
Seperti yang sudah diperintahkan oleh Devan, Gio sekarang ini sedang mengantarkan Raisa untuk pulang ke rumahnya. Devan dan Gio selalu mengantar Raisa dengan selamat sampai di rumahnya.
"Van, lu besok mau balik?" tanya Gio di sela-sela mengemudi.
"Hmm, maybe," sahut Devan yang sedang memejamkan matanya.
"Gua antar jam berapa?" tanya Gio.
"Sore aja, Bro," jawab Devan.
"Oke."
Tak lama kemudian, mobil Gio sudah sampai di halaman rumah Raisa.
"Udah sampai, Rai," ucap Gio pada Raisa yang sedang melamun di jok belakang.
"Kak Devan mau balik?" tanya Raisa dalam hatinya.
"Baru juga lima hari bareng, udah mau balik aja," kata Raisa dalam hatinya.
"Kak Devan juga belum tahu kan, kalau gua adiknya?"
"Rai," panggil Gio.
"Hah, apa, Kak?" tanya Raisa tersadar dari lamunannya.
"Sudah sampai, ya?" tanya Raisa saat melihat ibunya sudah menunggu di depan pintu.
"Iya," jawab Gio.
"Maaf, ya, Kak. Tadi Raisa melamun," ucap Raisa merasa tak enak.
Raisa pun turun dari mobil. "Terima kasih, Kak," katanya.
"Sama-sama," ucap Gio.
Raisa segera menghampiri ibunya. Begitu pula dengan Gio yang langsung melesatkan mobilnya menuju rumah sahabatnya, Devan.
"Ibu, Raisa pulang," ucap Raisa langsung memeluk ibunya sedang menunggunya di depan pintu.
"Aduh, anak ibu sudah besar," ucap Bu Dewi seraya mengelus punggung Raisa.
Ternyata, Raisa jauh lebih tinggi dari Bu Dewi. Mungkin itu turunan dari mama dan papa Raisa.
"Ya sudah kamu masuk dulu, ya. Sudah malam, kamu pasti capek," kata Bu Dewi mengurai pelukannya.
"Iya, Bu."
"Eh, Bu," Raisa berbalik setelah beberapa langkah masuk ke dalam rumah.
"Apa?" tanya Bu Dewi.
"Besok Kak Devan mau balik ke New York," jawab Raisa.
"Kok cepat sekali," kata Bu Dewi mengerutkan dahinya.
"Enggak tahu," jawab Raisa berlalu masuk ke kamarnya.
Bu Dewi masih diam di depan pintu.
"Devan belum tahu kalau Raisa adalah adiknya."
"Sedangkan dia, sudah akan kembali lagi ke New York?" Bu Dewi mulai gelisah setelah mendengar perkataan Raisa.
"Bagaimana ini?" Bu Dewi bertanya-tanya dalam hatinya.
"Aku harus mencegahnya agar tidak kembali ke New York dengan tangan kosong," batin Bu Dewi.
"Pasti Nyonya Melani masih hidup dan mencari cucunya. Pasti juga kedatangan Devan ke Indonesia untuk mencari tahu adiknya," kata Bu Dewi dalam hatinya.
"Sudah cukup aku menyimpan semuanya," ucap Bu Dewi.
"Kasihan Bu Medina, pasti ia tidak tenang," kata Bu Dewi sembari masuk ke dalam rumah.
Malam panjang, Raisa lalui dengan tertidur lelap. Ia tak lagi pusing memikirkan ulangan harian. Selama seminggu ke depan, kelasnya akan free tanpa ulangan.
Berbeda dengan Raisa, Bu Dewi malahan melalui malam panjang dengan gelisah. Ia mencoba untuk tertidur tetapi tidak bisa. Ia berbaring ke sana-kemarin namun tetap saja. Matanya tidak mau terpejam.
"Aku harap ini cepat pagi agar aku bisa segera menemui Den Devan," ucap Bu Dewi masih mencoba untuk tertidur.
...****************...
