Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
DITUNJUK OLIMPIADE


__ADS_3

Hari ini seluruh siswa-siswi SMA Merak Merdeka 2 mulai kembali ke sekolah. Raisa sudah siap dengan seragamnya dan akan diantar oleh sopir.


"Belajar yang rajin, ya, Nak," ujar Bu Dewi saat Raisa mencium punggung tangannya.


"Siap, Bu," jawab Raisa.


"Oma di mana?" tanya Raisa yang sedari tadi tidak melihat Oma Melani.


"Tadi pagi-pagi Oma sudah pergi. Katanya ada urusan," jawab Bu Dewi.


"Oalah, ya sudah, kalau gitu Raisa berangkat dulu, ya, Bu," ucap Raisa.


"Iya."


Mobil yang dikendarai oleh Raisa pun mulai meninggalkan area rumah mewah keluarga Isa.


Raisa.


Kak, Raisa berangkat sekolah dulu, ya. Kakak semangat kerjanya.


Setelah menuliskan pesan kepada kakaknya. Raisa kembali fokus menatap jalanan yang terlihat semakin ramai.


Tiga puluh menit perjalanan, kini Raisa telah sampai di sekolahnya dengan selamat.


"Nanti tolong jemput Raisa pukul 15.30, ya, Pak," tutur Raisa sebelum keluar dari mobil.


"Siap, Neng," sahut Pak Sopir.


"Terima kasih," kata Raisa seraya keluar dari dalam mobil.


"Sama-sama," kata Pak Sopir yang sudah tidak dapat di dengar oleh Raisa.


Dara muda kesayangan Devan itu sudah berlalu menjauh memasuki sekolahnya. Meski banyak pasang mata yang kaget melihat perubahan Raisa. Namun, beberapa dari mereka sudah menganggap wajar karena memang Raisa adalah putri dari pemilik Isa Grup.


"Ga nyangka, ya. Ternyata saingan Audy berat juga."


"Iya, ya. Mana mereka udah jadian. Lihat aja postingan Rasya waktu tahun baru."


"Ga nyangka deh. Rasya bisa bucin juga."


"Hmm … Isa Grup sama Setya Grup bisa kerja sama nih."


"Benar-benar tuh. Kira-kira nasib Audy kaya gimana, ya?"


"Stress berat mungkin."


"Hahaha."


Sepanjang koridor sekolah, Raisa mendengar bisik-bisik tentang dirinya, Rasya, dan Audy. Memangnya ada apa? Sejak kemarin, Raisa memang tak membuka media sosialnya.


Bahkan ia sibuk untuk belajar mempersiapkan semester dua atau sering disebut semester kenaikan. Bodo amat dengan berita-berita tak penting itu. Raisa meneruskan jalannya dan langsung memasuki ruang kelasnya.


"Rai," panggil Vina.


"Hmm," sahut Raisa sibuk dengan buku di hadapannya.


"Selamat, ya," ucap Vina.


"Selamat?" beo Raisa menoleh pada lawan bicaranya.


"Lu udah jadian kan sama Kak Rasya?" tanya Vina dengan mata berbinar.


"Jadian?" ulang Raisa semakin tak paham.


"Iya. Lu jadian sama Kak Rasya pas tahun baru, kan?" tanya Vina lagi.


"Hah, apa sih?" tanya Raisa balik.


"Ish … Lucu deh, masa ga dianggap sih," kesal Vina.


"Postingan Kak Rasya aja sweet banget," ujar Vina.


"Postingan apa?" tanya Raisa bingung.


"Lihat aja di Instagram-nya Kak Rasya," jawab Vina.

__ADS_1


Raisa segera mengambil HP-nya dan membuka aplikasi Instagram. Ia dan Rasya memang saling follow beberapa minggu yang lalu. Namun, jujur untuk postingan apa pun itu Raisa tidak tahu.


"What?" pekik Raisa dalam hatinya.


Mata Raisa seketika melebar saat melihat fotonya yang sedang asyik bermain kembang api. Bahkan Rasya mempostingnya dengan caption yang romantis.


"Parah-parah," batin Raisa.


"1.967 like, 10 comments," Raisa membacanya dalam hati.


"Sweet banget sih," ujar Vina lagi.


"Haha, iya," sahut Raisa tertawa kikuk.


"Sekali lagi selamat, ya, Rai," kata Vina mengulurkan tanganya.


"Ha?"


"Oh, hehe, iya," seru Raisa menerima uluran tangan Vina.


"Awas aja lu, Sya!" gerutu Raisa dalam hatinya.


...****************...


Raisa enggan keluar dari dalam kelasnya. Ia lebih memilih untuk berdiam diri di kelas karena merasa risih dengan tatapan orang-orang. Raisa ingin agar hari ini segera berlalu dan kembali pulang. Atau kalau tidak begitu, ingin sekali ia mengumpati Rasya habis-habisan.


"Rai, lu tadi dicariin Bu Gita tuh," ucap Nita yang baru saja memasuki kelas.


"Bu Gita?" gumam Raisa.


"Ada apa?" tanya Raisa.


