Salah Menaruh Rasa

Salah Menaruh Rasa
MAKAM


__ADS_3

"Gula aja kalah," ujar Gio.


"Lu suka?" tanya Devan.


"Hah?" beo Gio kikuk sendiri.


"Apaan? Enggak," jawabnya.


"Halah, jujur aja!" seru Devan dengan senyum liciknya.


"Kalian ngapain?" tanya Raisa saat melihat kakaknya dan managernya dulu itu tengah berdiri di samping jendela.


"Eh, Rai," sahut Gio sembari tersenyum kikuk.


"Ga ngapa-ngapain sih," jawab Devan dengan tampang santainya.


"Kalian sudah selesai?" tanya Oma Melani.


"Udah kok, Oma," jawab Devan.


"Kak, katanya kalau libur mau ngajak Raisa ke makam mama sama papa. Ayo dong!" ajak Raisa.


Devan menimang-nimang ajakan Raisa. Apakah tidak akan membuatnya sakit, jika nanti dia teringat sesuatu hal lagi?


Meski Raisa sudah ingat dengan masa lalunya. Tetapi, kata Dokter Citra, ia masih bisa merasakan sakit saat teringat serpihan ingatannya dulu. Hanya beberapa yang mungkin akan membuatnya kembali mengingat kejadian kelam di masa lalu.


"Kak, mau ga?" tanya Raisa.


"Ya udah, ayo!" jawab Devan antara yakin dan tidak.


"Kakak mandi dulu," kata Devan berlalu meninggalkan ruang gym.


"Kak Gio mau ikut?" tanya Raisa pada Gio yang masih berdiam di dekat jendela.


"Emang boleh?" Gio malahan balik bertanya.


"Boleh, dong. Semua harus ikut," jawab Raisa.


"Oke deh," kata Gio.


"Aku bersih-bersih dulu, ya," pamit Gio.


Raisa hanya menganggukkan kepalanya.


"Oma siap-siap dulu, ya," ujar Oma Melani.


"Iya."


Raisa pun mengikuti Oma Melani keluar dari ruang keluarga. Ia berganti pergi ke dapur, di mana ibunya tengah berada.


"Ibu," panggil Raisa.


"Apa sayang?" sahut Bu Dewi yang sedang memotong sayuran.


"Ibu siap-siap gih," jawab Raisa seraya duduk di sebelah ibu angkatnya.


"Memangnya mau ke mana?" tanya Bu Dewi tanpa mengalihkan pandangannya dari sayuran yang ia potong.


"Ke makam mama sama papa," jawab Raisa.


"Ke makam?" beo Bu Dewi.


"Iya."


"Ibu mau ikut kan?" tanya Raisa penuh harap.


Bu Dewi tersenyum. "Lihatlah, Bu, Pak. Anak perempuan yang dulu kalian tinggal kini sudah kembali," batin Bu Dewi.


"Kok ibu diam sih," ucap Raisa mengguncang pundak ibunya.


"Iya, ibu ikut," jawab Bu Dewi menyisihkan sayuran yang sudah ia potong.


"Mbak, tolong ini dilanjut, ya. Saya mau pergi ke makam ibu dan bapak sama anak-anak," ujar Bu Dewi pada Bi Surti.

__ADS_1


"Sia," sahut Bi Surti.


Bi Surti dan Bu Dewi memang seumuran. Mereka dulu ternyata adalah kakak kelas dan adik kelas semasa SMP dulu. Jadi, mereka seakan mudah akrab karena memang sudah lama kenal.


"Ibu siap-siap dulu," kata Bu Dewi pergi ke kamarnya yang ada di lantai satu. Berdekatan dengan kamar Oma Melani.


"Oke."


"Raisa juga mau siap-siap," ujar Raisa langsung naik ke lantai dua.


Devan dan Gio usai membersihkan diri dan bersiap. Oma Melani, Bu Dewi dan Raisa pun sudah selesai bersiap. Mereka kini tengah menunggu Devan dan Gio di teras depan.


"Sudah?" tanya Devan yang sudah menyusul ke teras depan bersama Gio.


"Sudah," jawab Oma Melani.


"Berangkat sekarang aja," kata Gio.


"Lu yang nyetir," ucap Devan melemparkan kunci mobil pada Gio.


"Gua terus yang nyetir," kesal Gio.


"Sabar, Kak. Kalau sabar nanti pacarnya banyak," kata Raisa menepuk pundak Gio dengan senyum jahilnya.


"Kamu salah satunya mau ga?" Gio menyahuti candaan Raisa.


"Enggak!" jawab Raisa sarkas.


"Buruan. Udah jam sepuluh ini," tukas Devan yang berdiri di depan mobilnya.


"Pakai mobil siapa?" tanya Gio yang bingung sendiri.


"Mobil Oma Melani. Kalau mobil Devan tidak muat," jawab Oma Melani.


"Oke siap otw," sahut Gio berlalu ke bagasi untuk mengambil mobil.


...****************...


"Mama, papa," sapa Devan mengelus nisan kedua orang tuanya.


"Devan kembali," ucap Devan.


Oma Melani sudah tak kuasa membendung air matanya lagi. Bu Dewi berusaha menenangkan dan menguatkan Oma Melani yang berdiri di sampingnya.