Pagi-pagi buta, Bu Dewi sudah rapi untuk pergi ke rumah Devan. Raisa juga masih terlelap.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pergi sekarang," ucap Bu Dewi saat melihat jam sudah pukul setengah enam.
Sepersekian detik Bu Dewi meninggalkan rumah, Raisa juga sudah terbangun.
Bu Dewi terus berjalan sampai di perempatan gang. Di sana biasanya Raisa mencegat angkot untuk ke sekolah.
Jarak antara rumah Bu Dewi dan rumah Devan cukup jauh. Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuknya sampai.
Ketika Bu Dewi sampai di depan gerbang sebuah rumah yang mewah. Bu Dewi seakan bernostalgia mengenang masa kerjanya dulu.
"Rumah ini," gumam Bu Dewi.
"Semoga memang ini yang terbaik," kata Bu Dewi seraya memencet bel di pintu gerbang.
Tak lama kemudian, pintu gerbang terbuka secara otomatis karena sang pemilik rumah juga sedang keluar.
Tin
Suara klakson mobil Gio menyapa Bu Dewi.
"Mau cari siapa, Bu?" tanya Gio.
"Anu, Den. Mau bertemu Den Devan," jawab Bu Dewi.
"Devan?" ulang Gio.
Bu Dewi mengangguk. Devan yang berada di sebelah Gio pun menoleh. Sekilas ingatan Devan berbalik pada kenangan dua puluh tahun yang lalu.
Devan mencoba mengingat siapa wanita yang kira-kira berusia lima puluh tahun itu.
"Maaf, Den. Saya ibunya Raisa," ucap Bu Dewi memperkenalkan diri.
"Saya Bu Dewi," lanjut Bu Dewi.
Devan seketika ingat dengan nama itu.
"Bi Dewi?" ulang Devan.
"Iya, Den. Ini bibi," ucap Bu Dewi menganggukkan kepalanya.
Devan segera turun dari mobil. Menyalami tangan Bu Dewi yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Bibi apa kabar?" tanya Devan.
"Aden sendiri bagaimana?" tanya Bu Dewi.
"Sudah lama tidak bertemu. Den Devan tambah tampan saja," puji Bu Dewi meraba-raba raut wajah tampan milik Devan.
"Baik juga, Bi," jawab Devan.
"Bibi masih hidup ternyata," kata Devan senang.
"Masih, Den. Bibi masih selamat," kata Bu Dewi.
"Tuhan Maha Baik. Bibi selamat bersama adik kamu," ujar Bu Dewi.
"Adik aku?" beo Devan mengercitkan dahinya.
"Iya, Den. Isael masih hidup," jawab Bu Dewi antusias.
"Isael? Dia masih hidup?" ulang Devan tidak percaya.
Bu Dewi menganggukkan kepalanya. Gio yang masih berada di dalam mobil pun juga ikut turun saat mendengar mereka berdua sedang membahas Isael.
"Isael masih hidup, Gi," kata Devan pada sahabatnya itu.
"Isael di mana, Bi?" tanya Devan tak sabaran.
Sebelum menjawab, tiba-tiba saja HP Gio berbunyi.
"Sebentar," ucap Gio merogoh HP di saku jasnya.
"Halo," sapa Gio pada penelepon di seberang sana.
"Halo, Pak Gio, mohon maaf saya hanya mengabarkan bahwa penerbangan Pak Devan dimajukan pukul sepuluh pagi," kata si penelepon.
"Apa? Kenapa bisa begitu?" tanya Gio seakan tak terima.
"Penerbangan diajukan karena kepentingan komersil, Pak. Jika sampai sore maka dikhawatirkan akan banyak kendala. Mengingat cuaca pagi ini agak mendung," jelas si penelepon.
"Oke kalau begitu," kata Gio mengakhiri sambungan teleponnya.
"Ada apa?" tanya Devan.
__ADS_1
"Penerbangan pukul sepuluh," jawab Gio.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Devan juga terkejut.
"Ga tahu gua," jawab Gio juga bingung.
