
"Ma," panggil seorang perempuan yang cantik jelita dengan balutan gaun putih bercahaya. Rambut panjangnya terurai begitu indah dengan hiasan mahkota berlian. Wajahnya bersinar terang. Tubuhnya dipenuhi cahaya. Bahkan ia lebih cantik dari pada waktu pernikahannya.
"Mama," panggilnya lagi seraya berjalan mendekatinya.
"Medina ...," panggil wanita paruh baya itu pada putri semata wayangnya.
"Mama," panggilnya lagi seraya berlari memeluk wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya. Oma Melani.
"Mama," lirihnya saat berhasil memeluk Oma Melani.
"Medina, Nak. Kamu ... Kamu kenapa bercahaya sekali?" tanya Oma Melina bingung.
Pelukan mereka begitu hangat. Bagaimana tidak? Jika seorang ibu yang sudah lama tak bertemu anak semata wayangnya. Sudah pasti, ia akan sangat erat memeluknya bukan? Agar anaknya tak kembali hilang.
"Nak, kenapa kau pergi jauh sekali?" tanya Oma Melina membelai rambut panjang putrinya.
Di tempat yang penuh dengan cahaya, bunga-bunga dan kunang-kunang yang beterbangan. Hanya ada dua wanita yang tak lain adalah ibu dan anak itu. Medina Putri Isabel, anak tunggal dari Melani Sera dan Fernan Afsal.
"Aku tidak pergi, Ma," ucap Medina mengurai pelukannya dengan sang ibu.
"Aku tidak pergi," ujarnya lagi seraya memegang tangan ibundanya. Wajahnya yang bersinar semakin terang lantaran senyum indah nan manis turut menghiasi wajahnya.
"Aku hanya menuju tempat di mana aku merasa tenang," kata Medina.
"Pulanglah, Nak," ucap Melani.
Medina tersenyum getir mendengar penuturan ibunya. Dia melepas genggaman tangan ibunya.
"Duduklah, Ma," kata Medina menyuruh mamanya untuk duduk di atas rerumputan yang sangat terawat dan penuh dengan cahaya.
"Ma," kata Medina.
"Sejujurnya aku juga ingin kembali," ucap Medina lirih. Perlahan air matanya mulai bercucuran bersamaan dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya.
"Jangan menangis, Nak. Mama di sini!" kata Melani mengusap air mata putrinya.
"Ma, aku ingin pulang dan membesarkan anak-anakku bersama Mas Meda," kata Medina lembut.
"Aku ingin merawat Devan yang sudah kian besar. Aku juga ingin bersama putri kandungku yang sekarang entah di mana keberadaannya," jelas Medina pada ibunya.
"Aku tidak tega melihat putraku harus menderita. Aku tak ingin putraku tumbuh kekurangan kasih sayang dari ibu dan ayahnya. Aku selalu berharap bisa hidup bersama anak-anakku," Medina mencurahkan segala isi hatinya.
Dalam pangkuan ibundanya, Medina mencurahkan segala isi hatinya.
"Ma, aku mohon sampaikan maafku pada Devan karena sudah membiarkannya hidup bersama omanya jauh di negeri orang," kata Medina.
"Tidak, Nak. Devan tidak pernah membencimu. Dia paham akan hal itu," ujar Melani menenangkan putrinya.
"Devan selalu bahagia bersama omanya di sini. Devan tidak pernah kekurangan kasih sayang. Bahkan Devan selalu berkata ia ingin pulang dan menjaga adiknya. Agar adiknya tidak ditinggal mama dan papanya seperti dirinya," ucap Melani.
"Ma, andai hari itu bisa ku putar kembali. Aku akan merawat Devan, Ma. Aku akan selalu membawa Devan ke mana pun aku dan Mas Meda pergi," ucap Medina dengan nada penyesalan.
"Nak," potong Melani saat melihat putrinya mulai gelisah dan menyesali perbuatannya.
"Tidak apa-apa. Semua sudah berlalu," kata Melani menenangkan.
"Devan juga memaklumi itu. Bukankah kau yang bilang sendiri waktu kau meninggalkan Devan bersama omanya dulu?" tanya Melani.
...Flashback on...
"Ma, aku titip Devan, ya. Jaga dia baik-baik. Aku janji, setelah bisnis Mas Meda membaik, aku akan membawa Devan pulang," ujar Medina saat di bandara mengantarkan Devan.
"Iya, Mama akan jaga cucu kesayangan mama," kata Melani.
__ADS_1
"Devan, Nak. Maafkan mama, ya, kamu tinggal sama oma dulu. Nanti mama janji kalau kamu sudah lulus SD mama jemput kamu dan bawa hadiah buat kamu," ucap Medina pada putranya.
Devan mengangguk seraya tersenyum.
"Mama kasih Devan adik perempuan yang lucu, ya?" pinta Devan.
Semua yang ada di sana tertawa mendengar penuturan anak lelaki berusai lima tahun tersebut.
"Iya," jawab Medina asal.
"Tapi Devan harus janji. Devan jangan nakal dan harus nurut sama oma. Devan juga harus jadi anak yang pemberani dan pintar, oke?" tanya Medina seraya mengacungkan jari kelingkingnya di depan putranya.
"Janji," pekik Devan mengaitkan kelingking mungilnya pada kelingking ibunya.
...Flashback off...
"Devan benar-benar menepati janjinya untuk menjadi anak yang baik," ujar Medina tersenyum di pangkuan ibunya.
