
Perlahan, mata Raisa mulai terbuka. Ia melihat sekeliling yang tampak asing baginya.
"Kau sudah sadar?" tanya Devan menghampiri Raisa.
Raisa menganggukkan kepalanya.
"Di mana ini, Kak?" tanya Raisa.
"Di rumah sakit," jawab Devan.
"Rumah sakit?" beo Raisa tak paham.
"Tadi waktu di makam mama dan papa. Kamu mengaduh kesakitan, jadi kakak bawa kamu ke rumah sakit," jawab Devan memberi penjelasan.
"Terus ibu sama oma di mana?" tanya Raisa.
"Mereka baru saja diantar Gio untuk pulang. Kasihan mereka kalau berlama-lama di sini," jawab Devan.
"Ya sudah."
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Devan kepada Raisa.
"Tidak. Aku hanya ingin pulang," jawab Raisa.
"Kalau gitu kamu harus makan dulu. Mungkin nanti sore baru boleh pulang," ujar Devan berusaha membujuk adiknya untuk makan.
"Baiklah," ucap Raisa menerima suapan makan siangnya.
Devan dengan telaten menyuapi Raisa yang tampak lahap memakan makanan rumah sakit. Mungkin bagi Devan makanan itu tidak ada enak-enaknya sama sekali. Tetapi bagi Raisa, ia harus memakan makanan itu agar ia bisa lebih cepat sembuh dan pulang ke rumah.
"Excuse me!" ucap seseorang menasuki ruangan Raisa.
"Kak Gio," sapa Raisa saat melihat lelaki tampan itu memasuki ruangannya.
"Sudah sehat?" tanya Gio mendekati Raisa dan Devan.
"Sudah," jawab Raisa singkat.
"Kak Devan, sudah," kata Raisa menolak suapan Devan lagi.
Raisa sudah sangat kenyang oleh makanan yang masuk ke mulutnya. Tetapi Devan, malahan terus saja menyuapinya.
"Sekali lagi, ya," bujuk Devan menyodorkan sendok makan di depan mulut Raisa.
"Enggak mau!" jawab Raisa menggelengkan kepalanya.
"Ayo dong, katanya mau pulang," kata Devan.
"Sekali lagi, ya," ucap Devan terus membujuk Raisa.
__ADS_1
"Dari tadi juga begitu," kesal Raisa.
"Iyakah?" tanya Devan seakan mengelak.
"Iya, Raisa kan sudah kenyang," jawab Raisa menyingkirkan sendok yang masih ada di depan mulutnya.
"Ya sudah kalau begitu," Devan akhirnya mengalah. Meski sejujurnya, ia masih ingin menyuapi Raisa. Entah kenapa, bagi Devan memberikan perhatian-perhatian kecil kepada Raisa merupakan kebahagiaan tersendiri untuknya.
Devan selalu berusaha membahagiakan Raisa dengan apa pun yang ia bisa. Devan telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjaga Raisa dengan baik. Setelah sekian tahun dia absen untuk menjaga Raisa. Kali ini ia tidak akan membiarkan Raisa kesepian lagi.
Gio yang melihat bagaimana sahabatnya itu menjadi sosok kakak yang penuh perhatian dan kasih sayang. Tak kuasa untuk menahan senyum kegembiraannya. Gio merasa bahwa sosok Devan yang ia kenal tegas dan cuek. Ternyata memiliki perhatian yang luar biasa untuk orang-orang tersayangnya.
"Mau buah?" tanya Devan menawarkan buah apel yang ada di atas nakas.
"Tidak mau," jawab Raisa menolak.
"Ya sudah sekarang tidur, ya," perintah Devan.
"Nanti saja," jawab Raisa.
"Sekarang, El. Kamu harus istirahat," tutur Devan.
"Aku kan baru selesai makan. Kalau nanti tidur yang ada aku jadi gendut," kesal Raisa kepada kakaknya.
Gio yang mendengar penuturan Raisa pun tak tahan untuk tidak tertawa. Sedangkan Devan hanya mampu terkekeh kecil dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya," jawab Raisa.
"Pantas saja berubah galak," gumam Devan yang dapat didengar oleh Raisa.
"Kak Devan menyebalkan!" kesal Raisa melemparkan bantalnya kepada Devan.
"Tapi kamu sayangkan?" tanya Devan dengan senyum nakalnya.
"Enggak," jawab Raisa sarkas.