"Udah jam sembilan otw sekarang," ucap Gio mengingatkan.
"Tunggu!" cegah Bu Dewi.
"Ada apa, Bi? Devan harus segera kembali," kata Devan.
"Bibi belum selesai bicara. Isael sekarang berada di rumah bibi," jawab Bu Dewi.
"Apa?" tanya Devan terkejut.
"Raisa Isabella, pegawai Melody Cafe adalah Isael, Nak," ucap Bu Dewi.
Devan seketika terkejut mendengar penuturan Bu Dewi. Bagaimana bisa?
...****************...
Di lain tempat, Raisa sedang mencoba menghentikan angkutan umum untuk segera pulang. Tadi, saat jam pembelajaran, tiba-tiba saja HP-nya berbunyi, ibunya menyuruh Raisa agar segera pulang dan langsung menuju bandara Soekarno-Hatta sebelum pukul sepuluh.
Raisa langsung menaiki angkutan umum yang ia dapatkan dan segera menuju pangkalan ojek untuk mengantarkannya ke bandara.
"Kenapa harus ke bandara sih?" tanya Raisa.
"Ada apa, ibu mau ke mana?" tanya Raisa lagi.
"Kak Devan bukannya penerbangannya pukul tiga sore?"
"Pak bisa cepat tidak?" tanya Raisa pada tukang ojek yang memboncengkannya.
"Saya usahakan, Neng," sahut pak tukang ojek.
Raisa semakin gelisah karena jarak bandara masih beberapa ratus meter lagi. Sedangkan jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
"Terima kasih, Pak," ucap Raisa menyerahkan helm dan uang lima puluh ribu kepada bapak tukang ojek.
"Kembaliannya, Neng!" seru pak tukang ojek saat melihat Raisa sudah lari masuk ke bandara.
Sesampainya di tempat yang tadi dikirimkan oleh ibunya. Raisa melihat ada Devan dan juga ibunya.
"Isael," ucap Devan langsung menghambur ke pelukan adiknya.
Raisa sangat terkejut akan hal itu. Ia tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Mendengar nama yang disebutkan Devan tadi. Kepala Raisa sedikit terasa pusing.
"Adiknya Devan sudah kembali," ucap Devan menitikkan air mata di pelukan Raisa.
Raisa mengurai pelukan. Menatap manik mata Devan yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.
"Bu, ada apa ini?" tanya Raisa.
Tadi, begitu Devan tahu kalau Raisa adalah adiknya, ia segera menyuruh Bu Dewi untuk menghubunginya dan menyuruh Raisa menyusul ke bandara. Devan ingin agar perjalanannya menuju New York lebih berkesan setelah bertemu adiknya.
Bu Dewi pun segera menyuruh Raisa untuk pulang dan menyusul ke bandara. Sekarang, mereka telah bertemu di bandara sebelum Devan kembali ke *New Yo*rk.
"Devan sudah tahu, Nak," ucap Bu Dewi menitikkan air matanya. Bu Dewi amat terharu karena telah berhasil mempertemukan Raisa dengan kakaknya. Meski sebenarnya ini belum waktunya.
"Kak Devan," panggil Raisa.
"Iya, El. Ini kakak," ucap Devan kembali memeluk Raisa.
Gio yang baru kembali dari toilet pun senang melihat adik kakak yang telah terpisah puluhan tahun akhirnya kembali lagi.
"Van, lu harus kembali sekarang!" ucap Gio mendengar panggilan pesawat Devan.
"Tunggu sebentar," sahut Devan.
"Kakak mau kembali?" tanya Raisa begitu Devan melepas pelukannya.
Devan mengangguk. "Kakak harus kembali," kata Devan sendu.
"Kamu jaga diri baik-baik, ya," kata Devan mengelus kepala adiknya.
"Kakak akan segera kembali," ucap Devan mulai melangkah menjauh dari area bandara.
Raisa melambaikan tangannya. "Bye," ucap Raisa saat Devan sudah masuk ke pesawatnya.
Devan tersenyum.
__ADS_1