"Ga tahu, katanya disuruh menemui Bu Gita di ruang guru," jawab Nita.


"Oh oke. Thank, Nit," kata Raisa beranjak dari duduknya.


Jujur, ia malas. Namun, karena ini adalah panggilan dari Bu Gita, guru Matematika di kelasnya yang super galak. Jadi ia menurut saja untuk ke ruang guru.


"Perasaan tugas gua juga udah selesai," kesal Raisa seraya berjalan ke ruang guru.


"Kemarin libur juga ga ada tugas tuh. Emang dasar guru nyebelin," umpatnya sepanjang berjalan di koridor menuju ruang guru.


"Mau cari siapa, Nak?" tanya guru yang mejanya dekat dengan pintu.


"Mau cari Bu Gita, Bu," jawab Raisa berusaha untuk ramah.


"Oh, Rai. Sudah sampai ternyata," suara Bu Gita berjalan menghampiri Raisa.


"Mohon maaf, Bu. Ada perlu apa, ya Bu Gita memanggil saya?" tanya Raisa to the point.


"Baiknya kita bicara di ruang tamu saja," kata Bu Gita menggiring Raisa ke ruang tamu.


"Duduk, Rai," titah Bu Gita saat sampai di ruang tamu.


"Terima kasih," ujar Raisa.


"Begini, Rai. Karena bulan depan ada OSN Matematika tingkat nasional. Jadi, ibu ingin kamu yang mewakili sekolah kita," jelas Bu Gita.


"Saya, Bu?" tanya Raisa menunjuk dirinya.


"Iya," jawab Bu Gita menganggukkan kepalanya.


"Kenapa harus saya, Bu?" tanya Raisa.


"Karena kamu ibu anggap mampu, Rai," jawab Bu Gita mantap.


"Mengapa tidak kakak kelas saja, Bu? Yang lebih baik," ucap Raisa.


"Kamu ini banyak tanya sekali!" hardik Bu Gita.


Raisa kicep seketika saat mendengar nada tegas dari Bu Gita.


"Duh, salah ngomong gua," rutuk Raisa dalam hatinya.


"Pokoknya bulan depan kamu yang mewakili sekolah titik!" tegas Bu Gita.

__ADS_1


"B-baik, Bu," jawab Raisa menundukkan kepalanya.


"Dan mulai besok kamu harus latihan. Pulang jam lima sore," imbuh Bu Gita.


"Iya, Bu," tanggap Raisa tanpa melihat Bu Gita.


"Kalau begitu kamu bisa kembali," kata Bu Gita beranjak meninggalkan Raisa.


"Huh, pemaksaan!" kesal Raisa berjalan kembali ke kelasnya.



"Raisa," panggil Rasya saat melihat Raisa berjalan menuju gerbang.


"Mau pulang bareng?" tawar Rasya.


"Ga!" jawab Raisa dengan nada ketus.


"Kenapa?" tanya Rasya menaikkan satu alisnya.


"Gua udah dijemput," jawab Raisa masih dengan nada yang sama.


"Mana? Ga ada gitu kok," kata Rasya celingukan mencari mobil yang suda ia hafal.


"Lagi otw," jawab Raisa.


"Kenapa sih, hmm?" tanya Rasya mencoba mengerti suasana hati Raisa.



"Postingan lu!" jawab Raisa.


"Why?" tanya Rasya tanpa rasa bersalah.


"Why, lu bilang?" ulang Raisa.


"Mereka pada berasumsi gua sama lu jadian!" sentak Raisa.


"Bagus dong!" ucap Rasya.


"Terserah lu deh!" kata Raisa berlalu meninggalkan Rasya.


"Haha, so cute," gumam Rasya menggelengkan kepalanya.


"Rai, wait me!" seru Rasya.


"Gua dengar lu ditunjuk olimpiade, ya?" tanya Rasya sembari menyamakan langkahnya dengan Raisa.


"Hmm," jawab Raisa.


"Aduh, keren banget sih cewek aku!" gemas Rasya mencubit pipi Raisa.


"Gua bukan pacar lu!" hardik Raisa.


"Calon," interupsi Rasya.


"Semangat, ya. Gua yakin lu bisa!" ujar Rasya memberikan kepalan tangannya di udara seolah memberi semangat.


"Hmm," sahut Raisa kembali melanjutkan langkahnya.


"Eh kok ditinggal?" kesal Rasya kembali menyusul Raisa.


"Sopir gua udah di depan," kata Raisa saat melihat Pak Sopir-nya sudah menunggu.


"Oh, oke. Hati-hati," kata Rasya.


"Yang harusnya hati-hati itu, lu, sama sopir gua. Bukan gua!" kesal Raisa.


"Ya lu juga, siapa tahu ntar lu mau masuk tapi lupa buka pintu jadi nabrak," jelas Rasya.


"Garing!" seru Raisa langsung memasuki mobilnya.


"See you honey," pekik Rasya melambaikan tangannya.


"Bucin!" cibir Aldo menoyor kepala Rasya.

__ADS_1


"Friend zone bangga!" timpal Revan.


"Berisik!" sentak Rasya berlalu meninggalkan kedua temannya.


__ADS_2