
Seorang gadis kecil meratapi luka yang tak kunjung membaik.
Tentang sebuah kematian yang harus mengorbankan banyak hal berharga dalam hidupnya.
Kematian sang ibu bukan hanya harus meninggalkannya, tapi menghancurkan masa kecil dan pertumbuhan karakternya.
Hatinya pilu, saat semua orang pergi memunggungi dirinya, gadis malang itu harus bertahan dalam getar punggungnya sediri.
Beberapa anak bermain kemudian menendang bola ke kepala anak perempuan yang nampak tegar itu, anak perempuan itu tidak membalas, hanya meletakan bola itu lalu pergi, namun lagi bola itu ditendang dan mengenai tubuh kecilnya hingga terperosok jatuh.
"Hahahah..." Tawa tergelak menertawakan si gadis yang bajunya basah dan kotor karena lumpur.
"Emang enak... Sukurin!!!"
Kemudian si gadis kecil membalik badan dan melempar kembali bola itu sehingga seorang anak terkena kepalanya namun anak laki laki itu menangis, dan ibunya datang memarahi si gadis kecil.
"Kamu apakan anak saya hah?! Dasar gak tau diri, udah di kasih makan tetap aja nyari ulah." Perempuan berkerudung itu adalah bibi si gadis kecil.
Si gadis hanya terdiam, dan melangkah tanpa air mata, dia mau melawan namun tetap bungkam.
__ADS_1
Tiba di saat sang ayah kembali membuka diri dan meminang seorang wanita, hari berlalu dengan cepat gadis kecil itu sudah tumbuh menjadi remaja, namun kenyataan yang harus dia terima adalah kepahitan.
Pernikahan ayahnya hanya menjadi momok menakutkan dalam ilusinya, ketakutan akan kasih sayang dan perhatian ayahnya yang akan terbagi dua, bahkan tentang dongeng tentang kisah ibu tiri dalam cerita bawang putih bawang merah merasuk begitu kuat dalam pola pikirnya.
Beberapa tahun berlalu, gadis kecil yang menangis tadi nampak tidak perduli dengan keadaan sekitarnya, perubahan kini terasa signifikan dalam penampilannya, usianya dua belas tahun, dia anak yang terlihat pendiam dan penuh dengan misteri, rambut pendek khas anak laki laki, jam tangan berwarna hitam, tas ransel, bahkan kaca mata minus yang ia kenakan, gadis ini mirip dengan laki laki.
Beberapa jenis ekstra kulikuler di ikutinya untuk mengisi waktu luang sepulang sekolah.
"Kayanya gue perhatiin setiap pulang sekolah selalu di sini deh?"
"Bukan urusan kamu." Gadis itu tidak perduli dan tetap berjalan membawa tas berisi raket badminton.
"Eh... ehhh malah kabur!" anak laki laki yang tadi menyapa hanya bisa tarik nafas dan membiarkan gadis tomboi itu berlalu.
Ruang serba putih itu menjadi saksi bisu sang gadis yang sedang memperjuangkan hidupnya, suasana ramai karena banyaknya orang yang secara bergantian menghampiri seorang anak perempuan yang memakai seragam SMA.
Seorang Pria cukup umur yang mengenakan jas yang memberi tau identitas profesi nya itu berjalan menghampiri seorang bapak, sepertinya dia penunggu pasien di ruangan ini.
"Keluarga nona Hanggi Agatha Rusdi!" Sapa Pria berjas putih tadi.
__ADS_1
"Ya, saya ayahnya Dok, bagaimana dengan kondisi anak saya sekarang." bapak itu cukup panik.
"Perkenalkan saya dokter Arga, saat ini anak bapak mengalami hiperglikemi, dimana glukosa dalam darahnya meningkat sampai 899mg/dl, jadi anak bapak harus kami rawat secara intensif di ruang ICU sampai keadaannya membaik."
"Tapi anak saya nampak baik² saja tadi dok, bagaimana dia begitu kuat?"
"Bapak, seseorang bisa terlihat tegar dan kuat seolah tidak terjadi apapun saat bersama dengan seorang yang harus dia jaga perasaannya."
Sang ayah hanya bisa terdiam tanpa bergeming, dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Aku gak bisa kehilangan lagi, anak ku harus tetap hidup bagaimana pun caranya." Ucap sang ayah dengan begitu sedih.
Tiga tahun berlalu, kini gadis yang tadi membutuhkan ruang ICU itu kembali pada tahap awal pengobatannya.
Segala pengobatan telah dilakukan untuk menopang hidup sang gadis kecil, sampai suatu ketika dia berkata.
"Kalau nanti Hanggi gak kuat dan gak bisa temani ayah, Hanggi boleh menyerah ya yah... Hanggi gak sanggup kalau harus setiap hari minum obat dan di suntik seperti ini, ayah lihat perut Hanggi sudah bengkak."
"Hanggi, apapun yang terjadi ayah akan memperjuangkan kamu, gak boleh ada kata menyerah, kamu anak ayah satu satunya."
__ADS_1
Hanggi hanya tersenyum di tempat tidur rumah sakit, yang selalu menjadi saksi perjuangan Hanggi menahan diri untuk tidak marah.
Bagaimanapun kondisi emosi yang tidak teratur pada saat sakit hanya akan memperburuk keadaan.