"Halah, jujur aja!" seru Devan.
"Enggak," kata Raisa lagi.
"Masa sih?" tanya Devan tak percaya.
"Kalau sama aku sayang ga?" tanya Gio tiba-tiba.
...****************...
Dilain tempat, Rasya sedang mencoba menangkan pikirannya sendiri. Entah apa yang membuat remaja tampan itu menjadi sedikit emosi.
"Kalian memang sama saja," gumam Rasya seraya merebahkan dirinya di atas kasur empuknya.
__ADS_1
"Selalu saja menomor duakan anak kalian satu-satunya hanya demi kesenangan kalian," kata Rasya mengatai kedua orang tuanya.
"Yang satu gila harta dan popularitas. Terus yang satunya gila dengan popularitas dan sorotan kamera," ucap Rasya saat mengingat bagaimana kedua orang tuanya itu.
"Baru juga pulang, sudah membuat keributan saja."
Kedua orang tua Rasya memang sedang berada di rumah. Jarang sekali orang tuanya itu bisa bertahan di rumah mewahnya itu. Di rumah mewah itu saja hanya tinggal dirinya seorang bersama penjaga dan beberapa pelayan.
Namun, entah angin mana yang membawa kedua orang tua Rasya untuk pulang ke rumah. Ibunya yang seorang model terkenal baru saja pulang dari Jepang setelah beberapa bulan tidak pulang. Sedangkan ayahnya, hanya pulang untuk tidur saja. Selebihnya, ayah Rasya habiskan untuk bekerja di kantor.
"Kamu ke mana saja baru pulang?" tanya Albert, ayah Rasya yang melihat istrinya baru pulang ke rumah.
"Tentu saja mencari uang dan kesenangan," jawab Dara, ibu Rasya dengan santainya.
"Apa uang yang aku kasih belum cukup?" tanya Albert dengan nada sedikit tinggi.
"Uang yang kau beri memang lebih dari cukup. Tapi kamu tidak pernah memberikan waktu luang untuk kita berdua," jawab Dara.
"Jadi, jangan salahkan aku karena aku mencari kesenangan lain dengan profesiku," ujar Dara yang membuat Albert naik pitam.
"Kamu jadi istri tidak pernah mau nurut sama suami," tegas Albert.
"Apa kamu lupa kewajibanmu sebagai istri dan ibu di rumah ini, hah?" tanya Albert sudah emosi.
"Aku tidak lupa," jawab Dara juga tak kalah emosi.
"Sebagai istri seharusnya kau melayani suamimu. Bukan melayani media yang menyorotmu atau bahkan lensa kamera yang dengan bebas memotret lekuk tubuhmu!" sentak Albert.
"Lalu, bagaimana dengan kau?" tanya Dara balik.
"Sebagai suami seharusnya kau bisa menjaga dan menyenangkan istrimu ini. Tapi apa? Kau selalu sibuk dengan dunia pekerjaanmu sendiri!" hardik Dara.
"Aku tidak akan kembali ke dunia permodelan kalau kau juga tidak terlalu sibuk dengan dunia bisnismu!" tegas Dara.
"Aku merasa kesepian dan akhirnya kembali menekuni profesiku yang sudah lama aku tinggal sejak Rasya lahir," imbuh Dara.
"Jika kau merasa kesepian, seharusnya kau sadar. Kalau kau masih punya Rasya yang selalu membutuhkanmu," ucap Albert.
"Rasya memang membutuhkanku. Tapi Rasya juga membutuhkanmu," kata Dara.
"Sudahlah, aku capek mau istirahat. Besok aku akan pergi Paris untuk mengikuti festival fashion," ucap Dara berlalu meninggalkan Albert di ruang tamu.
"Hah," kesal Albert mengacak rambutnya sendiri.
Rasya yang melihat dan mendengar pertengkaran kedua orang tuanya itu pun kembali ke kamarnya. Ia merasa bahwa kehadirannya hanyalah parasit untuk kesibukan kedua orang tuanya.
Sejak berusia SD, Rasya sudah sering ditinggal oleh mama dan juga papanya untuk bekerja. Jika ayahnya masih bisa ia temui setiap hari. Berbeda hal dengan ibunya yang jarang ia temui.
Rasya berpikir bahwa dirinya selalu dinomor duakan oleh kedua orang tuanya. Pekerjaan dan juga popularitas adalah yang utama bagi kedua orang tua kandungnya itu.
__ADS_1