Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
PINDAH


__ADS_3

Devan membaringkan Raisa di tempat tidurnya. Kamar Raisa memang sudah direnovasi beberapa waktu lalu. Kini, sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Tidur yang nyenyak kesayanganku," kata Devan seraya mengecup kening adiknya.


Devan pun berlalu menyusul Gio yang sudah berada di kamarnya.


"Lu mau ngomong apaan?" tanya Gio pada Devan yang sedang merebahkan diri di sampingnya.


"Isa Grup," jawab Devan dengan mata terpejam.


Gio menautkan kedua alisnya karena bingung. Mengapa tiba-tiba sahabatnya itu membahas perusahaan orang tuanya yang sudah bangkrut?


"Gua mau bangun Isa Grup lagi," kata Devan yang paham akan bungkamnya Gio.


"Lu yakin?" tanya Gio ragu.


"Yakin. Gua mau usaha bokap maju lagi," jawab Devan.


"Lu udah tahu seluk-beluknya gimana?" tanya Gio yang mengubah posisinya menjadi menghadap Devan.


"Belum sepenuhnya sih. Tapi coba besok gua mau selidiki dulu, sama Andra dan Raisa juga," kata Devan.


"Raisa?" beo Gio seolah tak percaya.


"Dia adik gua, seharusnya dia juga ikut ambil bagian bukan?" Devan bertanya.


"Iya juga sih."


"Gua pengen Raisa juga tinggal di sini," kata Devan mengutarakan keinginannya.


"Emang Raisa mau?" Gio justru balik bertanya.


"Nanti juga mau," jawab Devan santai.


"Gua mau jaga dia, Gi. Udah lama gua mengharap dia kembali. Now, she is comeback to me. Jadi, gua harus tepati janji gua sama nyokap," kata Devan.


"Sip-sip. Gua dukung," kata Gio beranjak dari tidurnya.


"Mau ke mana lu?" tanya Devan.


"Ganti baju," jawab Gio seraya berjalan ke arah lemari Devan.


"Baju lu mana sih?" tanya Gio saat tak menemukan kaos yang pas untuknya.


"Lemari satunya," jawab Devan.


Setelah menemukan kaos yang pas untuknya, Gio segera mengganti baju kerjanya dengan kaos polos milik Devan. Devan pun tampak sudah terlelap bersama baju kerjanya.


Tak menunggu lama, Gio juga ikut beristirahat di samping sahabatnya itu.


...****************...


Keesokannya, Raisa terbangun karena sinar matahari di ufuk timur mulai merambah lewat sela-sela jendela.


Raisa menggeliat dan mulai mengerjapkan matanya guna memperjelas penglihatannya.


"Astaga," kagetnya begitu terbangun.


"Kamar siapa ini?" tanya Raisa melihat ke sekeliling kamar.


"Shh ... Pusing," ringisnya saat melihat kamar yang ditempatinya.


"Kamarku dulu?" monolog Raisa.


"Semalam aku memang bilang mau pulang ke sini sih," gumam Raisa.


"Mandi dulu kali, ya," kata Raisa beranjak dari tidurnya.


Dara muda itu mulai membersihkan diri di kamar mandi. Kemudian, ia mulai mencari baju ganti di dalam lemarinya.


"Banyak sekali," kagumnya saat melihat banyaknya baju-baju perempuan di dalam sana.


"Apa ini punya pacaranya Kak Devan?" Raisa bertanya-tanya.


"Ah tapi kan Kak Devan baru pindah dari New York," ucap Raisa.


"Eh, tapi ini kan baju-bajuku," kata Raisa saat membuka-buka isi lemari lebih dalam.


"Kak Devan yang pindahin ini semua?" tanya Raisa.


"Terus ibu bagaimana?"


Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala Raisa. Sehingga membuatnya sedikit pusing.

__ADS_1


Tak mau berlama-lama dalam rasa penasaran. Raisa segera keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.


"Oma," panggil Raisa saat melihat wanita paruh baya itu tengah menyiapkan sarapan pagi di meja makan.


"Eh sayang, sudah bangun?" sahut Oma Melani tanpa menoleh ke arah cucu perempuannya.


"Sudah."


"Kak Devan mana, Oma?" tanya Raisa menghampiri Oma Melani.


"Masih tidur mungkin," jawab Oma Melani.


"Eh, Rai. Udah bangun?" tanya Bu Dewi.


"Lho, ibu kok di sini?" tanya Raisa bingung.


"Iya, ibu sama kamu udah pindah ke sini," jawab Bu Dewi seraya meletakkan beberapa makanan di meja makan.


"Pindah?" ulang Raisa.


"Kamu akan tinggal di sini sayang," jelas Oma Melani mengelus surai kecokelatan milik Raisa.


"Kemarin, waktu kakakmu bilang mau ngajak kamu pulang ke sini, ibu sudah diberi tahu. Sekalian Devan kemarin sore juga membujuk ibu agar mau tinggal di sini," jelas Bu Dewi.


"Ibu manut saja, kalau kamu mau tinggal ya ayo. Kalau enggak, ya sudah kita balik saja," imbuh Bu Dewi.


"Di sini aja, ya, Nak," bujuk Oma Melani.


Raisa tersenyum tipis. "Raisa akan di sini," katanya memeluk Oma Melani.


"Ibu sini juga," panggil Raisa agar mau berpelukan dengannya dan Oma Melani.


"Hmm, cucu Oma," kata Oma Melani mengelus punggung Raisa.


"Sekarang, kamu bangunin kedua kerbau tampan di kamar kakakmu, ya. Mereka belum bangun sampai sekarang," titah Oma Melani.


