
Devan dan Gio saat ini tengah berada di dalam kantor PT. Permata Tambang milik Opa Fernan, Opa Devan yang sudah diwariskan kepada Devan. Gio dan Devan tampak fokus memperhatikan layar monitor di depan mereka.
Saat ini, kedua pemuda itu sedang mengamati rekaman CCTV beberapa minggu yang lalu. Mereka berdua mengamati gerak-gerik penyusup dari Setya Grup yang sedang mencoba mencurangi pabrik.
"Trik bodoh," cibir Devan saat melihat aksi si penyusup.
"Mainnya kurang bersih," timpal Gio.
"Siapa namanya?" tanya Devan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Derry. Namanya Derry," jawab Gio.
"Dia dulu karyawan di sini. Emang sih dia jarang berangkat bahkan tak pernah lembur. Well sekarang terbukti kalau dia emang ga benar," jelas Gio.
"Oh," Devan ber-oh ria.
"Sekarang dia gimana kabarnya?" tanya Devan seakan penasaran dengan sang mantan pegawai.
"Kabarnya sih dia udah dipecat sama Andra. Mungkin sekarang lagi dionclang abis-abisan sama Albert. Hahaha," kata Gio dengan tawa renyah di akhir kalimatnya.
"Hahaha," Devan pun menyahuti perkataan Gio dengan tawanya.
"HEH!" sentak seorang lelaki seusia mereka yang asal memasuki ruangan VVIP pemilik perusahaan.
"Ketawa ga ngajak-ngajak," gerutunya sembari berkacak pinggang di depan pintu.
Lelaki itu tanpa permisi main asal duduk di salah satu sofa di dalam ruangan.
"Katanya lu sibuk," sahut Gio pada lelaki yang tak lain adalah sahabatnya dengan Devan. Andra. Ya, Andra lah yang tadi memasuki ruangan Devan tanpa permisi.
"Ya elah. Sesibuk-sibuknya gua kalau sama kalian mana ada kata sibuk," kata Andra masih dengan muka setengah kesalnya.
"Gimana tadi?" tanya Devan.
"Gimana apanya?" tanya Andra balik.
"Lah bukannya kata resepsionis lu lagi ada tamu," jawab Devan.
"Tamu?" beo Andra.
"Dasar pikun," cibir Gio melemparkan salah satu polpen yang ada di meja kepada Andra.
"Sialan," kesal Andra saat polpen yang dilempar Gio mengenai jidatnya.
"Menurut gua enggak tamu sih," kata Andra menjawab pertanyaan Devan.
"Bukan tamu maksud lu?" tanya Gio menyahuti.
"Derry," jawab Andra malas.
"Derry?" ulang Devan dan Gio.
Andra hanya menyahuti dengan anggukan kepalanya.
"Ngapain tu anak?" tanya Gio.
"Mau minta sumbangan kali," timpal Devan.
"Hahahaha," tawa ketiga pemuda itu pun menggema di ruangan. Untung saja ruangan itu kedap suara. Jadi, tidak akan didengar oleh orang yang berlalu lalang atau pun yang berada di luar ruangan.
"Tapi bener, Van," kata Andra setelah selesai dengan urusan tawanya.
__ADS_1
Ketiga pemuda yang terkenal dingin semasa kuliah dulu. Nyatanya adalah pemuda yang receh dan bisa dibilang cukup absurd.
Saat berkumpul, mereka bertiga akan ketahuan sifat aslinya. Seperti sekarang ini. Ketiga pemuda yang sudah sibuk selama dua tahun terakhir tidak bertemu. Kehangatan di antara ketiganya pun tetap sama.
"Terus lu gimana?" tanya Devan.
"Gua bilang aja kalau gua bukan bos yang bisa memutuskan. So, kalau lu mau balik ngomong langsung sama atasan," jawab Andra.
"Dia sih kayanya ragu. Cuma ga tahu dah gimana," imbuhnya.
"We'll see," kata Devan.
***Tok
Tok
Tok***
Suara pintu ruangan Devan diketuk. Ketiga pemuda tadi pun saling menaikkan alisnya bingung dengan siapa yang datang.
"Ekhem," Devan berdehem dan kembali ke mode cool -nya.
"Masuk!" sahut Devan setelah kedua sahabatnya juga ke setelan pabriknya.
"Maaf, Pak Devan, Pak Gio, dan Pak Andra. Di luar ada tamu ingin bertemu Pak Devan," kata pegawai yang tadi mengetuk pintu ruangan Devan.
"Siapa?" tanya Devan dengan nada datar.
"Pak Derry, Pak," jawabnya.
"Derry?" ulang Devan.
"**S**epertinya permainan akan menarik," batin Devan.
"Baik, Pak," jawab pegawai tadi.
"Kalau begitu saya permisi," pamitnya meninggalkan ruangan Devan.