"Putriku dan menantuku," lirih Oma Melani dengan isak tangisnya.


Raisa masih bergeming berdiri di sebelah kakaknya yang berjongkok di depan makam orang tuanya.


"Terima kasih, Ma. Mama sudah memberi Devan adik yang cantik sekali," kata Devan menoleh pada Raisa yang berdiri di sampingnya.


"Ma, Isael sudah kembali," tutur Devan.


"Dia kembali, Ma. Raisa sudah kembali."


Raisa tersenyum getir. "Mama, papa," panggil Raisa kemudian berjongkok di sebelah Devan.


"Ini Raisa," kata Raisa lirih.


Perlahan, air mata Raisa mulai bercucuran saat teringat masa-masa terakhirnya dengan kedua orang tuanya.


"Ma, Raisa kangen," ucap Raisa.


"Isael, itu nama kesayangan mama yang dulu suka sekali mama gunakan untuk memanggil Raisa bukan?" Raisa teringat dengan nama panggilan kecilnya.


"Kenapa sekarang mama tidak pernah memanggil Raisa dengan panggilan itu lagi?" tanya Raisa yang membuat banjir air mata pada semuanya. Termasuk Gio juga sedikit menitikkan air matanya.


"Mama, papa, apa kalian tidak mau melihat Kak Devan dan Isael lagi?" tanya Raisa seolah berbicara dengan kedua orang tuanya.


"Mama kenapa, Raisa baru ingat kalian saat mama dan papa sudah pergi."


"Kenapa waktu itu Raisa ga ikut kalian aja, ya?" tanya Raisa.


"El," interupsi Devan langsung memeluk adiknya.

__ADS_1


"Jangan gitu," Devan mengingatkan.


"Om Meda dan Tante Medina pasti sedih kalau lihat Raisa sedih," ujar Gio yang ikut berjongkok di sebelah Raisa.


"Kamu harus bahagia oke?" tanya Gio mengelus pundak Raisa.


Raisa mengangguk dalam pelukan Devan.


"Bu Medina, saya sudah menjalankan wasiat ibu. Saya sudah menjaga Raisa selama empat belas tahun dan mengembalikannya ke keluarganya," tutur Bu Dewi.


"Pak Meda, maaf jika saya kurang baik dalam mendidik putri bapak."


"Juga, saya yang terlalu buru-buru mengantarkan Raisa ke keluarganya sebelum ia berusia ke tujuh belas tahun," ucap Bu Dewi.


"Saya minta maaf karena Raisa harus merasakan sakit."


"Din, Meda. Mama ke sini sama anak-anak mau jenguk kalian," kata Oma Melani.


"Kalian sudah bahagiakan?"


"Anak-anak kalian sudah dewasa sekarang."


"Devan juga sama tampannya dengan Meda. Isael juga sama cantiknya dengan Medina."


"Din, sering-sering, ya. Datang ke mimpi mama. Kasih tahu mama siapa yang membuatmu celaka," ujar Oma Melani.


"Mama dan Devan akan cari tahu, Din. Jika memang kalian kecelakaan karena ada yang mencelakai, biar mama dan Devan yang mencari mereka."


Raisa diam mengingat masa-masa di mana dulu ia harus kehilangan kedua orang tuanya dan ingatannya.


POV Raisa kecil.


"Mama, Isael takut," cicit Raisa di pangkuan Bu Dewi.


"Isael tenang, ya. Jangan khawatir. Raisa diam saja di pangkuan bibi," jawab Medina.


"Mama. Isael takut," cicit Raisa dengan suara cadelnya.


"Jangan takut, ya. Kita semua akan baik-baik saja," ucap Medina menenangkan putrinya.


"Hiks ... Bibi ... Mama ... Papa ..., " rengek Raisa takut.


"Isael mau pulang saja," pinta Raisa.


"Raisa tenang, ya," kata Bu Dewi menenangkan Raisa di pangkuannya.


"Awas!" seru Medina saat melihat sebuah truk dari lawan arah.


"Aaa ..." pekik Medina saat suaminya membanting stir ke kanan dan menabrak sebuah pohon besar di pinggir Jl. Kantil.


Raisa terpelanting keluar dari mobil. "Sakit," lirih Raisa memegangi kepalanya yang berdarah.


"Mama," panggilnya lagi.


"Siapa dia?" Raisa kecil tanpa sengaja melihat seseorang di seberang jalan dengan pakaian serba hitam.


Setelah itu, pandangan Raisa gelap tak terlihat apa pun juga.


"Sakit," rintih Raisa memegangi kepalanya.


"Rai, apa yang sakit?" tanya Gio khawatir.


"Mana yang sakit, El?" tanya Devan.


"Sakit," lirih Raisa.


"Bawa dia ke rumah sakit, Nak," titah Bu Dewi.


Devan langsung membopong Raisa ke mobil. Gio dengan kecepatan penuh membawa Raisa ke rumah sakit terdekat. Oma Melani dan Bu Dewi mencoba untuk tetap membuat Raisa tersadar.


Mobil yang dikemudikan Gio telah sampai di rumah sakit terdekat. Raisa segera dibawa ke ruang IGD untuk penanganan.


"Raisa ...," Oma Melani kembali tersedih saat melihat cucunya dalam keadaan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2