"Tapi aku yang ingkar janji sama Devan," imbuh Medina.
"Seharusnya aku menjemputnya di bandara dan membawakan adik perempuannya yang cantik," tutur Medina.
"Ma, seharusnya mama sudah bisa menggendong cucu perempuan mama."
"Sudahlah, Nak. Semua sudah berlalu."
"Pulang ya, Nak. Kasihan Devan," mohon Melani.
Medina beranjak dari pangkuan ibunya. Menatap lekat manik mata ibunya. Meski sudah tua, namun pancaran kasih sayang dan kelembutan senantiasa terpancar di sana.
"Maaf, Ma," kata Medina.
"Maaf?" beo Melani.
"Maaf Medina tidak bisa balik," jelas Medina.
"Mama tetap jaga Devan, ya," pesan Medina.
"Pasti, Din," jawab Melani.
"Ma, sebelum aku pergi. Aku mau berpesan sama mama," kata Medina mulai gelisah karena waktunya sudah semakin sempit.
"Apa, Nak?" tanya Melani sarkas.
"Katakan, Din. Katakan!" desak Melani.
"Ma, aku mohon carilah di mana pun cucu perempuan mama berada. Aku yakin, dia masih hidup, Ma. Dia masih hidup!" kata Medina penuh keyakinan.
"Isael selamat, Ma. Isael selamat. Waktu kecelakaan aku masih melihatnya menangis di pangkuan pengasuhnya. Cari Isael, Ma," pinta Medina menggebu-gebu.
"Mama akan cari," kata Melani ragu. Antara percaya atau tidak dengan selamatnya cucu perempuannya.
"Satu lagi, Ma," kata Medina sebelum waktunya benar-benar habis.
"Apa, Din. Katakanlah, mama akan usahakan bersama Devan," potong Melani tak sabaran.
"Carilah pelaku yang membuat keluargaku kecelakaan, Ma. Kami kecelakaan bukan murni kecelakaan, tapi ada yang menyelakai, Ma," jawab Medina menjelaskan.
"Siapa, Din. Siapa? Bilang sama mama," ucap Melani menuntut jawaban. Putrinya yang dipenuhi oleh cahaya itu perlahan mulai meredup cahayanya.
"Ma, aku titip Devan. Jaga dia. Beritahu dia untuk kembali lagi mencari adiknya. Aku mohon, Ma. Cari Isael," kata Medina sebelum menghilang.
"Berjanjilah, Ma!" tuntut Medina.
__ADS_1
Melani hanya menangis melihat putrinya perlahan mulai hilang. Cahayanya perlahan mulai meredup. Baru saja ia merasakan kehangatan bersama putrinya. Namun, kini waktu sudah kembali merenggutnya.
"Berjanjilah, Ma!" ulang Medina.
"Mama janji, Din. Tapi mohon kembalilah. Kita cari Isael sama-sama," jawab Melani penuh harap putrinya akan kembali.
Medina tersenyum seraya melambaikan tangannya pada ibunya.
"Terima kasih, Ma. Maaf, Medina harus pergi," ucap Medina.
Setelah itu, tempat itu tak lagi bercahaya seperti sedia kala. Hanya tersisa Melani seorang diri dengan tangisnya.
"Medina ...," teriaknya memanggil putri semata wayangnya.
"Kembalilah, Nak," teriak Melani penuh tangis pilu.
...****************...
"Ah," suara lelaki muda yang tak lagi nyenyak tidurnya.
"Kenapa gerah sekali?" gumamnya saat membuka mata.
"AC-nya juga nyala," monolognya saat melihat AC di kamarnya menyala pada suhu yang pas.
"Tenggorokanku kenapa kering sekali rasanya?"
Merasa tenggorokannya kering, lelaki itu pun meraih gelas yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya.
"Habis lagi," katanya sedikit kesal.
Dengan nyawa yang masih terkumpul setengah. Ia beranjak keluar menuju dapur.
Lelaki itu perlahan menuruni anak tangga ke lantai satu. Namun, ketika anak lelaki itu hendak berbelok ke dapur. Ia mendengar suara dari arah kamar omanya.
"Oma kenapa?" ia bertanya-tanya dalam hati.
"Jangan-jangan oma kenapa-napa lagi?"
Tanpa babibu lagi, lelaki yang tak lain adalah Devan itu bergegas ke kamar omanya. Meninggalkan rasa dahaga yang tadi sempat mengusiknya.
"Oma," panggilnya saat memasuki kamar Oma Melani.
"Medina ... Kembalilah, Nak!" ucap Oma Melani dengan mata terpejam.
"Mama janji, Nak. Kembalilah!" ucap Oma Melani lagi.
"Oma. Bangun oma!" seru Devan mengguncang bahu omanya agar terbangun.
"Oma, bangun," seru Devan membangunkan omanya.
"Medina!" pekik Oma Melani membuka matanya.
"Medina ...," ucap Oma Melani langsung terisak ketika mengucap nama anak semata wayangnya.
"Medina ... Hiks ... Hiks."
"Oma. Are you oke?" tanya Devan berusaha menenangkan omanya.
"Cucuku. Cucu perempuanku," ujar Oma Melani kembali terisak.
"Oma ...," Devan langsung merengkuh Oma Melani ke dalam pelukannya.
"Cucu perempuanku, Devan. Dia ...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE❤
TUNGGU KELANJUTANNYA DI NEXT EPISODE, YA!!!