Sepeninggalan pegawai tadi, Andra dan Gio menatap heran kepada Devan yang sedang menyunggingkan senyun tipisnya.
Mereka seakan menuntut penjelasan akan apa yang baru saja Devan katakan kepada pegawai yang memberi tahu keberadaan Derry.
"Kebal juga tu anak," kata Andra.
"Maksud lu mau nerima dia lagi, Van?" tanya Gio.
"Maybe yes, maybe no," jawab Devan beranjak dari duduknya.
"Let's start this game," gumam Devan yang dapat didengar oleh kedua sahabatnya.
"Gua ikut," seru Gio juga mengikuti langkah Devan keluar ruangan.
"Lah gua ditinggal," kesal Andra saat melihat kedua sahabatnya keluar ruangan.
"Ikut ajalah," ucap Andra juga mengikuti kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu keluar ruangan.
Saat ini, ketiga pemuda itu sudah berada di ruang tamu perusahaan. Begitu mereka memasuki ruangan, sudah ada Derry yang duduk seraya menundukkan kepalanya. Aura mengintimidasi yang keluar dari Devan begitu terasa saat dirinya menatap Derry meski hanya sejenak. Sedangkan Gio hanya menoleh sebentar tak minat untuk menanggapi.
"Sebelumnya saya mohon maaf Pak Devan," ucap Derry dengan suara sedikit bergetar.
"Maaf?" ulang Devan.
__ADS_1
"Maaf atas kesalahan yang sudah saya lakukan. Saya mengaku salah karena sudah mencoba mencurangi pabrik," jelas Derry.
Devan menyunggingkan senyum tipisnya.
"Saya tidak tahu apa-apa," sahut Devan.
"Urusan pabrik sudah saya serahkan kepada Andra, sahabat saya," imbuh Devan.
Derry menatap ketiga pemuda yang sedang menampakkan raut wajah yang tak bersahabat. Di ruangan yang terbilang cukup dingin itu, nyatanya membuat Derry berkeringat karena takut.
"Maksud dari kedatangan saya ke sini adalah untuk meminta maaf," kata Derry menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke perusahaan.
"Saya mohon kepada Pak Devan untuk kembali memperkejakan saya. Jika saya tidak bekerja di sini, lalu bagaimana saya akan menghidupi keluarga saya?" jelas Derry.
"Menerimamu lagi?" tanya Gio.
"Mimpi," imbuh Gio.
"Gi," tegur Devan dengan nada dingin.
"Baik. Saya akan menerimamu lagi di sini," ucap Devan yang membuat terkejut orang-orang yang berada di sana.
"Van," panggil Andra dan Gio bersamaan.
"Tapi dengan satu syarat."
Mendengar perkataan Devan tersebut, wajah Derry yang semula senang kini berubah menjadi pias.
"Apa syaratnya, Pak?" tanya Derry.
"Kamu harus membantu Andra dan Gio untuk membangkitkan Isa Grup kembali," jawab Devan tegas.
"Juga membantu menyelidiki tentang Setya Grup," sambung Devan.
Deg.
Derry bagai simalakama begitu mendengar penuturan Devan. Bagaimana bisa? Sedangkan ia saja kembali ke PT. Permata karena perintah Albert. Sungguh konyol sekali bukan?
"Bagaimana?" tanya Devan seakan menantang.
"Saya akan pikir-pikir dulu, Pak. Kalau begitu saya permisi," sahut Derry keluar dari ruangan.
"Haha," tawa Devan pecah ketika melihat Derry terburu-buru keluar ruangan.
"Good job," kata Andra memuji sahabatnya.
"Gua udah baik dengan sedikit melunak. Tapi dia sia-siakan. Ya sudah," kata Devan dengan seulas senyumnya.
"Mau ke mana lu?" tanya Gio saat melihat Devan berjalan keluar ruangan.
"*Caf*e," jawab Devan seraya berjalan keluar.
Andra dan Gio pun memilih untuk mengikuti Devan yang ingin pergi ke Melody Cafe. Mereka akan melaksanakan makan siang di sana.
...****************...
"Di mana Raisa?" tanya Devan begitu sampai di Melody Cafe.
"Ini baru jam dua siang, Kak. Raisa akan ke cafe pukul empat atau lima sore sepulang sekolah," jawab Ina, karyawan Melody Cafe.
"Oh."
__ADS_1
Devan sedikit kecewa karena tidak dapat bertemu dengan Raisa. Ia pun menyantap makan siangnya dengan kurang bersemangat.
Selesai dengan urusan makan siangnya, Devan memutuskan untuk menetap di Melody Cafe saja. Sedangkan Andra kembali ke perusahaan. Lalu, Gio kembali ke ruangannya bersama Devan untuk mengechek laporan harian.