucat milik adiknya.


"El, kamu yang kuat, ya. Kakak selalu ada di sini," batin Devan memegang tangan dingin milik adiknya.


"Kita semua ada di sini," ucap Devan dalam hatinya seraya mengecup puncak kepala adiknya.


Jajaran suster berbaju hijau berlalu mendorong bangkar milik Raisa menuju ruang operasi.


Kini, lampu operasi sudah menyala. Devan, Gio, Bu Dewi, dan Oma Melani tak henti-hentinya memanjatkan doa menunggu di depan ruang operasi.


Detik demi detik berlalu. Menit demi menit hingga berubah menjadi jam. Namun, lampu belum juga mati. Artinya, operasi masih berlangsung.


"Detak jantung pasien semakin melemah," ucap salah satu suster.


"Segera ambil tindakan!" titah Dokter Citra.


Dokter Citra bersama dengan tenaga medis yang lainnya berusaha keras untuk menormalkan detak jantung Raisa yang kian melemah.


Tak lama kemudian, lampu pun sudah mati. Devan yang menyadarinya sedikit merasa lega. Gio pun merasakan hal yang sama.


"Thank God," batin Gio.


Dokter Citra keluar dari ruang operasi dengan beberapa peluh di dahi. Dokter Citra tampak muram begitu keluar dari ruang operasi. Apa yang terjadi?


"Bagaimana kondisi adik saya, Dok?" tanya Devan tak sabaran.


"Operasinya berjalab lancarkan, Dok?" Gio juga bertanya.


Bu Dewi dan Oma Melani juga ikut berdiri menghampiri Dokter Citra.


Sebelum menjawab. Dokter Citra tampak menghela napas pelan.

__ADS_1


"Operasi tumor otak yang dijalani pasien ...


__ADS_2