"Kedua kerbau tampan? Siapa Oma?" tanya Raisa bingung.


"Devan dan Gio," jawab Oma Melani.


"Emm, kamar Kak Devan di mana?" tanya Raisa sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Di sebelah kamar kamu sayang," jawab Oma Melani.


Raisa berjalan menaiki tangga ke lantai dua rumahnya. Sesampainya di kamar Devan, Raisa mencoba mengetuk pintu kamar kakaknya itu. Namun, tak kunjung ada pertanda pintu akan dibuka.


"Huh dasar kerbau," kesal Raisa meraih ganggang pintu.


"Lah, ga dikunci?" tanyanya seraya membuka pintu.


"Astaga," kaget Raisa saat melihat kedua lelaki tampan itu masih terlelap di atas kasur yang sangat berantakan.


"Ya Tuhan," gumam Raisa saat melihat kakaknya masih tertidur pulas.



"Kak Devan, bangun," bisik Raisa pada telinga Devan.


Devan perlahan menggeliat. Namun tak kunjung membuka matanya.


"Huh," kesal Raisa.


"Kak Gio, bangun, Kak," ucap Raisa membangunkan Gio yang tampak masih pulas.


Raisa memandangi Gio yang masih terlelap. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba mengelus wajah tampan Gio.



"Kak Gio bangun," kata Raisa lagi.


Cukup lama Raisa membangunkan Gio dan Devan. Namun, dari keduanya tak ada tanda-tanda akan benar-benar terbangun.


"Hah," Raisa menghembuskan napas kasar.


"KAK GIO, KAK DEVAN BANGUN," teriak Raisa.


Perlahan mereka berdua mulai menggeliat.


"Lima menit lagi," sahut Devan.


"KALIAN BANGUN SEKARANG ATAU JANGAN TEMUI AKU SELAMA SATU MINGGU!" hardik Raisa kesal.


"EH," sahut Gio dan Devan bersamaan.

__ADS_1


"Kita udah bangun kok," kata Gio dengan muka bantalnya.


"Cepat mandi dan turun untuk sarapan," suruh Raisa berlalu meninggalkan kamar Devan.


"Galak banget," gumam Devan.


"Adik lu," sahut Gio.


Devan dan Gio segera turun ke meja makan begitu selesai membersihkan diri. Raisa terlihat masih dengan muka kesalnya saat melihat Gio dan Devan.


"Selamat pagi, Oma, Ibu, Isael," sapa Devan pada semuanya.


"Pagi," sahut Oma Melani dan Bu Dewi.


"Pagi Oma, Bu Dewi," sapa Gio.


"Pagi," balas Oma Melani dan Bu Dewi.


"Selamat pagi koala galak," sapa Gio mengacak pelan rambut Raisa.


Raisa tak menyahuti sapaan Gio. Ia malahan menatap sinis kepada Gio yang sudah mengacak rambutnya.


"Koala galak?" beo Oma Melani.


"Iya. Karena Raisa itu kan lucu jadi kaya koala, terus galak karena tadi pagi dia masuk kamar udah marah-marah," jelas Gio.


"Oalah," kata Oma Melani.


"Gimana ga marah, mereka aja susah dibangunin," kesal Raisa.


"Iya-iya, maaf," kata Devan mencubit pipi adiknya.


"Maaf, ya," lirih Gio menoel hidung mancung milik Raisa.


"Hmm," sahut Raisa.


"Ya udah, sarapan gih!" titah Oma Melani.


"Hari ini kalian di sini saja, ya," kata Oma Melani.


"Siap, Oma," jawab Devan dan Gio.


...****************...


Setelah selesai sarapan, kini Raisa dan Oma Melani tengah ngobrol berdua di ruang keluarga. Sedangkan Bu Dewi membantu asisten rumah tangga untuk memasak. Gio dan Devan, kedua pria tampan itu memilih untuk pergi ke ruang gym di rumah Devan saja.


"Oma senang banget, kamu udah kembali," tutur Oma Melani.


"Raisa juga senang bisa kumpul sama kalian," kata Raisa.


"Dulu Oma selalu berharap bisa menghabiskan waktu berdua dengan cucu perempuan Oma.".


"Sekarang sudah bisa kok Oma."


"Iya."


"Dulu Oma selalu saja sama Devan, anak itu sebenarnya sedikit bandel dan juga random kalau udah sama teman-temannya."


"Ya sebelas dua belas lah kalau sama Gio."


"Benarkah?" tanya Raisa tak percaya.


"Iya. Mereka itu selalu bertingkah absurd bahkan kadang terkesan konyol," jawab Oma Melani.


"Contohnya saat mereka masih kuliah dulu ...


Oma Melani menceritakan berbagai kelakuan Devan bersama teman-temannya dulu waktu kuliah. Hingga gelak tawa keluar dari mulut Raisa dan juga Oma Melani.


"Ada apa sih?" tanya Devan saat mendengar suara tawa di ruang sebelah.


"Oma sama cucunya lagi asyik," jawab Gio sekenanya


"Lihat yuk!" ajak Devan yang penasaran.


Devan dan Gio mengintip Oma Melani dan Raisa yang sedang bersenda gurau dari jendela ruang gym. Kebetulan ruang gym dan ruang keluarga berdekatan.


"Manis," gumam Gio yang dapat didengar Devan.


"First time gua lihat Raisa tertawa selepas itu," sahut Devan.



"Gula aja kalah," ujar Gio.

__ADS_1


"Lu suka?" tanya Devan.


__ADS_2